
Di meja makan aku melamun. Sarapan yang sudah di atas meja sama sekali tak tersentuh. Ucapan Alfred tadi malam membuatku merasa bersalah atas nama Kakak kembarku.
"Bu dokter," panggilan khas suara anak-anak membuat lamunanku buyar.
"Leon," panggilku dengan wajah ceria. Aku bangkit langsung memeluk Leon. "sayang maaf ya karena sudah menitipkan Leon dengan Om dingin itu," imbuhku sedikit ingin mengejek Andre.
"Om? saya tidak setua itu Nona," Andre protes tak terima.
"Tapi wajahmu menggambarkan usiamu Andre, kecuali sedikit senyum saja terukir di sana maka awet muda yang tergambarkan dan bisa saja Leon memanggilmu Kakak," ucapku sedikit terkekeh.
"Bu dokter kata Uncle harus memanggil Uncle," suara Leon menghentikan tawaku.
Mataku menyipit melirik Andre.
"Uhhh tak seharusnya memanggil dengan sebutan itu," protesku.
"Nona saya minta maaf karena sudah lancang membawa Leon," ujar Andre.
Aku tersenyum.
"Tidak Andre, malah aku berterima kasih kepadamu karena sudah bersedia mengurus Leon," sahutku dengan tangan terulur menepuk bahu Andre berkali-kali.
Mendapat perlakuan itu membuat Andre membeku. Seakan menyadari sosok di ujung sana membuat Andre memundurkan langkahnya.
"Bu dokter apa ini rumah Bu dokter?" pertanyaan Leon membuat bibirku terkatup tidak bisa menjawab.
"Apa Leon sudah sarapan?" aku sengaja mengalihkan pertanyaan Leon.
"Sudah Bu dokter. Uncle sangat baik memberi Leon makan ayam goreng," cicit Leon dengan polosnya.
Aku tersenyum melihat kepolosan Leon.
"Andre apa aku kurang pekerjaan?" suara bariton Alfred membuat senyumanku memudar. Ujung mataku melirik tangan yang masih terbalut. Sepertinya belum di ganti dengan perban baru.
"Maafkan saya Tuan," sahut Andre begitu hormatnya.
Mendengar suara meninggi Alfred membuat Leon merapat dengan memegang telapak tanganku. Seakan mengerti aku membawa Leon duduk di kursi meja makan.
"Leon tidak perlu takut. Tuan yang bersama Uncle Andre adalah pemilik rumah ini," jelasku kepada Leon.
Alfred maupun Andre saling memandang dengan kening mengerut.
"Aku akan mendaftarkan Leon ke sekolah hari ini, kebetulan hari ini aku masuk ship malam," ucapku sebenarnya tidak ada yang bertanya. Karena Alfred kepala keluarga aku harus menghargainya seperti nasehat-nasehat kedua orang tuaku.
"Nona bisa mendaftarkan Leon ke sekolah HUGO GROUP," usul Andre.
__ADS_1
Aku beralih menatap Andre. Jujur saja aku tidak tau sekolah-sekolah di negara ini. Tadi hanya browser di internet saja mencari sekolah terbaik.
"Tujuanku juga di situ Andre. Hmm tapi biayanya menguras isi dompet," lirihku dengan tidak semangat. Bukan kenapa karena uang tabunganku sudah mulai menepis, sedangkan selama menikah Papa tidak lagi mentransfer uang bulanan seperti biasanya.
Mendengar keluh kesahku tentang biaya menampar buat Alfred. Dia baru sadar selama setengah tahun menikahiku sampai saat ini belum pernah menafkahiku.
Aku mengigit bibir bawahku mencari jalan keluarnya. Sedangkan Andre tampak canggung dengan keadaan ini.
"Apa selama ini Tuan tidak pernah menafkahi Nona? Nona dari keluarga kaya raya tetapi Nona tidak melibatkan jati diri Nona, hmm aku yakin Nona orang baik," batin Andre dengan bibir terkatup.
"Nona jika anak didik berprestasi tentu saja murid itu mendapat beasiswa sampai sekolah menengah atas," terang Andre, sedangkan Alfred tak bergeming.
"Oh," aku hanya ber oh ria dengan mengigit pipi dalamku.
Aku menatap Leon yang asik memakan roti bakar buatanku tadi yang belum sempat dimakan.
"Aku akan mencari ART demi untuk menjaga Leon ketika aku sedang bekerja. Izinkan untuk hal itu, masalah gaji aku yang mengajinya," ucapku yang ditunjukan kepada Alfred.
Tanpa ingin menjawab Alfred berlalu begitu saja meninggalkan kami.
"Andre bawa kotak obat ini, tolong ganti perban dengan yang baru dan suruh minum obat ini," jelasku kepada Andre.
"Memangnya tangan Tuan terkenapa apa Nona?" Andre cukup penasaran karena kemarin tangan kanan itu baik-baik saja tetapi pagi ini sudah terbungkus perban.
"Hmm tanyakan saja kepada Tuanmu,"
Aku menghela nafas lega karena keinginanku sudah disampaikan. Dalam kediaman Alfred berarti dia mengizinkan aku, itulah yang diprediksikan.
°°°°°°
Sudah seminggu lamanya Leon di sini. Seperti biasanya Leon menunggu di teras rumah, ya Leon menunggu kepulanganku dari rumah sakit. Akhir-akhir ini aku pulang agak terlambat karena drama para pasien anak-anak.
Melihat mobil mewah memasuki halaman membuat Leon menegakkan tubuhnya. Ternyata itu adalah mobil milik Alfred.
Melihat sosok Alfred tentu saja membuat Leon takut. Setelah pertemuan pertama mereka tidak saling bertemu lagi dan malam ini bertemu kembali karena seminggu ini Alfred berada diluar kota.
"Selamat malam Tuan," sapa Leon begitu polosnya, ya semua ini akulah yang mengajarkan Leon.
Alfred menghentikan langkahnya tepat dihadapan Leon.
"Hmm untuk apa kau berdiam diri di sini sendirian?" tanya Alfred dengan wajah datar.
"Leon lagi menunggu Bu dokter Tuan," sahut Leon dengan formal. "Sepertinya sebentar lagi akan pulang," sambungnya sembari menatap kearah gerbang.
Lidah Alfred bermain di pipi dalamnya.
__ADS_1
"Panjang umur," celoteh polos Leon mendapati sosok yang sedang di tunggu-tungguinya berada di ujung gerbang.
Alfred mengikuti arah mata Leon dan dia bisa melihat siapa yang datang. Tidak ingin melihat wajahku Alfred bergegas masuk kedalam rumah sedangkan Leon tersenyum menunggu diriku mendekat.
"Bu dokter sudah bilang tidak perlu menunggu diluar disaat malam begini, nanti kamu masuk angin," ucapku mengkhawatirkan kesehatan Leon.
"Kan langsung di suntik," celetuk Leon sembari tertawa.
"Di suntik pakai jarum jumbo mau?"
Leon menggeleng seakan merasa ngeri membayangkan jarum yang dimaksudkan.
Kami masuk kedalam dengan beriringan.
"Bu dokter Tuan sang pemilik rumah barusan pulang," kata Leon.
"Oh," aku ber oh ria.
Aku tau yang dimaksudkan Leon adalah Alfred karena aku melihat mobil milik Alfred di halaman.
"Leon kamu sudah makan malam?"
"Sudah Buk dokter,"
"Baiklah jika begitu Bu dokter ke kamar dulu untuk membersihkan diri," lirihku sembari menahan rasa nyeri di bawah perutku. Sejak di rumah sakit tadi rasa itu sangat menyiksa.
Di kamar mandi aku meringis sembari mengepalkan tangan merasakan sakit yang tak kunjung hilang.
Dengan segera aku menyudahi. Aku merogoh obat anti nyeri dan langsung meminumnya. Merasa lemas aku membaringkan tubuhku dengan memeluk guling.
°°°°°°
Di kamar lain khususnya di balkon Alfred berdiri dengan kedua tangan dimasukan kedalam kantong celana.
Entah apa yang sedang dipikirkan Alfred. Tatapan itu lurus jauh ke depan.
"Isabella, Isabella," gumam Alfred dengan rahang mengeras, bahkan tangannya terkepal erat.
Alfred memejamkan mata, angin malam menerpa wajahnya.
"Aku sangat membencimu Isabella, sangat membencimu," ujar Alfred terlintas ingatannya kepadaku.
Malam semakin larut sehingga menyudahi Alfred untuk berdiam diri di balkon akhirnya masuk dan membaringkan tubuh lelahnya di kasur yang sudah seminggu tak dirasakannya. Bayangan kedua orang yang berharga dalam hidupnya terlintas dalam benaknya ketika mengingat namaku.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, vote, hadiah, favorit dan komennya agar author semakin semangat lagi💪