MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 144~MDS2


__ADS_3

Di restoran ruang VIP. Keenan sengaja memilih ruang tertutup. Malam ini ia ingin bertemu dan membicarakan soal ini kepada kekasihnya Sunny.


Sunny yang tidak tau apa-apa sangat antusias, bahkan berpenampilan memukau malam ini. Ia mengira bahwa Keenan membawa kabar baik tentang hubungan mereka.


"Honey maaf membuat menunggu," sapaan Sunny baru memasuki ruangan.


"Tidak masalah, aku paham dengan kesibukanmu," ujar Keenan.


"Kamu belum pesan apapun?" tanya Sunny karena melihat di atas meja belum ada makanan.


Keenan menggeleng.


"Baiklah aku akan pesan dulu," ucap Sunny seraya memanggil pelayan dengan sebuah tombol.


Tidak lama pelayan restoran memasuki ruangan VIP.


Keduanya memesan makanan yang menjadi selera masing-masing.


Keduanya saling mengobrol ringan, memang sengaja belum mengarah ke hal pribadi karena mereka sepakat ingin menikmati makanan terlebih dahulu.


Siap menyantap hidangan pesanan masing-masing. Kini keduanya siap untuk berbicara hal yang sangat serius.


"Hamm aku duluan atau kamu?" tanya Keenan dengan tatapan nanar, tak seperti biasanya tetapi semua itu tak disadari oleh Sunny.


"Kamu saja honey," jawab Sunny sembari tersenyum, hal itu membuat hati Keenan miris.


Keenan menelan ludah, lidahnya keluh untuk memberitahu Sunny kabar tidak baik ini.


"Rebecca bukanlah saudara kandungku, dia adalah Adik angkat," ungkap Keenan memulai.


Hah....


Sunny kaget luar biasa karena ia tidak pernah menduga hal itu.


"Pantas saja hubungan kalian kurang akrab," sahut Sunny.


"Daddy sama Mommy," ucapan Keenan tercekat ketika melihat rona bahagia di wajah cantik Sunny. Ia kembali menelan ludah kembali. "Kedua orang tuaku menjodohkan kami!" Pungkas Keenan.


Duar


Bagai petir menyambar di siang bolong yang dirasakan Sunny. Bibir yang tadi melebar kini menyusut, mengatup rapat. Pernyataan Keenan di luar ekspektasi.


"Kamu bercanda honey? itu hanya lelucon bukan?" ucap Sunny seraya terkekeh tetapi sir mata itu mengalir begitu saja. Ia berharap bahwa itu adalah lelucon Keenan untuk mengerjainya.

__ADS_1


Keenan menggeleng, menyangkal tuduhan Sunny.


"Itulah kenyataannya," ujar Keenan menekankan dengan wajah menunduk, tidak sanggup melihat wajah Sunny terluka.


"A-apa? hiks hiks....." Tangisan Sunny pecah seketika mendengar bahwa itu adalah nyata.


"Honey aku mohon jangan menangis," ujar Keenan berusaha menenangkan tangis Sunny.


"Jadi apa jawaban darimu?" lirih Sunny ingin tau agar semuanya jelas.


"Jika aku menolak untuk menikahi Rebecca, maka hak kepemimpinan di perusahaan HUHU GROUP akan dicabut. Dalam arti hak diriku di sana dicoret," terang Keenan dengan tatapan pilu menatap Sunny yang masih menangis.


Sunny memejamkan mata sesaat, meresapi semua yang dikatakan Keenan. Sungguh menyesakan dada.


"Jadi apa kesimpulan atau.... "


"Aku akan tetap menikahi Rebecca," ujar Keenan, memotong ucapan Sunny.


Deg


Sunny tersenyum miris mendengar jawaban Keenan.


"Berarti sampai sebesar ini saja keseriusan serta cintamu kepadaku," lirih Sunny dengan derai air mata yang semakin menjadi sembari memegang dadanya.


"Aku minta maaf, untuk menolak keinginan kedua orang tua, aku tidak bisa melakukan itu," papar Keenan dengan perasaan bersalah.


Sunny kembali tersenyum sumbing. Sungguh cinta serta keseriusan Keenan hanya sebesar ini dalam hubungan mereka yang terjalin bertahun-tahun.


Bukankah cinta mengalahkan semuanya? tetapi ia tidak mendapatkan semboyan itu dalam diri seorang Keenan.


Keenan sungguh tidak memperjuangkan cinta mereka. Keenan bisa dikatakan egois, memikirkan perasaan kedua orang tuanya sendiri, dibandingkan perasaan dirinya yang dibuang begitu saja.


"Aku baru sadar, ternyata cintamu kepadaku tidaklah serius. Buktinya kamu tidak memperjuangkan hubungan kita, kamu egois Keenan," lirih Sunny menekankan nama Keenan. "Kamu tau bukan sebesar apa rasa cintaku kepadamu? selama ini aku merasa orang yang paling bahagia di dunia ini karena apa? itu karena aku memiliki kekasih seorang Keenan Januar, pria yang selama ini selalu ada dan waktu untukku berbagi. Pria yang selalu memberi perhatian lebih, pria yang selama ini melindungiku dari segala masalah yang menerpa. Tetapi aku salah, pria yang aku puja seperti dewa kini dengan mudahnya mencampakkan diriku seperti sampah!" Cecar Sunny bertubi.


Sunny menyeka air matanya agar tidak menghalangi pengelihatannya.


"Kamu tega, kamu tega," lirih Sunny seraya memukul-mukul dada Keenan berkali-kali, disertai tangisan yang tak kunjung berhenti.


Demi apapun Keenan tidak tega melihat keterpurukan Sunny. Ia baru sadar jika cinta Sunny kepada dirinya sungguh besar.


"Aku minta maaf. Ini bukan keinginanku Sunny!" Ujar Keenan dengan suara meninggi agar Sunny berhenti menangis dan bahkan memukul dadanya.


"Kata maaf tidak akan bisa menutupi luka yang menganga. Seribu kali kamu ucapkan tidak merubah semuanya," lirih Sunny dengan tubuh lemas.

__ADS_1


Keenan mendekap tubuh itu membawa kedalam pelukannya.


"Lepas jangan peluk aku sekarang. Hubungan kita telah usai, itu yang kamu mau. Aku tidak bisa memaksamu untuk mempertahankan hubungan kita, aku sudah mengerti isi hatimu Keenan. Selamat berbahagia, cintai pilihan kedua orang tuamu!" Pungkas Sunny dengan hati terluka.


Keenan semakin tidak tega dan merasa sangat bersalah. Pilihan kedua ini sangat berat untuknya. Bohong jika Keenan tak terluka tetapi bagaimana lagi ia tidak ingin durhaka kepada kedua orang tuanya maupun mendiang Dea.


Dia juga tidak menyalahkan Rebecca dalam masalah ini. Seperti yang dikatakan oleh kedua orang tuanya bahwa Rebecca tidak mengetahui masa lalu itu, dan mereka melarang untuk memberitahu Rebecca.


"Akun tekankan sekali lagi hubungan kita telah usai!" Setelah mengatakan itu Sunny bangkit, bergegas keluar dari ruang VIP dengan hati terluka berkeping-keping.


Keenan tidak bisa menghentikan kepergian Sunny. Semua ini akar masalahnya dari dirinya.


Ssst


Desis Keenan sembari mengusap wajahnya. Kepalanya ingin pecah. Dua pilihan itu membuatnya ingin gila.


Keenan tidak terlalu memikirkan masalah perusahaan tetapi ia tersudutkan oleh jasa kedua orang tua serta pengasuhnya dulu yaitu mendiang Dea. Bagaimana mungkin ia menjadi anak durhaka.


Bagaimanapun Keenan adalah korban.


°°°°°°


Hari ini Rebecca sedikit cepat pulang dari kantor. Kesempatan ini dimanfaatkan untuk Mommy Isabella, ingin bicara empat mata dengan Rebecca.


Kini kedua wanita cantik itu sedang bersantai di balkon keluarga sembari menyesap teh hijau.


"Sayang bagaimana pekerjaanmu di kantor?" tanya Mommy Isabella basa basi.


"Seperti biasalah Mommy, banyak pekerjaan. Karena kita bagian pemasaran," sahut Rebecca singkat karena wanita yang sangat disayanginya ini pasti paham.


"Bagaimana dengan Kakakmu? apa dia hanya membiarkanmu di kantor?" pancing Mommy Isabella, kayak mau mancing ikan saja.


Mendengar pertanyaan itu membuat Rebecca tertekun, bagaimana tidak karena sesungguhnya mereka sangat jarang bertemu bahkan bertatap muka.


"Tidak perlu kamu jawab sayang karena Mommy sudah tau," ucapnya menarik kembali pertanyaan itu.


Rebecca hanya bisa nyinyir, memperlihatkan gigi ratanya.


"Sayang jujur kepada Mommy. Hmm apa kamu menyukai Keenan?"


Deg


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2