MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 137~MDS2


__ADS_3

Lucky langsung melepaskan genggaman erat itu karena mendengar deheman Gerry seperti sebuah kode.


Rebecca segera mendudukkan dirinya di sebelah Gerry.


Dirly asisten Lucky mulai menerangkan dengan perasaan sedikit gugup.Padahal kegugupan seperti ini tidak pernah ada di kamusnya. Tetapi kali ini kegugupan itu meresahkan dirinya.


Itu karena sedang bertatap muka dengan wanita cantik secantik Rebecca. Senyuman manis Rebecca semakin membuat gejolak rasa gugup itu.


"Silahkan Tuan," Dirly mempersilahkan Lucky untuk berbicara.


Sedangkan Lucky tak bergeming. Dari tadi tatapannya tak lepas dari Rebecca, sedangkan yang di tatap sibuk dengan berkas yang ada di atas meja tepat di hadapannya.


"Wanita unik, cantik luar biasa. Kecantikannya mampu menggetarkan jantung serta hati ini. Aku tidak pernah merasakan ketertarikan seperti ini," batin Lucky, mengagumi kecantikan seorang Rebecca.


"Tuan!" Panggil Dirly kembali.


Hal itu mengundang perhatian Rebecca, hingga pandangannya beralih kepada pria yang ada di depannya saat ini.


Hmm


Lucky baru tersadar, untuk memulihkan suasana ia sengaja berdehem seakan tidak ada yang terjadi dalam dirinya.


Lucky menambah penjelasan dari asistennya Dirly.


Dan sekarang giliran untuk Rebecca berbicara. Ketiga pria memiliki ketampanan masing-masing tanpa lepas memandangi Rebecca menjelaskan. Tentu hal itu mengusik konsentrasi Rebecca karena tatapan mereka.


Tetapi ia tidak ambil pusing karena bukan kali pertama ini ia mendapati hal seperti ini. Di kampus ia sudah sering diperhatikan seperti itu.


"Saya yang akan tanda tangan untuk mewakili Tuan Keenan," pungkas Rebecca dengan formal.


"Tidak masalah cantik," mendengar gumaman tak jelas Lucky membuat mereka menatapnya dengan kening mengerut.


Hmm


"Tidak masalah karena Nona adalah bagian dari perusahaan ini," Lucky meralat ucapannya yang hampir saja membuat dirinya malu.


Rebecca membubuhkan tanda tangan, setelah itu Lucky menyusul.


"Terima kasih Tuan." Ucap Rebecca ingin segera menyudahi karena masih banyak pekerjaan yang belum ia selesaikan.


"Terima kasih juga Nona," balas Lucky bahkan kembali menjabat tangan dengan Rebecca.


"Apa Tuan Lucky menyukai Nona? setau ku Tuan Lucky anti wanita, apa ini hanya rumor saja? karena rumor itu tak ku dapatkan di sini. Hmm sejak tadi konsentrasinya tertuju kepada Nona Rebecca," batin Gerry menyadari gelagat Lucky.


"Hmm bagaimana untuk merayakan kerja sama ini, alangkah baiknya kita ke restoran atau cafe? itupun jika Nona Rebecca maupun asisten Gerry tidak keberatan," ujar Lucky.


Mendengar usulan Lucky membuat Rebecca maupun Gerry saling memandang.


"Bagaimana menurut anda Nona?" tanya Gerry minta pendapat dari Rebecca.

__ADS_1


"Kenapa sih harus bertanya kepadaku. Langsung jawab saja Kak Gerry," batin Rebecca ingin memberi kode kepada Gerry tetapi pria kuyup es itu malah berpikir.


Mau menolak merasa tidak enak, akhirnya Rebecca menyetujui permintaan Lucky asalkan ia tak sendiri.


Sesuai kesepakatan mereka akan ke cafe yang tidak terlalu jauh dengan kantor.


°°°°°°


Di bandara


Senyuman merekah di wajah wanita cantik dengan menggenakan kaca mata hitam, mendapati sosok pria pujaan hati.


"Honey," panggilnya seraya melambaikan tangan.


Keenan membalas melambaikan tangan diantara kerumunan.


Dengan langkah panjang Sunny berjalan menuju dimana Keenan menunggu kedatangannya. Lalu langsung memeluk Keenan, melepas kerinduan. Selama 2 bulan mereka tidak bertemu, tentu saja kerinduan melanda keduanya. Walaupun ada kesempatan untuk saling menghubungi.


"Bagaimana kabarmu honey?" tanya Sunny seraya melepaskan pelukan tak terbalas itu. Ya hal itu sudah terbiasa baginya. Memiliki kekasih kaku serta dingin ada beruntung dan tak beruntungnya. Tetapi Sunny tidak mempersalahkan hal itu. Baginya Keenan adalah pria pertama yang berhasil menaklukan hatinya.


Mereka sudah lama satu kampus tetapi perasaan itu datang begitu saja. Keenan adalah pria populer, bahkan wajah tampan itu mengalahkan pria dari negara manapun.


Tampan tetapi memiliki pribadi yang tak banyak orang ketahui. Pria ini tertutup akan masalah pribadi serta keluarganya. Bahkan sampai saat ini Sunny belum diperkenalkan dengan keluarga besar Hugo. Bukan karena Sunny menolak tetapi Keenan sendiri yang belum siap untuk itu.


Begitu juga dengan keluarga besar Sunny. Seakan hubungan mereka masih tersembunyi, hanya beberapa sahabat saja yang mengetahui itu.


Seiring berjalannya waktu perasaan itu mulai tumbuh dalam diri Sunny. Sunny adalah tipe wanita mandiri dan dewasa.


Paras cantik serta body goalnya tidak membuat dirinya bangga melemparkan diri ke setiap pria. Maksudnya tidak bergonta ganti kekasih. Keenan adalah pria pertama yang berhasil memporak-porandakan hatinya. Putri tunggal dari keluarga terpandang ini memiliki pribadi yang baik serta kepedulian yang dalam.


"Seperti yang kamu lihat," sahut Keenan seraya mengambil alih koper yang sedang di genggam Sunny.


"Kamu semakin tampan saja," kagum Sunny seraya mengusap wajah Keenan dengan penuh kasih sayang.


Keenan tersenyum. Senyuman yang jarang ditemukan oleh karyawan serta siapapun kecuali kedua orang tua serta Sunny.


Keduanya berjalan beriringan ke parkiran mobil. Keenan membuka bagasi mobil, memasukan koper mini milik Sunny.


Kemudian ia membukakan pintu mobil buat kekasih hatinya. Sunny sangat bahagia diperlakukan seperti itu. Hingga senyuman manis terukir indah di wajah itu.


"Hmm apa kamu sudah makan?" tanya Keenan seraya melirik Sunny sebelum melajukan kendaraannya.


"Kebetulan belum lapar tetapi alangkah baiknya kita ke cafe saja, sekedar minum. Hmm itupun jika kamu tidak sibuk," usul Sunny. Ia ingin sekali hari ini menghabiskan waktu dengan Keenan karena ke depannya mereka akan sama-sama sibuk dalam kegiatan masing-masing sebagai pemimpin utama perusahaan.


"Aku tidak sibuk. Baiklah," Keenan menyetujui usulan Sunny.


"Benar nih? honey jika kamu sibuk tidak masalah, aku tidak ingin menganggu pekerjaanmu," pungkas Sunny. Dalam hal pengertian serta kedewasaan Sunny itulah membuat ketertarikan Keenan. Wanita ini tidak pernah memaksakan seperti wanita-wanita pada umumnya, banyak memberi aturan kepada pasangan masing-masing. Hal itu tak terdapat di kamus seorang Sunny.


Keenan mulai melajukan roda empatnya membelah jalanan, menuju cafe yang terletak tidak jauh dari jarak kantor perusahaan.

__ADS_1


Karena ini jam kerja jadi membuatnya berani membawa Sunny ke cafe tersebut. Tidak mungkin para karyawan standby di sana pada saat jam kerja, itulah yang ada dalam pikiran Keenan.


Sepanjang jalan keduanya saling bertukar cerita ringan, seperti kegiatan yang menyibukkan diri masing-masing.


Tidak menunggu lama roda empat itu memasuki area parkiran cafe.


Keduanya turun secara bersamaan karena Sunny tidak ingin Keenan yang membukan pintu untuk dirinya. Bagaimanapun kedudukan Keenan harus ia junjung, kecuali keduanya sudah resmi menjadi pasangan suami istri.


Mereka memasuki cafe, dengan posisi Sunny merangkul lengan Keenan seperti pasangan pada umumnya.


"Cafe ini tidak ada yang berubah," gumam Sunny seraya memperhatikan cafe tersebut.


Hmm


Mereka menempati meja sisi dinding kaca, dari sana pengunjung dapat memandangi jalanan ibu kota yang padat. Kendaraan serta penjalan kaki lalu lalang.


"Kamu ingin memesan apa honey?" tanya Sunny seraya memperhatikan menu yang tertera di sana.


"Samakan saja," ujar Keenan.


"Baiklah," Sunny memanggil pelayan.


Tidak menunggu lama pesanan mereka datang.


"Silahkan Tuan, Nona," ucap pelayan mempersilahkan. Pelayan serta manajer cafe sangat mengenali Keenan.


Keduanya menikmati seduhan kopi ginseng yang menjadi menu minuman utama dari cafe tersebut sembari berbincang-bincang.


**


Hanya memerlukan 5 menit rombongan Rebecca tiba ke tempat yang dituju yaitu cafe favorit karyawan perusahaan manapun karena terletak di area kantor masing-masing.


Mereka turun dari mobil masing-masing. Rebecca satu mobil dengan Gerry. Memasuki cafe satu-persatu, yang pastinya Rebecca paling belakang.


Lucky memilih meja yang terletak di sisi dinding kaca pembatas. Cafe tersebut cukup ramai pengunjung, padahal ini di saat jam kerja.


**


"Cita rasa kopi ini selalu membuat rindu," ucap Sunny seraya menyesap dikit demi sedikit.


"Makanya cafe ini menjadi incaran," ujar Keenan dengan pandangan lurus ke depan.


Tiba-tiba pandangannya terpaku.


Deg


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat 💪

__ADS_1


__ADS_2