MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 83. Di Kacangi


__ADS_3

Tiba di bandara Soekarno-hatta kami langsung bergegas menuju mobil jemputan.


"Tanah kelahiran," aku bergumam sembari memandangi kepadatan kota dari jendela mobil.


"Sayang aku juga lahir di Indonesia," ujar Alfred seakan mendengar gumamanku.


Mendengar pengakuan Alfred membuatku menoleh ke samping. Aku tidak pernah tau jika Alfred ternyata lahir di Indonesia.


"Benarkah?" tanyaku sedikit kaget.


Alfred mengangguk.


"Iya sesuai keinginan Opa sama Oma dari pihak Daddy, tetapi kalau mendiang Bernat dia lahir di Korea," terang Alfred.


Aku mengangguk-angguk.


"Paman bisa lebih cepat," kataku kepada supir pribadi Papa.


"Baik Nona," sahutnya.


"Sayang tidak baik melebihi kecepatan," protes Alfred.


"Aku sudah sangat rindu anak-anak sayang, rasanya sudah tidak sabaran," kataku.


Alfred menggelengkan kepala sembari mendekap tubuhku, membawa kedalam pelukannya. Memang naluri seorang Ibu sangat kuat terhadap anak-anaknya.


"Sayang lepas, tidak enak dilihat," lirihku dengan wajah cemberut.


"Sampai kapan merasa malu terus? kita adalah pasangan suami istri sayang jadi sah-sah saja," ucap Alfred dengan gemas.


Aku langsung menyembunyikan wajahku di dada bidang itu.


Perjalanan terasa begitu cepat dan kini mobil yang membawa kami sudah memasuki Mansion mewah milik Papa sama Mama.


"Sayang hati-hati," ujar Alfred kepadaku karena aku begitu semangat.


"Ayo sayang," aku langsung menarik lengan Alfred agar cepat-cepat memasuki Mansion.


Alfred menggelengkan kepala melihat tingkahku yang tidak sabaran.


"Sayang Mommy sama Daddy sudah datang," aku memanggil mereka tetapi tidak ada sahutan. "Mereka kemana?" aku bergumam dengan pandangan ke sana-sini.


"Selamat datang Tuan, Nona," sapa kepala pelayan.


"Paman Papa, Mama dan yang lainnya dimana?" tanyaku.


"Tuan, Nyonya serta Tuan muda sedang berkunjung di Mansion Tuan besar," ucap kepala pelayan.


Huh....


Aku lemas mendengar kabar itu.


"Sayang ayo kita segera ke Mansion Opa, Oma," kataku mendesak Alfred.


Alfred langsung mendaratkan bokongnya di sampingku.


"Sayang biarkan saja mereka, kita istirahat saja. Aku sedikit lelah," ujar Alfred berbohong.


"Sayang apa kamu tidak merindukan anak-anak?" tanyaku dengan menyipitkan mata melirik Alfred yang hanya tenang-tenang saja.


Alfred memejamkan mata sesaat.


"Siapa bilang? tentu saja aku merindukan mereka seperti apa yang kamu rasakan tetapi biarkan saja dulu mereka melepas rindu dengan Opa, Oma di sana. Bukankah minggu pekan kita sudah kembali pulang?" terang Alfred.


Aku mencerna setiap perkataan Alfred, apa yang dikatakan Alfred adalah benar.


"Baiklah jika begitu. Sebaiknya kita membersihkan diri lalu segera beristirahat," ucapku sembari ,🙏??!beranjak bangkit.


"Ayo dengan senang hati sayang," sahut Alfred ada maunya.

__ADS_1


"Jangan macam-macam aku lagi lelah," bisikku. "Gendong," ucapku manja.


Alfred tersenyum, lalu tanpa berpikir panjang menggendong ala bridal, padahal dia menginginkan gendong di belakang.


Tiba di kamar Alfred langsung membawaku kedalam kamar mandi. Kami mandi bersama-sama, hanya sekedar mandi karena Alfred memahami kelelahanku. Dia tidak ingin memaksa padahal dia sangat menginginkannya.


°°°°°°


Huam....


Aku menguap, perlahan membuka mataku. Sayup-sayup terdengar ocehan bayi bersma orang dewasa yang sangat aku kenali suara itu.


Aku langsung terbangun, melihat di bawah tempat tidur. Seketika senyuman mengembang di bibirku melihat Alfred bermain dengan ketiga anak-anak kami.


"Sayang....." aku langsung turun, mendekap mereka satu persatu dan disertai ciuman.


"Mommy sudah bangun?" cicit Leon.


"Kenapa tidak membangunkan Mommy sayang?"


"Kata Daddy, Mommy lagi lelah makanya Leon tidak ingin menganggu," sahut Leon dengan polos.


"Sayang," lirihku kepada Alfred dengan mulut mengerucut.


Alfred mengedipkan mata menanggapi.


"Mommy sangat merindukan kalian," kataku tanpa henti menghujani Keenan serta Kiran dengan ciuman sehingga membuat mereka menangis.


"Sayang sudahi kasian mereka," Alfred mencegahku.


"Habis mereka gemesin banget," cicitku sembari menyudahi.


"Sayang Opa sama Oma ingin bertemu," ujar Alfred, sedangkan tadi dia sudah berbincang-bincang dengan mereka, ketika aku masih tertidur.


"Opa sama Oma juga ikut?" tanyaku.


Alfred mengangguk sebagai jawaban. Kami menggendong Keenan serta Kiran turun ke bawah, sedangkan Leon bertugas memegang keperluan kedua Adiknya.


"Opa, Oma.....apa kabar?" aku langsung memeluk mereka silih berganti.


"Baik sayang," sahut Oma, dan mendapat anggukan dari Opa.


Kami berbincang-bincang banyak hal, dan sedikit melenceng ke permasalahan di masa lalu sehingga membuat Alfred meminta maaf.


°°°°°°


Malam ini Alfred mengajak makan malam di sebuah restoran mewah milik rekan bisnisnya. Aku menyanggupinya.


"Sayang apa kamu sudah siap?" Alfred langsung melingkarkan kedua tangannya di perutku.


"Sayang hentikan, geli tau," protesku karena Alfred tanpa henti mengecup punggungku sehingga menciptakan rasa geli.


"Habis menggoda sekali sayang. Hmmm bagaimana jika kita batalkan saja makan malam ini," goda Alfred.


Awww


Alfred menjerit karena mendapat cubitan di pahanya.


"Dasar mesvm," cecarku.


"Seharusnya kamu beruntung sayang, memiliki suami perkaza seperti suamimu ini hmmm," goda Alfred kembali sehingga membuat wajahku bersemu merah.


"Mau di sini saja atau jalan sekarang juga?"


Alfred terkekeh melihat wajahku cemberut. Lalu dengan segera merangkul pinggangku membawa turun. Kami berpamitan dulu sebelum berangkat.


Tidak butuh waktu lama, tempat yang kami tuju sampai juga.


Alfred membawaku masuk tanpa melepaskan rangkulan di pinggangku.

__ADS_1


"Sayang jangan terlalu kencang aku sulit bernafas," ucapku karena rangkulan itu membuat sesak.


"Kenapa sih harus rangkul-rangkul segala," aku membatin.


"Takut kamu hilang sayang," canda Alfred.


"Memangnya aku jin bisa menghilang segala?"


"Lihat mata keranjang para pria itu mengagumimu," bisik Alfred. "Sepertinya mereka ingin matanya aku colok," imbuhnya.


"Sayang jangan salah sangka, mereka bukan memperhatikanku tetapi memperhatikan wanita berpakaian kurang bahan di pojok sana dengan bibir merah merekah," ucapku.


Alfred mengikuti jari telunjukku, benar saja di sana sedang duduk wanita tampak seksi.


"Tidak mereka bukan memperhatikan wanita ja**** itu tetapi memandangimu, aku tau itu," ujar Alfred karena menyadari para pengunjung pria mencuri-curi pandang ke arah kami.


Aku menghembuskan nafas panjang. Restoran mewah ini hanya dapat dikunjungi oleh orang-orang berada, jadi semua pengunjung di sini dari kalangan atas.


Kami dipersilahkan duduk di meja yang sudah dipersiapkan oleh rekan bisnis Alfred.


"Selamat malam Tuan, Nyonya Hugo," sapa pria berkaca mata, yang mungkin seusia Alfred.


"Malam Tuan Raymond," balas Alfred sembari berjabat tangan.


"Raymond," seruku ternyata rekan bisnis Alfred adalah orang yang aku kenal.


"Apa Nyonya masih mengenaliku?" tanya Raymond.


"Tentu saja aku masih ingat. Murid yang paling cerdas serta pendiam di kelas," ucapku seakan mengingat semasa sekolah dulu.


"Siswi kembar yang paling cantik di sekolah serta menjadi saingan untuk menjadi juara umum," balas Raymond.


"Sangat berlebihan," ucapku.


Alfred cemberut, seakan dia dikacangi.


"Maaf aku tidak bisa menghadiri pesta pernikahan kalian dulu karena bertepatan aku ke luar negeri," ucap Raymond.


"Memangnya kamu mendapat undangan?"


"Tentu. Tuan Moses mengenaliku, tetapi suamimu ini seakan melupakanku," sindir Raymond.


"Anggap saja begitu," ujar Alfred dengan raut wajah kesal.


"Sayang," lirihku sembari mengusap punggung tangan Alfred, lalu menggenggamnya. Aku tau meredakan hati yang mulai memanas. "Sayang Tuan Raymond adalah teman satu kelas waktu SMA," terangku. "Ray panggil saja seperti biasa," pintaku. Raymond mengangguk.


Alfred mengangguk seakan mengerti.


"Anda sangat beruntung Tuan Alfred," ujar Raymond.


"Tentu saja karena istriku adalah wanita yang luar biasa," sahut Alfred.


"Istri Tuan adalah murid terpopuler di jamannya, bersama kembarannya tetapi istri anda yang paling banyak dikagumi bahkan menginginkan menjadi kekasih mereka."


"Termasuk anda?" potong Alfred.


"Sayang...."


"Bisa jadi," sahut Raymond ingin memancing Alfred.


"Kami ke sini bukan ingin curhat atau mengenang masa lalu tetapi ingin makan malam, katanya seperti yang anda bilang ada menu yang paling terpopuler di restoran ini jadi hidangkan sekarang juga," ujar Alfred dengan tegas.


Aku tersenyum, merasa tidak enak hati.


"Baiklah. Jika begitu aku permisi. Selamat menikmati," ucap Raymond.


"Terima kasih Rey," balasku sembari tersenyum.


"Sayang kamu hanya boleh tersenyum untukku," protes Alfred.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2