
Tiba di pintu unit apartemen Keenan, Rebecca terdiam. Ia lupa menanyai kata sandi itu.
"Aku terlalu bodoh sehingga menanyakan kata sandi saja lupa," umpat Rebecca pad dirinya sendiri.
Ia pun segera kirim pesan kepada Gerry. Rebecca tau bahwa Gerry pasti tau.
Ting
Notifikasi diterima. Dengan tidak sabar Rebecca membuka pesan itu.
Seketika matanya membulat. Dengan tubuh membeku mengetahui kata sandi itu.
"Gerry pasti salah ketik," gumam Rebecca masih tak percaya. Ia pun mencoba-coba dengan angka yang dikirimkan geri.
Klek
Pintu berhasil terbuka, hal itu membuat Rebecca menganga tak percaya.
Ia pun segera masuk masih dengan tak percaya. Ia mendaratkan bokongnya di atas sofa.
"Benarkah semua ini? apa maksudmu?" lirih Rebecca dengan mata berkaca-kaca. Kata sandi itu adalah tanggal kelahirannya. Tetapi dengan cepat ia tepis, mungkin saja Keenan sengaja merubah sandi itu karena sekarang ia yang menempati apartemen mewah itu.
Ingatan peristiwa tadi kembali melintas dalam benaknya. Tangisan kembali tak dapat ia bendung lagi.
Rebecca ingin mengistirahatkan tubuh lelahnya, hingga ia masuk kedalam kamar milik Keenan. Di apartemen mewah itu hanya ada satu kamar tidur, dan ruang kerja.
Kamar besar, bersih serta rapi. Tidak ada benda yang aneh-aneh didalam sana. Hanya ada sofa panjang, lengkap dengan mejanya.
Sekali lagi membuat jantung Rebecca ingin meledak, dimana ia mendapati foto dirinya dan Keenan terpajang di dinding. Itu adalah foto pernikahan mereka pada acara penyematan cincin.
"Eca, jangan percaya dan senang dulu. Bisa saja yang melakukan itu adalah kedua orang tua kami. Ya benar itu pasti perintah Mommy, tidak mungkin Keenan," gumam Rebecca dengan senyuman kecut.
Rebecca langsung melemparkan tubuhnya di atas ranjang.Lelah menangis, ia pada akhirnya tertidur. Ia ingin melupakan sejenak kejadian atau peristiwa yang luar biasa itu.
**
Didalam mobil pengangkut peserta WAMIL. Keenan tak bergeming. Terlintas dimana ia mendapati Rebecca meneteskan air mata ketika dirinya di peluk oleh Sunny yang tiba-tiba datang memeluk dirinya.
Terlintas ingatan dimana Rebecca terjatuh oleh kerumunan orang. Ia berhasil melepas pelukan Sunny untuk mengejar Rebecca tetapi sayangnya peserta langsung dipersilahkan masuk kedalam mobil.
Rebecca sendiri pun langsung berlari pergi tanpa mengetahui kejadian yang sesungguhnya.
Keenan sama sekali tidak tau jika Sunny ternyata pergi ke lapangan itu untuk melepaskan keberangkatannya.
Keenan menghela nafas panjang. Entah kapan ia dapat menjelaskan semuanya, sedangkan waktu WAMIL cukup lama.
"Itu tidak seperti yang kamu lihat," batin Keenan dengan tubuh terguncang karena akses jalan bebatuan.
°°°°°
Rebecca sibuk dengan kegiatan di kantor. Selama Keenan WAMIL ia yang mengendalikan perusahaan. Daddy Alfred sangat mempercayai bahwa putri sekaligus menantunya itu dapat mengemban tugas yang diberikan.
Walaupun masih tugas magang, tidak membuat waktu Rebecca terbengkalai.
Tok tok
Pintu ruangan direktur diketuk. Ya Rebecca memiliki ruangan tersendiri, ia tidak menempati ruangan CEO.
"Masuk," sahutnya dari dalam.
__ADS_1
Klek
"Selamat pagi Nona," sapa Gerry seperti biasanya.
"Pagi Kak Gerry," balas Rebecca.
"Nona ini agenda hari ini," ujar Gerry seraya meletakan beberapa berkas di atas meja.
"Apa saja jadwal kita hari ini Kak?"
"Pagi ini akan ada brifing Nona. Siang kita akan bertemu dengan perusahaan SUN GROUP."
Rebecca mengangguk-angguk.
Tok tok
Pintu ruangan kemabli diketuk.
"Masuk," sahut Rebecca seperti biasanya.
Klek
"Maaf aku tidak tau jika....."
"Fel," Rebecca langsung memotong ucapan Felisha.
"Apa Nona lagi sibuk?" tanya Felisha dengan formal karena diantara mereka ada Gerry.
"Jangan formal begitu cinta. Hmm apa kamu bawa masakan Bibi?"
"Iya, makanya aku langsung ke sini, ingin menyerahkan ini," pungkas Felisha seraya meletakan rantang untuk makan siang khusus buat Rebecca. Itu adalah masakan Mama nya Felisha.
"Oke," sahut Felisha seraya melirik Gerry dengan ujung matanya.
"Kali ini kau tidak akan bisa melarikan diri lagi," batin Gerry membalas tatapan Felisha.
"Mampus aku," batin Felisha.
Setelah pesta resepsi pernikahan Keenan dan Rebecca. Keduanya sulit untuk bertatap muka karena Felisha selalu menghindar.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Rebecca seakan merasa ada keanehan di antara mereka.
Gerry maupun Felisha hanya diam, pura-pura tidak terjadi sesuatu.
"Nona saya permisi. Hmm Nona Felisha ada tugas untuk anda," ujar Gerry.
Mendengar perkataan Gerry membuat Felisha menyipitkan mata. Bukankah tugas yang diberikan bukan dari Gerry langsung, tetapi ini katanya ada tugas untuk dirinya. Felisha pun jadi waspada, apakah ini hanya bualan Gerry semata saja.
Rebecca mengangguk, ia sama sekali tak mencurigai keduanya.
Gerry keluar dan diikui oleh Felisha dengan perasaan panik.
Tepat di luar, Gerry langsung menarik lengan Felisha, membawanya masuk kedalam ruangannya.
"Lepas Tuan," lirih Felisha berusaha melepaskan genggaman Gerry.
Bum
Bunyi daun pintu tertutup rapat.
__ADS_1
"Ke, kenapa Tuan bawa saya ke sini?" ucap Felisha gugup. "Pekerjaan saya menumpuk Tuan," sambungnya.
Gerry tak menjawab sepatah katapun. Ia melangkah maju mendekati Felisha.
"Tu, Tuan mau apa?" lirih Felisha sungguh sangat gugup seraya memundurkan langkahnya.
"Tentu saja akan membungkam mulut Anda agar tidak berani mengatai saya dengan sebutan..... "
Hahaha.....
"Om..... memang Tuan pantas di panggil Om," kekeh Felisha seakan ingat peristiwa itu. Dengan tidak sadar ia kembali mengejek Gerry, bahkan tertawa keras.
Ssst
Gerry mengeram marah. Sungguh seorang Felisha sangat berani kepada pria dingin atasannya itu.
Cup
Mata Felisha membulat serta mulut menganga mendapat bibirnya di bungkam dengan bibir milik Gerry.
Tubuh Felisha membeku untuk sesaat.
"Ini pelajaran buatmu," bisik Gerry dengan jantung berdebar-debar. Entah keberanian dari mana ia berani melakukan hal yang tak pernah dilakukannya selama ini.
"Kamu! Sungguh tidak sopan," lirih Felisha dengan mata berkaca-kaca seraya mengusap bibirnya, ingin menghapus jejak ciuman tadi.
Gerry tertekun mendengar perkataan Felisha.
"Saya benci dengan anda Tuan," ucap Felisha dengan amarah.
Setelah mengatakan itu, ia berlari keluar disertai isakan.
"Ya ampun apa yang telah aku lakukan? sangat memalukan," gumam Gerry seraya menjambak rambutnya.
°°°°°°
Di cafe dekat dengan kantor. Kini Rebecca bersama Gerry, menunggu klien ya g tak lain adalah CEO dari perusahaan SUN GROUP.
Tidak berselang lama klien tiba juga.
"Selamat siang Nona, maaf membuat menunggu," sapa Lucky dengan nada lembut.
"Siang juga Tuan. Tidak masalah, kami juga baru tiba," ucap Rebecca.
Mereka mempan minuman saja karena kebetulan sudah makan siang.
Mereka mulai membahas pekerjaan. Mereka bergantian menyuarakan pendapatnya.
1 jam lamanya untuk pembahasan ini.
"Hmm maaf jika saya bertanya menjurus ke hal pribadi," ujar Lucky sebelum menanyakan sesuatu. "Nona sangat sabar menjalani hubungan ini. Tuan Keenan sangat beruntung memiliki istri seperti Nona, sungguh wanita luar biasa. Sangat jarang menemukan karakter seperti Nona," pungkas Lucky penuh hati-hati karena tidak ingin menyinggung perasaan Rebecca.
Rebecca tertekun mendengar kekaguman Lucky kepada dirinya.
"Bukan Keenan yang beruntung tetapi aku," ingin sekali Rebecca membantah tuduhan Lucky, tetapi ia hanya berani bergumam dalam hati.
•Part selanjutnya kembalinya Keenan dari tugas WAMIL
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪