MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 77. Drama Si Kembar


__ADS_3

Keenan maupun Kiran menangis mungkin karena lapar atau lagi ngompol. Samar-samar didengar oleh Alfred, sedangkan aku sama sekali tidak terbangun saking terlelap tidur dalam pelukan Alfred.


Alfred berusaha membuka mata. Seketika bibirnya tertarik melihat aku seperti anak kucing yang sedang memeluk induknya.


Tangisan Keenan maupun Kiran menghentikan tatapan Alfred kepadaku. Dengan hati-hati Alfred melepaskan pelukan itu dan tidak lupa mendarat kecupan di area favoritnya.


Hmmp


Aku menggeliat karena tidurku merasa terganggu tetapi tak pantas membuatku terbangun. Hal itu membuat Alfred semakin gemas.


Alfred beranjak dari tempat tidur, lalu mendekati box.


"Wah anak Daddy rupanya sudah bangun," ucap Alfred melihat kedua bayi itu berceloteh dengan menghentakkan kaki. Dia angkat mereka bergantian. "Sepertinya kalian sudah ngompol," Alfred memeriksa popok mereka, benar saja mereka sedang ngompol.


Dengan telaten Alfred mengantikan popok.


"Oke kalian tunggu, Daddy akan buatkan susu. Jangan gangguin Mommy, Mommy lagi mimpi indah," cicit Alfred.


Tidak butuh waktu lama dua botol susu sudah diberikan Alfred kepada mereka secara bergantian.


"Kalian benar-benar lapar," kata Alfred sembari menghujani ciuman kepada Keenan dan Kiran.


Seakan senang Keenan maupun Kiran berceloteh.


"Daddy sangat bersyukur sayang masih diberi kesempatan untuk berada di tengah-tengah kalian. Kehadiran kalian sungguh merubah hidup Daddy," ungkap Alfred tanpa lepas dari pandangan kearah kedua buah cinta mereka.


Alfred melirik ponselnya ingin melihat jam.


"What....masih jam 4!" Gumam Alfred sedikit kaget ternyata masih subuh, sedangkan mata kedua anak ini masih segar alias akan begadang.


Alfred masih bersabar menemani kedua buah hatinya, bahkan rasa kantuk tidak dia rasakan. Sedangkan aku sama sekali tidak menyadari jika orang-orang yang aku sayangi telah begadang di sampingku.


Alfred membaringkan tubuhnya di sampingku. Tangan jail itu menganggu acara tidurku sehingga membuatku menggeliat.


"Dalam tidurpun kamu sangat cantik sayang," bisik Alfred sembari merapikan helaian rambut yang menutupi sebagian wajahku.


Hmmp


Mulutku kumat kamit. Hal itu membuat Alfred semakin gemes.


Kiran berceloteh sehingga membuatku terbangun.


"Kiran," gumamku langsung membuka mata.


Deg


Mataku membulat ketika wajah tampan Alfred menyambut bangun tidurku yang terpampang di depan wajahku.


Alfred mengembangkan senyuman melihat keterkejutanku.


"Kenapa bangun sayang?" bisik Alfred tanpa melepaskan tatapannya, hal itu membuatku tidak nyaman.


Aku beranjak mendudukkan tubuhku, lalu pandangan kearah dimana Keenan serta Kiran berbaring.


"Ya ampun mereka kembali begadang?" cicitku dengan bibir mengerucut.


"Sudah 1 jam sayang," sahut Alfred.


"Mereka kamu apain sayang?" tanyaku ketika melihat mereka diam saja. Ya sesuai kesepakatan tadi malam Alfred memintaku dengan panggilan sayang, awalnya lidah ini kaku mengatakan itu tetapi lama-lama sudah terbiasa.


"Habis sejak tadi mereka telungkup terus sayang dan itu membuatku tidak tega, sepertinya sangat sakit," sahut Alfred dengan santainya.


Aku menggelengkan kepala dengan mata melebar.


"Sayang itu tidak menyakitkan mereka karena itu adalah bawaan, dalam arti keaktifan bayi seusia mereka. Jadi biarkan saja," terangku memberi pengertian.


"Oh begitu, aku mengira itu adalah bahaya bagi mereka," ungkap Alfred.

__ADS_1


Aku tersenyum.


Alfred mengangguk-angguk seakan paham.


"Sayang sini," Alfred menepuk-nepuk dadanya. Aku menyipitkan mata melihat itu. "Sayang....." Panggil Alfred kembali karena aku tidak beranjak.


"Sayang jangan macam-macam," lirihku karena dengan tiba-tiba ditarik oleh Alfred sehingga posisi tubuhku di atas dadanya.


"Aku tidak macam-macam hanya satu macam. Hmmm apa kamu berharap lebih?" goda Alfred.


Awww....


Alfred menjerit karena mendapat cubitan keras di pahanya.


"Sakit sayang," lirih Alfred dengan manja sembari mengusap bekas cubitan itu.


"Makanya lepas," ucapku berusaha melepaskan dekapan Alfred.


Eee....k


Tiba-tiba Kiran menangis, mungkin karena kelelahan.


Dengan segera kami bangun lalu menggendong Kiran.


"Sepertinya Kiran lapar," ucapku karena tidak tau jika mereka sudah minum susu.


"Tadi pas bangun sudah kubuatkan susu sayang."


"Cup cup cup....kenapa sayang?" ucapku menenangkan Kiran sembari menepuk-nepuk halus bokongnya.


"Sepertinya dia mengantuk," ujar Alfred menyadari mata itu sayu.


"Sayang tolong ambilkan itu, biar Kinan bisa tidur," aku memerintahkan Alfred mengambil kursi goyang listrik yang tergeletak di pojokan. Dengan senang hati Alfred bangkit mengambil kursi goyang sekalian punya Keenan juga.


Mereka masing-masing meletakan di kursi goyang.


Pandanganku beralih kepada Alfred setelah mendengar pertanyaan itu.


"Tentu saja aku sangat bahagia, semenjak mereka hadir ke dunia ini. Mereka adalah kekuatan dan semangat untuk terus hidup serta berjuang melawan kejamnya dunia," ucapku tidak menyadari kalimat terakhir.


Mendengar sindiran itu membuat Alfred menelan ludah.


"Hmmm maksudku...."


"Aku mengerti sayang....." Alfred langsung membungkam mulutku dengan jari telunjuknya.


Huam....


Alfred menguap menandakan dia mengantuk.


"Kamu mengantuk? tidurlah anak-anak juga sudah kembali tidur," ucapku.


"Tidak sayang, jika sedang bersamamu rasa kantuk ini seakan hilang. Hmmm sayang...."


"Apa?"


"Sayang...."


"Apa sih?"


"Masa kamu tidak tau?"


"Apa sih? bagaimana aku tau jika kamu saja tidak beritahu."


Alfred mengeram, dia hanya ingin menggoda saja tetapi dasarnya aku tak peka.


"Sayang...."

__ADS_1


"Ap..... "


"Mau makan kamu!"


"Aaak.... hentikan! Hentikan sayang....."


Eee.... k


Keenan langsung menangis karena terkejut akibat aku berteriak geli.


(Tidak terjadi apa-apa kok, belum waktunya🤣)


°°°°°°


Hari ini Alfred mengajak kami untuk berziarah ke makam kedua orang tua atau mertuaku, sekalian Bernat. Selama ini aku belum pernah di ajak untuk berziarah.


"Sayang apa semuanya sudah siap?" tanya Alfred sebelum mengemudikan mobil.


"Sudah sayang, semua perlengkapan anak-anak sudah dimasukan," sahutku sembari sibuk memeriksa kembali.


Kami sengaja tidak membawa pengasuh. Aku bersama Keenan, Kiran duduk di belakang. Sedangkan Leon duduk di depan, di samping Alfred.


"Pa, Ma kami pergi dulu," pamit Alfred kepada Papa sama Mama yang mengantar kepergian kami.


"Iya sayang hati-hati mengendarai, apa lagi membawa cucu-cucu kesayangan Mama," ucap Mama mengingatkan.


Alfred mengangguk.


"Dada Opa....dada Oma...." Seru Leon sembari melambaikan tangan.


"Dada sayang...." Seru Papa sama Mama serentak membalas lambaian Leon.


Sepanjang jalan Leon tak berhenti berceloteh, bahkan dia sudah tidak canggung lagi dengan kebersamaannya dengan Alfred.


"Daddy, di sekolah Leon akan diadakan lomba memasak. Kata Bu guru harus didampingi orang tua," kata Leon baru ingat jika ada tugas dari sekolah. "Daddy sama Mommy harus ikut ya? Leon ingin menunjukan ke teman-teman bahwa Leon memiliki Daddy, selama ini sebagian dari teman Leon mengejek," cicit Leon.


Mendengar keluhan Leon berhasil membuat Alfred menepikan mobil, jujur dadanya terasa sesak mendengar hal itu.


"Siapa yang berani mengejek Leon?" tanya Alfred seperti sudah tersulut emosi.


"Sayang tenang, namanya anak-anak," aku berusaha menenangkan Alfred.


"Anak-anak, tetapi mulutnya melebihi orang tua sayang, ini tidak bisa dibiarkan," ujar Alfred.


Aku menghela nafas.


"Turunkan nada suaramu, nanti anak-anak terbangun," aku berusaha menenangkan Alfred.


"Leon Daddy akan mendampingi Leon dan bahkan menunjukan ke teman-teman Leon. Mereka tidak tau saja siapa status Daddy," ucap Alfred kepada Leon.


"Terima kasih Dad, Leon sangat senang sekali. Selama ini Leon selalu berdoa agar Leon segera dikasi seorang Daddy," cicit Leon dengan polosnya.


Aku maupun Alfred terharu mendengar pengakuan Leon, bahkan kami tidak pernah tau itu. Alfred menoleh ke arahku, aku tau apa arti dari tatapannya itu.


"Bagaimana aku mau menjelaskannya kepada Leon, sedangkan hubungan kita seperti orang asing. Sejak lama aku mengetahui keluhan Leon ini tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa," lirihku seperti bisikan karena tidak ingin Leon mendengarkannya.


Alfred memejamkan mata, apa yang aku katakan adalah benar.


"Maaf," lirih Alfred dengan wajah bersalah.


Aku tersenyum dengan mata berkaca-kaca sembari mengusap punggung Alfred.


"Lanjut Daddy!"


Seruan Leon membuat kami tersentak, lalu sama-sama tertawa.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2