MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 133~MDS2


__ADS_3

Kata-kata Keenan terngiang-ngiang, hingga membuat Rebecca sedikit tidak konsen.


Cukup irit bicara serta sikap acuh tak acuh. Sekali bicara menyayat hati. Tentu saja gadis manis itu tak terima. Dia belum tau bagaimana kepribadiannya.


Mungkinkah ia berpikir seperti itu karena melihat sikap Mommy Isabella sangat protektif kepada dirinya.


"Hei melamun saja," tepukan di bahunya oleh Felis menyadarkan lamunan Rebecca.


"Siapa yang melamun? ini lagi memahami tugas yang diberikan," elak Rebecca seraya menunjukan berkas di atas meja kerjanya.


Mereka memang satu ruang tetapi lain meja. Sedangkan Jio berada di ruang lain.


"Ca Tuan CEO tampan sekali ya? benar rumor yang beredar jika putra kedua Hugo sangat tampan. Kamu beruntung sekali memiliki Kakak setampan itu," ucap Felis.


"Kamu benar Fel, itulah yang membuat aku jatuh hati kepada Kakakku sendiri." Tentu saja Rebecca berani mengakui perasaannya didalam hati.


"Kok diam?"


"Iya Fel, Kakak memang tampan tetapi irit bicara," akui Rebecca.


"Permisi Nona," sapa setiap karyawan yang sedang berpapasan dengan Rebecca, hal itu membuat keberadaan Rebecca tidak nyaman. Ia ingin dipandang setara.


"Seharusnya aku tidak magang di perusahaan keluarga. Lihatlah semua karyawan bersikap gimana gitu, aku ingin dipandang setara," pungkas Rebecca dengan bibir mengerucut.


"Tidak masalah sayang," ucap Felis seraya mencubit pipi imut itu dengan gerakan pelan.


"Jio mana ya?" tanya Rebecca.


"Tunggu aku akan mengirim pesan, agar Jio menyusul kita ke kantin.


"Sip!"


Rebecca saling beriringan dengan Felis berjalan menuju kantin kantor. Ini adalah jam istirahat makan siang.


"Benar nih kamu ingin makan di kantin?" tanya Felisha di tengah jalan mereka.


"Sama saja bukan? mau di resto atau kantin, yang utama higenis saja," sahut Rebecca memang sifatnya merakyat.


Felisha adalah orang biasa. Bahkan dia bisa kuliah di Universitas terbaik di negara itu karena mendapat beasiswa sampai selesai.


Sebenarnya dia canggung dan tak percaya diri bisa berteman dekat dengan Rebecca yang notabennya keluarga terkaya nomor satu di negara itu.


"Nona!" Sapa Gerry tidak sengaja berpapasan.


"Iya Tuan," balas Rebecca.


Mendengar panggilan itu membuat pria berkaca. mata itu mengerutkan kening. Bukankah selama ini ia sering dipanggil Kakak. Tetapi kali ini berhasil membuatnya kaget.


"Jangan heran begitu. Mulai sekarang kita atasan dan bawahan," papar Rebecca.


Hmm


"Kami permisi Tuan," ucap Rebecca seraya menarik lengan Felisha yang sejak tadi tak berkedip menatap Gerry.

__ADS_1


Hehe


Felisha terkekeh dalam hati.


"Mari Tuan," ucap Felisha seraya tersenyum manis. Tetapi senyuman itu tak bertahan lama karena mendapati tatapan tajam di bola mata pria itu.


Akhirnya mereka sampai di kantin. Dari kejauhan mereka mendapati lambaian dari Jio.


"Kok kalian lama?" cecar Jio karena sudah 5 menit menunggu.


"Sorry soalnya tadi bertemu dengan pria tampan," sahut Felisha asal.


"Parah nih anak," delik Rebecca seraya menggelengkan kepala. Ia tau siapa yang di maksudkan oleh Felisha yang tak lain adalah Gerry.


"Kalian ingin pesan apa?" tanya Jio.


Rebecca maupun Felisha memesan makanan yang ingin mereka makan.


Jio juga dari keluarga berkecukupan. Sama halnya dengan Felisha, ia bisa mengenyam pendidikan di Universitas terbaik adalah karena mendapatkan beasiswa.


Ketiga mahasiswa magang ini memiliki kecerdasan di atas rata-rata sehingga cukup cekatan dalam mengerjakan pekerjaan yang diberikan.


"Ji, apa karyawan didalam ruangan tempatmu bersikap baik? maksudnya bisa menjalin kerja sama yang baik?" tanya Rebecca disela kunyahan seraya menatap Jio.


"Sejauh ini mereka sangat mendukung," sahut Jio.


Rebecca manggut-manggut. Tentu saja sebagai teman satu kampus ia harus tau.


°°°°°°


Terdaftar sebanyak 50 peserta magang dari Universitas berbeda yang magang di perusahan pencakar langit. Sungguh keberuntungan luar biasa, bisa masuk ke perusahaan ini, karena tidak semua orang bisa.


Sesuai peraturan dari dulu sampai sekarang, syarat bagi mahasiswa magang adalah memiliki poin tertentu yang tidak semua peserta miliki.


Contohnya Rebecca dan kedua temannya. Memang dibatasi jumlah mahasiswa yang magang yaitu sebanyak 50 orang.


Ke 50 peserta magang berbaris untuk mendengarkan arahan dari manajer, ketua pimpinan dari setiap bidang. Barisan dibagi menjadi 5 barisan dengan jumlah 10 orang dalam 1 barisan.


Tidak lama CEO bersama asisten pribadinya memasuki area. Hal itu membuat kaum hawa heboh dalam diam. Sedangkan kaum adam merasakan ketegangan.


"Eca, Tuan CEO dan Tuan asisten hadir," bisik Felisha tepat di depan Rebecca.


"Jangan berisik!" Bisik Rebecca.


Gerry mulai memberi arahan dengan berwibawa. Dan saatnya untuk memperkenalkan satu-persatu peserta magang dan ingin tau misi yang mendorong mereka magang di perusahaan HUGO GROUP.


Setiap nama di panggil akan maju ke depan seraya menjelaskan misi mereka masing-masing.


"Felisha!" Panggil Gerry sesuai nama absen peserta magang.


"Pergi sana," bisik Rebecca seraya sedikit mendorong bahu Felisha.


"Perkenalkan nama anda serta misi atau alasan memilih perusahaan HUGO GROUP!" Ujar Gerry dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Ya ampun Om tampan, plis kondisikan tatapan tajamnya itu," batin Felisha. Walaupun Gerry menggenakan kaca mata tetapi sangat terlihat jelas sorot mata tajam itu yang berhasil membuat seorang Felisha gugup.


"Perkenalkan nama saya Felisha dari Universitas Seoul National University - SNU Business School semester akhir. Alasan saya memilih perusahaan HUGO GROUP adalah bla... bla..." Ucap Felisa menjelaskan dengan bijaksana.


Hmm


Keenan maupun Gerry manggut-manggut, begitu juga dengan lainnya. Alasan Felisha sangat menarik.


Felisha kembali ke tempat. Dan peserta terakhir adalah Rebecca.


"Rebecca Hugo!" Nama Rebecca dipanggil tentu saja mengundang peserta magang lainnya. Karena mereka tidak menyangka putri dari keluarga pemilik perusahaan ini juga ikut magang.


Hah....


Mendengar nama Rebecca Hugo membuat suasana peserta sedikit gaduh akibat bisik-bisikan.


Karena sejak tadi Rebecca menggenakan Masker. Ya gadis cantik ini sensitif dengan debu, apa lagi sedang berada di luar. Sehingga tidak ada peserta lain yang menyangka gadis bermasker itu adalah Rebecca.


Seperti peserta lainnya. Rebecca juga melakukan hal yang sama. Ia maju ke depan tanpa menggenakan masker.


"Aslinya sangat cantik!"


"Jika gini tambah semangat!"


"Senyumnya menenangkan!"


"Senyum manisnya menyembuhkan luka di hati!"


"Sempurna!"


Begitulah cara bisik peserta laki-laki mengagumi kecantikan seorang Rebecca Hugo. Dengan tatapan mendamba.


Ternyata sayup-sayup Keenan mendengarkan beberapa bisikan itu, serta mendapatkan pandangan mendamba yang mereka tunjukan. Seketika tangannya terkepal di kantong celana.


Gerry mengangguk dengan sopan.


"Terima kasih kepada para pemimpin," ucap Rebecca seraya menundukkan kepala. Perkenalkan nama saya Rebecca Hugo, mungkin sebagian sudah mengenal saya. Saya peserta magang dari Universitas Seoul National - SNU Business School semester akhir. Hatchiiiii....." Tiba-tiba disela perkenalannya Rebecca bersin. Rebecca melanjutkan perkenalannya, serta alasan utama ia memilih perusahaan milik keluarga sendiri.


"Hatchiiiiii....." Entah sudah beberapa kali Rebecca bersin, ia hanya dapat menutup hidung serta mulutnya menggunakan telapak tangan karena kebetulan sapu tangan ketinggalan dalam tas.


Tak selang lama pangkal hidungnya memerah, serta cairan mulai memenuhi rongga hidungnya. Ingin sekali Felisha maju memberikan tisu kepada Rebecca, tetapi bagaimana mungkin ia berani melakukan itu.


"Ya ampun kenapa jadi seperti ini. Ayolah bersin mohon kerja samanya? aku lagi di sidang," kekonyolan Rebecca dalam hati.


Langkah Keenan maju beberapa langkah, lalu menyodorkan sapu tangan miliknya. Kaget tentu saja menyelimuti hati Rebecca. Sesaat tatapannya tepat di wajah Keenan.


Melihat tatapan penuh kode membuat tangan itu tergerak menyambut sapu tangan berwarna coklat tersebut.


"Hatchiiii..... " Ia tutupi dengan sapu tangan milik Keenan.


Mungkin di hati mereka tidak melihat kecanggungan diantara Kakak Adik ini karena mereka mengira, bahwa mereka harus profesional dalam bekerja.


Bersambung......

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2