
Rebecca keluar kantor dengan buru-buru. Tujuannya adalah makam orang tuanya. Dengan kecepatan tinggi ia mengemudi roda empat itu, diiringi tangisan.
30 menit jarak tempuh menuju pemakaman elite. Tiba di sana ia langsung bergegas turun serta berlari kecil menuju tempat peristirahatan terakhir sang Ibunda.
Tiba di pemakaman Dea. Tubuh Rebecca langsung merosot ke bawah. Memegangi batu nisan yang bertuliskan Deandra.
"Apa Mama sudah bahagia sekarang?" dengan sekuat tenaga Rebecca menahan air mata agar tidak tumpah. "Daddy maupun Mommy berhasil mengabulkan permintaan terakhir Mama, yaitu menjodohkan Eca dengan Keenan putra mereka. Apa Mama sangat bahagia di atas sana?" lirih Rebecca tanpa melepaskan tatapannya pada sebuah ukiran nama itu.
Rebecca menadah wajahnya ke atas agar air mata itu tidak berhasil tumpah. Ingatan percakapan Keenan tadi terlintas di benaknya.
"Mama kenapa harus meminta hal yang sangat tabu? Keenan tidak mencintai Eca, cintanya untuk orang lain. Keenan menyetujui perjodohan atau pernikahan ini karena tidak ingin mengecewakan Mama, sebagai balas jasa karena Mama sudah merawat," lirih Rebecca sudah tidak dapat menahan air matanya.
Rebecca menarik nafas perlahan, sungguh dadanya terasa sesak, sulit sekali untuk bernafas.
"Alasan utama karena ancaman, ancaman masalah perusahaan. Oleh karena itu Keenan rela menerima perjodohan ini, sampai-sampai dia merelakan kebahagiaannya sendiri," ungkap Rebecca tersedu-sedu.
Sesaat ia memejamkan mata seraya mengatur nafas yang terlalu sesak.
"Mama ingin membahagiakan Eca, tetapi sebaliknya Eca tidak mendapatkan itu Mama. Mama salah menjodohkan Eca karena Eca tidak pantas untuk Keenan. Pria mana yang sudi memiliki istri yang tidak sepadan atau sempurna, kita berasal dari keluarga biasa, sedangkan dia Mama juga tau," pungkas Rebecca semakin pecah seraya mengusap pusara tersebut.
Usai menenangkan diri kini Rebecca berusaha bangkit, ia tidak mungkin larut dalam kesedihan terlalu lama di pemakaman.
Setelah pamitan dengan wajah sembap serta mata membengkak ia bergegas meninggalkan pemakaman dengan hati kecewa.
**
Tiba di apartemen Rebecca langsung membersihkan diri. Merendamkan tubuh lelahnya untuk sesaat. 1 jam lamanya ia menyelesaikan ritual mandinya.
Usai berpakaian ia merasa haus, tenggorokannya kering, apa lagi sepanjang hari hanya tangisan.
Rebecca keluar kamar untuk mengambil air minum. Dengan wajah sendu ia berjalan menuju dapur.
Tiba di meja makan langkahnya terhenti. Melihat sesuatu di atas meja makan kosong. Bukankah sebelum ia berangkat ke kantor tadi pagi terhidang dua buah piring berisi hamburger serta dua gelas susu?
Dahi Rebecca sedikit mengerut. Tetapi tidak lama ia mendapat jawaban dari pertanyaannya itu. Mungkin saja pelayan dari Mansion suruhan Mommy Isabella yang memakan atau apalah Rebecca tidak peduli lagi.
Ya karena Keenan sudah kembali orang tua mereka mengirimkan salah satu pelayan untuk bekerja beberapa jam di apartemen. Tugasnya hanya sekedar membersihkan rumah serta mencuci pakaian saja. Untuk urusan memasak tidak diperlukan Rebecca.
°°°°°°
Di kantor
Di ruangannya Keenan duduk dengan mengetuk-ngetuk meja kerja, ia menunggu kedatangan Rebecca. Sampai batas waktu yang ditentukan istrinya itu tidak juga kunjung datang.
__ADS_1
"Apa dia lupa?" gumam Keenan, menuduh jika Rebecca melupakan perintahnya.
Tok tok
Mendengar pintu ruangan diketuk membuat raut wajah datar kini berubah sedikit menghangat yang terpancar di sana. Mungkin ia menebak bahwa itu adalah orang yang sejak tadi ditunggu-tunggu.
"Masuk!"
Klek
Ssst
Desis Keenan mendapati sosok Gerry, tidak sesuai yang diinginkannya.
"Maaf Tuan jika saya menganggu," ujar Gerry, ia sangat menyadari tatapan serta raut wajah Keenan yang menunjukan aura dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Gerry meletakan dokumen perusahaan di atas meja.
"Saya mengantarkan dokumen ini. Nona menitipkan ini kepada saya," pungkas Gerry.
Dahi Keenan mengerut.
"Dia kemana?" tanya Keenan dengan wajah mengelap.
"Saya tidak tau Tuan. Nona menitipkan dokumen ini tanpa memberitahukan alasannya," sahut Gerry.
"Baik Tuan." Setelah berpamitan Gerry segera keluar, ia tidak ingin kesalahan berimbas kepada dirinya.
Keenan mengusap wajahnya. Ia tidak mengerti kenapa Rebecca seakan engan menemuinya langsung.
"Memangnya dia mau kemana? tidak mungkin ke mansion. Daddy sama Mommy saja masih di Indonesia. Terus kemana tujuannya, sedangkan beberapa menit lagi akan ada rapat," gumam Keenan sedang berperang dengan pikiran serta pertanyaannya.
**
Tiba di apartemen menjelang petang karena Keenan sama Gerry menyelesaikan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.
Keenan tau bahwa Rebecca sudah pulang karena semua lampu dinyalakan. Dengan perasaan sulit ditebak ia masuk kedalam kamar.
Tubuhnya terdiam tepat di ambang pintu, melihat saat ini Rebecca sudah tertidur dengan posisi miring di tepi tempat tidur.
Ada rasa lega di hati Keenan karena mendapati sosok Rebecca.
Dengan langkah hati-hati ia masuk. Ingin segera membersihkan diri. Sungguh hari ini ia merasa sangat lelah.
__ADS_1
Mendengar gemercik air didalam kamar mandi, mata Rebecca perlahan terbuka. Ia hanya berpura-pura tertidur saja.
Ia ingin menghindari Keenan tanpa di sadari olehnya.
Tidak berselang lama Keenan menyudahi ritual mandinya, ia keluar seperti biasa menggunakan handuk sebatas pinggang.
Pandangannya kembali ke ranjang, dimana Rebecca masih terlelap dalam tidurnya, itulah yang ada dalam pikiran Keenan. Apa lagi posisi itu tidak berubah dari awal yang ia jumpai.
Keenan segera menggunakan pakaiannya. Cacing-cacing dalam perut sudah demo, mengajak untuk segera diberi makan.
Tidak ingin menganggu Rebecca, ia segera keluar kamar langsung menuju meja makan.
Tepat di meja makan, ia mendapati meja itu kosong. Lalu bergegas menuju dapur, mungkin saja makanan tersimpan di lemari.
Sekali lagi lemari itu kosong.
"Apa dia tidak masak?" gumam Keenan.
Sesaat ia menarik nafas. Rasa lapar tidak bisa dihindari lagi, usai pulang dari kantor ia memang sengaja tidak makan diluar. Apa lagi tadi siang ia tidak makan. Ya tentu saja didalam saja sudah demo.
Keenan membuka lemari es, mencari sesuatu yang mudah untuk diolah. Pandangannya tertuju kepada pasta spaghetti. Ini makanan yang cepat diolah. Jangan berharap di sana ada persediaan mie instan.
Dengan perasaan dongkol Keenan bersabar membuatnya. Ia hanya membuat seporsi, ia yakin Rebecca tidak akan mau, apa lagi ia sudah terlelap.
**
Usai menyantap spaghetti, Keenan masuk kedalam ruang kerjanya. Masih ada urusan pekerjaan kantor yang ingin ia segera selesaikan. Itu saja masih menumpuk, maklum saja ia baru kembali memulai bekerja.
Keenan menguap seraya merenggangkan otot-ototnya. Ia melirik jam ternyata tidak terasa sudah pukul 23:00.
Rasa kantuk mulai menyeruak. Ini mata itu terasa berat.
Keenan segera keluar dari ruang kerja, lalu masuk kedalam kamar. Pandangan pertama masih menuju ranjang. Rebecca masih dalam keadaan terlelap.
Karena sungguh kantuk Keenan langsung melemparkan tubuhnya di atas sofa, setelah mengambil batal dan selimut, serta mengantikan cahaya lampu.
Tatapannya ke atas langit-langit kamar tidur dengan pikiran memenuhi isi kepalanya.
Tidak menunggu lama deru nafas halus mulai terdengar, menandakan pria tampan itu sudah masuk kedalam mimpi.
Sekali lagi mata Rebecca terbuka. Sejak tadi ia tidaklah tidur seperti yang Keenan pikirkan.
"Mungkin seperti ini lebih baik. Anggap saja mulai sekarang kita orang asing karena pada dasarnya begitu," batin Rebecca disertai lelehan air mata.
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪