
Keenan menggeleng.
"Karena pada saat itu jemputan Sunny belum tiba, sedangkan pihak rumah sakit menghubunginya agar segera datang. Orang tua Sunny harus segera di operasi dan harus mendapat persetujuan dari Sunny. Aku pun tidak bisa menolak karena memang keadaan menjepit," cerita Keenan.
Keenan menatap Rebecca kembali dengan perasaan pilu.
"Tiba di rumah sakit aku ikut mengantar sunny masuk. Hanya beberapa menit saja aku di sana," pungkas Keenan.
Keenan tak lepas dari tatapannya kepada Rebecca, sedangkan yang ditatap seakan membuang muka.
"Aku langsung pulang menuju apartemen, hanya beberapa menit mobil melaju, terjadi kecelakaan tabrak lari yang mengakibatkan dua anak remaja terkapar di tepi jalan dengan simbah darah dan tak sadarkan diri, mereka adalah anak jalanan. Aku turun dan membawa mereka ke rumah sakit kembali karena rumah sakit itu yang terdekat, apa lagi kondisi keduanya kritis. Aku menunggu mereka semalaman, dan salah satu anak remaja itu tidak tertolong lagi. Sedangkan yang satunya berhasil selamat," cerita Keenan tanpa dibuat-buat. "Itulah sebabnya aku tidak bisa pulang, sedangkan ponselku kehabisan baterai," sambungnya.
Mendengar cerita Keenan membuat hati Rebecca tergerak untuk menatapnya. Ia berusaha mencari kebohongan di wajah serta tatapan itu tetapi sayangnya ia tidak menemukan hal itu.
"Misalkan kamu di posisiku, aku yakin kamu juga akan melakukan seperti apa yang aku lakukan," ujar Keenan.
Rebecca bungkam dengan mata berkaca-kaca.
"Aku memang salah," ujar Keenan dengan pandangan lurus ke depan.
Keduanya hening membisu.
"Lihat ini." Keenan memberikan ponsel miliknya kepada Rebecca.
"Untuk apa?"
"Lihat saja."
Dengan terpaksa Rebecca meraih ponsel itu Karen amerasa penasaran. Jarinya langsung menyentuh layar.
Matanya membulat melihat di mana Keenan sedang memakan dengan lahap masakan yang ia hidangkan sore itu. Bahkan makanan itu sudah dingin dan tidak layak lagi dikonsumsikan oleh orang kalangan atas karena keesokan paginya. Makanan itu benar-benar habis. Setelah makan, ia meniup lilin pada kue anniversary mereka dan memakannya sampai habis.
Rebecca benar-benar tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Ia mengira bahwa makanan itu telah dibuang oleh pelayan.
"Kenapa kamu memakannya?" lirih Rebecca dengan nafas turun naik.
"Karena kamu pasti sudah berusaha menyiapkannya," sahut Keenan.
"Apa kamu ingat ketika kamu mempersiapkan sarapan untukku? pada saat itu aku keburu pergi, itu karena mendapat telepon dari pihak rumah sakit, mengabarkan jika anak remaja yang aku tolong harus di operasi kembali. Setelah aku pulang dari rumah sakit, aku kembali lagi ke apartemen dan memakan hamburger buatanmu," ungkap Keenan.
Rebecca tertekun dan tak tau harus mengatakan apa. Selama ini ia sudah salah berpikir.
"Apapun yang terjadi aku tetap ingin berpisah, buat apa mempertahankan hubungan semacam ini," ucap Rebecca dengan tegas.
Deg
Mendengar pernyataan Rebecca membuat Keenan membeku.Ia menatap Rebecca dengan tatapan sendu, tidak ada kebohongan di wajah itu.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!"
"Buat apa Ken? kita menikah karena terpaksa. Apa karena kamu takut perusahaan jatuh di tanganku? atau kamu takut dibilang anak durhaka? begitu?. Buat apa mempertahankan hubungan semacam ini?" cecar Rebecca.
__ADS_1
"Karena aku mencintaimu....."
Deg
Mulut Rebecca terkatup mendengar jawaban dari Keenan. Jantungnya berdebar tak karuan mendengar kalimat yang selama ini ia inginkan lolos dari mulut pria itu.
Sesaat Rebecca terbawa suasana. Tetapi tiba-tiba ia menepis semua itu, ia lalu tersenyum sumbing.
"Jangan bercanda," ucap Rebecca seraya tertawa kecil, sungguh ia tak percaya hal itu. Bisa saja Keenan berpura-pura agar semuanya baik-baik saja.
"Beri aku kesempatan."
Drrrtt
Ponsel Keenan didalam kantong celana bergetar hingga membuat keduanya mengalihkan perhatian di ponsel itu.
Tetapi engan membuat Keenan mengangkatnya.
Drrrtt
Sekali lagi ponsel itu bergetar hingga terpaksa membuatnya merogoh ponsel itu. Ternyata Mommy Isabella yang menghubunginya.
["Segera ke rumah sakit."]
Belum sempat menjawab, sambungan telepon langsung dimatikan.
"Ada apa?" tanya Rebecca dengan perasaan penasaran karena melihat raut wajah Keenan seakan ada sesuatu.
"Kamu mau ikut atau ke apartemen?" bukannya menjawab ia malah melayangkan pertanyaan.
"Rumah sakit."
"Rumah sakit? siapa yang sakit?" tanya Rebecca dengan wajah panik.
"Aku akan mengantar kamu ke apartemen."
Rebecca menggeleng.
"Antar aku ke kediaman Tuan Sun!"
Mendengar permintaan Rebecca yang diluar dugaan membuat Keenan tertekun. Apakah jika ia memberitahukan siapa yang sakit, ia masih tetap akan pergi ke kediaman Daddy kandungnya? itulah yang dipikirkan Keenan.
"Tunggu apa lagi? atau aku naik taksi saja?"
Tanpa berkata lagi Keenan segera melaju menuju kediaman keluarga Sun. Pikirannya kacau karena ia mendengar suara tangisnya Mommy Isabella dalam sambungnya telepon. Sebenarnya apa yang terjadi.
Butuh waktu 20 menit tiba dikediaman keluarga Sun.
Keenan turun, lalu memutari mobilnya membukakan pintu untuk Rebecca. Rebecca menjadi kikuk menerima perlakuan itu.
"Aku tidak bisa ikut masuk. Besok aku akan menjemputmu," ujar Keenan berusaha tenang.
__ADS_1
Rebecca tak menjawab bahkan ia engan menatap Keenan. Melihat ke acuhan Rebecca membuat Keenan kembali menelan pil pahit.
Keenan segera masuk kedalam mobi. Sesaat memandangi Rebecca dari jendela mobil dan akhirnya kendaraan roda empat itu meluncur.
°°°°°°
Di rumah sakit Mommy Isabella menangis tersedu-sedu. Sampai saat ini Daddy Alfred belum juga sadarkan diri. Detak jantungnya lemah.
"Bangun sayang," lirih Mommy Isabella seraya mengusap wajah pucat itu yang tengah terbaring lemah dengan beberapa alat medis di tubuhnya.
Klek
Pintu ruangan dibuka.
"Daddy kenapa Mom?" tanya Keenan segera mendekat.
"Apa kamu khawatir? tidak bukan?" sahut Mommy Isabella dengan tatapan sinis.
Keenan membeku melihat pria paruh baya itu sedang terbaring lemah tak sadarkan diri.
"Mana Eca?" tanya Mommy Isabella karena tak mendapati sosok Rebecca.
"Pergi ke kediaman keluarga Sun," ujar Keenan.
Hal itu membuat Mommy Isabella memegang dadanya. Benarkah saat ini Rebecca tidak peduli lagi dengan mereka? itulah yang ada di kepala wanita paruh baya itu.
"Mommy kecewa kepadamu Ken, sangat kecewa!"
Keenan memejamkan mata, sungguh hatinya sakit melihat wanita yang sangat disayanginya terluka dan kecewa.
"Daddy kenapa Mom?" Keenan tidak menanggapi ungkapan Mommy Isabella tetapi ia melemparkan pertanyaan kembali.
"Jantung Daddy bermasalah. Dokter menyarankan untuk menghindari yang membuatnya syok dan hal-hal yang membuatnya kaget," papar Mommy Isabella.
Keenan mengusap wajahnya mendengar keterangan itu, bahwa kesehatan orang tuanya terganggu akibat permasalahan rumah tangganya.
"Sayang....."
"Sayang.....Daddy sudah sadar? hiks hiks.....jangan tinggalkan Mommy," lirih Mommy Isabella seraya menangis.
"Sudah jangan menangis, Daddy baik-baik saja," lirihnya berusaha menenangkan Mommy Isabella.
Mommy Isabella menghujani ciuman di seluruh wajah itu.
"Mommy sangat takut," lirihnya seakan memberitahukan isi hatinya.
"Daddy tidak akan meninggalkan Mommy di saat seperti ini. Masih ada masalah yang belum terselesaikan," ujarnya.
Sesaat pandangan pria paruh baya itu tertuju kepada Keenan yang tengah berdiri di belakang Mommy Isabella.
Ia tersenyum pilu karena tidak mendapati sosok Rebecca di sana.
__ADS_1
Bersambung......
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪