MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 109. Interogasi Moses


__ADS_3

Gabriella maupun Andre menceritakan semuanya, tidak ada yang mereka tutup-tutupi. Terlebih lagi dengan Andre, bahkan pria dingin itu tidak merasa malu mengungkapkan siapa statusnya.


"Sayang buang jauh-jauh pikiran negatifmu itu, karena kami sama sekali tidak mempermasalahkan tentang kasta. Anak-anak bahagia kami sebagai orang tua juga ikut merasakan kebahagiaan kalian," ungkap Mama.


"Keluarga Januar tidak pernah membedakan kasta, martabat dan sebagainya. Kami juga sebagai orang tua membebaskan anak-anak memilih pasangan masing-masing, dengan syarat seiman," timpal Papa seakan tahu seluk beluk keluarga Januar dari generasi ke generasi.


"Apa kamu sudah mengerti sayang? jadi jangan berkecil hati, bahkan aku lebih suka dengan pasangan yang memulai karir dari nol. Dengan gitu sama-sama merintis dari awal, itu adalah pasangan yang luar biasa termasuk kita sebagai calonnya," ucap Gabriella tidak sedang bercanda.


"Kamu pintar sayang," sahut Mama seakan pemikiran Gabriella mengena di hatinya.


"Ya Papa setuju dengan tantangan kalian Nak," papar Papa mendukung. Dia bisa saja memberi beberapa perusahaan tetapi itu tidak mungkin karena Andre pasti tidak akan setuju. Mendengar rencana mereka membuat Papa sangat mendukung.


"Apa yang dikatakan Gaby benar. Kami harus merintis usaha dari nol. Semoga tabunganku cukup untuk memulai," ujar Andre.


"Sayang kita patungan," ucap Gabriella.


Andre menggeleng seakan tidak setuju.


"Tidak sayang, sepertinya tabunganmu belum diperlukan. Simpan saja untuk jaga-jaga," ucap Andre seraya melemparkan senyuman.


Gabriella membalas senyuman itu serta manggut-manggut.


Papa sama Mama sangat bahagia mendengar rancangan-rancangan kedua calon pengantin ini.


"Sayang sebaiknya kalian membersihkan diri, terus istirahat. Kalian pasti kelelahan. Mama akan menyiapkan makan malam. Bawa Andre ke kamar yang berada di samping kamar Mischa," ucap Mama. "Hmmm untuk saat ini kalian tidak boleh satu kamar sebelum resmi," goda Mama sehingga membuat wajah Gabriella maupun Andre bersemu merah.


"Iya Ma," sahut Gabriella seraya menguap.


"Hmmm istirahatlah Nak, sembari menunggu makan malam," ujar Papa membenarkan ucapan Mama.


Andre, Gabriella berpamitan untuk ke kamar masing-masing. Tetapi karena Andre orang baru sehingga membuat Gabriella yang mengantar ke kamar yang dimaksudkan Mama.


"Sayang akhirnya putri sulung kita mendapatkan jodohnya juga. Semoga Gaby segera menata hati untuk Andre, karena kita tahu sendiri dengan masa lalu yang terus menghantuinya," ucap Mama dengan bahagia.


"Papa yakin, dengan seiringnya waktu rumah tangga mereka dipenuhi cinta. Apa kamu lupa dengan masa lalu kita? hmmm...." Pungkas Papa seakan mengingat masa lalu mereka dulu.


Papa langsung mendekap Mama dengan mesra.


°°°°°°


Di kamar


"Sayang ini kamar kamu, dan di sana adalah kamarku. Ini kamar memang khusus untuk keluarga, seperti yang Mama katakan kita tidak boleh satu kamar," ucap Gabriella seraya merapikan seprei.


"Kita sembunyi-sembunyi saja sayang, pasti Mama sama Papa tidak tahu. Hmmm bukankah hanya kita penghuni di area ini?" goda Andre.


"Hati-hati loh banyak kamera pengintai di Mansion ini," sahut Gabriella dengan bibir mengerucut.


"Sangat mengemaskan." Andre langsung mendekati Gabriella.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Gabriella tak peka.


"Boleh aku memelukmu?" hmmm. "Ya ampun ingin memelukmu pun harus minta izin," Andre membatin.


Mendengar permintaan Andre membuat Gabriella terdiam.


"Apakah harus minta izin segala?" tanya Gabriella dengan polos.


"Tentu saja aku tidak perlu meminta izin segala jika hatimu sudah terbuka untukku, bahkan setiap saat ada kesempatan aku akan selalu memelukmu Gaby, asal kamu tahu," Andre kembali membatin.


"Tentu saja," sahut Andre masih belum beranjak untuk melakukannya.


Gabriella melangkah, membuka lemari untuk mengambil selimut baru. Andre tak tahan lagi lalu dengan penuh keberanian memeluk Gabriella dari arah belakang. Kedua tangan kekar itu melingkar erat pada perut Gabriella.


Tegang, membeku itulah yang dirasakan Gabriella. Jantung keduanya saling berdegup kencang, menerima hal yang tidak biasa mereka lakukan.


Andre menyembunyikan wajahnya di pucuk kepala Gabriella, menyesap aroma wangi menenangkan di helaian rambut indah tersebut.


Gabriella mengigit bibir bawahnya. Tanpa sadar dia mengusap tangan Andre begitu lembut.


"Aku sangat bahagia. Sungguh sangat bahagia. Sesuai dengan keinginan kita," ucap Andre dengan tatapan penuh bahagia. Sayang sekali karena Gabriella tidak melihat kebahagiaan yang dipancarkan Andre saat ini.


"Perjuanganmu belum usai. Lebih berjuang lagi merebut hatiku," ucap Gabriella belum menyadari bagaimana perasannya untuk Andre.


"Tentu saja sayang akan kubuat kamu mencintaiku seutuhnya," sahut Andre dengan sangat yakin.


Andre terdiam sesaat mendengarkan pertanyaan Gabriella yang berhasil menghantam hatinya yang sempat menari-nari beberapa detik tadi.


"Sayang...." Lirih Gabriella karena Andre tak kunjung menjawab.


"Terus dan terus."


"Tetapi tetap gagal?"


Andre lalu membalikan tubuh Gabriella, dan kini keduanya saling berhadapan hanya berjarak beberapa senti saja.


"Aku tidak menyerah."


Gabriella langsung mengembangkan senyuman.


Cup


Andre sekilas mengecup dahi Gabriella. Seketika membuat Gabriella kikuk.


"Baiklah aku akan ke kamarku. Segeralah membersihan diri," ucap Gabriella masih dengan dada bergemuruh.


Andre mengangguk.


°°°°°°

__ADS_1


Setelah membersihkan diri tidak lantas membuat Andre beristirahat. Pria tampan serta dingin itu keluar kamar. Ia ingin berbincang-bincang dengan Papa.


Andre kembali ke ruang keluarga yang berada di lantai dasar. Senyuman mengembang di bibir Andre karena melihat sosok Papa sedang menonton televisi.


"Sepertinya sangat asik Pa," ucap Andre seraya melangkah semakin dekat.


"Kamu Nak, kok tidak istirahat?" tanya Papa mengalihkan fokusnya ke layar televisi menatap Andre.


"Lebih asik berbincang-bincang dengan Papa," pungkas Andre.


Hmmm


Keduanya nonton seraya berbincang-bincang banyak hal. Keduanya cepat akrab.


"Sepertinya ada tamu," suara bariton itu membuat obrolan Papa sama Andre terhenti. Keduanya menoleh.


"Kamu Nak," seru Papa.


Ekspresi Moses tak lepas menatap Andre, tetapi itu tidak membuatnya berpikir sampai kesitu. Moses mengira kedatangan Andre hanya semata dari perintah Alfred.


"Andre kapan kamu datang? apa kamu datang bersama Kakak ipar?" tanya Moses sedikit penasaran karena dia tidak melihat sosok Alfred di sana.


"Beberapa jam yang lalu. Aku datang sendiri," papar Andre.


Hmmm


Papa menceritakan kepada Moses.


"Ikut aku!" Titah Moses seraya bangkit dan melangkah menuju tempat perpustakaan dalam Mansion tersebut


Papa menggelengkan kepala melihat tingkah Moses.


Sebelum meninggalkan Papa, Andre terlebih berpamitan dulu.


Di ruang perpustakaan. Moses menginterogasi Andre sampai ke akar-akarnya karena dia tidak ingin terkecoh lagi.


"Jika semua itu ada unsur dari segi manapun, ingat aku orang pertama yang akan menanggalkan kepalamu," ancam Moses, entah itu hanya ancaman main-main ataupun ancaman serius.


Andre menelan ludah mendengar ancaman itu.


"Apa kamu mengerti?"


Andre mengangguk.


"Aku yakin kamu orang yang pantas untuk Kak Gaby," ujar Moses dengan wajah serius seraya menepuk bahu Andre berkali-kali.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, dan komennya agar author lebih semangat lagi💪

__ADS_1


__ADS_2