MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 155~MDS2


__ADS_3

Keesokan paginya


Rebecca lebih awal bangun dari pada Keenan. Bangun tidur ia segera mandi karena pagi-pagi mereka akan kembali ke Mansion.


Mereka akan makan bersama keluarga besar di Mansion, sekalian menghantar kepergian Keenan.


Siap dengan ritual mandinya. Rebecca sama sekali engan memandangi Keenan. Rasa kecewa didalam hatinya sampai sekarang membekas. Bagaimana tidak, dimalam pengantin suaminya menyebutkan wanita lain yang lain adalah mantan kekasihnya.


Rebecca membawa langkah menuju balkon. Di sana ia akan mendapat cahaya sinar matahari. Bukankah baik untuk kesehatan.


Sedangkan Keenan masih engan bangun dari tidurnya, ternyata pukul 4 subuh ia baru terlelap kembali. Oleh karena itu ia terlambat bangun.


Drrrt


Getaran ponsel di atas meja sofa mengusik tidur nyenyak Keenan. Ia menggeliatkan tubuhnya, berusaha membuka matanya perlahan.


Ia raih ponsel tersebut, ternyata Daddy Alfred yang menghubunginya.


["Iya halo Dad."]


 


["Baik Dad."]


Setelah sambungan telepon putus Keenan segera bangkit berdiri. Sekilas pandangannya ke ranjang tetapi ia tidak mendapati sosok Rebecca.


Tetapi saat ia tau jika Rebecca berada di balkon karena pintu menuju balkon terbuka.


Tidak ingin keluarga menunggu lama Keenan segera masuk kedalam kamar mandi. Daddy Alfred menghubunginya karena pagi ini akan ada acara makan bersama, sekalian melepas keberangkatannya untuk memenuhi wamil.


**


Keenan terpaksa menyusul Rebecca ke balkon seusai dari kamar mandi. Ternyata Rebecca lebih betah berdiam di sana, dibandingkan menunggu didalam kamar.


Hmmm


Deheman Keenan membuat lamunan Rebecca membuyar tetapi tidak membuat ia membalikan tubuh.


"Daddy menghubungiku agar kita kembali ke Mansion sekarang juga," ujar Keenan seraya memandangi punggung Rebecca yang masih betah memandang lurus ke depan.


"Baiklah," sahut Rebecca seraya menarik nafas kasar.

__ADS_1


Ia langsung membalikan tubuh, berlalu begitu saja dengan kepala menunduk. Tanpa ingin melihat sosok pria yang menjulang di hadapannya itu.


Keenan tertekun melihat perubahan Rebecca. Tetapi ia segera menepis pikiran kotornya hingga segera menyusul Rebecca.


Tidak sulit untuk mereka bergegas menuju Mansion karena pada dasarnya mereka tidak membawa barang apa pun selain tas jinjing milik Rebecca.


Keduanya keluar kamar dengan beriringan, tanpa berpegangan tangan seperti para pengantin baru. Bisa dikatakan mereka seperti orang asing saja.


Tidak ada obrolan disepanjang lorong hotel menuju lobi. Seakan mulut keduanya terkatup rapat.


Mereka dijemput oleh supir pribadi Rebecca. Sama didalam mobil juga mereka bungkam. Keenan yang sibuk dengan ponselnya, sedangkan Rebecca sibuk dengan pandangan keluar jendela.


Ujung mata Keenan mendapati apa yang sejak tadi Rebecca lakukan, yaitu berdiam diri memandangi lewat jendela mobil.


Sedangkan Rebecca tidak menyadari hal itu, karena ia juga tidak ingin peduli dengan sosok yang ada di sampingnya.


Hanya butuh waktu 20 menit karena melewati kepadatan para pengendara lainnya mereka tiba di Mansion megah tersebut.


Keduanya turun secara bersamaan. Langsung bergegas memasuki Mansion, dengan Rebecca yang di depan. Sedangkan Keenan mengikuti dari belakang.


Mereka tidak perlu bersandiwara di hadapan keluarga besar karena semuanya juga paham dengan pernikahan mereka.


Keenan sedikit tertekun karena sikap Rebecca seakan acuh kepadanya, tidak seperti awal ia akan berceloteh. Sedangkan sejak dari hotel hanya kalimat baiklah, itu saja yang terucap.


Dada Mommy Isabella sesak mendapati bahwa kedua pengantin seperti menjaga jarak. Ia dapat memahami apa yang terjadi diantara mereka bukanlah seperti pengantin baru pada umumnya.


"Selamat datang pengantin baru," tutur Kiran menyambut kedatangan Keenan dan Rebecca.


Ia paham dengan situasi tetapi ia ingin sedikit bermaksud mewarnai keadaan itu.


"Bagaimana? sukses?" godanya hingga tawa dari beberapa orang di sana memenuhi ruang keluarga.


"Sayang stop jangan godain pengantin baru dong," ucap Bibi Gabriella menengahi candaan Kiran.


Godaan mereka membuat semuanya menggelengkan kepala, kecuali Keenan dan Rebecca.


**


Kini meja makan sudah dipenuhi. Berbagai macam hidangan tertata rapi di atas meja. Dimana makanan antara dua negara yang disajikan.


Saling mengobrol mereka menyantap hidangan itu. Rebecca ha hanya menjawab seperlunya saja ketika ditanyai.

__ADS_1


"Apa yang terjadi sayang? kenapa sejak pertama datang wajahmu murung begitu? apakah Keenan telah melakukan sesuatu hal yang buruk kepadamu?" batin Mommy Isabella, sejak tadi memperhatikan Rebecca secara diam.


Usai makan bersama mereka kembali ke ruang keluarga. Sedangkan Daddy Alfred bersama Mommy Isabella masuk kedalam kamar. Mereka ingin berbicara dengan Keenan.


Sedangkan Rebecca masuk kedalam kamarnya. Entah apa yang ingin ia lakukan di sana. Mungkinkah untuk menenangkan perasaannya untuk sesaat.


Tiba di kamar keduanya Keenan masuk begitu saja karena daun pintu terbuka. Tidak lupa ia tutup karena sepertinya ini pembicaraan tertutup diantara kedua orang tuanya.


"Duduk sayang," ucap Mommy Isabella yang saat ini duduk di atas ranjang.


Keenan mendudukkan dirinya di atas sofa menghadap kepada kedua orang tuanya.


"Son, Daddy tidak bisa mengatakan apapun selain berharap kamu baik-baik di sana dalam menjalani tugas. Ini waktu tidaklah sebentar. Ingatlah dengan statusmu sekarang. Dia bukan Adikmu lagi tetapi istri sah, yang akan menjadi tanggungjawab kamu sepenuhnya." Pungkas Daddy Alfred.


Keenan terdiam, mencerna setiap kalimat yang diucapkan oleh pria paruh baya itu.


"Apa ada masalah diantara kalian berdua?" tanya Mommy Isabella to the point.


Dahi Keenan mengerut mendengar pertanyaan yang dilemparkan Mommy Isabella.


"Semua keluarga juga sudah tau bagaimana pernikahan ini, jadi tidak ada masalah pun yang terjadi diantara kami di sana. Kecuali ada satu masalah," ujar Keenan.


Mendengar ucapan tertahan Keenan membuat kedua paruh baya itu saling memandang dengan perasaan penasaran.


"Masalah apa? Mommy yakin bahwa kamu memperlakukan Eca dengan kasar. Ingat Keenan, Mommy tidak pernah mendidikmu dengan hal negatif!" Teriak Mommy Isabella dengan nafas menderu.


"Sayang tenanglah," ucap Daddy Alfred agar istri tercintanya tetap tenang untuk mendengar penjelasan Keenan.


"Katakan Keenan! Apa yang sudah kamu lakukan kepada Eca? apa kamu menyakitinya?" cecar Mommy Isabella kembali, bahkan ia tidak dapat membendung air matanya. "Dari kalian tiba Mommy menangkap ada yang menyelimuti diri Eca, wajah yang biasanya ceria tadi hanya kesedihan atau kemurungan yang terpancar. Mommy yakin bahwa kamu menyakitinya," keluh Mommy Isabella dengan nada hampir tak terdengar, saking sesaknya untuk berbicara.


"Masalahnya alergi Eca hampir kambuh akibat perintah Mommy itu. Apa Mommy lupa jika dia alergi dengan debu? mungkin saja debu itu melekat di setiap kelopak bunga tersebut." Jelas Keenan.


"Apa?" lirihnya dengan mulut menganga seraya memandang ke arah Daddy Alfred.


Hmmm


Daddy Alfred berdehem untuk mengembalikan keadaan.


"Sekali lagi Daddy tekankan bahwa statusmu sekarang menyandang predikat suami." Peringatan kembali dari Daddy Alfred.


"Cintai dan sayangi dia seperti kamu menyayangi Mommy sama Daddy. Kalimat inilah bekal Mommy untukmu selama menjalani tugas," ucap Mommy Isabella dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


...Bersambung.......


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪


__ADS_2