
# Flashback On #
Setelah kepergian dari ruang kerja, Alfred melongok tak percaya melihat tanda tangan yang telah kububuhkan. Di atas berkas itu juga tergeletak kartu black card dan terselip memory card.
Alfred meraih dua benda itu. Entah apa yang dirasakannya. Seharusnya dia senang karena berhasil memenangkan misi itu. Tetapi hatinya berkata lain.
Lelah berpikir hatinya bergerak ingin menyusul diriku yang dia yakinkan tujuanku adalah Bandara. Dia merencanakan untuk membawaku ke Indonesia, dengan itu dia menyerahkan langsung diriku kepada kedua orang tuaku. Dengan tujuan melihat betapa kasihannya diriku.
Tidak ingin membuang waktu Alfred mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan sampailah di lokasi macet.
# Flashback Off #
"Oma mana Mommy?" itu adalah suara Leon.
Semua membeku mendapati sosok wanita mirip dengan wajahku kecuali Papa sama Mama. Dibenak mereka wanita itu adalah diriku, tetapi mendengar kicauan Leon mereka tersadar jika itu bukanlah aku.
"Pa, Ma apa yang terjadi?" tanya wanita itu ikut duduk di samping Mama. Sedangkan Alfred dengan yang lainnya masih bungkam tak berkedip melihat wanita yang sedang menggoncang bahu Mama.
Klek
Pintu terbuka. Keluarlah perawat sembari mendorong box bayi. Semua menatap dengan mata membulat melihat dua bayi terbaring di box masing-masing dengan beberapa alat di tubuh bayi manggil itu.
Alfred menelan ludah tanpa berkedip.
Deg
Itu artinya diriku tak terselamatkan. Para dokter memilih menyelamatkan dua bayi kembar itu.
"Istriku mana? mana istriku," teriak Alfred sembari mencengkram leher baju salah satu perawat pria.
Dokter Sintya keluar dengan wajah sendu dengan mata berkaca-kaca.
"Kami akan segera membawa bayi ini ke ruang NICU karena lahir prematur," kata perawat karena harus di rawat secara insentif dengan bantuan alat medis yang lengkap. Sehingga dengan terpaksa Mama melepaskan telapak tangan lemah itu di box bayi.
"Bagaimana keadaan putriku?" tangis Mama dengan dada sesak.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" kata wanita itu merasa ada yang aneh.
"Apa yang terjadi?" timpal Moses ikut penasaran.
Beberapa dokter dan perawat yang menanganiku keluar dengan mendorong brankar. Tanpa sepatah kata mereka mengabaikan keluarga itu dengan wajah penuh tanya.
"Sayang," teriak Mama ingin mendekat tetapi tidak bisa karena brankar itu dikelilingi dokter dan perawat. Mereka tidak bisa menjangkau.
Para medis membawa brankar itu menuju ruang ICU.
"Dokter buka! Akan aku pecat kalian semua," teriak Alfred sembari menggedor pintu ruang ICU.
Keluargaku tercengang mendengar kicauan Alfred, tetapi karena diselimuti perasaan kacau semuanya mengabaikan.
Pihak polisi mendatangi keluarga besar yang sedang dirundung kesedihan.
"Selamat siang Tuan. Kami menyerahkan barang milik korban yang Bernama Isabella Januar," kata polisi karena mendapati kartu pengenal.
"Terima kasih Pak," Andre yang menjawab karena semua bungkam.
"Satu lagi, mungkin ini benda milik korban," Pak polisi menyerahkan sebuah buku diary yang tergembok. Untuk itu Moses yang menerima.
Klek
__ADS_1
Pintu di buka dan para tenaga medis keluar satu persatu. Kini hanya masih berdiri dokter Sintya sehingga membuat mereka memberi pertanyaan-pertanyaan.
Dokter Sintya menghela nafas panjang sembari menyeka air mata yang mengenang.
"Kami berhasil menyelamatkan bayi kembar itu," ucap dokter Sintya dengan bibir bergetar. "Kami sudah berusaha berjuang tetapi Tuhan berkehendak lain. Jika dalam 1 jam detak jantung melemah, maaf dengan kata lain nyawa dokter Isabella tak tertolong," terang dokter Sintya sembari meneteskan air mata.
Duar...
"Apa?" semua ikut tercengang.
"Kau kenapa kau tidak memilih istriku? akan kupecat kalian semua," teriak Alfred disertai isak tangis sembari ingin mencekik dokter Sintya jika tidak diamankan oleh Andre.
"Silahkan masuk," lirih dokter Sintya dengan wajah tertunduk karena telah gagal menyelamatkan ketiganya.
Semuanya langsung masuk, yang paling mendahului adalah Alfred. Kecuali keluarga dokter Frans serta Leon, Andre dan Dea hanya menunggu di luar.
Di sana aku terbaring tak berdaya, dibantu dengan alat medis yang melekat di sekujur tubuhku. Benar yang dijelaskan dokter Sintya bahwa detak jantung di monitor seakan tidak berfungsi.
Ruangan di penuhi isak tangis, terutama Mama dan wanita yang sangat mirip dengan wajahku.
Alfred menatapku tak berkedip. Dia menangis? ya pria itu menangis secara diam. Sedangkan Papa juga begitu, raut wajah yang tidak bisa aku jabarkan. Moses tentu saja merasakan hal itu karena Adik tampanku ini sangat menyayangiku.
"Bangun sayang, ini Mama datang hiks hiks...." tangis Mama sembari memelukku. "Kenapa kamu sembunyikan penyakitmu ini sayang? kenapa?" tangis Mama sembari menepuk-nepuk dadanya.
"Dek ini Kakak sudah datang ingin bertemu denganmu jadi bangunlah," tangis wanita itu ikut memelukku bersama Mama.
"Iya sayang ayo bangun dan lihat siapa yang datang. Kak Gaby sudah kembali sayang dan ingin bertemu," lirih Mama tanpa berhenti menangis.
Deg
Alfred membeku dengan tubuh menegang. Baru dia paham sekarang siapa wanita yang sangat mirip bahkan tidak bisa dibedakan dengan diriku. Perasaan bercampur aduk, banyak pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya terapi itu tidak penting dibandingkan dengan nyawaku ini.
Moses diam-diam membuka buku diary milikku.
Buk buk buk
Entah sudah berapa kali pukulan di wajah serta perut Alfred yang dilayangkan oleh Moses. Alfred sama sekali tak membalas.
Papa, Mama serta Gabriella kaget kenapa Moses tiba-tiba menyerang Alfred dengan brutal. Alfred mengusap darah segar yang mengalir dari ujung bibirnya akibat pukulan Moses.
"Brengse*, bajin*an! Teriak Moses tak terkendali kembali meninju Alfred.
" Hentikan sayang, ada apa?" lirih Mama yang tentunya kaget.
Dengan segera Papa mengamankan Moses yang menahan amarah.
"Dia pantas mendapatkan itu Pa, bahkan lebih dari ini. Biar aku musnahkan pria brengse* ini," ujar Moses berusaha terlepas dari pelukan Papa.
"Tenang Nak. Kakakmu sedang terbaring melawan maut," ujar Papa yang belum tau akibat kemurkaan Moses.
Moses mengatur nafasnya berusaha tenang.
"Lihat ini Pa dan bacalah," Moses akhirnya menyerahkan buku diary itu di tangan Papa. Buku harian catatan kisah hidupku.
Dengan tangan bergetar Papa membuka buku itu lalu membacanya dengan menimbulkan suara.
Deg
*Tanggal 9 maret 2022 adalah momen yang diimpikan setiap pasangan di dunia ini, dimana hari bersejarah dan akan terjadi sekali seumur hidup seperti janji suci pernikahan yang telah kami ucapkan di gereja, di hadapan pendeta, keluarga dan jemaat gereja.
__ADS_1
Haha.....tertawa miris itulah yang bisa aku lakukan. Menertawakan diriku sendiri. Raut wajah gembira, senyuman kebahagiaan keluarga khususnya kedua orang tuaku masih terlintas dalam ingatanku. Bagaimana tidak karena putri mereka mengakhiri masa lajangnya dengan suami pilihannya sendiri. Bagaimana tega aku menghapus kebahagiaan di wajah mereka sehingga aku memilih mempertahankan dan mengikuti alur yang mengalir dengan mengorbankan kebahagiaanku demi kedua orang tuaku.
Tiba di Korea aku disuguhi dengan dua sosok yaitu sendiri dengan wanita lain yang sedang bermesraan, yang tak lain adalah maduku atau istri pertama suamiku.
Intinya aku menyetujui pernikahan ini karena suamiku telah mengancam. Mengancam dengan iming-iming atas keluarga besar termasuk kedua orang tuaku*.
******
*Dengan seiringnya waktu, entah kapan perasaan itu mulai tumbuh. Perasaan dimana aku jatuh cinta, bahkan mencintai suamiku. Perasaan itu tidak bisa aku pendam sehingga pada akhirnya terungkap diwaktu yang tidak tepat, diwaktu dimana suamiku menertawai atas perasaan itu*.
******
*Tiga kabar mengejutkan sekaligus, dimana kabar Leon mengalami musibah sehingga mengakibatkan pergelangan kakinya patah. Kabar mengejutkan kedua adalah kehamilanku dan yang ketiga adalah kabar mengejutkan yang paling dahsyat dimana aku di vonis kanker rahim stadium akhir. Hidupku seketika tak berwarna*.
******
*Dan pada akhirnya aku memilih diam. Lebih mementingkan dua nyawa yang harus diselamatkan didalam kandunganku. Hatiku bahkan diriku sendiri tidak aku utamakan lagi, sehingga aku memilih dua bayi ini untuk diselamatkan jika suatu saat ada pilihan. Dari awal sudah aku tegaskan bahwa bayi-bayi tak bersalah ini berhak lahir ke dunia*.
******
*Menyerah! Dan pada akhirnya aku menyerah dan mewujudkan keinginan suamiku*.
******
"Suamiku, sedikit pun aku tidak menaruh dendam. Aku memaklumi atas dendam yang memenuhi dirimu. Atas kedua bayi ini aku minta maaf karena tidak langsung membuatmu menderita selama kehamilanku. Kenapa aku minta maaf? karena kamu yang merasakan ngidam, ngidam yang luar biasa. Mungkin itu karma bagi kamu menurut pandangan orang-orang tetapi tidak bagiku, itu bukanlah karma tetapi ikatan batin mereka sangat kuat terhadap Daddynya."
"Suamiku, terima kasih atas bantuan untuk melunasi biaya pengobatan Leon. Bagaimanapun aku harus berterima kasih untuk itu, walaupun kamu tidak akan pernah tau."
"Suamiku kamu salah paham! Yang kamu cari selama ini bukanlah aku tetapi saudara kembarku. Kamu salah orang sayang.....yang bahkan aku tidak tau dimana keberadaannya, dia menghilang tepat dihari rencana pertemuan kalian."
"Hahaha....mungkin dunia ini sedang menertawaiku. Bagaimana tidak aku menulis panjang lebar seperti ini seakan kamu membacanya ketika aku sudah tiada. Sangat lucu bukan? seperti orang gil*....bila dikatakan gila tentu saja aku tak terima karena otakku masih waras. Bila dikatakan putus asa ya mungkin aku terima, ya putus asa karena takdir hidupku digariskan seperti ini. Mencintai seseorang yang tidak pernah dianggap! Dipercayai mengandung anak kembar tetapi diminta pilihan! Dimana pilihan yang membuat jantung ini ingin meledak."
•Intinya saja karena tidak mungkin ditulis semua karena curahan hati Isabella hampir penuh 1 buku diary.
°°°°°°
Brak
Buku diary itu jatuh begitu saja dari tangan Papa. Seketika tubuh Papa merosot ke lantai dengan berlinang air mata. Kecewa, terluka, sakit itulah yang dirasakan Papa, bukan sekedar Papa tetapi Mama, Gabriella, Moses dan bahkan Alfred sendiri.
"Tuan, Nyonya maaf jika saya lancang masuk. Saya hanya menyampaikan ini, ini pemberian Nona," tiba-tiba Dea masuk kedalam dan menyerahkan kertas kecil yang terlipat.
Papa langsung membuka lipatan itu serta membacanya.
"Pa, Ma sebelumnya aku minta maaf karena merahasiakan ini semua dari kalian. Aku melakukan ini karena sangat mencintai dan menyayangi Papa sama Mama. Pa, Ma tolong jangan benci Alfred, dia melakukan ini karena salah paham karena dendam. Demi apapun jangan benci bahkan untuk mengambil tindakan yang lainnya, bagaimanapun Alfred Ayah dari cucu kembar kalian. Kunci kesalahpahaman terletak pada Kak Gaby, jadi Kak Gaby adalah kunci kebenaran masalah itu."
Itu adalah surat dariku yang sengaja aku titipkan kepada Dea sebelum mereka terbang ke Indonesia.
Buk buk buk
Papa meninju dinding rumah sakit sehingga mengakibatkan punggung tangannya mengeluarkan darah segar, bahkan beberapa kali membenturkan dahinya ke dinding sehingga berakhir mengeluarkan darah segar.
"Aku memang orang tua tidak berguna," lirih Papa terluka, hancur sembari menangis menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa takdirku.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
•Terima kasih atas doa serta ucapannya kakak-kakak semua. Amin🙏
__ADS_1