MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 179~MDS2


__ADS_3

Keesokan harinya


Keenan dan Rebecca segera meninggalkan Mansion setelah sarapan pagi. Seperti rencana yang sudah di susun oleh Keenan. Siang ini mereka akan berangkat ke Lotte World. Mereka batal untuk pergi ke puncak karena cuaca tidak mendukung.


Keenan ingin mengenang masa-masa kecil mereka di sana. Semasa kecil ketika libur kedua orang tua mereka pasti membawa mereka jalan-jalan ke sana.


Lotte world adalah taman bermain yang didalamnya lengkap dengan hotel, mall, bioskop, museum dan arena ice skating.


Tiba di apartemen keduanya bergiliran untuk membersihkan diri. Seraya menunggu Rebecca. Keenan membaringkan tubuhnya di atas sofa depan televisi.


Entah kenapa rasa kantuk begitu menyerang dirinya, hingga dalam sekejap ia langsung terlelap. Keenan juga merasakan tubuhnya sedikit letih.


Klek


Pintu kamar mandi dibuka. Rebecca terdiam sejenak di ambang pintu kamar mandi, memandang sekeliling tetapi di dalam sana tak menemukan sosok Keenan.


Tidak ingin membuang waktu ia langsung memoles serta menyisir rambut panjang indah itu.


Drrtt


Getaran ponsel di atas sofa dalam kamar menganggu kegiatan Rebecca. Ternyata ponsel itu milik Keenan.


Entah sudah berapa kali getaran itu hingga membuat Rebecca terpaksa beranjak dari tempat duduknya. Melangkah menuju sofa.


Deg


Jantungnya berdebar melihat nama yang tertera di sana. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca.


Hmm


Tiba-tiba deheman Keenan dari ambang pintu membuat Rebecca segera mengalihkan pandangannya kearah lain. Sebelum Keenan menyadari perubahan raut wajahnya, dengan segera ia berusaha setenang mungkin.


"Kamu sudah siap?" tanya Keenan sama sekali tidak tau apa yang terjadi.


Drrrtt


Sekali lagi ponsel itu bergetar.


"Ponselmu bergetar," ucap Rebecca seraya membalikkan badan menatap kearah Keenan.


"Siapa yang menghubungi?"


"Lihat saja," setelah mengatakan itu Rebecca segera kembali ketempat semula dengan perasaan campur aduk.


Dahi Keenan mengernyit melihat perubahan di wajah Rebecca. Karena penasaran dengan segera ia melangkah kearah sofa.


Seketika ia memejamkan mata melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Sunny, untuk apa dia menghubungiku?" batin Keenan seraya memandang kearah Rebecca.


Keenan paham sekarang kenapa wajah Rebecca menjadi dingin.


"Kenapa tak diangkat?" ucap Rebecca karena Keenan belum juga kunjung mengangkat sambungan telepon itu.


Tidak ingin Rebecca salah paham Keenan segera mengangkat telepon itu, bahkan menyalakan speaker dan ia berjalan mendekati Rebecca.

__ADS_1


Keenan: ["Iya halo....."]


Sunny: ["Nanti malam aku mengadakan pesta ulang tahunku, semoga saja kamu tidak melupakannya. Datanglah bersama istrimu nanti malam, kehadiran kalian sangat berkesan."]


Setelah mengatakan itu, sambungan telepon langsung dimatikan.


"Jangan salah paham," ujar Keenan.


"Siapa juga yang salah paham," sahut Rebecca.


"Jangan terlalu dipikirkan. Kita tidak akan pergi," imbuhnya.


Mendengar hal itu membuat Rebecca menghentikan bergulat dengan perlengkapan wajahnya. Ia lalu membalas menatap Keenan.


"Dia sangat mengharapkan kedatanganmu, jadi kenapa kamu tidak datang?" ucap Rebecca seperti memberi sindiran halus.


"Bukan aku saja tetapi kehadiran kamu," balasnya.


"Tentu saja aku tidak akan datang," ucap Rebecca dengan lantang seraya beranjak dari kursi duduknya.


"Baiklah, kita putuskan tidak akan menghadiri pesta itu," ujar Keenan sangat berusaha menjaga perasaan Rebecca.


Setelah mengatakan itu Keenan segera masuk kedalam kamar mandi. Sedangkan Rebecca keluar dari kamar.


**


Didalam mobil hanya ada keheningan. Keenan ingin berbicara tetapi ia tidak ingin membuat Rebecca terganggu.


Sedangkan Rebecca sejak tadi memandang kearah keluar jendela mobil. Entah kenapa hatinya jadi sakit mendapati jika Keenan masih berhubungan dengan Sunny.


"Kenapa berhenti?" bukannya menjawab Rebecca malah melayangkan pertanyaan karena mobil menepi dan berhenti ditengah-tengah perjalanan.


"Aku hanya mengkhawatirkan dirimu, apakah baik-baik saja?" ujar Keenan meralat ucapannya tadi.


Mendengar pernyataan Keenan membuat Rebecca mengangkat salah satu alisnya.


"Tidak ada yang harus dikhawatirkan," sahutnya dengan malas.


"Sepertinya kamu tidak menikmati perjalanan ini. Sebaiknya kita putar balik saja," ujar Keenan seraya melipat kedua tangannya, bertumpu pada setir mobil dengan tatapan ke wajah Rebecca.


"Itu hanya perasaan kamu saja," sahut Rebecca dengan perasaan bersalah karena telah membuat Keenan berpikiran bahwa dirinya terpaksa menerima ajakannya.


Keenan lalu mengalihkan tatapannya ke depan dengan tatapan datar.


"Apa kamu masih memikirkan Sunny? Demi apapun kami tidak memiliki hubungan lagi selain teman. Jika kamu belum percaya juga, bagaimana jika kita menghadiri undangan itu? agar semuanya tidak ada kesalah pahaman," ujar Keenan tanpa memandang Rebecca.


"Maaf," lirih Rebecca yang berhasil membuat Keenan menoleh kearahnya, hingga pandangan keduanya beradu.


Keenan mengembangkan senyumannya seraya mengusap kepala Rebecca dengan penuh kasih sayang.


"Kamu boleh meragukan perasaan cintaku kepada mu tetapi percayalah bahwa hubungan kami sudah lama usai," papar Keenan.


Rebecca terdiam menunduk. Entah kenapa hatinya tiba-tiba sangat senang mendengar pengakuan Keenan itu.


°°°°°°

__ADS_1


Tiba di Lote World


Karena hari libur tempat itu sangat ramai pengunjung.


Tanpa persetujuan dari Rebecca. Keenan mengenggam erat telapak tangannya. Sungguh mereka terlihat pasangan suami istri yang sangat romantis.


Keduanya sepakat menggenakan masker, topi serta kaca mata hitam. Itu bertujuan untuk menghindari para wartawan dan orang-orang yang mengenali mereka.


Saat ini mereka tidak ingin diganggu. Mereka ingin liburan kali ini seperti orang-orang pada umumnya tanpa dikenali dengan status.


"Kita kemana dulu?" tanya Keenan hingga menghentikan langkahnya.


"Aku ingin ke museum," sahut Rebecca yang sudah tentunya Keenan tau karena sejak kecil Rebecca sangat menyukai kunjungan ke museum.


Dengan segera Keenan semakin menggenggam tangan Rebecca melanjutkan langkah mereka yang tadi sempat terhenti.


Tiba di museum


Rebecca melihat-lihat lukisan. Kebetulan hari itu ada pameran. Dengan setia Keenan membuntutinya.


"Apa kamu menyukai lukisan itu?" tanya Keenan. Lukisan dengan tawaran harga cukup tinggi.


"Hanya sekedar suka tetapi untuk memilikinya tidak, lebih berkesan lagi jika dipajang dalam museum," ucap Rebecca seraya memperhatikan lukisan tersebut.


"Aku dapat membangun museum jika kamu menginginkannya," ujar Keenan hingga membuat Rebecca menoleh kearahnya.


"Terlalu berlebihan," ucap Rebecca seraya tersenyum, bahkan tanpa sadar tangannya mencubit halus lengan Keenan.


Keenan membeku seraya melihat bekas cubitan Rebecca di tangannya barusan. Hal itu membuat Keenan semakin gemas.


Sudah 1 jam mereka didalam museum. Kini Rebecca sedikit merasa letih.


"Kamu kelelahan?" tanya Keenan seakan tau.


"Tidak," bohong Rebecca.


"Bagaimana jika kita makan siang dulu?" saran dari Keenan.


Rebecca mengangguk setuju karena ia juga merasa lapar. Bahkan mereka melewati makan siang untuk beberapa jam.


Kini keduanya sudah berada di restoran.


Sesuai kesepakatan mereka memesan jeongol shabu-shabu. Sepertinya sangat cocok untuk cuaca saat ini.


Keenan menyajikan daging, sedangkan Rebecca menyajikan sayuran. Keduanya terlihat kompak seraya mengobrol ringan.


"Apa kamu masih ingat ketika Kak Leon tersedak gara-gara tersangkut sayuran ini?" ujar Keenan seraya menunjuk sayur yang dimaksudkan.


"Tentu saja, sampai Kak Leon ditangani dokter," sahut Rebecca.


Keduanya saling tertawa lepas seakan tak ada yang terjadi dalam hubungan mereka saat ini.


Bersambung......


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪

__ADS_1


__ADS_2