
Di Korea
Gabriella mulai menjalankan aktivitasnya menjadi seorang pengacara. Dia berhasil membangun kantor untuk dirinya.
Sesuai keinginannya Gabriella ingin menetap di Korea, agar selalu dekat dengan kami. Gabriella menggaet wanita lebih tua 2 tahun darinya untuk menjadi asisten pribadinya yang berasal dari tanah air.
Gabriella juga membeli apartemen yang tidak jauh dari kantor. Karena ingin mandiri dia memilih tinggal sendiri.
Seperti pagi ini Gabriella sudah bersiap-siap akan berangkat ke kantor. Tentunya sudah sarapan pagi. Dalam perjalanan menuju kantor ponselnya bergetar, menandakan notifikasi pesan masuk.
Dokter Frans : ["Apa kamu ada waktu nanti malam? jika berkenan aku ingin mengajak kamu makan malam."]
Gabriella:["Aku tidak ada kegiatan apa-apa."]
Dokter Frans :[Apa kamu setuju? kamu sendiri memilih tempatnya."]
Gabriella: ["Oke!"]
"Cuci mata tak masalah sekali-sekali," gumam Gabriella.
Tidak butuh lama kini mobil yang dikendarainya sudah berhenti di parkiran kantor.
Gabriella langsung masuk ke ruangannya yang berada di lantai 3. Bangunan itu hanya memiliki 3 lantai.
"Selamat pagi Gea," sapa Gabriella, ternyata asisten pribadinya datang terlebih dahulu.
"Selamat pagi juga Nona," balas Gea sembari bangkit berdiri, dia sama sekali tidak menyadari kedatangan Gabriella karena saking fokusnya ke layar monitor laptop.
"Segera ke ruangan," ucap Gabriella langsung berlalu menuju ruangannya.
Gea merapikan berkas serta agenda jadwal kegiatan Gabriella hari ini. Dan tidak lama Gea menyusul Gabriella.
Gea meletakan beberapa berkas di atas meja kerja, sesudah itu Gea membacakan jadwal agenda Gabriella hari ini.
"Baiklah jika begitu, lanjutkan pekerjaanmu Gea," ucap Gabriella sembari mengecek berkas yang diberikan Gea. Berkas klien yang ingin menjadikan Gabriella untuk menangani kasus.
Ting
Notifikasi ponsel Gabriella, menandakan pesan masuk. Karena masih fokus dengan pekerjaannya dia mengabaikan dulu pesan tersebut tanpa tau siapa pengirimnya.
"Huh lelah juga," ucap Gabriella sembari meregangkan otot-ototnya setelah cukup lama di depan layar laptop.
Klek
"Nona saatnya makan siang. Nona ingin makan diluar atau saya pesankan?" tanya Gea.
"Pesan saja Gea, aku lagi malas keluar," ucap Gabriella.
Selepas kepergian Gea, Gabriella mengecek ponselnya. Banyak email yang masuk dan ada satu pesan dari Andre.
Andre: ["Apa kamu ada waktu nanti malam? hmmm aku ingin mengajakmu untuk makan malam."]
Kening Gabriella mengerut setelah membaca pesan tersebut. Seketika senyuman mengembang di bibirnya karena bisa saja nanti malam mereka makan bersama, dan ini menurutnya lebih seru.
Gabriella: ["Baiklah aku setuju. Bagaimana jika aku yang memilih tempatnya?"]
__ADS_1
Andre: ["Oke!"]
Gabriella menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Kenapa bisa sama? apa mereka tau satu sama lain?" gumam Gabriella mengingat ajakan dokter Frans dan Andre.
°°°°°°
Malam menjelang
Kini Gabriella sudah berada di sebuah cafe yang banyak dikunjungi para ABG. Ya Gabriella sengaja memilih tempat itu, agar bermaksud mulai membuka hati yang telah tertutup selama ini.
"Mana mereka, kok lama sekali? apa mereka tidak jadi?" gumam Gabriella dengan pandangan ke sana sini.
Di parkiran dua pria yang mengundang satu wanita sama-sama turun dari mobil masing-masing, bahkan mobil mereka berdampingan.
"Andre!"
"Dokter Frans!"
Seru mereka berdua secara bersamaan dengan tidak percaya.
"Kamu di sini juga Andre?" ujar dokter Frans sembari fokus membaca pesan dari ponselnya.
"Hmmm aku juga tidak menyangka kamu berada di sini juga," sahut Andre sembari melirik ponselnya.
Mereka mengakhiri obrolannya karena ingin segera masuk untuk menemui wanita yang mereka undang, mereka tidak ingin wanita itu menunggu lama.
Sesuai arahan, mereka berjalan menuju tempat dimana meja yang ditempati wanita yang mereka undang. Ada sedikit rasa aneh dan ingin bertanya-tanya bagi keduanya karena tanpa sengaja mereka berdua berjalan menuju kearah yang sama.
Deg
"Selamat malam Frans, Andre," sapa Gabriella sembari bangkit berdiri.
Dokter Frans maupun Andre saling memandang dengan penuh tanda tanya.
"Maaf aku tidak memberitahu kalian, hmmm bukankah semakin seru jika kita makan bertiga?" ucap Gabriella tanpa merasa salah, sungguh wanita cerdas ini begitu peka dengan keadaan saat ini.
Dokter Frans dan Andre segera menduduki kursi masing-masing yang menghadap Gabriella.
"Ingin makan malam berdua tetapi kenyataannya menjadi kacau," batin dokter Frans.
"Rencanaku jadi gagal total, tau-taunya sainganku di sini juga," Andre membatin.
"Halo.... hmmm kok kalian diam-diam saja? apa tempat yang kupilih tidak sesuai dengan keinginan kalian?" tanya Gabriella.
Keduanya menggeleng.
"Suka kok," sahut mereka secara bersamaan.
"Oke. Kalian pesan apa?"
"Samakan saja dengan pesanmu," ujar dokter Frans.
"Samain juga," timpal Andre.
__ADS_1
Gabriella mengerutkan kening, merasa sedikit aneh karena biasanya tidak seperti ini.
Tidak menunggu lama pesanan mereka sudah tertata di atas meja. Mereka menikmati hidangan itu sembari mengobrol.
"Kapan mereka kembali? sudah rindu dengan si kembar," ujar dokter Frans.
"Sepertinya besok, begitulah yang diberitahu oleh Mama," sahut Gabriella.
"Tuan juga menginformasikan jika besok mereka akan kembali," timpal Andre yang lebih tau.
"Akhirnya dia bucin dan bertekuk lutut dengan Adik ipar," ujar dokter Frans menceritakan Alfred.
"Sepertinya begitu. Selama honeymoon Adikku tak dibiarkan keluar kamar sehingga membuatnya bosan dan ingin secepatnya pulang," ucap Gabriella menceritakan keadaan honeymoon pasangan pengantin lama itu sesuai pengakuanku ketika menghubungi Gabriella.
Dokter Frans maupun Andre senyam-senyum sembari mengkhayal tingkat tinggi.
"Ada yang lucu?" ucap Gabriella dengan mata sedikit membesar menatap dokter Frans serta Andre bergantian.
Keduanya sama-sama menggeleng seperti orang bodo*.
Deg
Mata Gabriella dan Andre membulat melihat perlakuan dokter Frans, dimana dokter Frans sedang mengusap ujung bibir Gabriella menggunakan jari jempolnya.
"Maaf ada sedikit sisa makanan," ucap dokter Frans sembari menggelap tangannya dengan tisu.
"Kalah cepat. Kenapa juga tidak menggunakan tisu?" Andre berperang dengan hatinya sedikit kesal melihat perbuatan dokter Frans.
Gabriella merasa canggung, bahkan jantungnya tiba-tiba berdebar tetapi dia berusaha menyembunyikan perubahan tubuhnya dihadapan kedua pria ini.
"Aku permisi ke toilet dulu," ucap Gabriella bermaksud meredamkan kekacauan pikirannya.
"Butuh aku antar?" ujar mereka secara bersamaan.
Gabriella menaikan kedua alisnya.
"Tidak perlu, aku hanya sebentar," sahut Gabriella langsung berlalu cepat.
Dalam perjalanan menuju toilet Gabriella sedikit aneh dengan sikap dokter Frans maupun Andre.
"Apa yang terjadi dengan mereka?" sedikit perasaan aneh.
Didalam toilet Gabriella memandangi wajah cantiknya di depan cermin sembari memegang dadanya yang masih berdegup kencang.
"Ada apa ini? ini pertama kalinya aku merasakan jantungku kembali berdebar?" gumam Gabriella. Ya untuk pertama kalinya perasaan itu dia rasakan ketika bersama dengan Bernat.
Di meja kedua pria itu saling diam. Entah apa yang mereka pikirkan.
"Andre apa kamu menyukai Gaby?" rasa penasaran dokter Frans tidak bisa ditahan lagi sehingga membuatnya berani menanyakan hal ini.
"Apa itu penting bagimu?" sahut Andre tidak ingin menjawab pertanyaan dokter Frans.
Hmmm
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪