
Sayup-sayup Rebecca mendengar gemercik air. Hingga membuatnya perlahan membukakan mata.
Deg
Ia baru ingat jika saat ini berada di kamar pribadi dalam ruangan CEO.
"Ya ampun, sudah jam berapa ini?" gumam Rebecca seraya menguap, lalu beranjak bangun.
Klek
Pintu kamar mandi terbuka. Tidak lama sosok menjulang tinggi serta gagah itu berdiri di ambang pintu dengan balut handuk sebatas pinggang.
Glek
Mata Rebecca membulat dengan mulut menganga mendapati sosok Keenan dengan keadaan seperti itu.
Dengan segera ia membuang muka. Jangan ditanyakan lagi detak jantungnya saat ini, hampir saja ingin meledak.
Senyum sinis terukir di bibir seksi Keenan. Dengan santai ia berjalan mendekati lemari pakaian yang memang sedia di kamar itu.
"Apa Kak Ken selama ini tinggal di kantor?" batin Rebecca karena melihat Keenan membersihkan diri.
"Maaf aku ketiduran. Memang sekarang sudah jam berapa?" tanya Rebecca masih memandang ke arah lain, bisa dikatakan berlawan arah.
Setelah berpakaian Keenan menatap Rebecca dengan tatapan sinis.
"Kau bicara dengan tembok apa dengan orang?" pertanyaan kasar itu membuat Rebecca mengatupkan mulut. Ya tentu saja ia berbicara dengan orang, tetapi masalahnya orang tersebut seenaknya saja berpenampilan kurang sopan.
"Tentu saja sama Kak Ken," sahut Rebecca pada akhirnya.
"Segera bereskan obat-obatan itu. Sekarang sudah pukul 8 malam," ujar Keenan seraya mengulang lengan kemejanya.
"Apa? bagaimana ini? Daddy sama Mommy pasti khawatir," cicit Rebecca terkejut serta langsung memikirkan kedua orang tua mereka.
"Berhenti memikirkan mereka. Kau bukan anak kecil lagi. Bagaimana kau akan menjadi direktur jika selalu berada di bawah ketiak Daddy sama Mommy. Kau sudah dewasa!" Ujar Keenan dengan tegas. "Kebetulan malam ini Daddy sama Mommy menghadiri undangan kolega," imbuhnya.
Pernyataan Keenan tentu saja membuat dada Rebecca sesak. Pria ini selalu saja mengatai bahwa dia tidak dewasa dan tidak mandiri. Dari mana coba ia tau latar belakangku setelah dewasa.
"Singkirkan tuduhan Kakak. Aku memikirkan Daddy dan Mommy karena tidak ingin mereka berpikir macam-macam, bukan semata manja atau apa lain sebagainya. Stop mengatakan aku tidak dewasa dan tidak mandiri!" Ucap Rebecca dengan lantang hingga tatapan mereka beradu dengan sorot mata sama-sama memancarkan kekesalan.
__ADS_1
Rebecca bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan keluar kamar. Sampai di sofa ia menyambar tas jinjing lalu berjalan menuju pintu keluar dengan perasaan dongkol.
Tangannya terangkat menyentuh ganggang pintu dan siap untuk memutar. Tetapi pintu tak bisa di buka. Itu pertanda harus di buka menggunakan sandi.
Tidak menjadi masalah karena ia sangat hafal sandi itu. Dengan nafas naik turun menahan emosi, ia menekan angka itu tetapi pintu tak berhasil buka.
"Kenapa Kakak mengantikan sandinya? asal Kak Ken tau jika itu tanggal pernikahan Daddy sama Mommy!" Seru Rebecca dengan nada meninggi.
Keenan terdiam mendengar pernyataan Rebecca. Yah ia memang merubah sandi itu. Dengan angka spesial.
"Tolong buka Kak, aku ingin pulang sebelum orang tua kita kembali," lirih Rebecca seperti memohon tanpa membalikan tubuh. Kini matanya mulai mengembun, sekali kedip saja maka bulir bening itu akan bergulir.
"Kita pulang sama-sama," titah Keenan, lalu segera membuka angka yang pastinya tak diketahui oleh Rebecca karena itu juga tak penting bagi Rebecca.
Klek
Pintu terbuka, bukannya melangkah Rebecca malah diam mematung.
"Mau kau apa? apa kau hanya berdiam diri saja di sini?" bentak Keenan tersulut kesal melihat Rebecca engan keluar. Tanpa pikir panjang Keenan langsung menarik lengan Rebecca, membawanya keluar.
"Lepas!" Lirih Rebecca seraya dengan cepat menghentak genggaman Keenan, hingga terlepas. Tanpa berkata lagi Rebecca berlari kecil menuju lift umum. Ia tidak ingin satu lift dengan Keenan.
Karena kesal Rebecca mengabaikan panggilan itu. Panggilan itu tidak menghentikan langkah berlarinya.
Dengan cepat Keenan memasuki lift khusus, bermaksud mengejar Rebecca. Ia tau bahwa supir pribadi antar jemput Rebecca kemana-mana sekarang berada di Mansion.
Ting
Pintu lift lantai dasar terbuka. Tanpa merasa takut Rebecca bergegas berlari kecil menuju loby. Lampu kantor semuanya masih menyala, itu karena petugas malam tau bahwa Keenan masih berada di kantor.
Ting
Pintu lift khusus terbuka. Dengan segera Keenan keluar, bahkan berlari kecil menuju loby. Ia masih dapat melihat sosok Rebecca berlari, seraya menjawab pertanyaan satpam sembari berlari.
Rebecca bukan berlari menuju parkiran tetapi ia berlari menuju jalanan. Menunggu taksi lewat.
" Taksi!" Seru Rebecca seraya melambaikan tangan.
"Ikut aku!" Tiba-tiba tangan Rebecca dicekal erat oleh Keenan.
__ADS_1
"Lepas Kak sakit," lirih Rebecca berusaha melepaskan genggaman itu. Sedangkan supir taksi lirik sana lirik sini melihat perdebatan mereka.
Keenan tak bergeming. Ia tidak mengindahkan permintaan Rebecca.
Rebecca menarik nafas panjang.
"Aku tidak ingin merepotkan siapapun, jadi biarkan aku naik taksi saja. Kak Keenan juga pasti kelelahan dan perlu istirahat bukan?" ucap Rebecca sembuh mungkin bahkan dengan gerakan halus melepaskan cekal di tangannya.
"Nona jadi atau tidak? jangan membuang waktu saya," ujar supir taksi seraya menjulang kepalanya di jendela mobil.
"Tunggu Pak," sahut Rebecca.
"Jalan Pak!" Timpal Keenan.
Supir taksi bingung ingin mendengar yang mana.
"Anak muda makanya jangan selingkuh, istri secantik ini kok diselingkuhi," ujar pria paruh baya itu, bahkan sang supir ini tidak mengenal diri mereka.
Mendengar tuduhan tak berdasar itu berhasil membuat Keenan maupun Rebecca saling memandang dengan mata melebar.
"Nona, saran Bapak dijaga suaminya dengan ketat bila perlu pakai gembok. Sekarang lagi viral yang namanya pelakor atau perebut suami orang. Apa lagi suami Nona begitu tampan dan dermawan dari penampilannya," ujarnya. "Dan untuk kamu anak muda, sekarang juga lagi viral yang namanya pembinor atau perebut istri orang." Setelah mengatakan itu taksi melaju dengan cepat meninggalkan dua orang yang membeku.
Rebecca tersadar ketika melihat taksi dari kejauhan, dengan gerak cepat ia kembali melambai dan segera masuk. Sedangkan Keenan sejak tadi membeku atas perkataan konyol pria paruh baya tadi, bahkan ia tidak menyadari Rebecca.
Melihat Rebecca sudah menaiki taksi baru ia tersadar. Pada akhirnya ia tidak dapat memaksa Rebecca lagi.
**
Didalam taksi Rebecca menyandarkan kepalanya. Rasa sakit gatal di tenggorokannya mulai menghilang. Ya alergi itu tidaklah lama asal akan mendapat penanganan langsung.
"Mulai saat ini aku tidak ingin merepotkan orang. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa mandiri. Kak akan Eca buktikan, bahwa tuduhan Kakak itu tidak benar," gumam Rebecca dalam hati.
Didalam mobilnya Keenan menyandarkan kepala kesadaran kursi seraya tangannya menggenggam setir kemudi. Perkataan konyol supir taksi tadi membuatnya menggelengkan kepala.
"Sangat konyol," ujar Keenan seraya menginjak pedal gas, melajukan mobil mewah itu membelah jalanan malam.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
__ADS_1