MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 122. Perpisahan


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian


Rumah tangga kami menjadi panutan. Alfred benar-benar membuktikan janjinya. Aku sangat bahagia memiliki pendamping hidup yang selalu ada buatku.


Keenan maupun Kiran sekarang berusia 13 tahun. Sedangkan Leon berusia 19 tahun. Dan Becca berusia 9 tahun.


Becca adalah putri dari Dea. Di usia Becca 1 tahun, Dea meninggal dunia karena sakit. Dea mengindap kanker getah bening. Sedangkan dia tidak memiliki suami karena Becca lahir tanpa di sengaja atau musibah. Bahkan Dea sampai menghembus nafas terakhir tidak mengetahui batang hidung yang telah menidurinya sampai menghasilkan Becca.


Dari hamil hingga lahir. Aku dan Alfred lah merawat Becca karena pada saat itu Dea sering sakit-sakitan. Dan akhirnya meninggal dunia.


Kami sudah menganggap Becca adalah putri kami sendiri. Bocah cerewet dari yang lainnya, dan tidak bisa diam. Selalu heboh, dan itu adalah poin pertama yang membuat Keenan tidak menyukainya.


Sedangkan Keenan adalah pria yang irit bicara sama persis seperti Uncle Moses.


Becca adalah bocah perempuan yang sangat cantik dengan wajah perpaduan dari kedua orang tuanya. Wajah Becca adalah foto copy dari wajah Daddy yang tidak diketahui sampai saat ini.


Hari ini Keenan baru saja berangkat ke Indonesia. Sesuai kesepakatan dua belah pihak, Keenan akan tinggal bersama Opa dan Oma di Indonesia sampai menyelesaikan sekolah menengah atas di sana.


Remaja tampan itu berangkat seorang diri menggunakan jet milik keluarga kami. Tentu saja hal itu tidak menyulitkan Keenan karena selama ini sudah sering ke luar negeri seorang diri sesukanya.


Papa sama Mama sangat menyayangi Keenan, bukan berarti tidak menyayangi Leon, Kiran dan Becca. Tetapi Keenan setuju dimintai Opa dan Omanya tinggal bersama mereka.


Yah ini kesempatan untuk Keenan jauh-jauh dari Becca. Bocah ingusan yang selalu mengakui dirinya adalah pacar monyetnya. Keenan kadang malu kepada teman-teman sekolahnya.


Di Mansion ataupun sekolah mereka sering berdebat, itu karena kelakuan kanak-kanak Becca. Tentu saja Keenan sudah merasa malu karena usianya sudah remaja.


Ya aku harus mengalah. Orang tua kami sudah berumur jadi biarlah Keenan untuk sementara tinggal sama mereka karena pada saatnya nanti dia akan memimpin perusahaan. Dalam arti akan tinggal bersama kami.


"Sayang sudahlah," ucap Alfred dengan lembut seraya mengusap punggungku. Aku masih saja menangisi kepergian Keenan.


"Aku pasti merindukan Keenan sayang," sahutku seraya terisak.


"Kita akan mengunjunginya setiap bulan, bahkan lebih dari itu jika ada kesempatan," ujar Alfred.


"Apa kamu tidak merindukan putramu sendiri?" tanyaku karena sejak tadi Alfred tenang-tenang saja.


"Siapa bilang? orang tua mana yang tidak sedih tetapi kembali lagi itu sudah menjadi resiko kita sebagai orang tua. Suatu saat mereka juga merasakan apa yang pernah kita rasakan," pungkas Alfred seraya memelukku.

__ADS_1


Aku berusaha merendam tangisku. Sedangkan Becca maupun Kiran lagi di rumah Bibinya Gabriella. Dan Leon pastinya lagi di kampus. Hanya kami dan beberapa pelayan saja yang ada di Mansion.


"Bagaimana jika kita jalan-jalan saja, mumpung kita lagi berduaan. Sepertinya kamu harus berbelanja sayang," usul Alfred.


"Kamu tahu bukan kalau istrimu ini tidak suka berbelanja?" sahutku dengan ketus karena memang tidak suka menghamburkan uang, bukan karena kekurangan uang tetapi lebih baiknya memberi santun kepada anak yatim atau orang yang memerlukannya.


"Sayang uang suamimu ini tidak akan habis, belanja apa saja sepuasnya," imbuh Alfred kembali.


"Sayang itu semua hanya titipan sementara," kataku mengingatkan Alfred.


"Iya sayang aku tahu, maka dari itu semasih kita hidup maka kita pergunakan sebaik mungkin. Aku bekerja keras itu semua untuk kalian," pungkas Alfred seraya mengusap.


"Sepertinya kamu mengantuk sayang. Apa seharusnya kamu istirahat saja, beberapa hari ini kamu sering lembur," kataku merasa kasian.


"Tidak sayang, pokoknya hari ini kita harus jalan-jalan," kekeh Alfred.


Aku berpikir sejenak. Untuk menghibur kesedihan ini aku akan melakukan kegiatan agar tak kepikiran Keenan terus.


"Bagaimana?" tanya Alfred seakan tidak sabar menunggu persetujuanku.


"Aku setuju. Hari ini kita menghabiskan waktu di sana," ujar Alfred menyetujui.


"Apa kita harus menjemput anak-anak?" tanyaku.


"Biarkan saja mereka di sana. Kita pergi berdua saja."


Aku mengangguk.


°°°°°°


Didalam jet


Keenan menatap jendela dengan diam. Jangan salah jika dia tidak rindu dengan kedua orang tuanya. Tetapi karena Opa sama Oma memaksa, dia luluh juga. Apa lagi ini kesempatannya untuk menghindari Becca.


Seketika ingatannya kepada momen perpisahan mereka tadi.


"Kak Ken baik-baik di sana yah? jangan lupa makan dan minum susu," pesan Becca dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Aku bukan anak kecil lagi jadi tidak perlu kamu peringatkan," jawab Keenan dengan sikap acuh.


"Sayang tidak boleh begitu. Berterima kasih dong karena sudah di ingatkan oleh Adikmu," aku menyela karena tidak menyukai jawaban dari Keenan.


"Bersiaplah beberapa menit lagi keberangkatanmu," ujar Alfred.


Mereka saling berpelukan untuk melepas keberangkatan Keenan. Tepat giliran Becca, Keenan tak melakukan sehingga membuat bocah cantik itu menunduk dengan mata berkaca-kaca.


Keenan akhirnya melangkah keluar. Dengan segera Becca berlari mengejarnya, lalu memeluk tangan Keenan dari belakang, sehingga langkahnya terhenti.


"Kak Ken Becca pasti merindukan Kakak. Kak Ken jangan lupa sama Becca yah?" isak tangis Becca seraya memeluk tangan Keenan.


Keenan tak bergeming, bahkan membalikan badan dia seakan engan.


"Maaf atas sifat dan sikap Becca selama ini yang selalu memancing emosi Kak Ken. Becca janji tidak akan bersikap seperti anak kecil lagi, asalkan Kak Ken tidak membenci Becca," lirih Becca dan disaksikan oleh kami.


"Iya!" Ucap Keenan dengan singkat seraya melepaskan pelukan Becca di tangannya.


Becca tidak puas dengan jawaban Keenan tetapi dia tidak dapat memaksa karena begitulah seorang Keenan, calon pemimpin HUGO GROUP.


Keenan kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil. Dia akan di antar oleh supir pribadi keluarga.


Keenan memasuki mobil dengan jendela terbuka lebar, agar dapat melambaikan tangan. Becca kembali berlari mendekat.


Tepat di pintu mobil. Becca berjinjit lalu mencium pipi sebelah kiri Keenan. Tentu saja Keenan kaget dan tak menyangka jika Becca berani melakukan itu. Jangankan menciumi Becca, Kiran saja dia engan untuk melakukannya walaupun tidak ada maksud lain.


"Da.... da.... Kak Ken.... " Becca melambaikan tangan tanpa merasa bersalah dengan apa yang barusan dilakukannya. Sedangkan Keenan menunjukan wajah tak bersahabat.


**


Keenan menyandarkan kepalanya.


"Dasar bocah menjengkelkan," umpat Keenan seraya mengusap pipi sebelah kirinya.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪

__ADS_1


__ADS_2