MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 41. Dia Wanita Itu


__ADS_3

Hari ini adalah kepulangan Alfred dari rumah sakit. Dokter sudah memperbolehkan pulang karena sudah dinyatakan sembuh.


Rupanya Om dan Tantenya belum pulang ke kota x. Mereka kembali ke rumah sakit untuk menjemput Alfred sekalian Tante Meysi ingin kembali bertemu denganku.


"Sayang kamu belum bersiap-siap?" kata Tante Meysi membuat Alfred menyipitkan mata. Jujur dia tidak suka kehadiran Tantenya ini setelah mendengar ingin menjodohkan dokter Frans dengan diriku.


"Diperbolehkan pulang siang Tante," ujar Alfred tak semangat.


"Apa kamu benar-benar sudah baikan Nak?" tanya Om Julio ingin memastikan.


"Sudah Om. Aku juga sudah bosan berlama-lama berdiam diri dikamar bernuansa putih serta bau obat-obatan,"


Hmm


Dokter Frans datang untuk memeriksa Alfred kembali sebelum pulang.


"Sayang sebelum Mommy pulang tolong tunjukan dulu ruangan calon menantu Mommy," pertanyaan konyol Tante Meysi membuat tiga pria itu saling memandang.


"Mom tidak boleh ngomong begitu. Dia sudah memiliki keluarga," sela Om Julio.


"Mommy tidak yakin Dad, makanya ingin Mommy tanyakan langsung. Bisa jadikan itu bualan putra kita saja," Tante Meysi menganggap dokter Frans berbohong.


"Mom untuk masalah ini Frans tidak bercanda. Wanita yang Mommy bicarakan itu sudah berkeluarga," tegas dokter Frans agar sang Mommy sadar akan ucapannya.


"Jujur dari sudut pandang penilaian Mommy dia masih suci dan belum tersentuh sebagaimana mestinya hubungan suami istri," tegas Tante Meysi tak ingin kalah.


Mata Alfred membulat sembari mengigit pipi dalamnya mendengar penilaian dari Tante Meysi. Sedangkan dokter Frans dan Om Julio menggelengkan kepala bahwa orang yang mereka sayangi ini sudah kehilangan akal sehat.


"Mommy akan menemuinya dan bila perlu mempengaruhi dia untuk bercerai dengan suaminya dan menikah denganmu sayang,"


Sekali lagi ucapan ngawur Tante Meysi membuat tiga pria itu melototkan mata.


"Jangan bercanda Mom," ucap dokter Frans semakin tak percaya.


Sejak tadi Alfred menahan diri dengan kedua tangan terkepal.


Tante Meysi pindah duduk mendekati Alfred dan dokter Frans.


"Sayang kalian adalah sahabat apa sedikitpun kamu tak memiliki perasaan terhadap dokter Isabella? secara dia wanita yang luar biasa," tanya Tante Meysi dengan wajah serius.


Dokter Frans yang ditanya terdiam sesaat sembari berpikir. Bolehkah sekarang dia berkata jujur.

__ADS_1


"Mom, Frans akui dokter Isabella adalah sosok wanita yang luar biasa seperti yang Mommy sebutkan. Siapapun akan tertarik hmm termasuk diriku," akui dokter Frans.


Mata Tante Meysi melebar dengan mulut menganga mendengar apa yang diungkapkan oleh putranya itu.


"Benarkah? jadi tunggu apa lagi sayang, kejar dia," sungguh Tante Meysi sudah kehilangan akal.


Ssst


"Tidak Mom karena statusnya," tolak dokter Frans.


"Mommy akan bicara dengan calon menantu Mommy. Sepertinya dia tidak bahagia dengan pernikahannya," Tante Meysi tetap kekeh pada pendiriannya.


"Sadar Mom, tindakan Mommy sudah diluar batas," ucap Om Julio dengan tegas.


"Kalian seperti tidak kenal Mommy saja, apapun bisa Meysi bereskan," Tante Meysi masih bersikeras bahkan membanggakan dirinya. "Mommy sudah jatuh hati kepada gadis itu," rapatnya kembali.


"Plis Mom jangan membuat masalah dan mempermalukan Frans," dokter Frans jengah dan sedikit takut karena dia tau watak Mommynya ini.


"Tenang sayang, Mommy akan bermain pelan-pelan,"


Tante Meysi bangkit dari tempat duduknya.


"Sayang tunggu Tante kembali baru pulang. Tante akan menyelesaikan misi dulu," Tante Meysi melangkahkan kaki.


"Ada apa sayang?"


"Wanita yang sedang Tante bicarakan itu adalah wanita yang menyebabkan Bernat mengakhiri hidupnya. Dialah wanita itu yang tak lain adalah istri sahku," ujar Alfred dengan tegas. Sejak tadi Alfred hanya terdiam. Karena kegigihan Tante Meysi tetap memaksa sehingga membuat dirinya berkata jujur dan membuka rahasia itu. Alfred tak ingin dokter Frans yang menjadi korban selanjutnya oleh pesonaku.


Mereka bertiga membeku mendengar penuturan Alfred yang tak pernah mereka duga.


"Apa maksudmu sayang?" lirih Tante Meysi dengan bibir bergetar.


Alfred menegakan tubuhnya sembari menghela nafas panjang.


"Dia wanita itu yang tak lain adalah kekasih Bernat. Dan sekarang menjadi istriku, aku sengaja menikahi dia karena misi balas dendamku. Ceritanya panjang tapi intinya seperti yang aku jelaskan," ralat Alfred.


Dokter Frans menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang dikatakan Alfred. Sedangkan Tante Meysi merosot ke sofa karena syok.


"Aku tidak yakin dengan apa yang kamu katakan, dia bukanlah kekasih Bernat seperti yang kamu tuduhkan," elak dokter Frans dengan tuduhan Alfred. Jujur hati dokter Frans ada rasa kecewa kepada Alfred.


"Itulah kenyataannya, aku punya foto wanita itu. Jika kalian tidak percaya lihat ini," Alfred menunjukan beberapa foto yang memang sengaja diambil dari foto-foto milik Bernat.

__ADS_1


Seketika mata mereka membulat mendapati foto itu. Ya apa yang dikatakan Alfred adalah benar. Dimana wajah wanita yang bersama Bernat adalah diriku, sedikitpun tidak ada yang membedakan.


Akhirnya Tante Meysi bungkam, lidahnya keluh untuk mengeluarkan sepatah kata. Sedangkan Om Julio memijit ujung pelipisnya, dan dokter Frans seakan frustasi mendapatkan kenyataan ini.


"Jadi urungkan niat konyol Tante itu, apa Tante ingin putra kalian satu-satunya menjadi korban berikutnya?" ujar Alfred.


Dokter Frans memejamkan kedua matanya.


"Aku harap kalian jangan ikut campur dengan masalahku ini. Selama ini aku sangat terluka, jadi inilah saatnya untukku balas dendam," ujar Alfred tidak ingin siapapun menghalangi rencananya yang sudah berjalan ini.


"Nak itu bukanlah solusi yang menyelesaikan masalah. Apa kamu sudah mendengar penjelasannya?" Om Julio keberatan dengan tindakan Alfred.


"Semuanya sudah jelas Om. Aku tidak ingin terkecoh oleh kepolosan dan keluguannya, dia harus membayar nyawa Daddy dan Bernat Om," tegas Alfred.


Om Julio memejamkan mata, tak bisa berkata-kata lagi.


"Andre aku ingin pulang sekarang," ujar Alfred karena kepalanya ingin pecah.


"Baik Tuan," sahut Andre, lalu bergegas membereskan barang milik Alfred.


"Aku harap kalian serius menanggapi ucapanku. Sekali lagi jangan ikut campur," ingat Alfred kembali. Lalu berlalu meninggalkan kamar, sedangkan ketiga orang itu memandangi punggung Alfred sampai menghilang dengan mulut bungkam.


°°°°°°


Di meja makan aku sendiri menikmati sarapanku, sedangkan Leon bersama Dea sudah berangkat ke sekolah.


Hari ini aku dinas pagi sampai sore menjelang. Aku melamun sembari memikirkan undangan Yuen nanti malam. Yuen akan melangsungkan pertunangan dengan kekasih yang berjalan 3 tahun menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.


Ingin rasanya menolak tetapi Yuen adalah rekan kerja satu-satunya yang mau berteman bahkan sangat dekat dengannya. Mana mungkin aku tidak menghadiri acara itu.


Usai sarapan akupun bergegas untuk berangkat ke rumah sakit. Sedangkan Alfred aku tidak tau apakah masih di rumah atau sudah berangkat ke kantor. Sudah seminggu kepulangan dari rumah sakit, tetapi selama itu kami menjadi orang asing tanpa bertegur sapa. Bahkan mataku sama sekali engan untuk melihat Alfred.


Aku tertekun di teras rumah karena mendapati sosok Serena yang sudah lama tak menampakan batang hidungnya.


Aku tersenyum pahit mendapati Serena, itu artinya Alfred masih berada di kamarnya. Dan aku yakin dia sedang menunggu Serena.


Serena menatapku dengan sinis. Aku tidak menanggapi bahkan ingin menegurnya.


"Sangat miris dan sangat kasian," ejek Serena sembari melangkah dengan sengaja menyenggol bahuku.


Aku menghela nafas panjang melihat kelakuan Serena. Tidak ingin semakin terbawa perasaan akupun bergegas menuju mobil Pak Seun yang sejak tadi menunggu.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2