MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 57. Sebentar Saja


__ADS_3

Malam menjelang


Mendengar penolakanku tadi siang membuat Alfred diselimuti kesedihan. Alfred bahkan langsung berpamitan pulang. Belum lagi menerima amarah dari Moses.


Aku berdiri di box kedua bayiku, menatap sendu wajah terlelap mereka. Ya apa yang dikatakan Alfred benar, wajah kedua bayi kami mirip dengannya.


"Mommy sangat bahagia karena diberi kesempatan untuk menggendong, memeluk, merawat, dan menjaga kalian sayang. Mommy tidak pernah menyangka keajaiban ujar biasa ini, Mommy kira kita tidak akan pernah bertemu tetapi atas kuasa yang maha kuasa kita dapat seperti ini," ucapku dengan mata berkaca-kaca.


Deg


Seketika tubuhku menegang merasakan tangan kekar melingkar di perutku. Mataku turun kebawah melihat tangan yang melingkar.


Tubuhku semakin menegang merasakan kecupan mendarat di punggung polosku. Aku menelan ludah tanpa bersuara.


"Izinkan sebentar saja," suara bariton lembut itu membuatku tercengang. Ternyata itu adalah Alfred, entah kapan pria itu masuk aku sama sekali tidak menyadarinya karena sedang melamun.


Jantungku berdetak tak karuan, tenggorokan terasa tercekat. Bagaimana tidak perlakuan Alfred ini sangat manis seakan kami adalah pasangan suami istri yang romantis.


Seketika akal sehatku kembali dan rencana awal memperingatkanku sehingga aku melepaskan kedua tangan itu dengan cara halus, agar Alfred tidak curiga.


"Maaf aku tidak terbiasa," ucapku seketika sudah terlepas.


Alfred terdiam tetapi dia menyunggingkan senyuman.


"Maaf jika membuatmu tidak nyaman," ujar Alfred menanggapi perkataanku.


"Apa semacam ini sering kita lakukan? maksudku kamu?" aku ingin tau apa jawaban Alfred, apakah dia berbohong? atau amnesia bobongku ini membawa keberuntungan baginya?.


Alfred menatapku dengan tatapan sendu.


"Tidak, bahkan aku melakukannya baru kali ini," aku Alfred dengan jujur.


Aku mengigit bibir bawahku. Ada perasaan lain karena mendengar kejujuran Alfred.


"Hubungan kita tidaklah, hmm maksudku bisa dikatakan rumit," ungkapnya dengan arah mata ke box si kembar.


"Rumit?" gumamku sembari memegang kepala, seakan berpikir.


"Hmm jangan pikirkan apa yang aku katakan," ujar Alfred merasa khawatir karena aku memegang kepala seperti ingin mengingat.


"Maaf aku tidak mengingat sama sekali," lirihku dengan wajah tertunduk.


Alfred mendekat lalu mengusap pucuk kepalaku tanpa berkata.


"Seharusnya aku yang minta maaf atau menyembah kepadamu, andai kamu tau siapa aku yang sesungguhnya mungkin aku tidak akan bisa melihat kalian," keluh Alfred dalam hati dengan perasaan sesak.


"Besok kami akan ke Indonesia, hmm bahkan aku baru tau ini adalah negara Korea. Sungguh rasanya menjadi orang baru lahir ke dunia ini yang tidak tau apa-apa," ucapku.


Alfred langsung mendekapku dengan erat. Aku membeku didalam dekapan itu, tanpa membalas. Alfred memejamkan mata sembari mengecup pucuk kepalaku berkali-kali, sedangkan wajahku tersembunyi di dada bidang itu dengan mata melotot.


"Aku harap ingatanmu segera pulih, hanya itu harapanku," lirih Alfred dengan mata memerah.


Aku melongok mendengar apa yang dikatakan Alfred. Bukankah sebaiknya dia tidak mengharapkan itu karena ingin menutupi kesalahannya tetapi aku salah.


"Maaf," ujar Alfred baru menyadari apa yang dilakukannya sehingga melepaskan pelukan ternyaman itu.


Hmm


Aku hanya bisa berdehem merasa canggung.


"Tidurlah, mumpung anak-anak masih terlelap. Ada aku yang menjaga mereka," ujar Alfred.


"Tidak perlu karena ada baby sitter yang akan menjaga mereka. Maaf aku belum bisa menjadi Ibu yang sempurna," kataku.


Alfred menggeleng.


"Sayang dari jutaan Ibu di dunia ini mungkin kamu salah satunya tidak sempurna, tetapi kamu adalah salah satu Ibu yang luar biasa. Ibu yang rela menukar nyawanya demi anak-anaknya, jadi jangan pernah katakan itu,"

__ADS_1


Sungguh aku terharu mendengar apa yang dikatakan Alfred. Kenapa baru sekarang kesadaran itu tumbuh, seandainya dari awal maka pernikahan ini di bumbui kebahagiaan penuh cinta tetapi semuanya terlambat karena luka ini masih menganga.


Cup


Alfred mengecup keningku sehingga membuat lamunanku buyar. Aku menelan ludah sangat terkejut.


"Aku sudah minta izin kepada Papa sama Mama akan menemani kalian malam ini," ujar Alfred. Alfred sebelum menemuiku dia lebih dahulu minta izin kepada kedua orang tuaku karena selama satu bulan ini Alfred tidak pernah bermalam satu kamar karena tidak di izinkan demi kenyamananku.


Aku tidak menjawab. Jujur saja aku merasa tidak nyaman dan canggung berada satu kamar seperti ini tetapi aku tidak bisa menolak.


"Kamu tenang saja, aku akan di sofa sana. Kebetulan ada pekerjaan kantor yang ingin aku selesaikan," ujar Alfred seakan paham dengan perasaanku.


"Baiklah," sahutku sembari melangkah ke ranjang berukuran king size.


"Apa kamu sudah minum obat?"


"Sudah," sahutku dengan singkat.


"Hmm segeralah tidur,"


Sebelum melangkah ke sofa Alfred mendekati box si kembar.


"Sayang tidurlah dengan nyenyak, mohon kerja samanya karena Mommy ingin tidur dan Daddy sedang kerja," gumam Alfred sembari mengusap wajah keduanya. Ingin sekali dia memberi kecupan tetapi takutnya menganggu bayi-bayi mungil itu dengan mimpi indah mereka.


Aku memperhatikan interaksi Alfred kepada Keenan maupun Kiran. Lalu membaringkan tubuhku yang belum dikatakan pulih. Untung saja kamar VVIP ini luas sehingga menjaga jarak antara sofa dengan ranjang.


Aku dapat melihat Alfred mulai mengerjakan pekerjaannya dengan wajah serius. Lamat-lamat mataku tertutup pertanda menuju alam mimpi, mungkin karena pengaruh obat-obatan.


Entah sudah menghabiskan berapa jam Alfred akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. Alfred meregangkan otot-otot yang terasa kaku. Lalu pandangannya tertuju kepadaku gang tengah terlelap.


Oek....


Tiba-tiba tangisan Keenan terdengar sehingga membuat Alfred bangkit.


"Ada apa son? haus ya?" ucap Alfred sembari mengangkat Keenan. Walaupun sulit tetapi dengan usaha dia berhasil mengangkat Keenan. Cukup sulit bukan menggendong bayi baru berusia 1 bulan. Dalam gendongan Alfred Keenan terdiam dengan bibir terisap menandakan dia sedang lapar.


Alfred melangkah ke ranjang lalu meletakan Keenan, seakan aman dia beranjak ke meja khusus penyimpanan susu formula. Ya si kembar terpaksa mengkonsumsi susu formula karena keadaanku tidak memungkinkan.


Setelah di teteskan di pergelangan tangan, bermaksud merasakan suhu panasnya Alfred langsung menyodorkan ke mulut Keenan.


"Wah benar-benar lapar anak Daddy," ucap Alfred melihat Keenan dengan lahapnya, tidak butuh waktu lama kini botol susu itu sudah kosong.


Oek....


Kini giliran Kiran yang bangun. Alfred segera bangkit setelah membaringkan Keenan di sampingku.


"Anak Daddy lapar juga?" Alfred langsung mengangkat Kiran dalam gendongannya.


Sama halnya seperti Keenan ternyata Kiran juga lapar. Kini bayi mungil mengemaskan itu terbaring di sampingku.


Alfred menatapi satu persatu dengan perasaan bahagia, semasa hidupnya dia tidak pernah berpikir memiliki anak apa lagi kembar seperti ini. Semuanya tak pernah terbayangkan olehnya karena dari awal dia berkomitmen tidak ingin memiliki pasangan hidup karena trauma dengan kepergian sang Mommy. Tetapi yang maha kuasa berkehendak lain dan kini dia dianugerahi pangeran tampan serta putri cantik, yang kini bergaya-gaya dihadapannya.


"Lihat sayang Mommy sangat nyenyak jadi jangan bangunkan Mommy ya? biar Daddy yang menemani," ucap Alfred seakan Keenan dan Kiran mendengar.


Keenan maupun Kiran gelisah dengan kedua kaki terangkat.


"Coba aku periksa popoknya," gumam Alfred sedikit curiga kesitu karena awalnya mereka tenang-tenang saja.


Pertama Alfred memeriksa popok Keenan.


"Hmm rupanya anak Daddy ekee...."


Dengan telaten Alfred membersihkan kotoran itu menggunakan tisu basah sampai bersih dan mengantikan popok yang baru. Setelah Keenan aman dia berganti kepada Kiran. Ternyata Kiran hanya ngompol sehingga memudahkannya mengantikan popok.


Aku menggeliat lalu berusaha membuka mata. Kaget tentu saja karena melihat tontonan di sampingku, dimana Alfred tengah menganti popok Kiran, akupun langsung bangun.


"Mereka terbangun?" tanyaku sehingga membuat Alfred menoleh karena dia tidak menyadari jika aku terbangun.

__ADS_1


"Tidur saja sayang, mereka sudah aman. Putra kita barusan BAB sedangkan si cantik itu hanya ngompol," terang Alfred.


Aku melongok tak percaya jika Alfred bisa menangani mereka karena tidak mudah bagi orang awam. Apa lagi selama ini Alfred tidak pernah menganggap mereka semasih dalam kandungan tetapi lihat sekarang dia sangat menyayangi mereka. Terharu tentu saja menyelimuti hatiku karena ini seperti mimpi.


"Maaf aku tertidur," ucapku merasa tidak enak hati.


"Ini juga sudah menjadi tanggung jawabku. Aku akan menidurkan mereka kembali," ujar Alfred dengan mata berat. Dia langsung menggendong Keenan sembari bergoyang-goyang.


"Sebaiknya jangan digendong nanti mereka kebiasaan, letakan saja," ucapku dengan halus.


"Izinkan saja malam ini aku menggendong mereka sepuasnya karena mulai besok dan seterusnya momen seperti ini tidak dapat aku lakukan," sahut Alfred sembari memperhatikan wajah Keenan dengan lekat.


Deg


"Maksudnya?" tanyaku dengan perasaan sedikit aneh mendengar penuturan Alfred.


"Bukankah besok kalian akan pergi? itu artinya kita berpisah," sahut Alfred dengan tatapan sendu, bahkan suaranya hampir tak kedengaran olehku.


Aku menghela nafas lega, ada rasa takut yang menghinggap diriku.


Tidak butuh waktu lama Keenan kembali terlelap, lalu diletakan kembali ke box yang mewah. Kembali Alfred melakukan Kiran seperti Keenan. Sama halnya tidak butuh waktu lama Kiran menyusul sang Kakak. Seakan mereka memberi ruang untuk kedua orang tua mereka yang seperti orang asing.


Keadaan kembali canggung.


"Ada apa?" tanya Alfred menyadari ketidak nyamanan ini. Ya aku tidak nyaman karena pay*****nyeri itu akibat ASI membengkak, biasanya aku pompa dibantu baby sitter tetapi malam ini tidak bisa yang melakukan itu.


"Itu, itu," tentu saja aku canggung dan tak mungkin memberitahu.


"Ada apa? katakan saja," ujar Alfred seperti memaksa karena sedikit khawatir.


"Hmm pay*****ku nyeri sekali, biasanya untuk mengeluarkannya harus di pompa," lirihku pada akhirnya dengan wajah memerah sehingga membuatku menunduk.


Alfred kaget sehingga membuatnya memainkan lidah didalam mulut. Tidak tau apa yang harus dilakukannya jika berhubungan dengan itu, walaupun statusnya sebagai suami tetapi untuk hal itu sangat mustahil.


"Dimana alat yang kamu maksudkan disimpan? biar aku ambil," tanya Alfred.


"Di meja sana," tunjukku agak ragu-ragu.


Alfred langsung beranjak. Lalu menyerahkan benda itu.


"Boleh kamu keluar sebentar?" ucapku dengan mengigit kan bibir bawahku.


Kening Alfred mengerut mendengar perintahku.


"Untuk apa?" tanya Alfred dengan polos.


Aku menelan ludah entah bagaimana menjelaskan ini.


"Aku ingin segera mengeluarkan ini, jadi untuk itu aku mohon keluar sebentar saja sampai aku selesai," jelasku dengan wajah memanas menahan malu.


Seakan paham Alfred menatapku.


"Aku adalah suamimu jadi buat apa malu, lagi pula aku sudah pernah melihatnya," ucapan Alfred membuat mataku membulat.


"Memang benar tapi itu hanya sekali," aku membatin dengan wajah memerah.


"Aku hanya sekali melihat bahkan bukan hanya sekedar melihat melainkan lebih dari itu," Alfred membatin masih sangat jelas mengingat kejadian itu sehingga wajahnya memerah.


"Biar aku bantu," entah keberanian dari mana sehingga membuatku beranikan mengatakan ini.


"Apa?" ucapku tidak percaya.


"Lakukanlah sepertinya kamu tersiksa," titah Alfred.


"Ini tidak seberapa dibandingkan penderitaan demi penderitaan yang pernah kamu torehkan," batinku.


Demi tidak mencurigakan aku dengan terpaksa melakukan itu bersama Alfred. Malu tentu saja karena keadaan seperti ini tidak pernah terjadi. Bukan aku saja yang merasa canggung bahkan Alfred sendiri kini wajah tampan itu memerah.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2