MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 82. Honeymoon Ke 7 Negara Park 2


__ADS_3

Suara panggilan dari ambang pintu yang tak lain adalah suara Alfred membuatku terkejut sampai-sampai teriak sembari melompat.


"Keluar sayang....cepat keluar," kataku kepada Alfred sembari menutupi dadaku dengan kedua tangan. Sungguh aku sangat malu sekali dengan keadaanku ini.


"Sayang kamu telah menggodaku, jadi jangan salahkan aku, mari kita selesaikan di ran jang," goda Alfred langsung menyerangku.


Alfred menggendongku lalu mendudukkan di tepi ran jang. Nafasku sudah naik turun dengan posisi seperti ini.


"Sayang..... pelan-pelan," aku meng errangg tak karuan karena menahan geli. "Pelan sayang..... P...... rasanya perih," lirihku sembari menjambak rambut Alfred. "Awww.....ge li....." teriakku dengan kedua kak ki men jepit ke pala Alfred.


Alfred mengabaikan kicauanku dari tadi, malah dia semakin ganas.


Sejenak Alfred menegakkan kepalanya menatapku dengan nafas menggebu-gebu. Peluh keringat sudah membasahi seluruh tvbvh kami padahal AC menyala.


"Sayang aku mulai," ucap Alfred serak.


Aku tidak menjawab karena kesadaran untuk sementara melayang ke awang-awang.


Alfred mulai memasukan benang yang sudah menegang di lvbang jarum sempit yang ada di bawahnya saat ini. Tak disangka ternyata begitu sulit, coba dan coba akhirnya lolos juga benang yang semakin mengeras akibat dikasi pelumas.


Akhirnya kami menyatu dengan kenik matan luar biasa.


Hmmp


Kami sama-sama melepaskan jarum serta benang untuk sekian kalinya, entah sudah berapa kali Alfred melakukannya sampai aku sudah tak berdaya.


"Terima kasih sayang.....aku sangat puas," ucap Alfred masih dengan mata terpejam sembari mengecup keningku. Sedangkan aku sudah meringkuk tak berdaya, rasa kantuk juga merasuki.


Alfred tersenyum melihat seluruh tvbvhku seperti macan tutul akibat keganasannya menerkamku sepanjang malam.


Alfred menyelimuti dan tidak lama kami masing-masing masuk ke alam mimpi dengan saling memeluk.


°°°°°°


Keesokan harinya


Aku menggeliatkan tubuh, sungguh semuanya terasa keram.


Perlahan aku membuka mata, wajah terlelap Alfred menyambut bangun tidurku. Seketika bayangan pergumulan kami tadi malam membuat wajahku bersemu merah. Sungguh Alfred adalah pria perkaza, itu menambah nilai ples kesempurnaan ciptaan Tuhan yang satu ini. Aku sebagai seorang istrinya sangat beruntung.


"Sudah jam berapa ini?" gumamku karena jujur saja para cacing-cacing dalam perut ini sudah demo, itu pertanda aku sudah lapar.


Aku berusaha melepaskan pelukan itu dengan penuh hati-hati karena tidak ingin Alfred terbangun, aku tau jika Alfred kelelahan.


Aku ingin bangun tetapi tangan kekar itu langsung mengurungkan niatku.


"Sayang mau kemana? tetaplah seperti ini," gumam Alfred dengan serak, khas orang bangun tidur.


Aku menghela nafas panjang.


"Sayang lihat sekarang sudah pukul 2 siang, itu artinya kita sudah melewati sarapan pagi serta makan siang," kataku dengan lirih karena sesak akibat pelukan erat itu.


"Apa?" ujar Alfred langsung membuka mata lebar-lebar. "Apa kamu sudah lapar?" tanyanya langsung menatapku.


Aku hanya bisa mengangguk, mengiyakan.


"Baiklah kita membersihkan diri dulu," Alfred langsung bangun sehingga selimut itu merosot ke lantai.

__ADS_1


Jleb


Seketika aku menelan ludah melihat sosok itu tanpa sehelai kain. Begitu juga dengan keadaanku. Malu tentu saja, padahal Alfred adalah suamiku tetapi rasa canggung itu masih saja melekat dalam diriku, sedangkan Alfred santai-santai saja malah menggodaku.


Tanpa aba-aba Alfred langsung menggendong ala bridal memasuki kamar mandi, mau tidak mau aku pasrah saja dan harus terbiasa dengan kegiatan seperti ini.


Alfred menurunkan aku tepat di bawah shower, lalu segera menyalakan sehingga jatuhan air shower membasahi tvbvh kami. Senyuman mengembang di bibir Alfred ketika memperhatikan tvbvhku seperti macan tutul.


Katakanlah Alfred memandikanku seperti anak kecil dan aku pasrah saja. Setelah dirasa bersih dengan tiba-tiba tangan kekar itu melingkar di perut serta da dah.


Akhirnya kami berakhir dengan penyatuan kembali, di bawah shower yang tetap mengalir. Ya kami berkomitmen mencari sen zazi yang berbeda dan terus mencoba mencari kenyamanan.


Huh....


Aku menggerutu karena kelelahan.


"Sayang jangan cemberut dong," rayu Alfred sembari memakaikan bajunya.


"Aku lelah tetapi kamu tetap saja melakukannya," aku mengomel.


"Tetapi kamu juga menikmatinya," goda Alfred sehingga membuatku bungkam, karena apa yang dikatakan Alfred adalah benar.


Aku langsung menyembunyikan wajahku di perut sixpack itu yang berdiri di hadapanku.Alfred semakin gemas melihat tingkahku.


"Kita mau turun atau makan di sini saja?" tanya Alfred.


"Di sini saja, bagaimana aku berani keluar dengan leher penuh sengatan lebah, ditambah baju kurang bahan seperti ini," sindirku.


"Biasa saja sayang, mereka mengerti jika kita sedang berbulan madu," goda Alfred.


"Baiklah, jika begitu kita makan diluar saja. Hmmm cuci mata dengan pria bule di luaran sana," ucapku sembari memainkan bibirku.


"Makanya dicerna dulu kalimat sebelum mengucapkannya," pungkasku. "Sayang pesan makanan sekarang, aku sudah lapar," imbuhku sembari mengusap perut.


Alfred langsung menghubungi seseorang.


"Kita makan di balkon saja," kataku.


"Baiklah, ayo!"


"Gendong," pintaku dengan manja.


Alfred tersenyum, dia sangat senang melihat aku bersikap manja seperti ini.


"Mau gendong depan atau belalang?"


"Belakang saja."


"Teruslah bersikap manja sayang.... aku sangat menyukainya," ucap Alfred setelah aku dalam gendongannya.


"Sudah tua sayang, nanti anak-anak cemburu," sahutku.


Hmmm


°°°°°°


Hari ke dua kami mengunjungi negara Istanbul Turki. Kami mengunjungi kota Cappadocia dan naik balon udara. Awalnya aku takut tetapi karena Alfred menyakinkan akhirnya aku mau mencoba.

__ADS_1


Kami menempatkan villa yang terkenal di negara itu. Bahkan kami mendapat paket gratis karena pemilik villa tersebut adalah sahabat dari Alfred.


"Selesai bergumul di pagi hari aku langsung berlari masuk ke kamar mandi, lalu tidak lupa mengunci pintu. Aku sengaja melarikan diri karena aku pasti kembali diserang oleh serigala itu.


Tentu saja Alfred tersenyum melihat tingkah lucuku. Jujur saja dia juga kasian melihat aku dalam lelah tetapi tvbvhku ini seakan membuatnya candu sehingga tidak dapat mnhannya.


Klek


Aku keluar dengan handuk membungkus rambutku, ya setiap pagi aku pasti keramas.


" Sayang segera bersihkan dirimu, dan kita harus sarapan," ucapku kepada Alfred.


Alfred langsung mendengar perkataanku dan segera memasuki kamar mandi.


Aku mendaratkan bokongku di sofa lalu meraih ponsel. Ya aku ingin menghubungi Mama untuk melihat ketiga buah hati kami.


["Halo Ma, anak-anak lagi ngapain?"]


Mama langsung menyoroti dimana Keenan maupun Kiran sedang telungkup seperti biasanya.


["Sayang.... Mommy sangat rindu kepada kalian."]


["Mommy....."]


Tiba-tiba Leon datang langsung memanggilku.


["Sayang.... Leon lagi buat apa?"]


["Leon baru saja membantu Opa membersihkan kolam ikan Mom. Oya Daddy mana?"]


["Daddy sedang mandi sayang."]


["Sayang siapa itu?"]


Alfred keluar dari kamar mandi langsung mendekat.


"["Ini Daddy."]


[" Hai Dad..... kapan jemput kami?"]


["1 bulan lagi sin."]


["1 bulan? lama sekali Dad, apa kalian tidak merindukan kami?"]


Leon protes dengan keisengan Alfred.


["Daddy bercanda sayang. 1 minggu lagi Mommy sama Daddy akan mengunjungi kalian."]


["Asik!"]


["Wah anak-anak Daddy sedang apa?"]


["Katanya mereka rindu Daddy sama Mommy."]


Leon menjawab dengan nada suara bayi.


Hmmm

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2