
Usai dari ruang presentasi Keenan berdiam diri di kursi kebesarannya. Bayangan bagaimana Rebecca menjelaskan presentasi tadi memang di acungi jempol. Kecerdasannya memang tak diragukan lagi.
Tok tok
Lamunannya membuyar ketika mendengar pintu diketuk dari luar.
"Masuk!"
Klek
Pintu dibuka, dan tidak heran lagi Gerry masuk dengan beberapa berkas di tangannya.
"Apa jadwalku siang hingga sore?" tanya Keenan.
"Siang nanti ada pertemuan kembali dengan Tuan Lucky, sedangkan sore rapat dengan para investor Tuan," ucap Gerry.
"Lucky," gumam Keenan.
"Iya Tuan. Tuan Lucky adalah putra dari Tuan Sun, yang sekarang mengantikan kepemimpinan SUN GROUP." Pungkas Gerry.
Hmm
Keenan mengetuk meja dengan menggunakan pulpen.
**
Tepat jam makan siang Keenan bersama Gerry keluar dari ruangan. Mereka akan menuju restoran untuk makan siang serta menemui klien.
Ting pintu lift terbuka, kedua pria tampan itu berjalan menuju loby.
Tepat di loby keduanya mendapati sosok Rebecca bersama sahabatnya Felisha dan Jio sedang asik makan siang bersama satpam di sana.
"Pak ini enak sekali," ucap Rebecca, Felisha Jio secara bersamaan setelah mencicipi makanan yang diberikan oleh Pak Kia.
"Istri Bapak Non. Istri Bapak hobi masak dan buka warung makan kecil-kecilan," ucap Pak Kia.
"Pantas saja enak Pak. Mengingatkan masakan Mommy," ucap Rebecca seakan mengingat cita rasa masakan Mommy Isabella.
"Terima kasih Non."
Sebenarnya tadi Rebecca ingin mengajak kedua sahabat satu universitasnya untuk makan siang di luar, tetapi tiba-tiba mereka ditawari Pak Kia. Dengan wajah sumringah ketiganya menerima tawaran mulia itu.
"Ca,"
"Hmm"
"Ca,"
"Apa sih?" ucap Rebecca karena selalu mendapat senggolan di tangannya ketika ingin menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"Itu, itu Kakakmu bersama balok es memperhatikan kita," bisik Felisha seraya membalas tatapan keduanya dengan jarak beberapa meter.
"Biarkan saja," balas Rebecca seakan cuek bahkan engan untuk menoleh kearah yang bersangkutan.
"Kamu tak sopan sekali, itu Kakakmu," celoteh Felisha dengan polos.
"Jika di kantor tidak ada yang namanya Adik Kakak bawel," bisik Rebecca kembali dengan tetap menyantap makanan.
Felisha manggut-manggut seakan paham dengan apa yang dikatakan Rebecca.
Lain halnya dengan Felisha dan Jio, keduanya menjadi canggung, diperhatikan oleh Keenan dan Gerry.
"Habiskan makanan kalian, anggap saja tak melihat siapapun," sindir Rebecca, tentunya dengan bisikan.
Huk huk
Tiba-tiba Rebecca tersedak. Mungkin saja ada seseorang yang mengumpat dirinya.
"Pelan-pelan, tidak ada yang merebut makananmu," canda Jio memberikan air minum seraya menepuk-nepuk punggung Rebecca.
__ADS_1
Tanpa disadari di ujung sana memandang dengan rahang mengeram. Apa lagi sikap Rebecca sama sekali tidak menoleh kearah manapun. Lalu segera melanjutkan langkah dengan wajah dingin.
"Persaudaraan yang unik," batin Gerry sampai sekarang menjadi teka-teki di hatinya.
**
Di restoran
Usai makan siang, tak berapa lama Lucky bersama asistennya tiba.
"Selamat siang Tuan Keenan," sapa Lucky seraya mengulurkan tangan.
"Siang," Keenan membalas uluran tangan itu.
Mereka membahas pekerjaan, yang dijelaskan satu-persatu dari mereka.
"Kehormatan besar bagi kami untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan anda," ucap Lucky dengan bibir melengkung.
Hmm
"Anda pasti bangga memiliki seorang Adik cantik serta cerdas," puji Lucky.
Pujian atau kekaguman Lucky kepada sosok Rebecca membuat Keenan merapatkan giginya. Kenapa dalam pertemuan penting ini Lucky membahas Rebecca? itulah yang ada dalam pikiran Keenan.
"Tentu saja," sahut Keenan entah disadari atau tidak, kata itu lolos begitu saja.
Hmm
Lucky tersenyum tanpa tau apa-apa. Sedangkan kedua asisten mereka saling memperhatikan CEO masing-masing.
"Ada apa dengan mereka?" batin Gerry.
"Tuan Lucky tidak semudah itu mendapat izin untuk mendekati Nona," batin Dirly seakan mengerti bahwa sang CEO menaruh hati kepada putri keluarga Hugo.
Keduanya menyudahi pertemuan itu karena semuanya masih banyak pekerjaan yang menunggu.
°°°°°°
Semua karyawan berbondong-bondong kembali ke rumah masing-masing, tentunya dengan tubuh lelah mereka.
Bahkan ada diantara mereka yang meneruskan pekerjaan kantor di rumah.
Di perusahaan pencakar langit ini, tidak diadakan lembur tengah malam. Kadang karyawan yang malas pulang karena pekerjaan yang belum selesai meneruskannya pada jam-jam tertentu.
"Hati-hati Fel, Jio," ucap Rebecca sebelum kedua sahabatnya itu melajukan roda dua mereka.
"Sip....Kamu juga hati-hati selamat sampai tujuan," balas Felisha dan di angguk oleh Jio.
Setelah kedua sahabatnya menghilang dari pandangannya. Rebecca segera masuk kedalam mobil yang sejak tadi sudah di tungguin oleh supir pribadinya.
"Jalan Paman," ucap Rebecca. "Oya nanti kita mampir dulu di supermarket," imbuhnya karena ingin membeli keperluan pribadinya, kebetulan sudah habis stok.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah kepadatan jalanan. Maklum jam pulang kerja, jadi kendaraan begitu padat.
Tidak lama mereka tiba di pusat pembelanjaan yang biasa di kunjungi Rebecca. Dengan langkah buru-buru ia memasuki supermarket tersebut.
Ia mulai memasukan barang kedalam keranjang. Ia juga membeli keperluan Bibi Fera.
Merasa tidak ada lagi, ia langsung melangkah menuju kasir.
"Rebecca," panggil seseorang dari arah samping. Hingga membuat langkah Rebecca terhenti. Lalu menoleh kearah suara, ternyata sosok yang memanggilnya adalah Sunny.
Sunny berjalan kearahnya seraya mendorong stroller belanjaannya yang begitu penuh.
"Kak Sunny," balas Rebecca.
"Kamu berbelanja juga?" basa-basi Sunny.
"Iya Kak, biasalah keperluan wanita," sahut Rebecca.
__ADS_1
"Hmm apa kamu ada waktu? di samping sana terdapat cafe, sekedar minum kopi," tawar Sunny. Ia ingin sekali berbincang-bincang dengan Rebecca.
Mendengar tawaran Sunny membuat Rebecca berpikir sejenak.
"Baiklah Kak," sahutnya, mau menolak tidak enak hati.
Keduanya membawa barang belanjaannya ke meja kasir. Rebecca membayar dengan uang tunai, itu adalah tabungan dari hasil jajan setiap bulan dari orang tuanya.
Untuk saat ini Rebecca masih mengandalkan uang dari orang tuanya karena belum bekerja. Tetapi jangan salah ia tidak pernah meminta tambahan untuk membeli apa yang ia mau karena ia begitu hemat.
Uang bulanan tidaklah sedikit bagi orang yang tak punya tetapi sebaik mungkin ia sisihkan untuk ditabung. Bahkan tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya setiap bulan Rebecca sumbangan ke anak yatim, bukan ke panti asuhan tetapi datang sendiri ke rumah anak yatim serta lansia.
Tabungan orang tua kandungnya juga masih utuh. Selama bekerja menjadi pengasuh putra, putri Hugo mendiang Dea selalu menabung gajinya dengan nominal tidaklah sedikit.
**
Kini wanita cantik beda usia itu sedang menyesap kopi hangat.
"Kamu sudah semester berapa?" tanya Sunny mengawali obrolan mereka.
"Semester akhir Kak. Beberapa bukan ke depan setelah kegiatan magang, akan wisuda S1." Sahut Rebecca.
Sunny mengangguk-angguk.
"Rencananya masih melanjutkan?"
"Iya Kak, tetapi seiringan bekerja di perusahaan Daddy," pungkas Rebecca, sesuai rencana yang sudah di susun.
"Baguslah, kamu pantas kok. Kamu cerdas dan berwibawa," puji Sunny, padahal ia belum mengenai bagaimana kepribadian Rebecca.
"Kak Sunny bisa saja hehe....." Sahut Rebecca seraya tertawa kecil.
"Hmm Kakakmu Keenan dingin ya? irit bicara lagi," ucap Sunny mengarah ke hubungannya dengan Keenan.
Rebecca mengigit bibir bawahnya mendengar pertanyaan Sunny.
"Iya Kak," hanya itu yang bisa dikatakan Rebecca.
"Apa di rumah begitu juga?" tanya Sunny kembali.
"Kak Ken kan tinggal sendiri selama ini Kak, jadi jarang ngumpul dengan keluarga," ucap Rebecca seadanya.
"Sepertinya kalian kurang akrab?" tebak Sunny.
"Kak Sunny benar karena dari dulu Kak Ken tidak tinggal bersama kami," sahut Rebecca membenarkan.
Sunny mengangguk.
"Enak ya memiliki seorang Kakak, apa lagi pada tampan semua. Pasti mereka menyayangimu," imbuhnya Sunny terus saja bertanya hal yang tidak Rebecca ketahui.
Mendengar ucapan Sunny membuat Rebecca tersenyum sumbing.
Drrrt
Ponsel Sunny bergetar didalam tas jinjingnya. Ia segera merogoh tas tersebut dan mengeluarkan ponsel itu. Seketika bibir itu melengkung melihat siapa yang sedang menghubunginya.
"Bentar ini Kakakmu," ucap Sunny masih dengan senyuman.
Rebecca membalas dengan senyuman seraya mengangguk.
{"Iya honey.....Aku lagi mengobrol santai di cafe samping supermarket. Tidak di sangka bertemu dengan Rebecca, Adikmu. Sekalian aku ajak deh minum kopi.}
- - - - - - - - - - -
{"Oke.... "}
Sunny mengakhiri obrolannya dengan Keenan. Sedangkan Rebecca menunduk seraya menyesap kopinya agar cepat habis. Ia tidak ingin berlama-lama, malam ini ia harus bicara dengan kedua orang tuanya tentang masalah kemarin.
Mereka berdua menyudahi dan masing-masing pulang ke rumah.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah, dan komennya agar author lebih semangat lagi💪