MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 150~MDS2


__ADS_3

Prang


Aaak.....


Teriakan serta bunyi benda pecah didalam kamar itu.


Televisi lebar itu kini tak berbentuk lagi. Layar itu pecah seketika dihantam oleh botol alkohol.


Sekilas senyuman seseorang di layar televisi secara langsung menyebabkan kegaduhan didalam kamarnya.


"Kamu jahat, kamu tega " Tangisnya kembali pecah, dimana dengan tidak sengaja ia menonton acara jumpa pers keluarga Hugo.


Hiks hiks....


Tangis pilu Sunny merosot duduk di lantai tanpa menghentikan tangisnya. Orang yang sangat dicintainya kini tinggal menghitung hari mengibarkan janur kuning.


"Aku sakit, aku terluka Keenan. Kamu membuatku banyak berharap selama ini. Harapan palsu sehingga luka yang kudapatkan," lirih Sunny dengan dada sesak seraya mengusapnya.


**


Di kantor


Seluruh kaum adam dan hawa hanya bisa mengelus dada. Bagaimana tidak pria atau wanita yang mereka puja-puja akan segera melepas masa lanjangnya. Lebih mengejutkan lagi akan menikah dengan saudaranya sendiri.


Keluarga Hugo menjadi trend topik di berbagai chanel. Dan masih menjadi buah bibir di kalangan karyawan.


Seperti pagi ini. Keenan maupun Rebecca masih menjalani aktivitas mereka. Besok baru mereka akan cuti, untuk mempersiapkan diri untuk pernikahan mereka.


Hmm


Felisha sengaja berdehem. Ia sangat terkejut bahwa sahabatnya itu akan segera menikah. Lebih mengejutkan lagi akan menikah dengan saudaranya sendiri. Ia tidak pernah tau jika Rebecca hanya anak angkat.


"Ada apa Fel?" tanya Rebecca sedikit kaget.


"Tidak ada yang ingin kamu jelaskan cinta?" ucap Felisha.


"Jelaskan, jelaskan apa?" sahut Rebecca, bukannya menjawab ia malah melempar pertanyaan.


Ssst


Desis Felisha dengan wajah cemberut.


"Tentu saja tentang pernikahanmu yang mendadak ini," bisik Felisha.


"Tidak perlu dibahas," balas Rebecca dengan bisikan juga.


"Huh aku kan kepo," cicit Felisha.


"Simpan saja kepomu itu, saatnya bekerja bukan untuk kepo-kepoan," ucap Rebecca semakin membuat sahabatnya itu mengeram.


Huh

__ADS_1


Rebecca melemparkan senyuman melihat Felisha cemberut.


"Aku diundang kan?" bisiknya lagi.


"Untung saja kamu mengingatkanku, karena aku lupa mendaftarkan namamu di kartu undangan," ucap Rebecca sengaja membuat Felisha semakin meradang.


"Eca," pekiknya sehingga menarik perhatian para karyawan lainnya.


"Kamu tidak tau bagaimana perasaanku Fel. Pernikahan ini bukanlah pilihan kami berdua tetapi bisa dikatakan dijodohkan," batin Rebecca.


°°°°°°


Di Mansion


Opa Fillio dan Oma Asilla baru saja tiba. Begitu juga dengan Leon maupun Kiran. Keduanya sangat kaget mendengar pernikahan tiba-tiba itu.


Kini keluarga besar itu berkumpul. Termasuk kedua calon mempelai.


Di taman Mansion mulai sibuk mendekorasi persiapan pernikahan. Ya Keenan dan Rebecca akan mengelar acara resepsi di taman Mansion.


Oma Asilla menatap Rebecca dengan tatapan sendu. Wanita berumur itu baru mengetahui masalah ini.


Ada rasa kekhawatiran di hatinya, tetapi ia percaya bahwa cucu tampan kesayangannya itu tidak akan mengecewakan keluarga besar.


Sekilas masa lalu putrinya Isabella membuat dadanya sesak, ia tidak ingin sesuatu kembali menimpa bahtera rumah tangga cucu pertamanya yang akan menikah.


Apa lagi pernikahan mereka akan diakhiri perpisahan, perpisahan karena tugas wamil. Tetapi ia hanya bisa berdoa yang terbaik bagi kedua calon mempelai itu.


**


Hmm


Ia sengaja berdehem untuk mengusir kecanggungan diantara mereka.


Rebecca yang biasa heboh diantara mereka, kini ia berubah menjadi gadis pendiam.


Huh...


Leon menghela nafas perlahan.


"Kakak tak pernah menduga jika pada akhirnya seperti ini. Kakak juga tidak ingin menanyakan soal ini kepada kedua orang tua kita karena tidak ingin menyinggung perasaan Daddy sama Mommy," pungkas Leon seraya bergantian memandang Keenan dan Rebecca.


"Tetapi menurutku kalian serasi. Tampan dan cantik, cuma bedanya karakter saja," timpal Kiran seakan sangat mendukung antara Keenan dengan Rebecca.


Keenan maupun Rebecca hanya bisa diam saja, bahkan Keenan sibuk dengan ponselnya.


"Aku ada pekerjaan," ujar Keenan seraya bangkit ingin memasuki ruang kerja. Ternyata Gerry mengirim email yang sangat penting.


"Baiklah!" Ujar Leon seakan mengerti kesibukan Adik tampannya itu.


Selepas kepergian Keenan membuat Leon maupun Kiran saling melemparkan pertanyaan untuk Rebecca.

__ADS_1


"Sayang bagaimana perasaanmu menjadi calon istri seorang Keenan Hugo?" tanya Kiran seperti menggoda.


"Kak Kin, ingatlah semuanya bukan keinginan kami berdua, bagaimana bisa sebahagia itu," lirih Rebecca seraya menghela nafas.


"Sayang.....kamu tau sendiri karakter Kak Ken tetapi aku yakin suatu saat kamu pasti berhasil menaklukan hatinya," ungkap Kiran seraya mengusap rambut panjang Rebecca.


"Aku memang menyukai Kak Ken dari kecil, bahkan sampai sekarang tetapi tidak untuk Kak Ken," lirih Rebecca dengan mata berkaca-kaca.


Kiran maupun Leon saling memandang dengan perasaan iba.


"Semua akan indah pada waktunya, percayalah." Timpal Leon.


"Kenapa tidak kamu tolak permintaan kedua orang tua kita sayang?" cicit Kiran. Jika tidak bahagia kenapa perjodohan ini tetap berlangsung.


Rebecca menghela nafas sesak. Kata-kata inilah yang tidak bisa membuatnya menolak.


"Apa aku bisa melakukan itu Kak? jika bisa maka pernikahan ini tidak mungkin terjadi. Bagaimana bisa aku tega membuat kedua orang tua kita kecewa, bahkan terluka. Dari pada banyak hati yang terluka, lebih baik aku saja yang merasakan hal itu. Daddy sama Mommy sudah banyak berjasa selama ini untukku, bagaimana mungkin aku bisa melakukan itu, selain menerima permintaan itu." Pungkas Rebecca dengan wajah sendu.


"Kakak secara pribadi sangat mendukung, karena kamu pantas untuk Kak Ken. Kakak dapat melihat hal itu. Kak Ken saja belum menyadari perasaannya. Menurut Kakak Daddy sama Mommy tetap saja egois," cicit Kiran sedikit kecewa dengan keputusan itu.


"Dek," peringatan dari Leon, ditunjukan untuk Kiran.


"Maaf Kak, habis bikin darah mendidih," ucap Kiran.


"Kita tidak boleh mencela atas keputusan kedua orang tua kita, mungkin ada alasan di balik ini semua, kita juga tidak tau," ujar Leon.


Ketiganya kembali hening.


"Maaf jika saya menganggu Tuan, Nona. Nyonya memerintahkan untuk memanggil Nona Rebecca," ucap kepala pelayan.


Rebecca mengangguk.


"Kak aku tinggal dulu," ucap Rebecca tidak semangat.


Leon maupun Kiran saling mengangguk.


**


"Apa ya alasan kuat sehingga Daddy sama Mommy menjodohkan mereka? apa karena Mommy mengetahui perasaan Rebecca ke Kak Ken?" tanya Kiran seraya berpikir.


"Sepertinya ada sesuatu yang tidak kita perlu tau. Secara pribadi Kakak sangat mendukung pernikahan itu, seperti yang kamu bilang bahwa Rebecca pantas untuk Keenan. Mereka memang beda karakter tetapi bidang yang mereka geluti sama," ujar Leon.


"Apa Kakak yakin jika Kak Ken belum memiliki kekasih?" tanya Kiran karena selama ini mereka tidak pernah tau urusan pribadi Keenan, termasuk kisah asmaranya di luar sana. Keenan adalah sosok pria tertutup serta dingin dan irit bicara, itu alasan sulit untuk mengorek urusan pribadinya.


"Sepertinya tidak. Jika dia memiliki kekasih, tidak mungkin publik tidak tau, secara dia adalah orang terpengaruh," sahut Leon.


Kiran manggut-manggut seakan yang dikatakan Leon benar.


"Kakak sendiri kapan memperkenalkan kekasih Kakak?" goda Kiran.


"Orangnya ada di sini hmm!"

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2