
"Sayang maksud kamu?" lirih Mama dengan mata membulat serta mulut menganga.
"Aku siapa?" lirihku sembari memegang kepalaku tanpa menghiraukan mereka.
"Panggil dokter," titah Papa sehingga Moses memencet tombol.
"Kepalaku, kepalaku sangat sakit," lirihku menjerit. Semua kelihatan panik, sedangkan Alfred memandangiku dengan wajah serta tatapan penuh rasa bersalah, aku dapat melihat dari ujung mataku.
Dokter David langsung memeriksaku.
"Apa keluhan dokter?" pancing dokter David kepadaku.
"Dokter?" lirihku dengan heran karena aku dipanggil dengan sebutan dokter. "Kepala saya sakit sekali," sahutku sekiranya masih memegang kepala yang telah terbalut.
Dokter David memeriksa kepalaku.
"Dok siapa saya? dan mereka siapa?" tanyaku dengan wajah heran sembari memandangi satu-persatu.
"Sepertinya ada yang tidak beres," ujar dokter David langsung mengecek apa tim yang aku keluhkan.
"Saya ada dimana? dan siapa saya?"
"Dokter tidak mengingat?"
Aku menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan dokter.
Deg
Semua membulatkan mata dengan menatapku dengan seksama.
"Seperti yang sudah kami prediksikan benturan di kepala dokter Isabella dapat mengakibatkan gegar otak sehingga maaf dengan kata lain dokter Isabella mengalami amnesia yang serius karena sama sekali tidak mengingat.
Duar....
Penjelasan dokter David tentu saja seperti disambar petir, bagaimana tidak karena aku mengalami amnesia parah.
" Tidak dok, tolong periksa kembali. Ini tidak mungkin, mungkin saja putri kami masih syok sehingga masih dibawah awam sadar," ucap Mama berlinang air mata.
"Iya dok tolong periksa kembali dan tarik ucapan dokter yang mengatakan putri kami tidak ingat apapun," timpal Papa yang tak kalah syok sehingga dada itu kembali sesak.
Melihat kedua orang tuaku terpukul seperti itu membuat dada ini seakan meledak. Buat apa aku masih diberi kesempatan untuk hidup jika aku disambut dengan wajah terluka bahkan menyalahkan diri mereka masing-masing.
"Maaf Tuan, Nyonya tapi itulah kenyataannya," ucap dokter David dengan wajah tertunduk.
Aaak....
Aku berteriak sembari memegang kepalaku. Ya aku sengaja melakukan itu agar mereka semua meninggalkanku, untuk sekarang aku ingin sendiri tanpa diganggu.
__ADS_1
"Sebaiknya biarkan dokter Isabella tenang dulu, dokter masih syok dengan semua yang terjadi. Saya akan jelaskan lebih detail, mari ke ruangan saya," ujar dokter David.
Mau tidak mau mereka mematuhi apa yang disarankan dokter David meninggalkanku seorang diri yang terbaring lemah tanpa bisa melakukan apapun, jangankan bangkit bergerak saja aku kesusahan. Seluruh saraf tubuhku seakan tak berfungsi. Bekas jahitan di bawah perutku luar biasa nyeri, belum lagi bekas operasi pengangkatan rahimku, semua campur menjadi satu.
"Aku minta maaf Pa, Ma, ini yang lebih baik. Aku sengaja melakukan itu hanya semata tidak ingin melihat Papa sama Mama terluka, sedih, kecewa dan bahkan menyalahkan diri sendiri. Aku tidak ingin melihat setiap saat air mata terus mengalir di mata kalian. Aku tidak sanggup melihat Papa menyalahkan dirinya sendiri dan bahkan menganggap dirinya tak berguna, hatiku sangat terluka mendengar itu," gumamku tanpa mengeluarkan suara sembari menangis.
Sebenarnya aku sadarkan diri atau siuman ketika Moses menghajar Alfred, aku sangat jelas melihat bagaimana Moses memberi pukulan di wajah Alfred. Semua yang mereka ucapankan aku mendengarnya semua dalama diam seakan belum sadar.
Perih, terluka tentu saja memenuhi perasaanku. Aku tidak pernah menyangka keajaiban ini, aku mengira sudah mati dan tak bisa melihat semua keluargaku tetapi yang maha Kuasa berkehendak lain, aku masih diberi kesempatan untuk menghirup udara segar. Sungguh suatu mukjizat luar biasa karena satu dari ribuan orang akulah yang beruntung.
Tetapi aku menolak dengan keajaiban ini, kenapa begitu? karena dengan kembalinya aku hanya membuat orang-orang yang aku sayangi merasa bersalah, jika diminta pilihan lebih baik aku mati dari pada melihat orang-orang yang aku sayangi merasa bersalah.
Dengan kemunculan Gabriella tentu saja aku merasa senang karena selama yang kami kirakan itu salah. Aku tidak tau bagaimana ceritanya, biarlah waktu yang menjawab.
Alfred tentu saja pada awalnya aku kaget dan bahkan kembali syok dengan apa yang dilakukan Alfred. Bukankah seharusnya dia tertawa di atas kemenangan ini? tetapi itu sebaliknya. Dia menangisi diriku, tetapi sedikitpun tidak membuat hatiku getar, aku anggap semuanya telah usai. Berarti waktu di ambulan aku tidak salah melihat, ternyata itu adalah benar bayangan Alfred.
Aku berpikir sehingga mengambil langkah yang dibilang konyol. Ini semata agar aku melupakan semua yang terjadi. Biarkan waktu yang menjawab dikemudian hari.
Kedua bayi kembarku tentu saja aku ingin sekali menggendong bahkan ingin mengucap selamat datang ke dunia kepada mereka tetapi semua itu aku tahan dulu. Ingatan wajah polos Leon masih terbayang tetapi aku tahan semua itu hanya demi langkah yang sudah kuambil.
°°°°°°
"Dokter mengalami amnesia cukup parah karena sedikitpun memory pada ingatannya hilang. Saya harap jangan paksakan untuk dokter Isabella mengingat karena bisa berakibat fatal," terang dokter David.
"Aku akan mencari dokter yang paling profesional untuk mengembalikan ingatan Kakak," ujar Moses menentang atas apa yang di vonis dokter David.
"Seperti hasil pemeriksaan saya, dokter mengalami syok berat sehingga otak memory menolak untuk...."
"Cukup! Aku akan membawa Kakakku pulang ke Indonesia dengan ditangani dokter profesional," sela Moses karena sudah diselimuti amarah.
Dokter David menelan ludah. Sedangkan Alfred sejak tadi hanya diam mematung. Dua rasa yang Alfred rasakan yaitu keberuntungan dan terluka. Keberuntungan karena aku tidak akan pernah tau atas perbuatan kejamnya.
Alfred merasa mendapat kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
Buk buk
Moses kembali melayangkan pukulan di wajah Alfred, serta mencengkram lahir kemeja yang masih dengan noda darah.
"Semua itu akibat dari perbuatanmu brengse*. Kau pantas menerima semua ini," ujar Moses dengan murka.
Alfred mengusap darah yang kembali keluar dari ujung bibirnya.
"Cukup Moses," ujar Papa menghentikan Moses.
"Aku mengaku salah. Aku minta maaf," ujar Alfred dengan wajah menunduk.
Hati Papa tergerak menatap Alfred.
__ADS_1
"Papa sudah memaafkan kamu, jadi untuk itu lebih baik menghilang dulu dari pandangan Papa. Lanjutkan hidup dan masa depanmu yang masih panjang, serahkan tanggung jawab Isabella bersama kedua cucu kembar kami pada Papa. Papa masih sanggup memberi kasih sayang serta materi yang selayaknya kepada mereka," ujar Papa menegaskan. Lagi pula kamu masih memiliki istri yang lainnya," lirih Papa dengan lidah keluh mengetahui kenyataan itu.
Alfred mengangkat kepala, lalu menatap Papa dengan tatapan tak percaya.
"Apa kau tidak mendengar apa yang dikatakan Papaku?" ujar Moses dengan tatapan tajam.
Alfred menggeleng.
"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya Pa," mohon Alfred bahkan seorang Alfred Hugo rela merendahkan harga dirinya dengan berlutut di kaki Papa.
Papa menggeleng.
"Papa sangat kecewa, banyak kebohongan yang kamu tutupi. Semua sudah tidak ada gunanya lagi karena putri Papa sama sekali tidak ingat apapun. Sekali lagi Papa tegaskan, pergi menjauh dari pandangan Papa," ujar Papa tetap pada pendiriannya.
Setelah mengatakan itu Papa melangkah pergi menemui dimana Mama berada, dan disusul oleh Moses dengan pandangan tajam kepada Alfred, seakan sudah tidak ada lagi rasa hormat sebagai Adik ipar.
Alfred hancur atas perbuatannya sendiri.
°°°°°°
Kini Alfred berdiri tepat di kaca berukuran besar yaitu kamar bayi dengan penanganan insentif.
"Boleh aku masuk?" ujar Alfred seperti bukan Alfred yang sesungguhnya. Bisa saja dia masuk tanpa minta izin karena dia adalah pemilik rumah sakit tetapi saat ini Alfred tidak menggunakan kekuasaannya.
"Silahkan Tuan tetapi gunakan pakaian khusus terlebih dahulu," kata perawat.
Seperti yang diterangkan perawat, Alfred sudah steril dengan pakaian khusus.
Alfred berdiri membeku melihat wajah tenang kedua bayi kembarnya. Kedua tangannya terulur dengan bergetar membelai wajah manggil itu secara bersamaan.
"Sayang Daddy minta maaf selama ini telah mengabaikan keberadaan kalian. Daddy minta maaf sayang," lirih Alfred dengan mata berkaca-kaca. "Daddy tidak akan memisahkan kalian dengan Mommy. Kalian adalah kekuatan Mommy, Daddy akan bertanggungjawab atas kalian," sambungnya masih setia mengusap kepala bayi kembar itu.
"Perawat," panggil Alfred.
"Iya Tuan ada yang bisa saja bantu?"
"Berikan alat tulis," titah Alfred.
Perawat langsung memberi apa yang diminta oleh Alfred. Alfred menuliskan sesuatu di kertas putih HVS.
Keenan Hugo memiliki arti seorang pemilik. Pemilik HUGO GROUP dikemudian hari. Kiran memiliki arti pancaran sinar. Sinar yang memancarkan keindahan, sinar yang memberi kekuatan atau semangat untuk kedua orang tuanya kelak.
"Letakan ini di inkubator masing-masing. Sampaikan itu berasal dariku," ujar Alfred.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
__ADS_1