
Rebecca beranjak dari tempat duduknya. Lalu ia meraih tas jinjing yang tergeletak di atas meja.
Ia berjalan keluar ruangannya menuju ruang Keenan yang berada di ujung sana.
Dari sana ia dapat mendapati sosok Keenan yang tengah berbicara dalam sambungan telepon. Rupanya Keenan belum masuk kedalam ruangannya.
Rebecca terdiam karena tidak ingin menganggu obrolan itu, sedangkan Keenan tidak tau jika Rebecca tengah berdiri di belakangnya.
Entah apa yang membuat Keenan menoleh ke belakang, dan ia mendapati sosok Rebecca yang tengah menatapnya. Dengan segera Keenan memutuskan sambungan telepon.
Keduanya saling bertukar pandang untuk sesaat.
"A......." Keduanya ingin membuka suara tetapi dihentikan karena tanpa sengaja keduanya ingin berucap.
Keduanya menjadi kikuk seraya senyam-senyum.
"Kita ingin makan siang dimana?" tanya Rebecca sangat percaya diri.
Mendengar pertanyaan Rebecca membuat Keenan kaget, bukankah tadi ia mengatakan sedang sibuk? dalam arti menolak secara halus.
"Bukankah kamu tak bisa?" ujar Keenan.
"Kamu benar jika yang namanya kerja tak ada habis-habisnya," sahut Rebecca seperti yang dikatakan oleh Keenan barusan.
Mendengar hal itu sungguh membuat hati Keenan begitu senang.
"Kamu inginnya dimana?" Keenan ingin Rebecca yang menentukan tempat dimana mereka akan makan siang.
Dahi Rebecca mengerut karena Keenan bertanya. Tetapi tidak lama ia berubah pikiran.
"Baiklah kita akan makan siang di restoran tepi sungai," ucap Rebecca.
Keenan sedikit berpikir karena ia belum pernah mengunjungi tempat yang dikatakan oleh Rebecca.
"Baiklah!"
Keenan melangkah mendekati Rebecca, lalu meraih lengannya. Membawa dalam kepalan telapak tangannya.
Rebecca membeku mendapat perlakuan Keenan seraya menatap genggaman itu.
Keenan mengangguk dengan bibir sedikit melengkung.
Rebecca mengikuti hingga kini mereka berjalan dengan beriringan.
Dari pojok sana sesosok tersenyum melihat ada kemajuan dari pasangan suami istri itu.
"Semoga ada keajaiban," gumam Gerry sangat berharap hubungan Keenan dan Rebecca seperti pasangan suami istri pada umumnya.
Para karyawan menatap takjub kepada kedua pasangan itu. Ini adalah pertama kalinya mereka menunjukan kemesraan di depan umum.
Rebecca hanya bisa menunduk, perasaan malu tentu saja menyelimuti hatinya saat ini.
"Kamu tenang saja, semua permasalahan sudah diselesaikan hingga tidak ada yang menyudutkan atau memojokkan kamu lagi," bisik Keenan semakin mengeratkan genggaman itu.
Rebecca terperanjat hingga membuatnya menoleh menatap Keenan yang juga tengah menoleh menatapnya.
"Ya ampun senyuman itu," batin Rebecca mengagumi senyuman yang dipancarkan oleh Keenan.
**
Dalam perjalanan hanya ada keheningan. Rebecca hanya menunjukan alamat yang dimaksudkan hingga tidak membuat Keenan susah payah.
__ADS_1
Kini mereka sudah sampai ditempat yang ditujukan, yaitu sebuah restoran di tepi sungai. Pemandangan cukup indah hingga memperlengkap kekaguman para pengunjung.
"Sepertinya restoran ini baru dibuka?" ujar Keenan seraya memperhatikan ke sekelilingnya.
"Sudah berjalan 5 tahun," ucap Rebecca.
"Apa ini tempat favoritmu?"
"Bisa dikatakan begitu karena tempag ini yang paling ternyaman, jauh dari keramaian."
Hmm
"Biasanya kamu pergi dengan siapa?" tanya Keenan ingin tau, ada rasa khawatir jika Rebecca semasa kuliah akan pergi bersama teman pria atau siapapun itu yang tergolong laki-laki.
Mendengar pertanyaan Keenan membuat Rebecca menatap ke arahnya.
"Kadang bersama Feli dan seringnya sendiri saja," ucap Rebecca dengan jujur.
Mendengar jawaban dari Rebecca membuat Keenan merasa lega, ia tau jika itu adalah jawaban yang benar karena dari sorot mata serta bibir Rebecca ia dapat melihatnya.
Mereka menempati kursi yang paling tepi hingga dapat memandangi aliran sungai.
"Kamu ingin pesan apa?" tanya Rebecca.
Keenan tak menjawab karena ia sibuk menatap wajah cantik itu seraya memperhatikan menu.
Sesaat Rebecca mendongak karena belum juga mendapat jawaban dari Keenan.
Deg
Keenan rupanya sedang menatapnya dalam diam dengan pancaran penuh arti. Hal itu membuat Rebecca kikuk.
"Iya....iya ada apa?" ujar Keenan dengan kaget.
"Ada apa?"
"Kamu sangat cantik."
Mendengar pujian itu membuat tatapan Rebecca ke bawah. Sungguh kalimat yang dilontarkan Keenan berhasil membuat saraf-sarafnya tak berfungsi untuk sesaat.
"Apa dia salah minum obat?" keluh Keenan dalam hati.
"Aku bertanya, kamu ingin pesan apa?" tanya Rebecca kembali.
"Samakan saja dengan pesananmu," sahutnya.
Tidak ingin menghabiskan waktu, Rebecca langsung memanggil pelayan untuk memesan makanan yang mereka pesan.
Tidak menunggu lama, pesanan mereka sudah tertata di atas meja.
Keduanya segera menyantap makanan yang berupa sushi dan steak daging.
"Lebih lezat masakanmu tempo hari," ujar Keenan disela kunyahan.
Rebecca hanya bisa manggut-manggut. Menurutnya pujian Keenan terlalu berlebihan karena tidak mungkin cita rasa masakannya menandingi cita rasa restoran yang sedang mereka kunjungi.
Huk....huk....
Tiba-tiba Keenan terbatuk-batuk akibat aroma cabai masuk dalam rongga hidungnya.
Rebecca dengan gercap beranjak dari tempat duduknya seraya menyerahkan segelas air minum sembari menepuk-nepuk pundak Keenan dengan lembut.
__ADS_1
Keenan sungguh tak menyangka dengan perlakuan Rebecca.
"Pelan-pelan, cabai ini cukup pedes," ucap Rebecca masih berdiri di samping Keenan.
Keenan mengangguk.
"Terima kasih," ungkapnya, bahkan ia inginkan batuk itu tak berhenti agar Rebecca semakin memperdulikannya. (Tanda-tanda BUCIN🤣
Drrrtt
Ponsel Keenan yang diletakan di atas meja membuat suasana kembali seperti semula. Rebecca kembali duduk ditempatnya.
"Mommy," gumam Keenan hingga berhasil membuat Rebecca menghentikan suapan potongan daging ke mulutnya.
["Halo Mom."]
["Mom mengundang kalian makan malam di Mansion. Leon maupun Kiran sudah dalam perjalanan. Tidak ada alasan apapun, jika kalian menolak undangan Mom maupun Daddy berarti kami tidak ada artinya lagi buat kalian."]
["Mom....Mom....]
Itulah yang terdengar diseberang sana. Belum juga sempat menjawab sambungan telepon sudah dimatikan.
Ancaman itu membuat mereka saling memandang. Rebecca juga mendengarnya karena Keenan sengaja menyalakan spiker.
"Apa maksud Mommy mengancam seperti itu?" ujar Keenan.
"Kita turuti saja, sekalian ingin tua perkembangan kesehatan Daddy," ucap Rebecca.
Keenan manggut-manggut.
°°°°°°
Di Mansion
Mommy Isabella lagi berkutat di dapur. Malam ini mereka mengadakan acara makan malam.
Leon maupun Kiran lagi dalam perjalanan. Mereka pulang ke tempat kedua orang tuanya karena mendengar kesehatan Daddy Alfred kurang baik.
"Sayang masak apa?" tiba-tiba Daddy Alfred menghampiri.
"Sayang kenapa harus ke sini? istirahat saja dulu. Daddy harus mengumpulkan tenaga agar tak terlihat sakit di depan anak-anak," ucap Mommy Isabella.
"Tidak masalah sayang. Daddy memang baik-baik saja," sahutnya seraya membelai rambut panjang itu.
"Mommy lagi masak 5 menu, masing-masing kesukaan suami dan anak-anak," ucap Mommy Isabella tanpa menghentikan kegiatan memotong sayuran.
"Sayang kamu memang istri serta Ibu yang luar biasa," puji Daddy Alfred.
"Daddy salah. Buktinya Mommy sudah memberi luka dan kekecewaan kepada putra-putri kita," sahut Mommy Isabella dengan nada pilu.
Daddy Alfred menggeleng karena tidak setuju dengan apa yang dikatakan Mommy Isabella.
Lalu dengan segera ia merangkul tubuh itu, membawa kedalam pelukannya.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat 💪
__ADS_1