
Klek
Pintu ruang VIP dibuka.
"Selamat sore menjelang malam Dad, Mom," sapa Rebecca berusaha bersikap seperti biasanya.
"Sayang," balas Mommy Isabella menyambut kedatangan sosok yang mereka tunggu selama 10 menit lamanya.
"Keenan mana Nak?" tanya Daddy Alfred setelah menyadari jika sosok Keenan tidak bersama Rebecca.
"Apa kalian tidak berangkat sama-sama? dasar keras kepala," omel Mommy Isabella, seketika raut wajahnya berubah.
Tanpa ingin bersuara Keenan masuk begitu saja dengan wajah datar.
Daddy Alfred maupun Mommy Isabella saling memandang dengan alis terangkat.
Hmm
Daddy Alfred berdehem mengembalikan suasana yang mulai mencekam.
"Kalian pesan makanan. Lebih baik kita makan terlebih dahulu," usul Daddy Alfred.
Tidak ingin membantah, mereka memesan menu kesukaan masing-masing.
Tidak perlu menunggu lama, hidangan kini tertata di atas meja.
"Habiskan makanan kalian sayang," ucap Mommy sebelum mereka memulai menyantap hidangan.
Susana itu hanya terdengar bunyi dentingan sendok, sumpit dan mangkok yang saling beradu.
**
Hmm
Daddy Alfred memulai membuka suara.
"Bagaimana keputusan kalian?" ujar Daddy Alfred seraya bergantian menatap Keenan maupun Rebecca.
Keenan maupun Rebecca saling memandang.
"Bagaimana sayang?" Mommy Isabella menimpali karena kedua orang yang ditanyai tak kunjung menjawab.
Keenan menghela nafas sejenak.
"Aku menyetujui permintaan Daddy sama Mommy," ujar Keenan.
Kedua paruh baya itu merasa lega tetapi mereka tau jika Keenan melakukannya karena terpaksa.
__ADS_1
"Kamu yakin sayang?" tanya Mommy Isabella, sekali lagi menyakini.
Ssst
Keenan mengusap wajahnya seraya mendesis tertahankan.
"Apakah aku bisa menolaknya? jika aku memilih menolak akan banyak hati yang terluka," pungkasnya, seakan mengutamakan perasaan kedua orang tuanya.
Mendengar pernyataan Keenan, kedua paruh baya itu saling menunduk. Tidak sanggup untuk menatap keduanya.
"Daddy sangat paham, kamu menerima perjodohan ini karena tidak ingin perusahaan HUGO GROUP berpindah kepemimpinan. Sungguh kamu mengutamakan dirimu sendiri Nak, tetapi Daddy janji tidak akan membiarkanmu untuk menyakiti Eca seujung kuku pun, karena Daddy orang pertama untuk kamu langkah." Batin Daddy Alfred.
"Apakah kamu menerima perjodohan ini karena tidak ingin kehilangan kepemimpinan? jika begitu sungguh kecewanya hati Mommy. Mommy yakin seiringnya waktu kalian bisa saling membuka hati sayang, khususnya kamu Keenan." Batin Mommy Isabella.
Keadaan kembali hening untuk sesaat.
"Hmm.....keputusanmu bagaimana Nak?" sekarang giliran Rebecca untuk mengungkapkan apa keputusannya.
Rebecca menegangkan tubuhnya seraya menarik nafas sejenak.
"Eca mengikuti keinginan Daddy sama Mommy," ucap Rebecca dengan singkat. Ia tidak ingin berbicara banyak karena semuanya sudah jelas.
Rebecca berusaha tersenyum sebisa mungkin, ia tidak ingin kedua paruh baya itu memandang dengan sendu. Beda halnya dengan ekspresi Keenan ketika ditanyai, mimik wajah penuh keterpaksaan.
"Daddy salut kepada kalian. Besok kita akan mengadakan jumpa pers, memberitahukan kepada seluruh dunia bahwa kalian bukankah saudara kandung. Dan satu lagi mengumumkan pernikahan kalian," ujar Daddy Alfred.
"Pernikahan kalian akan digelar minggu depan," ujar Daddy Alfred tidak ingin mendapat bantahan.
"Tidak bisa Dad," papar Keenan.
Mendengar penengahan Keenan membuat ketiganya mengalihkan pandangan ke Keenan.
"Kenapa tidak bisa?" tanya Daddy Alfred dengan wajah datar.
"Bukankah hari itu bertepatan dengan tugas WAMIL (wajib militer)." Ujar Keenan seketika mengingat.
"Apa?" seru Mommy Isabella dengan wajah terkejut. Bukan hanya Mommy Isabella saja yang kaget tetapi Rebecca. "Bagaimana ini Dad? tidak mungkin mereka menikah lalu berpisah selama itu," pungkas Mommy Isabella.
Daddy Alfred berpikir sejenak. Ia sempat melupakan tugas itu. Karena Keenan dari dulu tidak menetap di sana sehingga baru sekarang memenuhi kewajiban itu.
"Pernikahan itu tetap digelar," ujar Daddy Alfred menegaskan.
Mendengar hal itu membuat Keenan maupun Rebecca saling menatap dalam diam. Bagaimana mungkin pernikahan itu masih dilaksanakan sedangkan wamil memerlukan waktu bertahun-tahun.
"Satu hari sebelum keberangkatanmu, kita mengelar pernikahan ini. Nak kamu jangan khawatir karena semuanya baik-baik saja, bukankah dengan ini kalian dapat menata hati masing-masing?" ujar Daddy Alfred.
"Apa yang dikatakan Daddy itu benar. Anggap saja kalian menjalani hubungan jarak jauh," timpal Mommy Isabella membenarkan.
__ADS_1
Keenan maupun Rebecca hanya diam dengan pikiran masing-masing.
Sudah mendapat persetujuan dari dua pihak, mereka memutuskan obrolan sampai di sini.
°°°°°**°**
Keesokan harinya
Sesuai kesepakatan hari ini di gedung milik HUGO GROUP keluarga Hugo sudah duduk di hadapan para wartawan.
Daddy Alfred, Mommy Isabella, Keenan serta Rebecca kini menempati diri mereka di hadapan media. Bahkan disiarkan langsung di berbagai stasiun televisi.
Undangan mendadak itu membuat media cetak atau televisi penasaran sehingga membuat wartawan berbondong-bondong ikut menyaksikan jumpa pers ini.
Wartawan tidak dibatasi sehingga membuat mereka dapat meliputi tanpa susah payah.
Jangankan para wartawan. Gerry sendiri yang menjabat sebagai asisten pribadi perusahaan HUGO GROUP saja tidak mengetahui isi pers yang diadakan secara mendadak ini.
"Selamat siang saya sampaikan kepada seluruh media yang meliputi jumpa pers hari ini bersama keluarga Hugo. Mungkin kalian bertanya-tanya, ada masalah apa dibalik jumpa pers secara mendadak kali ini. Untuk itu pada hari ini saya sebagai kepala keluarga ingin menyampaikan sesuatu, atau rahasia yang ada di keluarga kami." Ujar Daddy Alfred dengan sikap tenang dan berwibawa.
Sesaat pria tampan paruh baya itu menarik nafas sejenak.
"Seperti yang diketahui publik bahwa kami memiliki 2 pasang buah hati. Yaitu Leon putra sulung, Keenan putra kedua, Kiran putri ketiga dan Rebecca putri bungsu kami. Mungkin sebagian dari publik sudah mengetahui jati diri Leon, jadi untuk itu kami tidak perlu membahasnya. Kami akan membahas status atau jati diri putri bungsu kami Rebecca," ujar daddy Alfred seraya melirik Rebecca yang bersebelahan dengan Keenan serta istrinya. Sungguh lidah Alfred terasa keluh untuk mengatakan siapa status Rebecca dalam hubungan keluarga mereka, bagaimanapun mereka sudah menganggap Rebecca anak kandung sendiri.
"Katakan saja Dad," bisik Rebecca dengan mata berkaca-kaca.
"Daddy minta maaf sayang, untuk mengatakan ini," bisik Daddy Alfred seperti bisikan dengan mata berkaca-kaca.
Rebecca berusaha tersenyum manis.
"Rebecca Hugo bukanlah putri kandung kami. Rebecca adalah putri dari sahabat kami, yang telah kami asuh sejak lahir ke dunia. Tetapi demi apapun kami sudah menganggapnya sebagai putri kandung kami sendiri." Ujar Daddy Alfred dengan dada sesak.
Tanpa disadari bulir bening itu bergulir membasahi wajah yang mulai menampakan garis-garis menua. Bukan hanya Daddy Alfred, tetapi Mommy Isabella malah sudah terisak di samping Daddy Alfred.
Keenan maupun Rebecca hanya bisa menunduk, mereka memang engan untuk membuka suara. Biarlah Daddy Alfred yang mewakili.
Pengakuan Daddy Alfred membuat semua media tercengang. Sungguh mereka tidak pernah menduga bahwa gadis cantik itu tidak memiliki ikatan darah dengan keluarga besar Hugo.
Para wartawan hanya bisa mengangguk-angguk seakan paham.
"Satu hal lagi yang paling penting akan kami sampaikan. Minggu depan putra kami Keenan dan menantu kami Rebecca akan mengelar pernikahan. Sekian dan terima kasih atas partisipasinya semua awak media yang meliputi berlangsungnya jumpa pers siang ini dengan keluarga Hugo." Ujar Daddy Alfred mengakhiri. Setelah itu mereka segera meninggalkan ruang jumpa pers. Sehingga para karyawan ingin bertanya lebih dalam tidak bisa.
Pengakuan serta pernyataan keluarga Hugo menggemparkan jagat maya maupun nyata.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
__ADS_1