
Di Mansion
Menjelang petang
Tok tok
"Masuk," sahut dari dalam.
Klek
"Mom......"
"Sayang kamu sudah tiba?" dengan segera wanita cantik paruh baya itu beranjak dari duduknya melihat sosok pria tampan yang tengah berdiri di ambang pintu kamar.
"5 menit yang lalu Mom. Hmm bagaimana kabar Mom?"
"Seperti yang kamu lihat sayang," sahutnya.
Keduanya berpelukan, melepas kerinduan.
"Putra Mom semakin tampan saja," puji Mommy Isabella.
"Mommy bisa saja. Hmm Daddy mana Mom?"
"Lagi di ruang kerja, ada sedikit pekerjaan."
"Seharusnya Daddy utamakan waktu untuk beristirahat. Sekarang sudah menjadi tanggungjawab Keenan untuk masalah perusahaan," protes Leon sangat peduli.
"Begitulah sifat dan karakter Daddy kalian sayang," papar Mommy Isabella.
Leon manggut-manggut.
Kini keduanya duduk di atas ranjang saling mengobrol.
Leon meraih telapak tangan Mommy Isabella, lalu menggenggamnya. Hal itu membuat Mommy Isabella sedikit heran.
"Mom ada sesuatu yang ingin aku katakan hanya kepada Mom saja," pungkas Leon dengan raut wajah serius.
Dahi Mommy Isabella mengerut mendengar perkataan Leon yang sepertinya serius.
"Ingin bicara apa sayang? katakan saja karena Mommy siap menjadi pendengar yang baik. Hmm apa ingin curhat tentang percintaan? atau kamu sudah memiliki kekasih? wah Mommy jadi semangat ingin mendengar curhatan darimu sayang," cicit Mommy Isabella bertubi-tubi.
Leon langsung menarik nafas mendengar reaksi Mommy Isabella yang melenceng.
"Tetapi Mommy janji jangan marah," ujar Leon seperti memohon.
"Kenapa harus marah sayang? malah sebaliknya," sahut Mommy Isabella tanpa tau apa yang ingin dibicarakan Leon.
"Apa Mommy tau alasan selama ini aku tidak memiliki kekasih?" tentu saja Mommy Isabella menggeleng. "Itu karena aku menyukai Kiran Mom,"
Deg
Jantung Mommy Isabella ingin lepas darinya tempatnya, begitu juga dengan kedua bola matanya.
Pernyataan Leon itu berhasil membuatnya membeku tanpa harus bisa bergerak untuk beberapa detik.
Apakah ia hanya sedang bermimpi? apakah ini hanya lelucon Leon saja? apakah hanya sebuah halusinasi saja? itulah pertanyaan yang berlawanan di hati Mommy Isabella.
"Iya Mom. Aku jatuh cinta kepada Kiran," sambung Leon tanpa melepas tatapannya ke wajah cantik itu.
Akhirnya kesadaran Mommy Isabella kembali dan ia yakin bahwa yang dikatakan Leon bukanlah sebuah mimpi dan sebagainya tetapi nyata.
Kenyataan bahwa Leon putra angkat mereka menyukai bahkan jatuh cinta kepada putri kandung mereka.
M-a pommy Isabella menelan ludah seraya menggelengkan kepala.
"Apa yang kamu katakan sayang? jangan bercanda," ucap Mommy Isabella berusaha menyangkal pernyataan Leon barusan.
"Ini bukan candaan atau lain sebagainya Mom tetapi inilah kata hatiku," ungkap Leon dengan sungguh-sungguh.
Kembali lagi detak jantung Mommy Isabella seakan berhenti berdetak setelah mendengar pengakuan Leon.
"Apa aku salah Mom?"
Sungguh Mommy Isabella berada di situasi mencekam, ia tidak tau harus mengatakan apa. Selama ini ia sama sekali tak pernah menduga dan bahkan curiga.
"Aku sadar dengan hatiku Mom tetapi perasaan ini sangat besar hingga aku tidak dapat menutupinya," papar Leon.
"Sayang Kiran adalah Adik yang patut kamu jaga," lirih Mommy Isabella.
__ADS_1
"Keenan, Rebecca bagiamana Mom?"
Sungguh pertanyaan ini membuat Mommy Isabella tak berkutik.
"Sayang masalahnya berbeda," lirihnya seraya memejamkan mata serta menghela nafas panjang.
"Tidak ada yang membedakannya Mom. Eca adalah putri angkat Mommy sama Daddy dan Keenan adalah putra kandung Mommy sama Daddy. Jadi apa yang membedakannya Mom?" pungkas Leon menyamakan masalah yang ia hadapi.
Mommy Isabella menelan ludah. Raut wajahnya menggambarkan keadaan yang sulit. Ia tidak tua harus menjawab apa lagi.
Hmm
Deheman di ambang pintu membuat keduanya menoleh, hingga obrolan tiba-tiba terhenti. Melihat hal itu membuat Mommy Isabella bernafas lega. Untuk saat ini ia akan simpan dulu pembahasan itu.
Masalah Keenan dan Rebecca saja belum usai, kini datang lagi dari Leon yang sangat sulit dipecahkan.
"Son kamu sudah tiba?" ujar Daddy Alfred seraya melangkah masuk.
"Hai Dad. Bagaimana keadaan Daddy?" bukannya menjawab Leon malah melemparkan pertanyaan yang sejak beberapa hari ini membuatnya gelisah.
"Seperti yang kamu lihat. Daddy hanya sedikit lelah saja," sahutnya tanpa ingin membebani pikiran putra putrinya.
"Daddy tidak bisa menyembunyikannya dariku," ujar Leon seakan tau bagaimana kondisi kesehatan pria paruh baya yang masih saja kelihatan tampan itu.
"Berarti ilmu kedokteran mu lebih ditingkatkan lagi son karena prediksi mu salah," ujar Daddy Alfred bergurau.
Leon menggelengkan kepala karena ia tau bahwa itu hanya lelucon.
"Sayang ada apa?" tanya Daddy Alfred baru menyadari jika sang istri sejak tadi diam saja, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Mommy Isabella tak bergeming, bahkan mendengar apa yang dikatakan oleh Daddy Alfred.
"Sayang....." Daddy Alfred kembali memanggil tetapi dengan intonasi sedikit meninggi.
"A....iya ada apa sayang?" ucap Mommy Isabella gagap.
"Ada apa?" seraya mengusap punggung itu dengan halus.
Mommy Isabella menelan ludah seraya menatap kearah Leon. Leon hanya bisa menunduk, ia tau apa yang menyebabkan Mommy nya melamun sejak tadi.
"Tidak ada apa-apa sayang. Oya Kiran sudah dimana sayang?" tanya Mommy Isabella ingin mengembalikan keadaan.
Mommy Isabella manggut-manggut.
"Baiklah Dad, Mom. Aku segera ke kamar," ujar Leon karena ingin segera membersihkan diri, apa lagi sebentar akan bertemu dengan pujaan hati.
"Iya sayang, segera bersihkan dirimu," ucap Mommy Isabella dengan tatapan datar.
Sepeninggalan Leon.
"Apakah mereka memenuhi undangan kita?" ucap Mommy Isabella.
"Entahlah sayang. Mereka sulit ditebak," sahut Daddy Alfred seraya mengusap punggung tangan itu.
°°°°°°
Di apartemen
Keenan menunggu Rebecca bersiap-siap di ruang televisi. Sembari menunggu ia menyempatkan diri memeriksa beberapa email yang masuk.
Tak lama Rebecca menghampiri hingga membuat Keenan mendongak menatap wajah cantik alami itu.
"Ayo," ucap Rebecca sedikit melengkungkan bibirnya.
"Sangat cantik," gumam Keenan mengagumi sosok Rebecca yang tampil cantik alami malam itu. Ia menggenakan dress pas body goalnya.
Seketika rona merah padam di wajah itu. Tidak ingin Keenan menyadari dengan cepat Rebecca berjalan lebih duluan.
**
Di Mansion
Di atas meja makan sudah terhidang menu beraneka macam.
Meja makan sudah ditempati oleh Daddy Alfred, Mommy Isabella dan juga Leon. Sedangkan Kiran masih berada dalam kamarnya karena beberapa menit yang lalu ia tiba. Bahkan belum sempat bertemu dengan Leon.
Seraya menunggu kedatangan Keenan maupun Rebecca dan juga Kiran mereka berbincang-bincang seputar pekerjaan Leon dan juga tentang kesehatan Daddy Alfred.
Hem hem
__ADS_1
Tiba-tiba deheman dari ujung sana membuat obrolan berhenti sejenak.
"Sepertinya membicarakan hal yang serius?" ucap Kiran seraya berjalan semakin mendekat.
Melihat sosok Kiran membuat getaran jantung Leon berdebar. Hal itu diperhatikan oleh Mommy Isabella ketika tatapan Leon tertuju kepada Kiran.
"Hai Kak, kamu tidak menyapaku?" cicit Kiran kepada Leon seraya mendekat.
"Hmm bagaimana kabarmu?" ujar Leon seraya bangkit, lalu memeluk Kiran. Bukan memeluk karena nafsu tetapi hanya sekedar melepas rindu.
"Seperti yang kamu lihat," sahut Kiran dengan wajah berseri-seri.
Leon saat ini menetap di kota x, ia bertugas di rumah sakit cabang milik keluarga Hugo. Sedangkan Kiran menetap di negara Indonesia, bertugas di rumah sakit milik keluarga Januar.
Kiran lalu segera duduk di samping Mommy Isabella, tepatnya dihadapan Leon.
"Pasangan pengantin baru belum juga tiba?" cicit Kiran yang ditujukan kepada Keenan dan Rebecca.
"Iya sayang, entah mereka jadi datang atau tidak," ucap Mommy Isabella tak semangat.Sejak tadi yang ia lakukan hanya melamun saja.
Seraya menunggu kedatangan Keenan dan Rebecca mereka kembali berbincang-bincang.
"Selamat malam Dad, Mom," suara lembut itu membuat mereka menoleh kearah suara.
Melihat dua sosok yang ditunggu-tunggu sejak tadi membuat Mommy Isabella terlonjak senang.
"Malam sayang," balas Mommy Isabella dengan wajah berbinar.
"Hai Kakak ipar," goda Kiran. Sungguh panggilan itu sangat lucu. Dulu ia memanggil Rebecca dengan Adik kini ia harus memanggil Kakak ipar.
Dengan segera Rebecca memeluk Kiran. Mereka sudah sangat lama tak bertemu.
"Bagaimana kabarmu sayang?" gumam Kiran dalam pelukan itu.
"Baik Kak," sahut Rebecca seperti biasanya.
Bibir Kiran mengerucut mendengar panggilan Rebecca yang tak berubah itu.
"Ingat sayang, aku bukan Kakakmu lagi tetapi Adik iparmu hmm," ucap Kiran.
Rebecca terdiam menunduk.
"Kamu tidak merindukan Kakak?" suara bariton itu membuat Rebecca mengalihkan pandangannya.
"Kak Leon apa kabar?"
"Sangat baik apa lagi dengan suasana seperti ini. Kita masih dapat berkumpul," ujar Leon.
"Kak Ken kamu tidak merindukanku?" celoteh Kiran.
Keenan tak menanggapi, ia langsung mendaratkan bokongnya tepat di samping Leon tanpa banyak bicara bahkan sekedar menyapa.
"Brother kau semakin tampan dan gagah. Hmm ini pasti pengaruh dari tugas WAMIL?" ujar Leon.
"Bagaimana keadaan di sana?" bukannya menjawab Keenan malah melayangkan pertanyaan.
Leon tersenyum kecut. Sungguh pria ini masih tetap saja cuek.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kakak bisa menanganinya," pungkas Leon.
Daddy Alfred maupun Mommy Isabella sangat bahagia melihat keempat buah hatinya masih dapat berkumpul ditengah-tengah mereka.
**
Mereka menyantap makanan yang diolah oleh tangan wanita yang sangat mereka sayangi.
"Masakan Mommy memang tidak ada yang bisa nandingi," ucap Kiran disela-sela suapannya.
"Benar sekali," timpal Leon. Sedangkan Keenan maupun Rebecca hanya terdiam.
"Terima kasih sayang," ucap Mommy Isabella.
"Son apakah sudah ada kemajuan? jika belum juga kamu menemukan jodohmu biar Daddy yang akan bertindak. Hmm biar Daddy kenalkan kamu kepada putri kolega Daddy," ujar Daddy Alfred hanya memberi ancaman kepada Leon karena selama ini Leon tak memiliki kekasih, sedangkan usianya sudah berkepala tiga.
Deg
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪
__ADS_1