
Aku berlari dengan sekuat tenaga. Berlari kearah taman yang terdapat di samping gedung pengadilan. Hanya tempat itu yang bisa aku tuju untuk bersembunyi.
Aku bersembunyi di pohon besar dengan jantung berdebar sembari membungkam mulutku agar kedua pria itu tidak menyadari persembunyianku.
Keberuntungan tidak berpihak karena ternyata taman itu sangat sepi bahkan tidak ada satu orangpun seperti petugas kebersihan.
"Nona jangan bermain-main," ujar salah satu pria yang berada tidak jauh dari tempat persembunyian.
"Ayo Nona menyerah saja dan berikan bukti itu kepada kami atau nyawa Nona yang akan menjadi taruhannya?" ancam temanya.
Aku membungkam mulutku dan berusaha tenang.
"Brengse* jika kita gagal habislah riwayat kita. Cari sampai dapat dan kita serahkan kepada bos," ujar pria yang paling menyeramkan.
Aaak....
Aku berteriak karena ulat menempel di lengan kemejaku, bahkan tidak sadar dengan situasi mencekam ini. Aku memang sangat takut dengan binatang tanpa bertulang ini, apa lagi menempel di daerah tubuhku.
Mendengar teriakanku membuat kedua pia itu langsung mendekat dengan posisi mengepung. Seketika aku baru sadar akan situasi ini.
"Menyerah saja,"
"Serahkan benda itu atau...," salah satu pria mengeluarkan pisau runcing yang sangat tajam sembari memainkannya untuk mengancamku.
Aku tidak gentar dan memberanikan diri.
"Benda apa? beda apa yang kalian maksudkan?" tanyaku memberanikan diri, padahal kedua kaki ini sudah gemetaran.
"Jangan pura-pura bodoh Nona, serahkan sekarang juga!" Seru mereka semakin mendekat.
"Aku tidak mengerti dan untuk apa kalian membuntutiku?" ucapku sembari menelan ludah.
"Kau ingin bermain-main? dengan senang hati aku menerimanya," salah satu dari pria itu melangkah mendekatiku. Aku melirik sana sini mencari celah sebelum mereka berhasil menangkapku.
Brak
Aku berlari kearah samping, sampai-sampai aku menabrak benda keras. Dengan sekuat tenaga aku berlari semakin jauh.
Karena taman terdapat bukit seperti jurang membuatku terjebak, bahkan ada tertulid peringatan area berbahaya. Mau tidak mau aku melompat begitu saja sehingga membuat tubuhku terguling-guling dibawah sana.
Aaaak....!!
Teriakku merasakan tubuhku seperti dihantam benda berat.
Aku menyangkut di akar pohon yang rimbun, itu keberuntungan bagiku untuk berlindung. Darah segar mulai mengalir dari lengan serta telapak kakiku. Tetapi aku tidak memikirkan rasa sakit itu untuk saat ini.
Di atas sana kedua pria itu berdiri sembari memperhatikan keadaan dibawah sana. Aku dapat melihat mereka dari celah pepohonan.
"Dimana wanita itu? ayo kita segera turun kebawah," ujar salah satunya.
"Sepertinya wanita itu sudah tewas, area itu sangat berbahaya. Lihat peringatan di sana," ujar temannya sangat yakin aku telah meninggal.
"Kita harus menghubungi yang lainnya agar dapat mencari wanita itu, kita harus memastikan wanita itu masih hidup atau sudah mati.
Salah satu dari mereka menghubungi rombongan lainnya.
__ADS_1
"Tuhan aku sudah pasrah. Jika sekarang waktuku telah tiba aku sudah tenang," batinku. Aku sudah pasrah karena aku yakin Leon berasil memberikan bukti itu. "Leon, Keenan, Kiran maafkan Mommy sayang jika Mommy tidak dapat mendampingi kalian lagi tetapi Daddy yang mengantikan Mommy," batinku dengan sendu.
Tidak selang lama beberapa orang yang aku yakini rombongan penjahat itu telah tiba di lokasi.
"Berpencar!" Ujar ketua dari penjahat itu memerintah.
Hal itu membuatku semakin bergidik. Aku tidak beranjak dari posisi semula, bahkan aku masih terbaring lemah dengan tubuh terasa nyeri.
Aku dapat menebak ada 5 orang yang turun kebawah dengan jalur yang berbeda. Derap kaki mereka sangat aku dengar.
°°°°°°
Alfred maupun Moses langsung bergegas kebawah.
"Kakak ipar tunggu," ujar Moses menghentikan langkah Alfred. "Aku sengaja memasang GPS di ponsel, kalung atau mobil milik Kakak, jadi itu memudahkan kita untuk melacak," ujar Moses sehingga membuat Alfred membalikan badan.
"Segera acak," seru Alfred dengan wajah yang sulit dijabarkan.
"Ponsel Kakak berada di area kantor, sedangkan GPS mobil menunjukan di area sini," ujar Moses.
Ssst....
Alfred mengusap wajahnya frustasi.
"Sayang kamu dimana?" gumam Alfred sangat takut sesuatu terjadi kepadaku.
"Tunggu GPS di kalung Kakak menunjukan lokasi disekitar sini. Mendengar penuturan Moses membuat Alfred antusias.
"Ya tepat sekali, di sebelah sana," ujar Moses setelah keluar gedung.
Ada pesan berupa video di ponsel Moses. Dengan segera Moses membuka video itu ternyata itu copy video hasil rekaman CCTV yang sengaja dimintai Moses kepada orang kepercayaan tadi.
Mata kedua pria tampan itu membulat melihat dimana aku sedang dikejar oleh dua pria tinggi tegap.
"Brengse* tidak akan aku biarkan kalian hidup jika sesuatu terjadi kepada istriku," teriak Alfred dengan murka.
"Segera hubungi polisi," titah Alfred kepada Moses.
"Aku sudah memerintahkan orang-orang ku," sahut Moses.
Tanpa menunggu lama Alfred berlari kencang kearah dimana GPS menunjukan lokasi diriku. Moses memanggil Alfred agar tidak gegabah tetapi sayangnya tidak ditanggapi olehnya. Moses yakin di sana sangat berbahaya jika bertindak gegabah.
Moses juga berlari tetapi sayangnya arah yang berbeda karena taman atau lapangan itu sangat luas.
"Sayang aku datang," ucap Alfred dengan mata memerah tanpa menghentikan langkah berlarinya.
Alfred berlari sana sini mencari keberadaanku sesuai petunjuk GPS yang berada di tangannya. Ya Alfred merebut ponsel milik Moses.
"Sayang...." Teriak Alfred tepat di atas jurang. "Isabella...." Teriaknya beberapa kali.
Deg
Samar-samar aku mendengar suara itu.
"Sayang ini aku, suamimu!" Teriaknya dengan suara lantang.
__ADS_1
"Alfred," gumamku seketika berusaha menggerakan badan.
Alfred semakin melangkah di tepi jurang tepat di atas dimana aku tersangkut.
"Sayang.....kamu dimana?" teriak Alfred kembali lagi.
Aku menadah kepala ke atas, dan bisa melihat sosok Alfred dari celah dedaunan.
"Alfred tolong hentikan panggilanmu, ini situasi yang sangat berbahaya," gumamku ingin sekali mengatakan itu kepada Alfred, dan ingin sekali mengatakan jika aku baik-baik saja.
Alfred sama sekali tidak menguasai situasi, karena sangat mengkhawatirkan keselamatanku dia melupakan nyawanya dalam bahaya. Aku sangat yakin para penjahat itu sudah mengetahui keberadaan Alfred.
Aku berusaha merayap ke atas dengan mengandalkan agar pohon atau batang pohon.
"Lokasi kita sudah diketahui," ujar salah satu dari penjahat itu dari dasar jurang.
"Hubungi mereka yang berjaga di atas," ujar yang lainnya.
Bruk
Tiba-tiba tubuh Alfred di tendang dari arah belakang sehingga membuatnya tidak bersiap-siap. Akibat dari tendangan kuat itu membuat tubuhnya mundur di bibir jurang.
Bruk
Sekali lagi tendangan itu sehingga membuat kakinya tergelincir. Alfred hanya bertahan dengar batang pohon tepat di atas.
"Brengsek!" Seru Alfred dengan amarah mengelora.
Tanpa sengaja pandangan Alfred kebawah tepat dimana aku berusaha naik.
Deg
Alfred sangat terkejut, begitu juga dengan aku sendiri.
"Sayang...." Alfred bergumam.
"Al....." Aku bergumam sembari menggelengkan kepala.
"Tarik dia!" Titah sang ketua kepada keempat pria itu.
Alfred memberi kode kepadaku agar tetap berada ditempat. Aku menggeleng tidak setuju karena tidak ingin sesuatu terjadi kepada orang yang sangat aku cintai. Aku bahkan menangis ketakutan dalam diam.
Alfred berhasil ditarik kembali ke atas. Serangan kembali mendarat di seluruh tubuhnya. Sangat sulit untuk mengenali wajah-wajah mereka karena mengenakan penutup wajah.
Buk buk buk
Alfred akhirnya membalas. Satu persatu lawan tumbang akibat serangan balik Alfred.
"Angkat tangan!" Dari arah sana polisi memberi peringatan sehingga membuat keempat pria itu mengangkat tangan. Sedangkan satu pria bersembunyi dibalik pohon besar di belakang Alfred. Awalnya pria itu juga tumbang tetapi dia berusaha bangkit lalu bersembunyi ketika mendengar kedatangan pihak kepolisian.
Mataku melotot ingin keluar dari tempatnya melihat pria itu meraih pisau runcing serta tajam itu mengarah kearah Alfred.
Tanpa merasa takut aku merayap ke atas, dan usahaku membuahkan hasil.
"Al....Awas....!"
__ADS_1