
"Apa? memangnya Daddy sakit apa?" ucap Rebecca dengan raut wajah cemas.
"Waktu kepergian kalian, Tuan Alfred tak sadarkan diri," ujar Lucky.
Sekali lagi membuat Rebecca membeku. Apa yang dikatakan Lucky sungguh membuat kaget. Ia sadar itu karena kesalahan atau tindakan yang tak terpuji.
"Aku ingin ke rumah sakit," ucap Rebecca dengan terisak.
"Biar Kakak antar," ujar Lucky karena ia juga ingin tau bagaimana perkembangan kesehatan Daddy Alfred.
"Daddy juga ikut," timpal Tuan Sun.
Akhirnya mereka bertiga berangkat menuju rumah sakit keluarga Hugo.
**
Di rumah sakit
Mommy Isabella berusaha membujuk Daddy Alfred agar ia mau makan. Sejak tadi pagi pria paruh baya itu melewati sarapan.
"Sayang bagaimana Daddy lekas sembuh jika tidak mau makan," lirih Mommy Isabella dengan lemas.
"Daddy baik-baik saja sayang, sebaiknya Mommy makan," sahut Daddy Alfred.
Mommy Isabella menggeleng dengan pelan, raut wajah sedih tidak bisa ia sembunyikan.
"Mommy tidak ingin kehilangan Eca. Bagaimana bisa Mommy berpisah dengannya," lirih Mommy Isabella dengan wajah menunduk.
Daddy Alfred terdiam karena ia juga merasakan itu.
Klek
Keenan membuka pintu, ia baru saja dari kantor. Daddy Alfred maupun Mommy Isabella tak menanggapi kedatangan Keenan.
Keenan kembali menelan pil pahit. Sungguh kehadirannya tak dibutuhkan.
"Bagaimana keadaan Daddy?" tanya Keenan.
Tidak ada yang menjawab, hal itu membuat dada Keenan sesak.
"Sayang bantu Daddy untuk duduk," pinta Daddy Alfred.
Dengan penuh hati-hati Mommy Isabella menyandarkan tubuh lemah itu.
"Apa keputusanmu son? Daddy sama sekali tidak menyalahkan kamu karena dari awal ini adalah perintah dari Daddy maupun Mommy. Kamilah yang memaksakan diri agar pernikahan kalian terjadi, di sini Daddy maupun Mommy lah yang egois. Kamilah yang sangat bersalah dalam hal ini," ungkap Daddy Alfred. "Daddy kira dengan seiringnya waktu kalian berubah, berubah memiliki perasaan masing-masing tetapi Daddy salah menduga. Apapun keputusan kalian berdua Daddy tidak akan ikut campur lagi, jika itu yang terbaik lakukan saja," imbuhnya dengan mata memerah.
"Hati dan perasaan Mommy sangat sakit ketika kalimat kecewa yang dilontarkan oleh Eca kepada kami. Ditambah lagi kalimat yang tak pernah kami duga ketika ia mengatakan perbedaan dia dengan kamu sangat jauh berbeda dan status dirinya. Mommy sangat sedih Ken, bahkan inilah kesedihan terbesar Mommy setelah memiliki kalian," ungkap Mommy Isabella dengan derai air mata.
__ADS_1
Keenan tertekun mendengar curahan hati kedua orang tuanya.
"Aku minta maaf Dad, Mom. Apapun yang terjadi aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi," ujar Keenan.
"Biar kamu semakin menyakiti dia? begitu Ken? apa kamu belum puas?" cecar Mommy Isabella dengan murka seraya mengusap dadanya .
"Sayang tenang," lirih Daddy Alfred seraya mengusap punggung Mommy Isabella.
Keenan menghela nafas. Lalu ia melangkah mendekati sofa.
Keadaan menjadi hening.
Klek
Pintu ruang rawat dibuka dari luar. Tidak ada yang menyadari karena ruang rawat keluarga itu besar.
Rebecca langsung berlari kecil mendekati ranjang, dimana saat itu Daddy Alfred dan Mommy Isabella terduduk diam.
"Dad, Mom," panggilan itu membuat kedua paruh baya itu tersadar dari lamunan masing-masing. Keduanya serempak menoleh kearah suara.
Tatapan keduanya penuh arti menatap Rebecca yang tengah berdiri.
"Daddy sakit apa?" tanya Rebecca langsung pada intinya.
Melihat raut wajah khawatir Rebecca membuat Daddy Alfred lega karena ternyata Rebecca masih peduli kepadanya.
Rebecca secara bergantian menatap kedua orang tuanya. Sungguh hatinya tersayat-sayat melihat wajah sendu dari keduanya.
"Daddy sakit apa? apa Daddy sudah makan?" tanya Rebecca. Ia melirik di atas nakas makanan masih utuh.
Keenan menatap Rebecca dengan saksama. Ingin sekali ia mengajak Rebecca untuk berbicara. Sedangkan yang ditatap sama sekali tak melirik dirinya, seakan sosok Keenan tak terlihat olehnya.
"Tidak ada yang harus dikhawatirkan Nak. Mommy saja yang berlebihan harus membawa Daddy ke rumah sakit," ujar Daddy Alfred seperti tidak ad ayang terjadi apapun.
"Iya sayang. Seperti biasa asam lambung Daddy naik karena waktu di Indonesia Daddy tidak teratur pola makannya," timpal Mommy Isabella agar Rebecca tidak merasa khawatir.
Mendengar penjelasan Mommy Isabella membuat Rebecca merasa lega, ia sungguh tak merasa curiga.
"Tuan Alfred bagaimana keadaan Tuan?" tanya Tuan Sun.
"Tidak ada yang harus dikhawatirkan," sahut Daddy Alfred.
**
Kini semuanya duduk di sofa. Daddy Alfred berusaha kuat, tak ingin terlihat sakit di mata Rebecca. Ia tidak ingin Rebecca berubah pikiran karena kondisinya yang sedang sakit.
Hmm
__ADS_1
Daddy Alfred menghela nafas.
"Son apa kamu sudah menyelesaikan masalah yang terjadi?"
"Sudah Dad," ujar Keenan tak semangat.
"Apa keputusan kalian? Daddy ingin ada kejelasan," pungkas Daddy Alfred.
Keenan maupun Rebecca saling memandang untuk sesaat.
"Jawab! Tidak ada gunanya membuang waktu. Bukankah yang aku katakan benar Tuan Sun?"
"Iya apa yang Daddy kalian katakan itu benar. Kami sebagai orang tua hanya bisa mengikuti karena kalianlah yang menjalankannya. Ikuti apa kata hati kalian masing-masing. Tidak ada orang tua yang menginginkan sesuatu yang terjadi kepada putra-putri mereka, semua orang tua menginginkan kebahagiaan untuk putra-putrinya. Begitulah yang terjadi kepada kami sebagai orang tua kalian," papar Tuan Sun seraya menoleh kearah Keenan maupun Rebecca.
"Aku tidak menginginkan perpisahan ini," ujar Keenan dengan lantang.
Senyuman mengejek melengkung di bibir Rebecca setelah mendengar penolakan dari Keenan.
Mendengar pernyataan Keenan sedikit kelegaan di hati Daddy Alfred maupun Mommy Isabella.
"Eca tetap ingin berpisah," ucap Rebecca dengan mantap.
Deg
Ucapan Rebecca bagai hantaman di dada semua orang.
"Beri aku kesempatan," ujar Keenan.
"Aku sudah memberinya dengan perpisahan ini. Bukankah setelah kita berpisah kamu diberi kesempatan untuk memulai kembali hubungan kalian yang pernah retak? bukankah aku sudah berbaik hati, memberi kesempatan untukmu?" ucap Rebecca dengan tenang seraya menatap Keenan yang juga sedang menatapnya hingga tatapan mereka bertemu.
"Bukan itu maksudku. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya dari awal, membangun benteng yang sudah runtuh," ujar Keenan dengan sungguh-sungguh.
"Apa itu juga paksaan? sepertinya kalimat-kalimat itu bukan berdasar dari dirimu," tuduh Rebecca seakan ucapan Keenan itu berasal dari kedua orang tuanya.
Mendengar sindiran halus dari Rebecca membuat kedua paruh baya itu mengusap dada, terlebih lagi Daddy Alfred.
Keenan menyadari perubahan di raut wajah kedua orang tuanya, terlebih sang Daddy.
"Sebaiknya kita bicara di lain tempat," usul Keenan karena ia tidak ingin Daddy Alfred semakin syok, ia masih ingat betula larangan dokter yang menangani Daddy nya.
"Tidak perlu son. Bicara saja, kamu tidak akan ikut campur," ujar Daddy Alfred keberatan.
Rebecca memandangi semua orang kecuali Keenan untuk sesaat.
"Maaf Eca tidak bisa mempertahankannya."
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪