MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 138~MDS2


__ADS_3

"Silahkan duduk Nona," bukan Gerry yang melakukan itu tetapi Lucky seraya menarik kursi untuk Rebecca. Pria itu melakukannya disertai senyuman mendamba.


"Terima kasih Tuan," ucap Rebecca diiringi senyuman manisnya.


Di ujung sana


"Bukankah seharusnya pertemuan di kantor? oh jadi putra Tuan Sun yang menghadiri pertemuan itu," batin Keenan seraya mencengkram erat cangkir itu, untungnya tidak sampai retak.


"Honey ada apa?" merasakan usapan di punggung tangannya membuat kesadaran Keenan kembali.


Ia hanya menggelengkan kepala tanpa melepaskan pandangannya. Tentu saja Sunny tidak tau hal itu karena pandangan Keenan tertuju kepada bagian di belakangnya.


**


"Silahkan di pesan Nona, asisten Gerry," ujar Lucky seraya menyerahkan buku menu.


"Aku pesan jus soju," ucap Rebecca.


Lucky mengangguk, lalu memanggil pelayan cafe.


"Jus soju, samakan saja," ujar Lucky tanpa bertanya terlebih dahulu kepada kedua asisten itu.


Rebecca menyipitkan matanya karena mendengar pesanan yang sama tetapi ia kembali tak mempersalahkan itu.


Mereka kembali berbincang-bincang. Sedangkan Gerry maupun Dirly hanya mendengarkan saja seraya memainkan ponsel.


Tidak sulit bagi Lucky mendekati Rebecca karena gadis cantik itu gampang akrab dengan siapapun.


"Ada apa dengan Tuan? bukankah Tuan terkenal dingin serta irit bicara? tetapi lihatlah sejak tadi ada-ada saja hal yang dibahas. Hmm sepertinya Tuan tertarik dengan Nona Rebecca, siapa sih yang tidak tertarik," batin Dirly dengan ujung mata melirik Lucky yang asik mengobrol dengan Rebecca.


Tiba-tiba tangan Lucky terulur menyentuh ujung bibir Rebecca menggunakan tisu.


"Maaf ada sedikit sisa minuman," ucap Lucky dengan lembut.


Rebecca kaget bukan main karena Lucky cukup berani, walaupun tangan itu tak mengenai bibirnya karena beralaskan tisu, tetapi bagaimanapun hal ini tak biasa, apa lagi mereka baru saja kenal.


Mendengar perkataan Lucky membuat konsentrasi kefokusan kedua asisten itu mengalihkan perhatian Ke Lucky dan Rebecca.


"Terima kasih," ucap Rebecca berusaha setenang mungkin seraya menundukkan wajah. Bagaimanapun rasa kecanggungan itu ia rasakan.


Brak


"Ada apa honey?" tanya Sunny dengan ekspresi kaget. Bagaimana tidak, Keenan mengobrak meja begitu saja, walaupun tak terlalu keras.


"Tidak!" Sahut Keenan singkat tanpa mengalihkan tatapannya, sedangkan Sunny kembali fokus dengan ponselnya karena ingin membalas email yang masuk.


Apa yang mereka obrolkan tentu saja tak dapat dijangkau oleh Keenan.


Keenan segera merogoh kantong celananya, untuk mengambil ponsel. Lalu segera mengetik. sesuatu di sana.


Ting


Notifikasi ponsel Gerry.


{"Menoleh ke arah kiri sekarang juga!"}


Dahi Gerry mengerut membaca pesan yang dikirimkan oleh Keenan.


"Untuk apa aku harus melirik ke kiri? apa ada hantu?" pikir Gerry tidak paham. Ia engan melakukan apa yang diperintahkan Keenan. Lagi pula bukankah Tuan nya itu sedang menjemput seseorang? itulah yang ada dalam pikiran Gerry.


Ting

__ADS_1


{"Kau sudah bosan bekerja denganku? lakukan apa yang aku perintahkan!!!"}


Gerry menelan ludah dengan mata melebar. Ia pun segera melakukan apa yang diperintahkan Keenan.


Hah.....


Mata Gerry membulat dengan mulut menganga melihat sosok di sisi kirinya yang berjarak cukup jauh menatap dengan mata tajam.


"Ada apa asisten Gerry?" tanya Dirly melihat gelagat Gerry yang seakan kaget begitu saja.


"Hmm tidak ada masalah. Maaf Tuan kami harus segera kembali ke kantor," ucap Gerry beralasan.


Sekali lagi Gerry melirik ke arah semula. Tatapan Keenan seakan membuatnya paham seperti. "Segera kembali ke kantor jika ingin tetap bekerja!" itulah arti dari tatapan itu.


"Benarkan begitu Nona?" ucap Gerry kepada Rebecca.


"Iya Tuan, apa yang dikatakan asisten Gerry benar. Kami harus kembali bekerja apa lagi beliau sedang tidak di tempat," papar Rebecca membenarkan penuturan Gerry.


"Baiklah. Terima kasih atas waktunya. Senang bisa berkenalan dengan Nona Rebecca," ujar Lucky, padahal sebenarnya ia masih sangat betah berbincang-bincang dengan Rebecca. Rebecca ternyata orang yang asik untuk bertukaran pikiran, anaknya tidak neko-neko. Unik dari pada anak-anak konglomerat pada umumnya yang hanya bisa begini, begitu. Kebanyakan menebarkan kemunafikan. Hal itu tidak ia dapati dari sosok seorang Rebecca.


Rebecca bersama Gerry berjalan menuju pintu keluar. Sedangkan Lucky maupun Dirly memandangi dua sosok. itu sampai menghilang.


"Sangat menarik," gumam Lucky seraya melengkungkan bibirnya.


"Maaf jika saya lancang Tuan. Apa Tuan tertarik atau menyukai Nona Rebecca?" akhirnya pertanyaan yang sejak tadi pria berkaca mata itu simpan, akhirnya diucapkan juga.


Lucky melirik Dirly, kembali dengan tatapan dingin.


"Untuk hal satu ini kau tidak perlu tau karena masih banyak hal pekerjaan yang lain yang perlu kau urus!" Ujar Lucky menegaskan, bahkan diiringi dengan tatapan tajam.


"Moodnya kembali seperti semula," batin Dirly.


°°°°°°


Kebetulan hari ini adalah weekend, jadi seluruh karyawan kantoran serta pegawai lainnya tidak masuk kerja.


Mungkin karena kelelahan Rebecca bangun kesiangan. Mommy Isabella juga tidak tega membangunkan dirinya. Selama magang Rebecca sering lembur berjaga malam untuk menyelesaikan pekerjaan kantor serta tugas kampus.


Oleh itu ia sudah jarang mengobrol dengan kedua orang tuanya. Mommy Isabella sedikit protes tetapi ia tidak bisa egois karena itu demi masa depan Rebecca.


Bangun tidur Rebecca langsung bergegas ke kamar mandi. Usai dengan urusan mandi serta berpakaian ia segera keluar kamar.


Ia harus menemui kedua orang tuanya, ada hal yang ingin ia bicarakan. Ini adalah kesempatan untuk bicara karena biasanya sangat sibuk.


Rebecca melangkah ke arah ruang keluarga tetapi ia tidak menemukan dua sosok yang sangat berjasa dalam hidupnya itu.


"Bibi dimana Daddy sama Mommy?" tanya Rebecca ketika melihat Bibi Fera sedang membersihkan dapur. Karena di dapur pun kedua orang tuanya tidak ia dapati.


"Tuan sama Nyonya di taman samping Nona. Nona ingin sarapan? ini sudah Nyonya siapkan," ucap Bibi Fera.


"Terima kasih Bibi," ucap Rebecca.


Di ambilnya sarapan itu, lalu berjalan menuju taman samping. Ya di sanalah kedua paruh baya itu sering me g habiskan waktu jika hanya berdiam diri Mansion.


Senyuman merekah di bibir Rebecca dari kejauhan melihat dua sosok yang sejak tadi ia cari-cari tengah bermesraan, hal itu sudah tidak asing lagi di depan matanya.


Dimana Mommy Isabella tengah berbaring di kursi panjang dengan kepala beralaskan kedua paha Daddy Alfred.


Dengan penuh cinta Daddy Alfred membelai rambut panjang Mommy Isabella. Sekali-kali mengecup dahinya.


Hem Hem

__ADS_1


Rebecca sengaja berdehem.


Deheman itu berhasil membuat keduanya menoleh.


"Sayang," panggil Mommy Isabella dengan senyuman melebar.


"Pagi Dad, pagi Mom," sapa Rebecca.


"Pagi sayang,"


"Pagi Nak,"


Rebecca langsung meletakan napan yang berisi sarapan, ia ingin menyantap sarapan itu bersama dengan kedua orang tuanya.


"Maaf ya Eca kesiangan," ucap Rebecca sebelum menyantap sarapan kesukaannya.


"Tidak masalah sayang, kami sangat mengerti. Sayang jangan terlalu kelelahan, apa lagi sampai stres," ucap Mommy Isabella mengingatkan dengan wajah penuh kasian.


Mommy Isabella bangun dari posisi berbaring nya, tentunya dibantu oleh Daddy Alfred.


"Baring saja Mom," cegah Rebecca. "Hmm terima kasih Mommy sudah menyiapkan sarapan kesukaan Eca," ucap Rebecca dengan mulut penuh sehingga suara itu tidak jelas.


"Berterima kasihlah kepada Daddy sayang karena yang menyiapkan sarapan pagi hari ini," ucap Mommy Isabella.


"Terima kasih Dad," ucap Rebecca seraya bangkit berdiri, lalu melayangkan kecupan di pipi sebelah kiri Daddy Alfred.


"Selagi Daddy bisa Nak. Habiskan, jika tidak nanti makanannya nangis," ujar Daddy Alfred. Kalimat itu sampai sekarang masih berlanjut. Dulu sewaktu mereka masih kanak-kanak setiap makan kalimat itu selalu diucapkan Daddy Alfred maupun Mommy Isabella.


Benar saja, Daddy Alfred sering sekali menyiapkan sarapan pagi karena itu menurunnya agak ringan dibandingkan memasak untuk makan siang dan malam.


Inilah bukti kasih sayang kedua orang tuanya kepada Rebecca. Apa yang disukai oleh Rebecca itulah menu makanan yang dimasak. Rebecca tipe wanita tak memilih jika berhubungan dengan makanan, asalkan itu bersih dan higenis.


Ketiganya berbincang-bincang banyak hal, tentunya membicarakan kegiatan Rebecca.


"Dad, Mom ada yang ingin Eca bicarakan. Tetapi sebelumnya Eca minta maaf karena sudah lancang," ucap Rebecca pada akhir obrolan mereka tentang kegiatannya.


Perkataan Rebecca tentu saja membuat keduanya saling memandang.


"Ingin bicara apa sayang? bicarakan saja," tanya Mommy Isabella.


"Iya Nak, bicara saja," timpal Daddy Alfred.


Rebecca menegakkan tubuhnya, lalu menarik nafas dalam-dalam.


"Dad, Mom izinkan Eca untuk tinggal sendiri," ucap Rebecca penuh kehati-hatian, ia sangat mengerti jika keinginannya itu mengundang kekagetan kedua orang tuannya, bahkan dapat menyinggung perasaan mereka.


Karena tidak ada angin, tidak ada hujan permintaan itu lolos begitu saja dari mulut Rebecca.


"Maksud kamu apa sayang? kamu ingin meninggalkan kamil? akan tinggal di tempat lain begitu?" cecar Mommy Isabella seakan sangat paham dengan perkataan Rebecca.


Rebecca memejamkan mata mendengar cecaran bertubi itu. Ia sudah sangat tau sekali frekuensinya jika membicarakan hal ini.


"Sayang tenang, biarkan Eca berbicara terlebih dahulu," pungkas daddy Alfred seraya menenangkan wanita yang sangat dicintainya ini, yang kini sudah berkaca-kaca.


"Mom dengar dulu, bukan maksud Eca untuk menyinggung perasaan Mommy dan Daddy. Bukan itu maksud Eca," lirih Eca dengan tidak tega melihat wanita tangguh luar biasa di depannya sedang menatap dengan sendu.


"Son," tidak sengaja pandangan Daddy Alfred tertuju pada sosok Keenan yang tengah berdiri di belakang, entah kapan sosok itu berada di tengah mereka.


Melihat kedatangan Keenan membuat Rebecca menunduk.


"Benar kalian semua sudah dewasa, dan sosok kami yang sudah tua ini tidak berperan penting lagi untuk mendampingi kalian. Pergilah satu-persatu!" Seru Mommy Isabella dengan suara meninggi, disertai tangisan, bahkan segera bangkit meninggalkan taman dengan perasaan kecewa.

__ADS_1


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2