MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 166~MDS2


__ADS_3

Rebecca diam-diam menyeka air matanya. Berusaha agar tetap tenang, walaupun raut wajah itu sulit di sembunyikan.


"Aku sulit bernafas," lirih Rebecca dengan dada sesak, bukan akibat pelukan itu tetapi yang menyebabkan rasa sesak adalah kejadian itu.


Keenan tak menggubris. Ia bahkan sama sekali tidak mengendorkan pelukan itu.


"Lepaskan, aku sulit bernafas," lirih Rebecca kembali seraya melepaskan kedua tangan melingkar itu.


Terpaksa Keenan melepaskan pelukan itu. Keduanya terdiam masih dengan posisi Rebecca membelakangi Keenan.


"Kamu sudah tiba? apa kamu sudah makan? maaf aku tidak menyiapkan makan malam karena aku pikir kamu tidaklah jadi berangkat," ucap Rebecca seraya meremas dadanya yang terasa sangat sesak.


Keenan memejamkan mata mendengar nada bergetar itu, seperti menahan sesuatu.


Ia raih kedua bahu Rebecca, hingga kini mereka saling berhadapan.


Keenan tertekun mendapati raut wajah Rebecca. Ia menatap Rebecca dengan perasaan bersalah. Sedangkan yang ditatap hanya dapat menunduk.


"Aku ingin bicara," ujar Keenan.


Rebecca menggeleng dan terpaksa ia mengangkat wajahnya yang sembap.


Denyut hati Keenan seakan diremas mendapati kedua mata Rebecca yang membengkak akibat menangis.


Tatapan keduanya tak lepas.


"Kita bicarakan semuanya ketika kembali besok, jika ada yang ingin dibicarakan. Sekarang waktunya istirahat. Kamu pasti lelah begitu juga denganku," ucap Rebecca dengan bola mata berkaca-kaca.


Keenan ingin protes tetapi melihat raut wajah serta tatapan sendu Rebecca ia tidak tega.


Tanpa berkata lagi Rebecca segera melangkah menuju kamar, ia tidak ingin berlama-lama dengan kondisi seperti ini.


Keenan memandangi tubuh itu sampai menghilang dari pandangannya. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan.


Bayangan sekilas wajah Rebecca tadi membuat aliran darahnya serasa berhenti.


Dan akhirnya Keenan memutuskan akan beristirahat di depan televisi, ia memberi waktu untuk Rebecca sendiri. Ia tidak ingin membuat keadaan menjadi semakin runyam.


Keenan meraih ponsel ingin melihat berita yang tidak sedap itu.


Di media sosial hampir membahas gosip hangat dirinya dengan Sunny. Dengan komentar beraneka ragam. Ada yang simpati dengan Rebecca dan bahkan ada yang sebagian netizen yang memojokkan Rebecca.


Keenan meradang, kedua sisi rahangnya mengeras. Ia pun segera mematikan ponsel tersebut dan melemparnya ke sofa sisi lain.


**


Didalam kamar Rebecca melemparkan tubuhnya di atas kasur. Sejak tadi ia berusaha tegar seakan tidak terjadi sesuatu apapun.


"Aku tidak menyalahkanmu karena dari awal hubungan kita memang dipaksakan. Akulah yang menghancurkan kebahagiaan kalian. Menghancurkan rancangan rencana yang sudah kalian tetapkan. Aku masuk seperti duri dalam hubungan kalian. Jika disalahkan dalam hal ini, itu adalah aku. Bukan kamu maupun Sunny. Dari sini aku sadar bahwa cintamu kepada Sunny begitu besar," batin Rebecca dengan hati tersayat-sayat, tidak terima dengan ungkapannya sendiri.

__ADS_1


°°°°°°


Keesokan harinya


Pagi-pagi Rebecca sudah terbangun dari tidurnya, tidak ia sama sekali tidak tidur semalaman.


Tanpa memandangi Keenan yang masih terlelap ia pergi begitu saja ke lokasi peninjauan. Ia dan Keenan akan kembali malam nanti karena masih banyak yang ingin diselesaikan di sini.


Rebecca menggenakan masker serta topi agar tidak ada yang mengenali dirinya, itu hanya untuk menghindari para wartawan.


Di lokasi Rebecca melakukan seperti hari-hari yang sudah berlalu, ia tidak ingin menunjukan sisi lemahnya didepan para pekerja.


**


Di apartemen Keenan menggeliatkan tubuhnya. Ia bangun kesiangan karena subuh baru bisa tertidur.


Ia bangkit melangkah menuju kamar tetapi ia tidak mendapati sosok Rebecca. Di kamar mandi juga tidak ia temukan.


Ia meraih ponsel ingin menghubungi Rebecca tetapi ponsel itu tetap tidak aktif. Seketika pandangannya tepat di meja televisi, di sana ponsel milik Rebecca tergeletak dengan keadaan mengisi daya.


Keenan mendekat, lalu melepaskan charger dari ponsel itu.


Ya memang sedikitpun niat Rebecca tidak ingin mengaktifkan ponselnya. Ia tau bahwa sosial media saat ini menayangkan kabar itu.


Keenan segera membersihkan diri, ia akan menyusul Rebecca ke lokasi.


**


Dari kejauhan Keenan mendapati sosok Rebecca yang tengah menyantap nasi bungkus.


Hem hem


Deheman Keenan membuat Rebecca yang tengah mengunyah berhenti sesaat. Ia menoleh ke belakang.


Melihat kedatangan Keenan ia tidak kaget karena bisa saja Keenan memantau pembangunan hotel tersebut. Rebecca kembali meneruskan melahap makanannya yang baru saja ia makan.


Tanpa di persilahkan Keenan langsung duduk di samping Rebecca. Ia memandangi Rebecca secara intens, hal itu membuat Rebecca merasa tidak nyaman diperhatikan seperti itu.


"Kamu sudah sarapan?" tanya Rebecca dengan mulut penuh makanan.


Keenan menggeleng.


"Tunggu sebentar biar aku pesan karena aku hanya beli satu bungkus," ucap Rebecca.


Keenan menggeleng. Menatap ketegaran Rebecca seperti tidak ada yang terjadi dalam hubungan mereka.


Ada rasa kecewa yang dirasakan Keenan, dan pikiran negatif pun menghingap di pikirannya. Melihat sikap Rebecca yang biasa-biasa saja.


"Kamu mau?" tawar Rebecca sehingga lamunan Keenan tersadar.

__ADS_1


Tidak lama ia langsung mengangguk.


"Kamu yang menyuapi," pinta Keenan.


Rebecca mengangguk.


Rebecca menyuapi Keenan. Keenan menyambut tanpa melepaskan tatapannya kepada Rebecca.


"Biar kenangan ini menjadi akhir dari segalanya," batin Rebecca ingin menangis.


Mereka mengunyah dalam diam, masing-masing berpikir.


Tiba-tiba bulir bening bergulir di pelupuk mata Rebecca. Sejak tadi ia sudah berusaha menahannya tetapi tetap saja tidak bisa.


Keenan tertekun mendapati hal itu.


"Sepertinya aroma cabai mengenai mataku," lirih Rebecca seperti menahan rasa sakit yang dibuat-buat. Ia tidak ingin Keenan berpikiran yang tidak-tidak.


Hati Keenan sakit melihat hal itu tetapi ia tidak bisa berbuat banyak karena Rebecca sudah berkata akan membicarakan masalah itu ketika kembali nanti.


Hmm


Rebecca berdehem mengembalikan keadaan. Ia menyapu air matanya dan berusaha tenang.


"Aku ingin bicara," ujar Keenan.


"Bicara apa? bicara masalah diluar pekerjaan? sebaiknya di simpan saja, tunggu kita kembali dari sini," ucap Rebecca dengan nada sesak.


Keenan menghela nafas. Tanpa mendengar jawaban Keenan, Rebecca berlalu begitu saja.


**


Kini Keenan maupun Rebecca sudah berada dalam helikopter. Mereka berangkat malam sekitar pukul 24:00 waktu setempat. Sepanjang perjalanan mereka bungkam. Rebecca sengaja menghindari dengan cara memejamkan mata, seakan ia tengah tertidur.


Hanya butuh waktu 1 jam 30 menit jarak tempuh kota x dengan Ibu kota.


Helikopter mendarat dengan selamat. Mendarat di kediaman kedua orang tua mereka. Seperti yang diperintahkan, mereka akan menemui kedua orang tuanya yang sudah kembali.


Tanpa mengatakan apapun Rebecca berjalan sendirian, mendahului Keenan.


Dengan langkah panjang Keenan menyusul Rebecca. Kini keduanya berjalan secara beriringan tanpa ekspresi.


Tiba di pintu utama mereka di sambut oleh para pelayan. Keenan maupun Rebecca hanya mengangguk.


Tiba di ruang keluarga mereka mendapati kedua orang tua serta ada juga Tuan Sun beserta Lucky. Tentu saja hal itu membuat Rebecca heran karena kedatangan tamu di tengah malam.


Bersambung......


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪

__ADS_1


•Part selanjutnya mengandung bawang🧅🧅🌰🌰


__ADS_2