
Rebecca meletakan kembali ponselnya di atas meja sofa yang terdapat didalam kamar apartemen. Ia baru saja membaca pesan dari Keenan. Bahwa malam ini Keenan akan berangkat, menyusul dirinya.
Rebecca mengisi baterai ponselnya dengan kondisi dimatikan.
Kebahagiaan tentu saja dirasakan Rebecca. Siapa sih yang tidak bahagia? tentu saj bukan?.
Rebecca rebahan di atas sofa. 30 menit lalu ia baru saja tiba di apartemen setelah memantau di lokasi. Rasa lelah menyeruak dalam dirinya. Untuk itu ia ingin beristirahat untuk beberapa jam.
Wanita cantik itu sudah berusaha memejamkan mata tetapi tidak membuatnya tidur, entah kenapa perasaannya tidak enak.
"Apa sebaiknya menonton saja?" gumam Rebecca seraya menguap.
Ia pun beranjak bangkit menyalakan televisi, lalu kembali duduk dengan wajah serius memindah-mindahkan Chanel, seraya meneguk air putih.
Prang
Gelas yang tengah di teguk jatuh seketika di lantai menjadi pecah belah.
Seperti di sambar petir jiwanya atas kejutan yang tengah ia tonton. Dimana di sana menyiarkan atau menyorotkan tentang.
Kejadian 2 tahun yang lalu. Tepatnya pada saat pengantaran peserta wajib militer. Tuan Keenan Hugo tertangkap kamera sedang berpelukan dengan wanita cantik yang tak lain adalah Sunny *Brilian seorang CEO dari BRILIAN GROUP.
Tepat hari kepulangan Tuan Keenan Hugo dari wajib militer. Tertangkap kamera tengah berada di bandara x. Ternyata menjemput Nona Sunny Brilian*.
Keterangan-keterangan itulah yang tersiarkan disertai video ataupun potretan mereka yang begitu mesra dinilai oleh publik.
Rebecca meremas dadanya yang begitu sesak, sangat sulit untuk bernafas. Air mata sudah tidak dapat ia bendung lagi.
Bayangan ketika ia menyambut kedatangan Keenan. Dimana Keenan tidak pulang tepat waktu, rupanya pria itu sedang menjemput mantan kekasihnya di bandara.
Rebecca segera mematikan televisi. Hampir semua Chanel menayangkan berita itu. Hingga memojokkan dirinya yang telah menjadi istri sah seorang Keenan.
Rebecca melemparkan tubuhnya di atas kasur seraya menangis.
"Ternyata kamu sangat jahat, begitu tega menyakiti hatiku. Aku baru sadar sekarang. Mencintai seseorang begitu menyakitkan hiks hiks....." Tangis Rebecca.
°°°°°°
Hiks....hiks.....
Tangisan seorang wanita paruh baya dalam pelukan sang suami.
"Apa maksud Keenan sayang? apa maksud dia melakukan itu?" lirihnya seraya meremas dadanya yang begitu sesak.
"Kita harus kembali sekarang juga. Jangan biarkan Papa sama Mama menonton siaran tersebut, untuk saat ini rahasiakan dulu," ujar Daddy Alfred seraya menenangkan Mommy Isabella.
Kedua paruh baya tersebut saling diam dengan sejuta pertanyaan. Sakit, kecewa tentu saja menyelimuti perasaan mereka. Pastinya terhadap Rebecca.
"Hubungi Eca sayang. Mommy takut sesuatu terjadi kepadanya," rengek Mommy Isabella.
__ADS_1
"Eca sedang berada di luar kota sayang," ujar Daddy Alfred.
"Hubungi," titahnya.
Daddy Alfred mengikuti keinginan Mommy Isabella. Berkali-kali ia menghubungi tetapi tidak tersambung .
"Tidak tersambung sayang. Sepertinya Eca sengaja mematikan ponselnya," ujar Daddy Alfred dengan raut wajah khawatir.
"Sayang, Mommy sangat takut. Mommy ingin bertemu Eca," lirih Mommy Isabella. Tangisannya kembali pecah, membayangkan bagaimana keadaan Rebecca saat ini setelah mengetahui kabar itu. Kabar yang menggemparkan pebisnis di Korea Selatan.
"Son kamu benar-benar membuat Daddy kecewa. Daddy sudah gagal menjadi seorang Ayah serta kepala keluarga untuk kalian. Sungguh Daddy tidak sanggup melihat putri sekaligus menantu kami menangis dan tersakiti. Jika itu yang ingin kamu mau baiklah!" Batin Daddy Alfred dengan dada sesak.
Akhirnya hari itu juga Daddy Alfred dan Mommy Isabella kembali ke negara asal. Yang pastinya banyak alasan kepada kedua orang tua mereka.
°°°°°°
Bugh.....bugh......
Dua tinjuan melayang di wajah serta dada Keenan. Sehingga membuat ujung bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Apa maksudmu? hah?" ujar pria itu dengan sengit penuh amarah.
Keenan mengusap darah itu dengan wajah tanpa ekspresi.
Kertas keterangan yang berada di tangannya jatuh entah melayang dimana. Berita yang menggemparkan dirinya itu baru saja ia ketahui.
"Aku tidak tau apa yang terjadi tetapi pernyatanmu sungguh tak terpuji. Wanita sesempurna Rebecca masih tega kamu sakiti," ujar pria itu dengan pandangan sinis. Dadanya turun naik menahan amarah yang luar biasa.
"Sudah tertangkap basah masih mengelak? apa kamu ingin mengatakan bahwa di video atau foto itu bukan seorang Keenan Hugo, CEO HUGO GROUP. Begitu? seru pria itu ingin sekali memberi pelajaran untuk Keenan.
"Itu memang diriku Lucky tetapi tidak seperti yang diberitakan," ujar Keenan.
Ya pria itu adalah Lucky. Saat ini mereka sedang di rumah sakit, khususnya di ruangan Keenan. Mereka sudah mendapat bukti apa hubungan Rebecca dan tuan Sun.
"Jika sesuatu terjadi kepada Rebecca, kamu orang pertama yang membayar semua ini. Camkan itu!" Papar Lucky dengan kedua rahang mengeras.
Setelah mengatakan hal itu ia segera berlalu dengan perasaan marah, kecewa dan lain sebagainya.
Aaak.....
Teriak Keenan seraya mengusap wajahnya. Bayangan wajah Rebecca dua hari yang lalu masih terbayang-bayang dalam benaknya.
Keenan meraih ponselnya ingin menghubungi Rebecca. Sudah puluhan kali ia mencoba menghubungi tetapi ponsel itu tidak aktif, bahkan ia mengirim pesan puluhan kali tetapi masih centeng satu.
Keenan kembali membaca pesan dari Rebecca beberapa jam yang lalu, dimana ia mengirim pesan untuk mengabarkan malam ini ia akan berangkat menyusul ke kota x.
{"Hati-hati dijalan. Aku akan masak makanan kesukaanmu."}
Begitulah bunyi pesan balasan dari Rebecca.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan sekarang? tolong aktifkan ponselmu," gumam Keenan dengan raut wajah panik.
Sejak tadi ponselnya bergetar, yang tak lain menghubungi adalah kedua orang tuanya. Keenan yakin jika kedua orang tuanya sudah mengetahui kabar itu.
Ting
Notifikasi pesan masuk. Keenan mencoba membuka pesan itu.
{"Jangan pergi kemana-mana. Kami sudah berangkat, begitu juga dengan Eca akan segera pulang besok."}
Keenan menghela nafas. Ia kembali mengusap wajahnya. Ia berpikir sesaat.
"Aku akan tetap menjemputnya," gumam Keenan. Sungguh saat ini ia sangat khawatir dengan keadaan Rebecca, apa lagi ponselnya tidak bisa dihubungi.
Keenan menghubungi Gerry.
["Siapkan helikopter sekarang juga."]
°°°°°°
Pukul 21:00 waktu setempat Rebecca tidak beranjak dari pembaringannya. Sejak tadi ia hanya bisa menangisi dirinya.
Matanya sudah membengkak akibat menangisi kejadian itu. Ia sudah berusaha membuang jauh-jauh tetapi tetap saja tidak bisa.
Merasa haus terpaksa ia beranjak bangun. Mengambil air minum di dapur.
Dengan langkah gontai Rebecca membawa kedua kakinya. Tubuhnya terasa sangat lemah. Ia melewatkan makan siang dan malam.
Selera makan sama sekali tak terbesit dalam hatinya. Mau apapun ia seakan engan, tubuhnya seakan sudah membeku seperti salju di luaran sana.
Tiba di dapur Rebecca langsung menuju lemari es. Malam ini ia ingin minum air dingin agar menyejukkan hatinya yang sedang memanas.
**
Tubuh Rebecca membeku mendapat kedua tangan kekar melingkar pada pinggang rampingnya.
Jantungnya berdebar antara kaget dan juga perasaan lain. Aroma maskulin yang mengguar sudah dapat ia tebak.
Rebecca memejamkan mata sesaat. Tanpa diminta air mata itu kembali liruh, membasahi kedua pipi mulusnya.
"Itu tidak seperti yang kamu lihat. Percayalah!" Bisik Keenan tepat di telinga Rebecca seraya memejamkan mata.
Rebecca berusaha menahan tangisnya dengan cara membungkam mulutnya menggunakan tangan. Keenan menyadari jika wanita yang sedang ia peluk itu sedang menangis. Kedua bahunya terguncang karena berusaha menahan tangis.
"Beri aku kesempatan untuk menjelaskannya," bisiknya kembali.
Rebecca tak bergeming. Ia tidak menolak maupun menerima pelukan itu. Tubuhnya seakan membeku seperti patung.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪