
Usai pesta pengantin baru menuju hotel berbintang milik keluarga sendiri. Itu bukan keinginan dari pengantin baru tetapi orang tua merekalah yang merencanakan semua itu.
Tujuan mereka menginap di hotel hanya ingin membuat keduanya tenang.
Besok adalah jadwal keberangkatan Keenan untuk mengikuti tugas wamil.
Klek
Keenan membuka ganggang pintu hotel. Daun pintu terbuka. Mata keduanya melebar mendapati pemandangan isi kamar yang penuh dengan lilin serta bertaburan kelopak bunga mawar merah.
"Ya ampun lelucon apa ini?" batin Rebecca dengan wajah memerah.
"Ini pasti kerjaan Mommy," batin Keenan.
Hatchiiii....
Tiba-tiba Rebecca bersin-bersin karena pengaruh aroma kelopak mawar itu.
Bersin Rebecca terus-menerus sehingga membuat Keenan segera membawanya kembali ke luar kamar.
"Tunggu sebentar," ujar Keenan lalu menghubungi pelayan hotel.
"Sepertinya mereka tidak tau jika aku alergi bunga," batin Rebecca.
Tidak lama manager hotel serta beberapa pelayan berdatangan.
"Selamat malam Tuan, apa ad....."
"Singkirkan semua kelopak bunga dalam kamar ini, apa kalian lupa bahwa Nona alergi?" ujar Keenan.
"Kami minta maaf jika tidak mengetahui itu Tuan. Kami mengikuti perintah Nyonya," terang manager hotel.
"Sudah kutebak ini semua kerjaan Mommy," gumam Keenan.
"Segera bereskan," titahnya karena ia juga sudah sangat lelah dengan kegiatan seharian ini.
Mereka mengerjakan apa yang diperintahkan Keenan. Sedangkan mereka terpaksa menunggu diluar pintu karena malas ingin ke tempat tertentu.
Hanya butuh beberapa menit, semuanya selsai dan mereka segera kembali masuk.
Tanpa berkata apapun Keenan langsung masing kedalam kamar mandi. Ia akan membuka setelan jas didalam kamar mandi karena tubuhnya sudah gerah.
Rebecca tercengang melihat hal itu. Ia lalu mendudukkan tubuhnya di atas kasur masih menggenakan gaun.
Meratapi dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Impiannya menjadi kenyataan hari ini, dimana ia bersanding dengan pujaan hati. Menjadi princess seharian full.
Jika ini pernikahan pilihan kedua pihak tentu saja kebahagiaan ini ia rasakan tetapi kebahagiaan itu hanya sandiwara saja.
Pernikahan yang tak diinginkan. Pernikahan yang dipaksakan. Pernikahan tidak didasari cinta dari salah satu pihak.
Klek
Lama melamun, akhirnya lamunan Rebecca membuyar mendengar handle pintu kamar mandi.
Tanpa berucap Rebecca masuk kedalam kamar mandi, lengkap dengan pakaian gantinya. Dengan menyeret gaunnya ia berjalan susah payah masuk kedalam kamar mandi.
Sedikit pun ia tidak melirik kearah Keenan yang hanya berbalut handuk sebatas pinggang.
__ADS_1
Keenan tertekun melihat Rebecca berlalu begitu saja seperti membuang muka.
Tidak ingin larut memikirkan hal yang tidak penting ia segera membuka lemari pakaian yang memang sudah tersedia di sana.
Keenan menggenakan pakaian santai. Lalu ia mendaratkan tubuh lelah itu di atas sofa panjang yang terdapat di kamar itu.
**
Didalam kamar mandi. Rebecca kesulitan untuk membuka resleting gaunnya. Sudah berusaha tetapi tangannya tak dapat menjangkau.
"Bagaimana ini, kenapa sulit sekali," gumam Rebecca sudah apes kelelahan. "Apa aku panggil pelayan saja untuk membantu membukakan ini?"
Rebecca menghembuskan nafas kasar. Lalu keluar kamar, ingin meminta bantuan Keenan untuk memanggilkan salah satu pelayan.
Klek
"Bisa minta bantu tolong panggilkan salah satu pelayan?" ucap Rebecca seraya mengigit bibir bawahnya.
Keenan yang ingin memejamkan mata, sontak kaget mendengar suara Rebecca.
"Untuk apa? apa kamu lapar? bukankah sebelum ke sini kita sudah makan?" ujar Keenan.
Rebecca terdiam, mencari kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Keenan.
Hmmm
Keenan sengaja berdehem karena tak kunjung mendengar jawaban Rebecca.
"Itu, itu....." Rebecca tidak melanjutkan ucapannya karena begitu canggung.
Seketika ia mengerti dengan tujuan Rebecca ingin meminta bantuan memanggil pelayan. Ia langsung bangkit mendekati Rebecca.
"Apa kamu kesulitan untuk membuka gaunmu?" tebak Keenan.
Seketika Rebecca menelan ludahnya kaget, kenapa Keenan tau hal itu.
"I, iya...." Sahut Rebecca gugup, sembari menunduk.
"Apa kamu ingin dunia tau? tentang hubungan pernikahan ini?" ujar Keenan berhasil membuat dada Rebecca seperti dihantam sesuatu, berupa benda tumpul.
Rebecca menunduk. Apa yang dikatakan Keenan sangat benar. Bagaimana mungkin ia meminta bantuan kepada orang lain hanya sekedar membuka resleting gaun, sedangkan ia satu kamar dengan suaminya. Apa yang dikatakan mereka jika mengetahui hal itu. Yang ada akan menjadi topik di seluruh dunia.
Tanpa berkata lagi, Keenan memutar tubuh Rebecca. Dengan tangan bergetar ia meraih resleting itu. Menurunkannya sampai di sebatas pinggang.
Glek
Tanpa sengaja pandangannya jatuh, tepat dimana punggung belakang milik Rebecca itu sangat mulus serta putih bersih.
Darah ya mendesir hebat merasakan jari-jemari itu tak sengaja menyentuh kulit mus itu.
Merasakan sentuhan jari jemari Keenan mengenai kulit mulusnya membuat jantung Rebecca ingin meledak.
"Segera bersihkan dirimu." Setelah mengatakan itu Keenan kembali ke sofa dan segera berbaring kembali.
Dengan perasaan berdebar Rebecca segera menyeret gaunnya kembali kedalam kamar mandi. Ternyata Keenan sudah mempersiapkan air hangat didalam bathtub.
Entah untuk dirinya atau apalah Rebecca tak peduli lagi. Yang ada ia harus segera selesai dan segera mengistirahatkan tubuh lelahnya.
__ADS_1
Tidak menunggu lama ritual mandinya usai. Rebecca pun langsung keluar dengan pakaian sudah lengkap di tubuhnya.
**
Rebecca mendekati ranjang. Pandangannya tertuju kepada Keenan yang tertidur pulas di atas sofa tanpa menggenakan selimut.
Ia pun menghela nafas lega karena hal yang ditakuti dan menjadi beban pikirannya tidak terjadi. Ia lega karena mereka tidak tidur seranjang, bagaimanapun mereka belum menata hati masing-masing.
Rebecca meraih selimut tebal, lalu melangkah mendekati sofa. Dimana sosok Keenan yang tengah tertidur pulas.
Ia selimuti seluruh tubuh Keenan sebatas dada. Suhu di kamar pribadi milik keluarga itu sangat dingin.
Sesaat Rebecca menatap lekat-lekat wajah terlelap Keenan. Dalam tidur saja wajah itu sangat tampan, apa lagi ketika membuka mata dan diiringi senyuman. Siapapun pasti dijamin terpesona.
Tiba-tiba gumaman itu lolos dari mulut Keenan.
"Sun, Sunny....." Gumam Keenan memanggil nama mantan kekasihnya.
Deg
Dada Rebecca seakan dihantam benda tumpul mendengar gumaman itu. Seketika raut wajahnya membendung.
Ia tidak menyangka di malam pengantin sebagai suami istri mendengarkan suaminya memanggil nama wanita lain. Walaupun dalam keadaan tidak sadar, tetapi tetap saja menyesakan hati.
"Dalam tidur saja kamu mengingat bahkan memimpikannya. Aku sadar dengan posisiku sekarang, aku telah masuk kedalam keretakan hubungan kalian. Kamu benar-benar mencintainya," keluh Rebecca dalam hati dengan mata berkaca-kaca.
Tidak ingin larut terlalu lama ia memutuskan kembali ke ranjang. Dengan perasaan kecewa dan lain sebagainya, ia berusaha memejamkan mata. Ingin segera masuk ke alam mimpi, agar beban hidupnya sedikit lebih ringan.
Dengan posisi miring Rebecca memeluk guling, menutupi seluruh tubuhnya sebatas leher. Bukannya segera tidur. Wanita malang itu malah terisak dalam diam.
Meratapi apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Seharusnya mereka menghabiskan malam yang panjang, sebagaimana pengantin baru pada umumnya. Tetapi itu tak ada kamus dalam hubungan mereka.
Bahkan di malam pengantin hatinya seakan tercabik-cabik, dimana suami sahnya memanggil nama wanita lain. Yang taka lain adalah mantan kekasih hatinya.
Rebecca berusaha membungkam mulutnya agar tangisnya tidak mengusik tidur nyenyak Keenan.
"Aku salah mencintaimu. Cintaku ini membawa malapetaka. Apa aku egois? karena rasa cinta ini rela memisahkan atau memutuskan tali hubungan orang lain." Batin Rebecca.
Entah sudah berapa jam ia terisak sehingga matanya sudah tidak mampu lagi untuk dibuka. Ia berhasil masuk ke alam mimpi.
**
Dini hari Keenan menggeliatkan tubuhnya. Ian sontak kaget mendapati tubuhnya ditutup oleh selimut karena pada awalnya ia tidak menggenakan selimut. Ia sudah tau pasti Rebecca yang menyelimuti tubuhnya.
Ia terbangun karena ingin ke kamar mandi. Langkahnya terhenti, memandangi Rebecca yang tengah tertidur nyenyak. Karena lampu kamar memang sengaja tidak dimatikan tetapi pencahayaannya tidak terang.
"Tidurku sangat nyaman, apa karena sangat lelah seharian," gumam Keenan karena ia tidak sadar ketika Rebecca selesai dari kamar mandi, bahkan menyelimuti tubuhnya.
Keenan menarik nafas panjang laku segera masuk kedalam kamar mandi.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
__ADS_1