
Ting tong....
Dokter Frans berkali-kali menekan bel pintu apartemen Vini seraya memanggil namanya tetapi tidak juga membuat pintu itu terbuka.
"Sayang.... ayo buka pintunya. Kita harus berbicara," ujar dokter Frans di depan pintu.
Dokter Frans berkali-kali menghubungi ponsel Vini tetapi tak diangkat oleh pemiliknya.
Sedangkan didalam Vini sedang merendamkan tubuhnya di bathtub, seraya menangis. Dia sama sekali tak mendengar panggilan via telepon bahkan bel pintu di bunyikan Dokter Frans.
"Apa yang aku takutkan menjadi kenyataan," gumam Vini seakan mengingat pertemuan mereka tadi. "Apa aku egois? pergi begitu saja?" imbuhnya seakan kepergiannya tanpa pamit itu tidaklah sopan.
Senyuman pilu terukir di bibirnya saat mengingat sampai sekarang dokter Frans tak menyusulnya. Dia merasa sangat bodoh karena terlalu berharap begitu tinggi.
Vini menghembus nafas sesak di dadanya. Ketakutan menyelimuti hatinya, bagaimana jika hubungan mereka tidak direstui? habis sudah harapan Vini, apa lagi hubungan mereka cukup dalam.
"Bagaimana jika aku ha-hamil?" tiba-tiba ketakutan Vini sampai sejauh itu sembari mengusap perut yang masih rata itu.
Diluar dokter Frans mondar-mandir dengan menggenggam ponsel. Ketakutan sesuatu terjadi kepada Vini menyelimuti perasaannya.
"Sayang apa yang kamu lakukan didalam sana? ingat jangan berpikir pendek. Kamu salah paham," gumam dokter Frans.
Drrtt
Ponselnya bergetar hal itu membuat perasaan dokter Frans lega. Ia menatap ponsel itu seketika ia kembali apes karena kenyataannya bukan Vini yang menghubunginya tetapi pihak rumah sakit.
Dengan terpaksa dokter Frans bergegas meninggalkan apartemen yang ditempati oleh Vini karena ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan dari rumah sakit.
Dokter Frans akan berniat ke apartemen nanti malam. Semoga Vini mau menemuinya.
°°°°°°
Pulang dari rumah sakit dokter Frans bergegas berkemas-kemas. Ia akan langsung ke apartemen Vini. Sampai sekarang Vini tidak ada memberi kabar, bahkan ponselnya tidak aktif.
Tiba diparkiran dokter Frans langsung melakukan roda empatnya. Sungguh dia tidak sabar ingin ketemu sama Vini, rasa rindu menggelora, padahal mereka baru saja ketemu beberapa jam sebelumnya.
Apakah ini tanda-tanda perasaan cinta? dokter Frans tak menyadari perasaan apa itu. Ataukah karena keinginan hal lain? sebagaimana mestinya hubungan suami istri, dokter Frans juga tak menyadarinya.
Perjalan panjang seakan dekat ketika sepanjang jalan dokter Frans tak lepas memikirkan Vini. Didalam mobil pria tampan dokter spesialis itu senyam-senyum sendiri.
Dokter Frans segera keluar dari mobil dan bergegas masuk menuju lift, menelan tombol nomor apartemen yang dihuni Vini.
Didepan pintu dokter Frans menarik nafas panjang seraya berdoa agar hati Vini tak membeku lagi.
Ting tong....
"Sayang.... buka pintunya."
Dokter Frans menekan bel pintu seraya memanggil Vini.
Klek
Tanpa disadari dokter Frans rupanya pintu apartemen yang ada di depannya dibuka oleh pemiliknya.
"Sayang,"
"Ada apa lagi?" lirih Vini dengan mata membengkak. Hal itu membuat dokter Frans meraih wajah sendu Vini.
"Kamu menangis?"
"Tidak ini akibat mengiris bawang bombai," sahut Vini seraya menepis tangan dokter Frans hingga tangan itu terlepas.
__ADS_1
Vini melangkah masuk tanpa mempersilahkan dokter Frans. Dokter Frans menghela nafas panjang, lalu segera menutup pintu dan tak lupa menguncinya.
Langkah dokter Frans mengikuti dimana Vini membawa langkahnya. Ternyata memasuki dapur. Tanpa berbicara banyak Vini kembali meneruskan kegiatan masak-memasak yang sempat terganggu oleh kedatangan dokter Frans.
Jantung Vini berdebar merasakan kedua tangan melingkar erat di pinggangnya. Dokter Frans memeluk Vini dari arah belakang sembari mengecup tengkuk leher terbuka Vini.
"Aku lagi masak," cicit Vini dengan nada kesal.
"Yang mengatakan kamu mandi siapa?" goda dokter Frans mencuri kecupan di pipi Vini.
"Kamu...."
Awww
Dokter Frans mengaduh merasakan punggung tangannya terkena percikan minyak yang sengaja ditempelkan Vini dari sendok.
"Sayang sakit tau," cicit dokter Frans dengan manja sembari membalikkan tubuh Vini agar menghadap padanya.
Vini membuang muka. Hal itu membuat dokter Frans tersenyum lucu.
"Calon istriku," ucap dokter Frans seraya mengusap dahi serta wajah Vini yang bercucuran keringat.
"Jangan asal bicara," gumam Vini masih membuang muka.
"Siapa juga yang asal bicara? hmmm aroma masakan kamu membuat cacing-cacing dalam perutku demo," ucap dokter Frans merasa lapar.
"Kamu bisa lihat sendiri bukan?" sahut Vini masih dengan sikap cuek, bahkan menepis tangan dokter Frans dari wajahnya, lalu membawa piring berisi masakannya ke meja makan.
Dokter Frans bukannya marah, malahan sikap Vini ini sangat me cemaskan menurutnya, belum lagi bibir itu mengerucut.
Kini keduanya duduk dengan saling berhadapan.
"Belum sayang, aku memang sengaja ingin memakan masakan calon istriku," sahut dokter Frans kembali menggoda bahkan mengedipkan mata. Kebetulan tatapan Vini mengarah kepadanya.
Hmmm
Vini mengambil nasi untuk dokter Frans.
"Sayang aku ingin me. jelaskan bahwa...."
"Makan dulu," potong Vini menghentikan ucapan dokter Frans.
Dokter menghela nafas, mengalah untuk saat ini mungkin lebih baik, biarkan dulu Vini menenangkan dirinya.
Keduanya menikmati makanan dalam diam, dokter Frans mengikuti keinginan Vini. Tak lama keduanya menyudahi dengan perut kenyang.
"Sayang aku membersihkan diri dulu. Apa kamu ingin pulang sekarang atau menunggu?" ucap Vini dengan lembut.
Dokter Frans mengubah posisi duduknya dengan melemparkan senyuman. Bagaimana tidak, kini kekesalan Vini mulai mencair.
"Aku juga belum mandi, bagaimana jika kita mandi sama-sama biar lebih cepat?" goda dokter Frans seraya mengedipkan mata.
Tidak ingin digoda oleh dokter Frans, Vini langsung berlari cepat masuk ke kamar mandi dan tak lupa untuk menguncinya. Sedangkan dokter Frans lemas karena keinginannya tak tercapai.
"Aku tidak akan melakukannya lagi sebelum kita resmi sebagai sepasang suami istri sayang," gumam dokter Frans.
°°°°°°
Keesokan harinya
Ting tong.... ting tong.....
__ADS_1
Bel pintu berkali-kali terdengar. Dengan tergopoh-gopoh Vini berlari kecil ingin membukakan pintu.
Matanya terbelalak kaget melihat sesosok yang sedang berdiri di depan pintu.
"Ada apa Tante Meysi mendatangiku? apa ingin mencari Frans? gumam Vini dengan perasaan cemas.
Ting tong....
Sekali lagi bel dibunyikan sehingga membuat Vini tidak tega membiarkan wanita yang sudah melahirkan dokter Frans. Vini juga ingin meminta maaf atas sikapnya kemarin yang dinilai tidak sopan.
Klek
Pintu terbuka sehingga membuat Tante Meysi bernafas lega.
" Tante," lirih Vini seakan berpura-pura tidak tahu siapa yang telah menekan bel.
"Hmmm apa kamu sibuk?" tanya Tante Meysi tidak ingin berniat masuk.
"Kebetulan hari ini libur Tante," sahut Vini seakan tidak ada kesibukan.
"Jika begitu ikut tante sekarang," ucap Tante Meysi.
Vini mengerutkan dahi mendengar ajakan Tante Meysi.
"Kemana Tante?"
"Jangan banyak tanya!"
Deg
Nafas Vini tercekat mendengar ucapan itu.
"Tunggu sebentar Tante, aku ambil tas dulu," ucap Vini tidak ingin bertanya lagi.
Senyuman mengembang di bibir wanita itu melihat kepanikan di wajah Vini.
Di mobil
Sepanjang jalan hening, tidak ada yang ingin membuka suara. Padahal keduanya duduk saling bersebelahan di kursi bagian belakang. Vini ingin sekali berbicara tetapi dia merasa canggung, yang hanya bisa dia lakukan adalah menatap keluar jendela dengan memainkan jari-jemarinya. Sedangkan Tante Meysi sibuk memainkan ponselnya, entah apa yang dilakukan dalam ponsel itu tanpa ingin berbicara dengan Vini.
Senyam-senyum sendiri, sepertinya ada hal yang lucu dilihatnya dalam ponsel tersebut.
Vini menjadi kikuk sendiri, sungguh keadaan saat ini membuatnya benar-benar tidak enak dan ingin segera berakhir.
Perjalanan yang terasa panjang kini tempat yang dituju tiba juga. Vini belum menyadari kemana keberadaan mereka.
"Apa kamu ingin berdiam diri saja?" sindiran Tante Meysi membuat lamunan Vini tersadar.
"Iya Tante," ucap Vini dengan gugup seraya membuka pintu.
Kening Vini mengernyit menyadari tempat yang ingin mereka masuki.
"Butik!" Gumamnya.
"Menurut kamu?"
Dengan segera Tante Meysi menarik tangan Vini memasuki butik tanpa menjelaskan apa-apa. Vini mengikut dengan pikiran penasaran.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
__ADS_1