
Dengan penuh perjuangan kini kehamilanku masuk trimester 3. Aku baru habis dari kamar mandi ketika pendarahan tiba-tiba mengalir dari kewanitaanku. Rasa sakit jangan ditanyakan lagi, itulah bumbu-bumbu setia yang selalu menemani hari-hariku.
Malam ini aku akan mengabarkan tentang kehamilanku kepada Papa sama Mama. Aku sudah siap untuk itu. Dengan wajah sumbringah aku membawa Leon di sampingku. Akupun melakukan panggilan videocall.
["Sayang...."] Mama langsung memanggilku dengan wajah senang karena sangat jarang aku punya waktu menghubungi mereka.
["Iya Ma. Hmm bagaimana keadaan Mama, Papa?"]
["Baik sayang, kabar kami sangat baik,"]
Mama lalu berbicara panjang lebar dengan Leon, menanyakan bagaimana kaki Leon. Merasa cukup Leon menyerahkan kembali ponsel kepadaku. Papa juga ada di samping Mama di seberang sana. Sungguh aku sangat merindukan mereka.
["Pa, Ma ada kabar gembira. Ayo tebak,"] aku sengaja agar kedua orang tuaku berpikir kabar gembira apa.
["Kabar apa sayang? jangan buat Mama penasaran,"]
["Mama tidak bisa menebak? Papa juga tidak bisa?"]
Kedua orang tuaku menggeleng dengan raut wajah penasaran.
["Pa, Ma dengar baik-baik karena aku akan mengatakannya cukup sekali. Aku sedang mengandung calon cucu buat kalian, dua sekaligus,"]
Mata kedua orang tuaku melotot mendengar pengakuanku karena sesuai yang kukatakan, Papa sama Mama mendengar dengan baik.
["Apa? apa itu benar sayang?"] tanya Mama tidak percaya. Aku mengangguk sebagai jawaban. Mama langsung menangis mendengar kabar gembira ini, begitu juga dengan Papa. Hatiku terenyuh melihat itu. Aku menceritakan sudah jalan 12 minggu, tentu saja Mama protes karena kenapa baru mengabarkan. Leon juga antusias memamerkan bahwa dia punya Adik kembar yang masih berada dalam perutku karena dengan pelan-pelan kujelaskan kepada Leon.
["Sayang kamu harus jaga kandunganmu, lebih baik kamu resign dulu. Kamu sedang mengandung anak kembar,"]
"[Iya Nak apa yang dikatakan Mama benar,"] seketika sekilas masa lalu menyelimuti diri Papa, sehingga membuat matanya berkaca-kaca.
["Tidak masalah Pa, Ma. Aku pasti resign tapi tidak sekarang hmm bukanlah banyak bergerak itu hal yang bagus?"] aku meyakinkan kedua orang tuaku.
Mereka pasrah atas kegigihanku. Mereka juga protes kenapa pada saat aku hamil Alfred masih keluar kota meninggalkanku. Dadaku sesak mendengar hal itu, bahkan Alfred sendiri belum tau menahu kabar kehamilanku ini karena itu tidaklah penting untuknya.
Merasa cukup karena segera istirahat kami menyudahi obrolan. Sedangkan Leon sudah terlelap di sampingku.
Kuseka air mata yang mengalir begitu saja setelah mengakhiri sambungan via videocall. Bayangan raut kebahagiaan Papa sama Mama tadi membuat dada ini sangat sesak sehingga sulit untuk bernafas. Mendengar ocehan lucu Mama menyapa kedua calon cucu mereka.
"Sayang dengar apa yang dikatakan Oma, kalian baik dan sehat didalam perut Mama. Oma sama Opa sudah tidak sabar menunggu kehadiran kalian sayang, jadi sama-sama berjuang kita melawan ombak yang ingin menyapu kehadiran kalian," gumamku sembari mengusap perut yang mulai membesar.
__ADS_1
Setelah menyelimuti Leon serta memberi kecupan aku segera keluar dari kamar Leon lalu menuju kamarku. Sedikit kesulitan untukku turun naik tangga terapi tidak ada pilihan lagi karena tidak ada kamar kosong lagi di lantai dasar.
°°°°°°
Sore menjelang aku bersiap-siap untuk pulang. Setiap kontrol hasil yang kudapatkan adalah hanya bisa mengelus dada. Kanker itu semakin menyebar, aku memang tidak takut mati tetapi yang aku takutkan adalah keselamatan kedua calon anakku. Mereka seakan terancam didalam sana karena pertumbuhan mereka terganggu.
Aku keluar dari ruangan ternyata tanpa kuduga dokter Frans bersama Yuen menungguku di depan pintu ruangan mereka.
"Bumil bagaimana sebelum pulang kita samperin cafe seberang," usul Yuen.
Aku berpikir sejenak, tidak ada salahnya juga. Tetapi makanan tidak bisa aku lahap begitu saja mengingat penyakit mematikan yang sedang senang-senangnya menggerogoti tubuhku, bahkan mengancam nyawa dua sekaligus didalam sana.
"Jika tidak bisa tak masalah," ujar dokter Frans. Ya mereka bahkan sebagian rekan kerja sudah mengetahui kehamilanku ini. Mereka orang luar lebih tau dari pada Ayah kedua bayi ini.
"Baiklah aku setuju tetapi tidak bisa berlama-lama karena Leon," ucapku.
Kini kami sudah menempati meja yang terbuka. Aku hanya memesan salad buah saja agar mereka tidak curiga, sedangkan Yuen bersama dokter Frans memesan spaghetti yang menjadi menu andalan cafe tersebut yang berhadapan dengan rumah sakit.
"Apa kedua colon keponakan Aunty tidak menginginkan makanan ini?" cicit Yuen menirukan ocehan bayi sembari mengusap perutku. Aku sedikit salah tingkah karena Yuen melakukan itu di depan dokter Frans.
"Tidak Aunty karena makanan itu tidak enak," sahutku juga menirukan suara bayi.
Seperti yang kukatakan, kami menyudahi dan pulang ke rumah masing-masing.
Tiba di rumah aku langsung masuk. Lelah sakit tentu saja menemaniku.
Klek
Pintu kubuka dan kembali ditutup.
Seperti biasa aku langsung menuju kamar untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Aku yakin Leon pasti berada didalam kamarnya.
Dengan penuh hati-hati kakiku melangkah menaiki tangga dengan sebelah tangan memegang penyangga tangga dan sebelah tanganku lagi memegang perutku. Hanya beberapa langkah, langkahku terhenti ketika sesosok yang ingin aku hindari berdiri di atas.
Aku menghela nafas, lalu mengambil arah samping bermaksud melanjutkan langkahku. Tetapi semua itu tak dibiarkan Alfred.
Kutadah wajahku ke atas sehingga tatapan kami bertemu. Untungnya aku berdiri tepat penghubung tangga sehingga cukup luas untuk kakiku berpijak.
"Apa kau tidak ingin menjelaskan sesuatu?" ujar Alfred yang sejak tadi memperhatikan tubuhku tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Aku tidak menjawab.
"Jawab Isabella! Aku berbicara kepadamu," Alfred mulai murka, bahkan suaranya cukup meninggi. Mudah-mudahan saja kedua bayiku tak terkejut mendengar teriakan Daddy mereka.
"Kau hamil?"
Aku memejamkan mata mendengar pertanyaan Alfred. Itu pertanyaan bukan kabar gembira baginya tetapi malapetaka untuknya.
Aku masih bungkam, bahkan engan untuk berbicara.
Alfred mendesis melihat aku hanya diam saja.
"Papa sama Mama menghubungiku tadi dan membicarakan kehamilanmu," ujar Alfred. Bahkan sewaktu dihubungi dia seakan mati kutu karena memang tidak mengetahuinya tetapi kedua mertuanya itu tak menaruh curiga sedikitpun.
Kaget tentu saja bagi Alfred karena dia tidak pernah menduga, bahkan kehamilanku sudah jalan 12 minggu.
"Apa itu benar Isabella?" teriak Alfred kembali sehingga mengakibatkan gendang telingaku sakit.
"Aku harus menjawab apa?" lirihku dan tak lama berlalu tetapi langkahku terhenti sesaat.
Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan-lahan.
"Aku tidak meminta pertanggung jawabanmu jadi jangan takut," setelah mengatakan itu aku melanjutkan langkahku kembali.
Memilih diam itu lebih baik.
Didalam kamar Alfred mondar-mandir sembari mengusap wajahnya. Kabar kehamilanku membuatnya tidak tenang. Alfred sadar jika itu adalah darah dagingnya. Lebih mencengangkan lagi mereka dikaruniai dua anak sekaligus. Alfred juga memahami hal itu karena aku memang memiliki keturunan kembar. Yang dia ketahui aku kembaran dengan Moses.
Aaak
Teriak Alfred karena ini ancaman untuk misi membalaskan dendam kepadaku. Alfred tidak sadar bahwa selama ini aku sudah sangat menderita, dendam yang bagaimana lagi yang dia inginkan? mungkin misinya usai setelah aku mati dengan penuh penderitaan.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
•Selamat menunaikan ibadah puasa untuk para reader yang menunaikan👏
Kalau author sendiri non-muslim
__ADS_1
Salam sehat🤝🤝🤝