
Keesokan harinya
"Sayang ayo bangun," sejak tadi aku bangunin Alfred tetapi tidak membuahkan hasil. Bahkan dia melewati sarapan pagi. Ini semua akibat tadi malam suami mesum kami menekuk minuman alkohol. Walaupun tidak banyak tetapi mempengaruhi daya tubuhnya.
"Bentar sayang," gumamnya entah itu di bawah sadarnya. Sepertinya priaku ini sedang bermalas-malasan hari ini.
Aku berpikir sejenak, mencari ide agar priaku ini segera bangun. Seketika tidak lama bagiku menemukan ide ampuh.
"Baiklah jika begitu," aku membatin seraya melengkungkan senyuman.
Aku beranjak dari tempat tidur, lalu menyambar ponsel di atas nakas. Kembali lagi mendaratkan bokongku di tepi ranjang, tepat dimana pembaringan Alfred. Aku mulai menjalankan aksi.
["Halo.... maaf ponselku sejak semalam kehabisan baterai dan baru tadi ingat mengisi daya. Ada apa Fey?"]
["Apa? reunian? kapan? apa sekarang?"]
["Rain juga hadir dalam reunian itu? baiklah aku akan datang karena ada Rain. Pria mengemaskan."]
"Siapa Rain? siapa Rain?"
Tiba-tiba ponselku sudah berpindah di tangan Alfred. Sungguh aku kaget. Tetapi tidak lama senyuman mengembang di bibir ini karena usahaku membuahkan hasil.
"Sayang kamu sudah bangun?" ucapku tanpa merasa bersalah.
Alfred tak bergeming. Matanya memerah menatapku, entah itu karena pengaruh tidur atau karena aktingku.
"Jawab siapa Rain dan pria mengemaskan?" ujar Alfred menekankan. "Apa itu Rain artis papan atas di negara kita?" seketika raut wajah Alfred semakin memanas.
"Kena kamu!" Aku membatin seraya menahan tawa.
"Siapa sih?" elakku seraya berusaha menjangkau ponselku kembali.
"Jawab!" Sekali lagi suara itu menekankan seraya dia memeriksa ponselku. Pasti mengecek panggilan masuk atau panggilan keluar.
"Kamu sengaja matikan?" tanya Alfred dengan suara masih serak seraya mencoba menyalakan ponsel tersebut.
"Sampai keriput pun tidak akan nyala karena itu baterai memang awalnya habis," ucapku dalam hati.
"Berapa lama kamu mengobrol? sampai ponselmu kehabisan baterai," tanya Alfred tersulut marah tetapi dia tahankan.
"Sayang segeralah mandi, kamu sampai melewati sarapan. Lain kali awas minum-minuman lagi, kalau tidak akan aku..... "
"Akan apa?" potong Alfred.
"Akan aku potong anu mu!"
"Anu apa? kalau ngomong yang jelas sayang. Namaku Alfred bukan anu, apa ada nama orang Indonesia anu? ataukah itu bahasa kedokteran?" ujar Alfred berpura-pura.
"Ngakunya CEO hebat tetapi tafsiran anu saja tidak tahu," cicitku dengan bibir mengerucut.
"Karena anu tidak terdapat di kampus pebisnis sayang, tentu saja aku tidak tahu," sahut Alfred berusaha menahan tawa. "Anu, uno, unu, ono apa itu?" sekali lagi Alfred menahan tawa.
"Sudahlah jangan dibahas lagi. Lebih baik kamu cepat mandi karena sebentar lagi aku akan reunian dengan teman sekampus. Apa kamu ingin ikut atau tinggal di sini saja?" ucapku sengaja agar priaku lekas bangkit dari tempat tidur.
"Siapa yang mengizinkanmu pergi reunian? reunian tidak penting itu. Ingat sayang kita di sini tujuannya untuk liburan bukan untuk bertemu dengan ini, itu, anu." Pungkas Alfred.
__ADS_1
"Plis sayang aku ingin bertemu dengan Rain?" ucapku dengan wajah memelas.
"Isabella?" suara Alfred memekak.
Aku hanya bisa nyinyir kuda.
"Apa kamu ingin tahu siapa Rain?"
"Tentu saja, asalkan bukan Rain itu. Aku bahkan lebih tampan dari dia," ujar Alfred sangat percaya diri.
"Iya nanti kita cek di instagram. Mana ponselmu?"
"Aku bahkan tidak tahu dimana ponselku karena itu tidak penting disaat kita honeymoon," ucap Alfred seraya bermanja-manja di lenganku.
"Tentu saja itu sangat penting terutama untuk anak-anak. Bahkan sekarang aku sangat merindukan mereka, kamu saja aneh-aneh ingin menyusul para pengantin baru," cicitku dengan wajah cemberut karena Alfred lah yang merencanakan ini semua.
"Karena aku ingin selalu bersamamu sayang," lirihnya seraya memeluk perutku.
Aku raih ponsel Alfred yang ternyata di bawah bantal. Aku share nama Rain.
"Ini dia, bukankah sangat mengemaskan?" aku menunjukan foto-foto teman sekampus dulu.
Seketika mata Alfred melebar dengan mulut menganga mendapati foto Rain. Dimana itu pria gemuk pendek perawakan gemulai.
"Dia penyuka sejenis loh sayang. Aku batalkan saja takutnya nanti dia kepincut dengan ketampanan kamu," ucapku masih menahan tawa.
Seketika Alfred langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku dengan tengkuk merinding mendengar penuturanku.
Hahaha....
Akhirnya tawaku tak bisa ditahan lagi.
Aaa.....
Teriakku ketika diterkam singa buas. Dan kami berakhir dengan ******* panjang.
°°°°°°
Di Villa juga dirundung kekesalan karena Andre juga susah dibangunkan.
"Sayang ayolah ini sudah siang loh," paksa Gabriella sejak tadi terus memaksa agar Andre bangun. Tetap tidak membuat tidurnya terusik.
Gabriella mencari cara bagaimana membangunkan suaminya itu. Seketika ide cemerlang hinggap di kepalanya.
"Baiklah jika begitu, akan ada cara yang ampuh," gumam Gabriella seraya mengembangkan senyuman.
Gabriella meraih ponselnya, lalu duduk di tepi ranjang tepat dimana Andre tertidur.
["Iya ini dengan siapa yah?"]
["Oh Sean. Maaf ya Sean aku tidak mengingat lagi dengan suaramu. Hmmm ada apa?"]
["Iya benar aku sekarang lagi di Paris. Mau, mau.... kebetulan lagi suntuk hanya berdiam didalam kamar. Kapan? oke aku akan segera ke sana. Hmmm anak-anak hukum semua datang bukan?"]
Hah.....
__ADS_1
Seketika Gabriella kaget karena ponsel yang ditempelkan di telinganya dirampas begitu saja oleh Andre. Sejak kapan pria itu bangun?.
"Siapa yang kamu telepon?" siapa Asian Games itu?"
"Sayang namanya Sean bukan Asian Games," protes Gabriella.
"Siapapun itu. Tapi jawab dulu siapa dia?" kekeh Andre dengan wajah masam.
"Kena kamu sayang, akhirnya isa bangun. Rasain aku sudah seperti kepiting rebus membangunkanmu," batin Gabriella seraya menahan tawa.
"Oh dia? mereka mengajak aku reunian, kebetulan teman-teman hukum lagi pada ngumpul seraya merayakan ulang tahun Sean," paparku dengan setenang mungkin. "Oke kamu lanjutin saja mimpi indahmu itu, aku akan segera ke restoran x," imbuh Gabriella seraya merapikan kembali rambutnya.
"Tidak ada acara-acara reunian segala. Pukul 1 siang kita akan makan siang bersama," pungkas Andre menekankan seakan ingat dengan janji Alfred tadi malam.
"Kita batalkan saja. Aku tidak ingin kamu kembali meminum minuman yang aku benci itu, tetapi jika kamu tetap kekeh silahkan saja dan aku akan ngumpul bersama anak-anak," sahut Gabriella dengan santai.
"Maaf sayang tidak akan aku ulangi lagi. Maaf yah? sepertinya istriku belum mandi," rayu Andre tetapi dengan cepat ditepis Gabriella.
"Kamu tidak lihat aku sudah rapi begini? itu tandanya sudah mandi, asal kami tahu sekarang sudah pukul 12," cicit Gabriella dengan wajah cemberut.
"Apa? oke akan segera mandi. Agar lebih cepat kamu harus ikut."
Awww
"Sayang.... " Teriak Gabriella didalam gendongan Andre ala bridal. Dan didalam kamar mandi Andre mendapat haknya kembali. Padahal tadi malam juga mendapatkan jatah.
°°°°°°
Di kamar hotel
Vini bolak balik membangunkan dokter Frans tetapi pria berprofesi dokter itu tidak mengindahkan.
"Sayang ini sudah siang, ayolah bangun," lirih Vini seraya menggoncang tubuh dokter Frans yang tak bergeming.
Huh....
"Dengan apa caraku agar dia bangun? padahal 1 jam lagi akan ke restoran," gumam Vini.
Lama berpikir akhirnya dia mendapat ide yang sangat ampuh, apa lagi malam tadi mereka alpa karena dokter Frans terkapar mabuk.
Vini melangkah menuju lemari, lalu mengeluarkan lingerie seksi. Tidak lama kini tubuhnya sudah terbalut lingerie kurang bahan itu.
Dengan gerakan menggoda Vini beringsut ke atas kasur. Dengan gerakan menggoda jari-jemari itu menyelusuri wajah serta bibir itu.
Ssst....
Desis Vini tepat di telinga dokter Frans, bahkan dia mengigit daun telinga itu dengan gaya menggoda.
"Sayang kamu menggodaku?" suara serak itu membuat Vini tersenyum.
"Tidak tetapi aku akan pergi untuk reunian, kebetulan teman-teman juga sedang berlibur dan katanya harus menggenakan kostum seperti ini," kata Vini dengan santai seraya menahan tawa.
Mata dokter Frans melotot seperti ingin keluar dari tempatnya, mendengar lelucon Vini.
Dengan cepat Vini duduk dengan gerakan menggoda. Seketika mata dokter Frans terbuka lebar, yang pada awalnya berat untuk dibuka. Kepalanya masih terasa berat karena dia yang lebih banyak minum dibandingkan Alfred dan Andre.
Tidak tahan lagi dokter Frans langsung menindih tubuh seksi Vini. Sedangkan Vini tak berdaya di bawah sana akibat serangan dokter Frans. Awalnya ingin menggoda tetapi malah dia yang tergoda. Senjata makan tuan. Seketika kamar itu di penuhi suara-suara aneh.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪