MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 9. Ingin Kerja


__ADS_3

Seperti biasa aku terbangun sebelum matahari terbit. Membersihkan rumah sebesar ini dan menyiapkan sarapan untuk diriku sendiri karena Alfred tidak pernah sarapan dan makan di rumah.


Sudah seminggu terlewati dengan rasa pahit menerima perlakuan kasar Alfred. Tetapi selama seminggu ini ia tidak menggunakan tangannya untuk menyiksa diriku tetapi kata-kata kasar dan merendahkan jangan ditanyakan lagi.


Wanita yang ia sebut istri tidak pernah aku lihat selama di sini. Ataukah wanita itu sedang berlibur, itulah yang aku kira. Dan untuk menanyakan soal itu aku sama sekali tidak berniat karena itu bukanlah urusanku, yang ada aku akan membangunkan singa kelaparan jika ikut campur urusan pribadinya.


Seperti pagi ini aku biasa duduk di meja makan dengan sepotong roti bakar dan segelas susu. Ini semua bahan aku beli dengan uang tabunganku sendiri. Ya Alfred tidak memberi nafkah untukku dan aku juga tidak mengharapkan soal itu. Untuk saat ini aku menggunakan uang tabunganku untuk memenuhi kebutuhanku, sebelum mendapat pekerjaan.


Hari ini aku ingin melamar kerja di rumah sakit sesuai bidang keahlianku, tetapi belum tau dimana aku akan melamar. Untuk kali ini aku tidak akan memakai nama Januar agar aku diterima dengan murni sesuai dengan kemampuanku sat interview nantinya.


"Selamat pagi Nona," tiba-tiba kedatangan Andre membuyarkan lamunanku di meja makan.


"Pagi juga Andre. Hmm sudah aku katakan cukup panggil namaku saja karena aku bukanlah Nona anda," kataku berulangkali kepada Andre karena menurutku tidak pantas ia memanggilku dengan sebutan itu, mengingat usiannya lebih tua dariku.


"Sampai kapanpun aku akan memanggil dengan panggilan itu karena Nona adalah istri Tuan," kekeh Andre.


Aku menghela nafas panjang.


"Istri hanya di atas kertas Andre," sahutku malas.


"Tuan dimana? apakah sudah bangun?" tanya Andre, sepertinya ia membuat lelucon dengan sebuah pertanyaan itu.


"Itu tidak pantas kamu melayangkan pertanyaan itu kepadaku," sahutku sembari melanjutkan meniati sepotong roti yang masih tinggal sedikit lagi.


Hmm


Andre diam tanpa bertanya kembali, mungkin saja ia sadar akan hubunganku dan Alfred seperti orang asing.


"Apa kamu ingin sarapan? biar aku siapkan," tanyaku kepada Andre.


"Terima kasih Nona tetapi aku sudah sarapan," sahut Andre menolak dengan halus.


"Andre bisa duduk sebentar saja? aku ingin bertanya," kataku memulai mengungkapkan keinginanku, ini adalah kesempatan bagiku berbicara dengan Andre karena jarang sekali bertemu.


Andre menatapku dengan kening mengerut, tetapi karena merasa tidak sopan untuk menolak Andre menuruti perintahku. Andre duduk tepat di depanku.


"Nona ingin membicarakan apa? jika ingin membicarakan Tuan aku tidak akan menjawab," ujar Andre yang membuat moodku kesal.


"Apa keuntunganku membicarakan serigala itu," sahutku mengeluarkan kekesalan.


"Jaga bicara anda Nona," Andre memprotes atas umpatanku.


"Kenyataan bukan?" gumamku tetapi masih bisa didengar Andre.

__ADS_1


Aku sesaat menarik nafas dan menghembus perlahan.


"Aku ingin mencari pekerjaan, apa kamu bisa bantu?. Kira-kira rumah sakit mana yang membutuhkan tenaga medis?" tanyaku kepada Andre.


Andre menatapku dengan kedua tangan terlipat.


"Banyak," sahut Andre sangat sangat yang memancing kekesalanku, apakah berbicara sedikit panjang lebar merugikan dirinya? itulah yang ada di benakku.


"Apa kamu bisa memberi alamat rumah sakit salah satunya?" tanyaku sangat berharap pria dingin ini sedikit membantu karena aku bukan berasal dari negara ini.


"Andre apa aku mengajimu untuk hal yang tak penting?" tiba-tiba suara bariton meninggi itu menyela percakapan kami, bahkan Andre belum sempat untuk menjawab.


Andre langsung bangkit berdiri dan mendekat kepada Alfred.


"Selamat pagi Tuan. Saya minta maaf," sapa Andre begitu hormat.


Aku terperangah melihat sikap hormat Andre kepada Alfred. Perlakuan itu seperti asisten Adikku Moses. Padahal mereka adalah jabatan yang setara tetapi seakan Andre bawahan Alfred. Sungguh banyak teka-teki yang belum bisa aku tebak dan itu butuh waktu yang lama karena aku tidak memiliki siapa-siapa di sini.


Alfred melirik kepadaku, kebetulan juga aku sedang menatapnya. Entah kenapa hatiku berkata pagi ini ingin melihat ekspresi wajah dinginnya itu. Seketika secepat kilat kami sama-sama buang muka.


"Ayo kita berangkat, tidak ada gunanya berlama-lama di sini," sindiran Alfred membuatku mengeram.


"Tunggu, aku ingin bicara sebentar," aku mengumpul keberanian untuk menghentikan langkah mereka. Bagaimanapun aku harus membicarakan hal ini karena nasehat-nasehat dari kedua orang tuaku terngiang-ngiang.


Alfred membalikan badan dan langsung menatapku dengan sorot mata tajamnya.


"Bagimu memang tidak penting tetapi bagiku itu sangat penting," sahutku sembari beranjak dari kursi.


Alfred kelihatan marah, bahkan raut wajah yang sebenarnya tampan kini seperti iblis.


"Andre tunggu aku di mobil," titah Alfred tanpa mengubah tatapannya kepadaku.


"Baik Tuan," Andre berlalu meninggalkan kami berdua.


"Jangan membuang-buang waktu berhargaku!" Ujar Alfred masih menatapku dengan tajam.


Aku menelan ludah, sesungguhnya aku sangat takut berhadapan dengan serigala berupa manusia itu.


"Aku ingin bekerja sesu.....,"


"Tidak perlu bilang kepadaku, bukankah itu lebih bagus?" Alfred langsung memotong ucapanku yang belum terselesaikan. Tanpa ingin mendengar Alfred langsung berlalu meninggalkanku.


Aku langsung merosot di kaki tangga dengan berlinang air mata. Sungguh kehidupan yang aku jalani setelah menikah berubah 180 derajat.

__ADS_1


Puas menangis aku bangkit menuju kamar untuk mempersiapkan diri. Tekadku sudah bulat akan mencari pekerjaan. Aku ingin berbaur dengan orang luar agar kerasnya kehidupan ini sedikit terlewati. Lagi pula Alfred sama sekali tidak peduli dengan apa yang aku lakukan karena ancamannya sudah terikat denganku sehingga aku adalah tawanannya.


Didalam mobil.


"Andre apa wanita itu membicarakan masalah pekerjaan?" tanya Alfred sebelum Andre menjalankan mobil.


"Iya Tuan, Nona sempat bertanya kepada saya," sahut Andre.


"Lalu kau mengatakan apa?" Alfred kembali bertanya sembari mengusap pelipisnya.


"Nona ingin melamar di rumah sakit. Saya bilang banyak lowongan tetapi tidak sempat bilang rumah sakit mana karena keburu Tuan memotong percakapan kami," terang Andre.


"Tidak perlu kau beritahu, biarkan dia berusaha sendiri," ujar Alfred tidak menyukai tindakan Andre.


"Apa ini tidak keterlaluan Tuan?"


"Andre sekali lagi kau berani membelanya angkat kaki sekarang juga! Kau lupa apa yang dia lakukan? aku kehilangan orang-orang yang sangat berarti dalam hidupku karena dia, karena wanita kepara* itu!" Suara caci maki Alfred membuat wajah Andre pucat pasi.


"Saya minta maaf Tuan,"


"Jalan!" Titah Alfred tanpa menanggapi permintaan maaf Andre.


"Dia akan membayar. Secara perlahan aku akan membuat hidupnya segan mati enggan," Alfred membatin dengan perasaan marah.


Dalam perjalanan Alfred mengecek benda pipih, banyak email yang masuk masalah pekerjaan.


"Andre apa kau sudah melakukan sesuai yang aku perintahkan?" Alfred memecah keheningan.


"Sudah Tuan pagi tadi," sahut Andre seakan tau apa maksud pertanyaan Alfred.


"Jangan ada yang terlewatkan,"


"Beres Tuan. Kecuali kamar mandi serta walk-in closet sesuai perintah Tuan," terang Andre.


Alfred manggut-manggut sembari berpikir sesuatu.


"Hmm urus semuanya jangan sampai masalah ini diketahui oleh siapapun termasuk keluarga Januar. Aku tidak ingin semuanya terbongkar sebelum dendam ini terbalaskan," ujar Alfred.


"Tuan apa sebaiknya kita kembali menyelidiki ulang?" usul Andre yang langsung membuat Alfred menatap tajam di kaca spion.


"Semua sudah jelas Andre. Selama 2 tahun ini aku seperti orang gila mencari wanita ini yang sengaja di tutup-tutupi kasusnya, dan lihatlah Tuhan berpihak kepadaku. Wanita kepara* itu datang dengan sendirinya," Alfred sangat murka. "Ternyata dunia ini begitu sempit," sambungnya dengan terkekeh, menertawakan kemenangan yang berpihak kepadanya.


Andre terdiam tidak berani berkomentar kembali karena ia tau siapa Alfred. Pria yang menurutnya keras dan tidak bisa di bantah.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit dan komennya agar author lebih semangat🙏


__ADS_2