
Di kantor
"Hei....melamun saja, ada apa sih?" tepukan tiba-tiba dari Felisha membuat lamunan Rebecca tersadar.
"Kamu mengagetkanku saja. Ada apa?" bukannya menjawab, Rebecca malah melempar pertanyaan kepada Felisha.
Sejak kemarin dan sampai saat ini Rebecca selalu memikirkan permasalahan itu. Kepalanya ingin pecah ketika memikirkannya.
"Makan yuk, ini saatnya makan siang. Lihat semua karyawan sudah pada keluar," ucap Felisha.
"Maaf ya hari ini aku tidak bisa makan siang bersama kalian, aku ada urusan sedikit jadi kemungkinan makan siang di luar," terang Rebecca.
"Oya tidak masalah. Ya sudah aku akan mengajak Jio. Hmm hati-hati di jalan," ucap Felisha disertai senyuman.
Selepas kepergian Felisha. Rebecca menghela nafas panjang. Hari ini Keenan menyuruhnya untuk pergi dengan dirinya, ada hal yang ingin mereka bicarakan.
Rebecca melirik arloji di pergelangan tangannya. Melihat jarum jam, ia bergegas membereskan sesuatu di atas meja kerja.
Tidak ingin mendapat umpatan dengan segera Rebecca keluar dari ruangan langsung menuju parkiran mobil yang dikendarai Keenan.
Benar saja sosok dingin itu ternyata sudah standby didalam mobil dengan kaca mobil sedikit terbuka.
Dengan penuh kecanggungan Rebecca masuk kedalam mobil. Tangannya tergerak ingin membuka pintu belakang.
"Aku bukan supir taksi," sindir Keenan hingga mengurungkan niat Rebecca membuka pintu mobil bagian belakang.
Dengan rasa canggung ia masuk di bagian depan, tepat di sebelah kemudi. Pandangannya ke luar jendela, ia sama sekali tidak menoleh menatap Keenan.
"Kita mau kemana?" tanya Rebecca.
Keenan tak menjawab, pandangannya jauh ke depan, sedangkan Rebecca sejak tadi menatap dari arah jendela mobil.
"Ada apa lagi ini? kenapa ia tak kunjung juga menyalakan mobil?" batin Rebecca.
Aaa....
Mulut Rebecca menganga serta dengan tubuh membeku mendapati Keenan mencondongkan tubuhnya mendekat, bahkan wajah itu sangat dekat.
Tanpa peduli dengan kekagetan Rebecca, Keenan meraih seatbelt mobil, memasangnya ke tubuh Rebecca.
Rebecca menelan ludah karena ia salah mengira, hingga kini wajahnya bersemu merah.
"Buang pikiran negatifmu itu," ujar Keenan seakan tau apa yang ada dalam isi kepala Rebecca.
Rebecca tersenyum kikuk. Entah kenapa dirinya saat bersama Keenan jadi bodoh begitu.
Sepanjang perjalanan hening itulah yang terjadi didalam mobil. Rebecca yang biasanya heboh kini bagaikan anak pendiam. Sungguh keadaan yang membuat dirinya ingin cepat-cepat sampai tujuan.
"Sebenarnya Kak Ken membawaku kemana?" keluh Rebecca dalam hati karena perjalanan mereka hampir setengah jam.
__ADS_1
"Kak Ken bisa menepi sebentar di ujung sana," ucap Rebecca ketika dari kejauhan ada penjual minuman, tiba-tiba ia merasa haus dan kebetulan tidak ada persediaan air mineral dalam mobil.
Pertanyaan Rebecca berhasil membuat Keenan menoleh ke samping.
"Mau apa?" tanya Keenan seraya menghentikan mobilnya.
"Mau beli minum, aku haus," sahut Rebecca dengan jujur.
"Beberapa meter lagi akan ada supermarket, jadi di sana saja," ujar Keenan.
"Aku sudah tidak tahan Kak, tenggorokanku sudah kering," ucap Rebecca dengan kekeh.
Tangan Rebecca tergerak ingin membuka pintu mobil.
"Itu tidak higenis, jangan sembarangan. Beli minuman di tepi jalan tidaklah baik. Sudah tau riwayat alergi debu tetapi dasar ceroboh," omel Keenan kembali melajukan mobilnya.
Mendengar hal itu membuat Rebecca tak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Tidak mungkin juga bukan debu bisa masuk, sedangkan minuman itu masih tersegel," batin Rebecca.
Apa yang dikatakan Keenan benar, kini mereka menepi di supermarket.
"Tunggu aku didalam mobil saja," titah Keenan seraya membukakan pintu mobil.
Dengan gaya coolnya ia melangkah masuk ke supermarket. Bahkan Rebecca mengagumi ketampanan Keenan saat berjalan masuk kedalam.
"Sebenarnya Kak Ken ingin membawaku kemana?" gumam Rebecca dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil.
Keenan masuk dan segera duduk. Ia raih boto isi air mineral. Dibukakannya tutup tutup botol dari sebelnya, lalu menyodorkan kepada Rebecca.
Rebecca tertekun melihat hal itu. Dengan perasaan kikuk ia meraih botol tersebut.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan dalam hening.
"Pantai," gumam Rebecca melihat sisi kiri kanan mereka ada sebuah pantai. Keenan tak menggubris, ia tetap melanjutkan menuju tempat parkir.
Tiba di tempat parkir, Keenan terlebih dahulu turun sedangkan Rebecca masih tertekun melihat Keenan membawanya ke pantai.
"Apa kamu hanya berdiam diri saja?" sindir Keenan karena Rebecca tak kunjung turun.
Dengan perasaan dongkol Rebecca akhirnya turun. Sedangkan Keenan sudah berjalan menuju tepian pantai.
Pantai yang sangat indah serta bersih itu membuat hati siapa saja akan tenang. Tetapi beda yang dirasakan oleh Rebecca, mungkin karena kecanggungan diantara mereka sehingga menciptakan ketidaknyamanan.
Rebecca mengikuti langkah kaki Keenan dalam diam. Tujuan Keenan tepat ditepi pantai yang terdiri bebatuan besar, sehingga deru ombak itu memecah keheningan.
Keenan memilih tempat jauh dari jangkauan pengunjung lainnya karena ia ingin berbicara serius dan juga menghindari keberadaan mereka di sini.
Sungguh tempat yang romantis bagi pasangan kekasih. Tetapi tidak bagi kedua insan ini. Rasa kecanggungan serta hal lain membuat pemandangan ini menjadi hambar.
__ADS_1
Keenan berdiri dengan kedua tangan dimasukan kedalam kantong celananya. Dengan tatapan lurus jauh ke depan.
Sedangkan Rebecca berdiri di sampingnya, dengan pandangan lurus ke depan, menikmati gulungan ombak.
"Menikahlah denganku!"
Deg
Tubuh Rebecca membeku mendengar kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Keenan. Tetapi keterkejutannya tak bertahan lama, ketika mengingat semua itu pilihan kedua orang tua mereka.
Rebecca tersenyum pilu, tanpa mengarah ke arah Keenan.
"Ini adalah perintah dari kedua orang tua kita," ujar Keenan masih dengan pandangan awal.
"Aku tau itu," sahut Rebecca.
Mendengar jawaban Rebecca membuat Keenan mengalihkan pandangannya, menoleh kepada Rebecca.
"Apa kamu menyetujuinya?" ujar Keenan.
Rebecca tersenyum hampa mendengar pertanyaan Keenan, yang sudah pasti ia ketahui.
Rebecca menghela nafas sesak. Lalu memposisikan dirinya menoleh menghadap Keenan.
"Apa aku bisa menolak?" ucap Rebecca dengan tenang tetapi bohong jika dadanya kini begitu sesak.
"Kamu bisa saja menolaknya."
"Jika begitu kamu sendiri bisa menolaknya."
"Kamu benar, tetapi apakah aku bisa menolaknya? tidak bukan?"
Mendengar jawaban dari Keenan membuat Rebecca memejamkan mata sesaat.
Hening itulah yang terjadi, keduanya mengatupkan mulut untuk sesaat.
"Keinginan atau leluconmu dimasa kecil terkabul sesuai keinginanmu. Apa semua ini kamu yang merencanakannya?"
Mata Rebecca melebar mendapat pertanyaan dari Keenan, seakan perjodohan ini ia yang rencanakan.
"Jangan asal bicara Kak. Bagaimana mungkin aku serendah itu," ucap Rebecca terbawa emosi. Ia tidak terima dengan tuduhan Keenan.
"Bagus. Berarti ini murni dari orang tuamu, hmm maksudku kedua orang tua kita," ujar Keenan meralat kembali ucapannya. Hampir saja kata itu lolos. Bagaimanapun Rebecca tidak boleh tau jika perjodohan ini awal dari amanah orang tuanya sendiri.
"Kakak bisa menolaknya."
"Jika kamu bisa, lakukan saja," balas Keenan.
Kesimpulannya keduanya tidak bisa menolak.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪