MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 96. Ada Apa Denganmu


__ADS_3

"Hah...." Gabriella tersentak kaget.


"Jangan salah menanggapi ucapan Tuan waktu itu, semua itu tidaklah benar. Aku dan Vini tidak memiliki hubungan apapun selain hubungan pekerjaan. Tuan saja yang ingin menjodohkan kami," terang Andre dengan jujur.


Mendengar pernyataan Andre membuat Gabriella menghela nafas panjang, entah apa maksudnya dia sendiri tidak menyadari hal itu.


"Ada apa?" tanya Andre karena sedikit heran melihat tingkah Gabriella.


"Aku? hmmm aku...." ucap Gabriella dengan gugup.


Dret....


Tiba-tiba ponsel Andre bergetar didalam kantong celananya. Dia rogoh kantong itu lalu mengeluarkan ponsel.


"Vini," serunya melihat nama Vini dilayar ponsel.


["Halo Vin."]


Andre berbicara singkat dengan Vini. Vini menghubungi Andre untuk menjemputnya di sebuah restoran setelah bertemu dengan klien.


Gabriella tiba-tiba mengerucutkan bibir mendengar percakapan mereka, apa lagi mendengar Vini minta Andre untuk menjemputnya.


"Gaby aku harus kembali hmmm," pungkas Andre sembari menyesap kopi yang masih tersisa sampai tandas.


"Baiklah karena aku juga harus kembali, mungkin Frans sudah menunggu di kantor untuk mengajak makan siang," ucap Gabriella begitu saja.


Huk....


Andre seketika tersedak mendengar penuturan Gabriella.


"Pelan-pelan Andre," ucap Gabriella.


Andre menatap Gabriella sehingga tatapan mereka bertemu karena sejak tadi Gabriella memperhatikan Andre. Tatapan itu begitu lama dengan diam.


"Hmmm kopi milikmu masih banyak," ujar Andre sehingga keduanya sama-sama memutuskan tatapan itu.


"Aku sudah kenyang," sahut Gabriella sembari membereskan tasnya.


Andre lalu meraih gelas kopi milik Gabriella, tanpa pikir panjang atau merasa jiji* dia menyesap kopi itu sampai cangkir kosong.


"Andre," gumam Gabriella.


"Muhajir," balas Andre sembari meletakan cangkir itu kembali di atas meja.


"Tapi itukan bekas dariku," imbuh Gabriella.


"Malahan milikmu semakin nikmat," goda Andre.


Gabriella menaikan alisnya mendengar godaan Andre.


Keduanya memutuskan kembali ketempat masing-masing.


°°°°°°


Di rumah sakit


Hari ini jadwal Alfred meng acc pembukuan bulanan rumah sakit sehingga membuatku standby di ruangan Direktur.


"Sayang apa kamu kelelahan?" tanya Alfred kepadaku.


"Sedikit mengantuk sayang," ucapku dengan jujur. Sungguh tadi malam aku begadang untuk menyelesaikan tugas deskripsi.


"Jika begitu kamu tidur saja," ujar Alfred langsung beranjak dari kursi kebesarannya untuk mendekati aku yang sedang duduk di sofa sembari menguap terus-menerus. "Kenapa tadi harus ke rumah sakit?" kata Alfred karena dia baru saja dari kantor pusat setelah jam makan siang berakhir.

__ADS_1


"Hmmm tidak masalah sayang," lirihku.


Tanpa menunggu lama Alfred langsung membaringkan tubuhku di sofa dengan kepala diletakan di pangkuannya.


"Tidurlah sayang," ucap Alfred sembari mengusap kepalaku.


Aku tersenyum mendapat perhatian itu, malahan sangat terharu.


Cup


Alfred berkali-kali mengecup seluruh wajahku sehingga membuat aku jengah.


"Sayang jika aku terus dicium kapan tidurnya?" protesku dengan wajah cemberut padahal mataku sudah sangat berat.


"Habis wajah serta bibirmu ini sangat menggoda sayang.... hmmm apa lagi tadi malam tak kasi jatah," bisik Alfred sehingga membuatku langsung menyembunyikan wajahku kedalam perut Alfred.


"Sangat mezvm," aku bergumam.


"Sayang seperti masih ada waktu hmmm," goda Alfred sembari tersenyum menggoda.


"Jangan macam-macam aku sudah tidur," ucapku tanpa melepaskan wajahku yang terbenam.


"Tidur? terus yang bicara barusan adalah bayangan kamu? kamu sangat lucu sayang. Tidurlah," ujar Alfred sangat senang. Sungguh hari-hari yang dia lewati penuh dengan kebahagiaan. Aku adalah penyemangat utama untuk dirinya dan kehadiran ketiga buah hati kami menyempurnakan kebahagiaan itu.


Tidak menunggu lama deru nafas halus terdengar, itu menandakan jika diriku sudah masuk ke alam mimpi.


Alfred memandangi wajahku dengan lekat-lekat, di sana dia dapat melihat garis-garis kelelahan di wajahku.


Dengan hati-hati dia meletakan kepalaku sementara di atas bantal sofa, lalu beranjak bangkit menuju meja kerjanya.


Semua laporan serta laptop diletakan Alfred di atas meja sofa setelah menyelimuti tubuhku dengan jas miliknya. Untung saja aku menggenakan celana panjang.


Alfred kembali duduk dengan kepalaku kembali diletakan di pangkuannya. Alfred kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan aku dengan tenangnya bermimpi di sana tanpa tau apa yang terjadi di sekitarku saat ini.


"Aku sangat bahagia sayang," gumam Alfred setelah mendaratkan bibir nakalnya itu ke bibirku.


Tok tok


Pintu terdengar diketuk dari luar.


"Masuk," ujar Alfred setelah menekan tombol.


Klek


Pintu terbuka dan muncullah sesosok Andre.


"Selamat siang Tuan," sapa Andre seperti biasanya.


"Siang Andre. Sudah aku katakan berkali-kali, stop memanggilku dengan formal seperti itu. Aku sudah menganggapmu seperti Kakakku sendiri Andre," ujar Alfred dengan serius.


Andre terdiam dengan pandangan menunduk karena baru mengetahui jika aku juga berada didalam ruangan itu.


"Duduk Andre," titah Alfred sembari menyudahi pekerjaannya untuk sesaat.


"Maaf Tuan sepertinya saya segera kembali, saya tidak tau jika Nona ada didalam," ucap Andre merasa tak ingin menganggu.


"Tidak masalah. Hmmm seperti ada yang ingin kau bicarakan?" tebak Alfred seakan bisa membaca pikiran Andre.


Andre terdiam, apa yang dikatakan Alfred memang lah benar. Tujuan dia ke rumah sakit adalah ingin membicarakan masalah ini tetapi keadaannya tidak tepat karena aku juga berada didalam dengan kondisi tidur. Mungkin hal itu membuat Andre tidak nyaman.


Hmp...


Aku menggeliat kembali. Percakapan mereka menganggu tidurku.

__ADS_1


Alfred kembali mengusap pelipisku. Sedangkan Andre mengalihkan pandangannya kearah lain, dia sengaja duduk disebelah Alfred.


Us... us...


Alfred meniduri diriku seperti caranya menidurkan Keenan sama Kiran.


"Tidurlah sayang," gumam Alfred.


Aku berusaha membuka mata.


Huam...


Aku menguap dengan tangan menutup mulutku.


"Sayang sudah jam berapa?" tanyaku dengan serak.


Alfred lalu melirik arloji di pergelangan tangannya.


"Jam 3 sayang," jawab Alfred.


"Wah lama juga aku tertidur. Hmmm apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanyaku sembari meletakan telapak tangan Alfred di seluruh wajahku.


"Masih beberapa laporan lagi sayang," imbuhnya.


Hmmm


Aku berusaha bangun, tubuhku sedikit kram akibat tidur lama di sofa.


Cup


Tanpa sadar kehadiran seseorang aku langsung mencium sekilas bibir Alfred.


"Terima kasih sayang," ucap Alfred.


Hmmm


Deheman seseorang di samping Alfred membuatku tersentak kaget. Dengan mata menyipit kuintim ternyata itu adalah Andre.


"Andre," lirihku dengan wajah bersemu merah. "Sayang kenapa tidak kamu katakan jika ada Andre?" bisikku dengan mengigit bibir bawahku.


"Apa kamu ada bertanya? tidak bukan?" goda Alfred, dia tau bahwa aku merasa malu.


"Maaf Nona saya menganggu," ujar Andre, sungguh keadaan ini membuatnya tercekik. Berada dalam ruangan sepasang suami istri yang selalu menebarkan kemesraan.


"Kamu sangat bodoh Andre," Andre mengutuk dirinya didalam hati.


Keadaan hening sesaat. Kini mereka duduk dengan saling berhadapan. Alfred kembali ke topik dimana Andre ingin berbicara.


"Andre katakan apa yang ingin kamu bicarakan?" ujar Alfred.


Andre menelan ludahnya terlebih dahulu, lalu menatap Alfred dengan serius.


"Sekarang Tuan sudah memiliki keluarga baru..... " Andre berujar panjang lebar.


"Ada apa denganmu Andre?" ujar Alfred tak percaya dengan apa yang dikatakan Andre.


Bukan hanya Alfred yang kaget tetapi aku sendiri juga kaget mendengar Andre ingin mengundurkan diri, bukan hanya sekedar ingin tetapi sudah memantapkan diri.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


• Intip juga karya baru "MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM"

__ADS_1


__ADS_2