
"Lelet amat sih,* cicit Tante Meysi karena langkah Vini begitu lambat.
" Ya ampun ternyata Tante Meysi orangnya cerewet," celetuk Vini dalam hati.
Awww
Tiba-tiba langkah Tante Meysi terhenti, akibatnya Vini menubruk tubuhnya.
"Kamu mengutuk Mommy?" pertanyaan itu membuat mata Vini membulat.
Vini dengan cepat menggelengkan kepala.
"Wanita begini yang dipilih Frans, sungguh hatinya sudah buta,* gumam Tante Meysi sengaja, agar didengar oleh Vini.
Sekali lagi membuat mata Vini melotot. Seketika dia menelan ludah dengan wajah pucat puas, bahkan matanya sudah berkaca-kaca.
" Tante, sebaiknya aku pulang," lirih Vini seperti menahan isak.
Tante Meysi mengerutkan dahi mendengar ucapan Vini. Apa lagi kini Vini seperti menahan tangis.
"Ada apa? apa kamu keberatan menemani Mommy?" ucap Tante Meysi dengan wajah sinis.
Mendengar sebutan Mommy membuat Vini mendongkrak wajahnya ke atas sehingga pandangan keduanya bertemu.
Tidak ingin membuang waktu, Tante Meysi langsung menarik tangan Vini kembali. Vini pasrah saja.
"Selamat siang Nyonya. Oya pesanan Nyonya sudah disiapkan," sapa pelayan dengan ramah seakan sangat mengenali Tante Meysi.
"Pakaikan kepadanya," ucap Tante Meysi seraya menunjuk Vini.
Vini mengerutkan dahi mendengar apa yang dikatakan Tante Meysi.
"Mari Nona ikut kami," ucap pelayan mempersilahkan Vini.
Vini menoleh kearah Tante Meysi yang tengah mengembangkan senyuman. Tante Meysi mengangguk serta tersenyum manis kepada Vini, hal itu membuat Vini kikuk. Mau tidak mau dia mengikuti dua pelayan itu ketempat ruang ganti.
Selepas kepergian Vini. Tante Meysi mendaratkan bokongnya di kursi yang disediakan di sana.
["Cepat kemari."]
Tante Meysi menghubungi seseorang.
Didalam ruangan mata Vini membulat melihat 5 pajangan gaun indah dengan beda model warna putih. Vini sangat tahu itu gaun khusus apa.
"Silahkan Nona,"
"Tidak, mungkin kalian salah orang," ucap Vini me g hentikan aksi kedua pelayan butik itu.
"Nona coba ini dulu," mereka seakan tidak memperdulikan ocehan Vini sejak tadi. Dengan tubuh mematung Vini mengalah.
"Sebenarnya ada apa? apa aku disuruh menjadi bahan percobaan?" gerutu Vini dengan bibir menggerutu melihat bayangannya dalam cermin. Dengan segera dia menutup dadanya karena gaun pertama yang dia coba sangat terbuka sehingga membuat dua bukit kembarnya terekspos.
"Silahkan keluar Nona, biar Nyonya yang menilai," ucap salah satu pelayan butik.
Vini menggeleng, menolak. Tetapi pada akhirnya dia kalah.
Deg
Mata Vini membulat melihat sodok yang kini berdiri dihadapannya. Untuk meyakinkannya, mata Vini mengerjap beberapa kali.
__ADS_1
"Sayang...." Gumam Vini dengan bibir kumat kamit.
"Ganti!" Titah dokter Frans. Sedangkan Tante Meysi senyam-senyum.
Vini kembali dibawa ke dalam ruangan. Sudah empat kali dia berganti gaun tetapi tidak ada yang cocok di mata dokter Frans. Hal itu membuat Vini lelah.
Vini terkesima melihat tampilan bayangannya didalam cermin. Gaun menjuntai itu sangat pas di tubuhnya.
"Semoga ini yang terakhir," cicit Vini sudah jengah.
Vini kembali keluar dengan wajah cemberut.
"Sayang aku sudah lelah," celetuk Vini dengan nada manja, dia tidak peduli lagi dengan Tante Meysi yang sejak tadi senyam-senyum sendiri.
Dokter Frans mendekat tanpa berkedip memperhatikan tubuh Vini.
"Sempurna," ujar dokter Frans mengembangkan senyuman. "Kamu sangat cantik sayang," bisik dokter Frans, hal itu membuat Vini kikuk dihadapan Tante Meysi dan kedua pelayan itu.
"Sayang sebenarnya ada apa? jelaskan," bisik Vini membawa dokter Frans sedikit menjauh.
"Maksudnya?" bukannya me jawab dokter Frans malah melemparkan pertanyaan.
"Keberadaanku di sini dan juga sebagai percobaan semua gaun ini. Sebenarnya untuk apa?" ucap Vini diselimuti rasa penasaran.
Hmmm
Deg eman Tante Meysi membuat keduanya menghentikan obrolan.
"Segera berganti," ucap Tante Meysi de gan wajah kembali datar.
Vini langsung menuruti perintah Tante Meysi tanpa banyak bicara.
"Mom hentikan, apa Mommy tak kasian melihat wajah sendunya itu?" ujar dokter Frans.
"Kamu diam saja, kalian memang pantas untuk menerima hukuman. Kalian sudah melewati batas, makanya kebelet kawin," celoteh Tante Meysi seakan mengetahui hubungan mereka terlalu dalam.
Mata dokter Frans membulat dengan mulut menganga tak percaya karena tuduhan itu tak melenceng.
"Apa? benarkan tebakan Mommy," pungkasnya sehingga dokter Frans tak berkutik.
Vini kembali keluar dari ruang ganti. Tante Meysi bergegas menuju meja kasir. Dua gaun dengan model berbeda sedang dibungkus.
"Ikut Mommy," titahnya kepada dua pasangan itu.
Tanpa membantah keduanya mengikuti dari arah belakang. Vini ingin sekali bertanya apa maksud dari semua ini.
Ketiganya sudah masuk kedalam mobil dokter Frans.
"Kita akan ke restoran x. Daddy sudah menunggu di sana," ucap Mommy Meysi.
"Sepertinya Frans tidak bisa Mom, hari ini Frans tugas siang," ujar dokter Frans.
"Mommy sudah minta izin kepada Alfred jadi jangan banyak cincong. Jadi menurut saja," ucapnya santai. Vini maupun dokter Frans saling memandang dengan wajah penuh tanya.
["Iya sayang kami masih dalam perjalanan."]
Ucap Mommy Meysi dalam via sambungan telepon.
Sepanjang perjalanan menuju restoran ketiganya irit bicara. Mereka masing-masing sibuk berpikir. Terlebih Vini, sampai sekarang dia belum mendapat penjelasan.
__ADS_1
Tidak lama tempat yang dituju, tiba juga.
"Ikut Mommy. Kasian Papa serta calon besar Mommy didalam sana," ucap Mommy Meysi dengan santai, mendengar hal itu membuat dokter Frans maupun Vini saling memandang dengan mata melebar.
"Maksud Mommy apa? calon besan?" tanya dokter Frans seakan kaget.
Ucapan Mommy Meysi membuat dada Vini bergemuruh. Apakah dia hanya dijadikan bahan percobaan untuk calon istri dokter Frans. Sungguh Vini tak dapat menerima ini semua.
"Kalian akan tahu nanti."
"Sepertinya ini bukan tempatku Tante," lirih Vini ingin menolak untuk ikut serta.
"Tentu saja tempatmu, kehadiran kamu sangat penting di sana," paparnya de gan wajah tak bersahabat.
"Ayo sayang," dokter Frans menggenggam tangan Vini.
"Tidak, sepertinya kedatanganku akan membuat masalah. " Sepertinya di sana calon mertuamu Frans," ucap Vini dengan sendu, bahkan matanya berkaca-kaca. Sekali kedipan saja air mata itu akan tumpah. Dokter Frans sungguh tidak tega melihat wajah pilu Vini.
"Frans, Mommy tidak ingin membuang waktu. Bawa dia," bentak Mommy Meysi.
Dengan terpaksa dan pasrah Vini ikut masuk kedalam restoran dengan pikiran berkecamuk.
°°°°°°
Didalam restoran ruang VIP. Daddy Julio berbincang-bincang sembari menunggu kedatangan istri dan putranya.
Hmmm
Deheman Mommy Meysi membuat obrolan asik mereka terhenti.
"Maaf buat menunggu," ucap Mommy Meysi.
Dokter Frans maupun Vini masih terdiam tepat diambang pintu. Kedua orang yang bersama Daddy Julio membelakangi mereka.
"Apa kalian hanya berdiam di situ saja?" suara bariton Daddy Julio membuat kedua pasangan itu tersentak.
"Son perkenalkan calon mertuamu," ujar Daddy Julio kepada dokter Frans, seakan mereka tidak memperdulikan perasaan Vini.
Tes tes
Air mata Vini luruh begitu saja tanpa dapat dibendung lagi. Dadanya sesak serta hatinya seperti ditusuk ribuan jarum.
"Son!"
Dokter Frans melangkah mendekat tanpa melepaskan genggaman tangan Vini.
"Salam kenal Papa dan Mama mertua," sapa dokter Frans yang tentunya membuat Vini tercekat atas sapaan dokter Frans yang tak pernah dia sangka.
Kedua paruh baya itu serempak menoleh kearah belakang.
Deg
Mata Vini terbelalak kaget melihat dua sosok itu.
Bersambung.....
Jangan lupa like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
•Kisah Gabriella dan Andre part selanjutnya ya
__ADS_1