
Didalam cermin kuperhatikan kembali penampilanku. Aku bersedia menghadiri undangan Yuen karena dia sangat mengharapkan kehadiranku di sana. Yuen juga mengundang suami rahasiaku, tentu saja aku beri alasan jika suamiku sedang keluar kota.
Merasa cukup aku segera meraih tas khusus pesta. Sebelum berangkat ku sempatkan diri ke kamar Leon hanya untuk memastikan dia sedang belajar.
"Sayang lagi belajar ya?" aku masuk begitu saja ke kamar Leon yang sedang belajar.
"Iya Mom. Mommy cantik sekali," puji Leon mengagumi pesonaku malam ini.
"Terima kasih sayang,"
"Mommy pergi sendiri?" tanya Leon.
"Iya sayang, yang pastinya diantar oleh Kakek Seun," sahutku. "Baiklah Mommy akan segera berangkat, lanjutkan belajarmu," imbuhku tak lupa mengecup pipi Leon.
Didalam mobil aku hanya bisa terdiam. Seakan paham Pak Seun juga tak banyak ajak bicara. Pesta kelangsungan acara pertunangan Yuen diadakan di hotel x.
Tidak butuh waktu lama aku sampai juga ditempat acara. Aku bisa melihat rekan kerja bersama pasangan masing-masing, kecuali aku. Didalam lobby langkahku terhenti ketika namaku dipanggil seseorang.
"Dokter Abel," itu aku yakini suara dokter Frans sehingga membuat langkahku terhenti.
Kuberbalik badan, dan benar saja dugaanku itu.
"Kak Frans," balasku berusaha tersenyum.
Dokter Frans mendekatiku. Selama seminggu ini kami tidak saling bertemu karena dokter Frans ada penyuluhan dari rumah sakit.
"Benarkah kamu orang itu?" batin dokter Frans menatap diriku dengan lekat-lekat seperti ingin menguliti aku.
"Aku kira kamu tidak akan datang," dokter Frans berusaha tetap tenang seperti tidak ada yang terjadi.
"Hmm Yuen memaksakan," sahutku.
"Kamu sendiri? hmm tidak ajak suami?"
Sesaat aku terdiam lalu menghela nafas.
"Tidak, suamiku sedang keluar kota Kak," bohongku sehingga membuat dokter Frans tersenyum kecut me dengar kebohonganku, tetapi pastinya tidak aku sadari arti dari senyuman dokter Frans.
Mereka pada akhirnya beriringan menuju tempat acara. Di sana para tamu undangan sudah memadati ruangan.
Aku memberi selamat kepada Yuen dan calon tunangannya. Yuen sangat senang dengan kehadiranku.
Acara pertukaran cincin telah usai, dan selanjutnya hiburan. Aku berpamitan pulang lebih cepat karena jujur saja tubuh ini lelah dan besok pagi harus dinas lagi.
Tak kusadari ternyata dokter Frans mengikutiku dari belakang menuju lobby. Tanganku di tarik begitu saja dari belakang sehingga membuat badanku berbalik.
"Kak Frans," panggilku dengan terkejut karena ini pertama kalinya dokter Frans menyentuh lenganku cukup erat.
__ADS_1
Tanpa menjawab dokter Frans mendekat dengan tangan terulur menyentuh rambutku.
"Ada sobekan tisu menempel di rambutmu, maaf jika aku lancang," ucap dokter Frans.
Aku sedikit salah tingkah dengan apa yang barusan terjadi.
"Hmm tidak masalah," sahutku sembari menatap dokter Frans.
Alisku terangkat mendapati noda makanan di baju kemeja dokter Frans. Noda itu cukup menganggu. Kuraih tisu basah yang selalu aku bawa, lalu kusapu baju bagian dada itu dengan tisu basah sampai noda itu cukup memudar.
Dokter Frans membeku dengan mulut bungkam mendapati perlakuanku. Jantungnya berpacu cukup kencang merasakan sentuhan jari jemariku dibalik baju kemeja itu, belum lagi jarak kami cukup dekat sehingga sulit bagi dokter Frans bernafas.
"Maaf jika aku lancang," ucapku sembari menyudahi.
Dokter Frans berusaha mengendalikan dirinya agar aku tidak menyadari bagaimana perubahan tubuhnya.
Hmm
Dokter Frans menetralkan kembali perasaannya.
"Kamu pulang dengan siapa?"
"Aku masih menunggu Pak Seun tetapi ponselnya tak bisa dihubungi,"
"Bagaimana jika kuantar," tawar dokter Frans karena ini sudah malam.
"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Ini malam semakin larut, kamu butuh istirahat untuk bekal besok pagi. Bagaimana?"
Aku berpikir dan apa yang dikatakan dokter Frans ada benarnya juga.
"Baiklah," akhirnya aku setuju. Aku sungguh melupakan Alfred dan berani menerima tawaran dokter Frans.
Ternyata tanpa kami sadari di ujung sana dua pria memperhatikan kami dari awal sampai kami masuk kedalam mobil. Siapa lagi jika bukan Alfred bersama pengekor yaitu Andre.
Alfred mengepalkan kedua tangannya dengan erat, ditambah lagi dengan tatapan tajam serta rahang mengeras.
"Kurang aja*. Kau ingin bermain-main? lihat kau akan menyesalinya," gumam Alfred dengan murka sehingga membuat Andre bergidik.
Alfred bergegas menuju mobil dengan langkah panjang tanpa menunggu atau berbicara sepatah katapun pada Andre.
"Apa Tuan cemburu? hmm sepertinya begitu," gumam Andre dengan ujung bibir tertarik sembari memandangi punggung Alfred.
Alfred bersama Andre tidaklah menghadiri acara pertunangan Yuen. Mereka kebetulan menemui klien dari luar negeri untuk menyetujui kerja sama. Tidak sengaja melihat tontonan yang mengakibatkan mata panas.
°°°°°°
Aku masuk kedalam dan ingin menutup pintu tetapi niatku itu aku urungkan karena tanpa kuduga sosok Alfred berdiri dengan wajah tak bersahabat di balik pintu, tepatnya tadi ada di belakangku.
__ADS_1
Aku menelan ludah dengan tubuh menegang. Alfred menatapku dengan tajam yang tak ubahnya seperti singa kelaparan. Aku cuek saja dan ingin melanjutkan langkahku, tetapi semua keinginanku itu tak sejalan karena Alfred menghadang jalanku bahkan memepet tubuhku.
Tanganku ditarik dengan sangat kuat sehingga aku mengikuti langkah Alfred seperti diseret tanpa sepatah kata.
"Lepas," desisku sembari menghentakkan tanganku yang sedang di cengkram kuat.
Alfred tidak menghiraukan, dia tetap membawaku naik ke tangga.
"Al lepas," ucapku sepanjang jalan. Aku semakin takut karena Alfred membawaku ke lantai atas khususnya area milik pribadinya.
Klek
Bruk
Tubuhku dilempar Alfred cukup kuat, untungnya mendarat di atas kasur empuk.
Brak
Alfred membanting pintu sehingga tertutup bahkan dikunci. Melihat itu aku menelan ludah dan ketakutan menjalar di setiap tubuhku.
Alfred berdiri menatapku dengan tatapan ingin menguliti bahkan ingin menelan hidup-hidup. Aku berusaha menjauh dari tempat tidur dengan kedua kaki bergetar. Rupanya Alfred tak membiarkan itu, dia mendekatiku dengan raut wajah penuh arti.
Tangan Alfred terulur membelai rambutku dengan wajah murka, lalu jari jempol itu berpindah mengusap pipiku.
Tentu saja aku menepis tangan Alfred sehingga membuat Alfred semakin murka.
"Kau menepis tanganku? kau tak sudi aku sentuh yang statusnya suami? tetapi kau membiarkan pria lain yang bahkan bukan suamimu menyentuhmu? kau sangat hebat Isabella. Aku tidak pernah menyangka ternyata putri dari keluarga terpandang sungguh wanita mura*an," Alfred merendahkanku bahkan membawa-bawa keluargaku yang tak tau menahu.
Plak
Tanganku melayang menampar wajah Alfred.
"Jangan bawa-bawa keluargaku, mereka tak tau apa-apa," tegasku tersulut emosi. Bahkan aku tidak tau apa maksud Alfred menuduhku seperti itu. Apa tadi dia bilang dirinya adalah suamiku? apa dia tidak sadar atas ucapan atau leluconnya itu?.
Alfred mengusap wajah bekas tamparanku dengan lidah menekan pipi dalamnya. Anehnya dia tidak membalas tamparan itu.
Aku melangkah menuju pintu bermaksud ingin keluar. Tetapi sayangnya pintu itu dikunci dan tak tau dimana kunci itu tersimpan. Alfred memandangiku dengan senyuman menyeringai.
Alfred mendekat bahkan semakin dekat sehingga punggungku sudah terbentur pintu. Alfred mencondongkan kepalanya tepat di wajahku sehingga wajah kami hanya berjarak beberapa centimeter saja. Aku menelan ludah dengan hidung kembang kempes, bahkan hembusan nafas masing-masing menerpa wajah.
Alfred menarik tanganku lalu melemparkan kembali tubuhku di atas kasur, lebih menegangkan lagi dia mengungkung tubuhku.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
2 bab menyusul hari ini dan waktu update tidak menentu.
__ADS_1