MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 86. Wanita Tak Sempurna


__ADS_3

Seusai acara semuanya kembali ke rumah masing-masing.


"Sayang sudah dong ngambeknya," rayu Alfred sejak tadi sembari mondar-mandir mengikuti dimana aku melangkah.


Aku masih tidak menanggapi celoteh itu.


"Sayang...."


Alfred langsung memelukku dari arah belakang ketika aku sudah membaringkan tubuhku dengan posisi menyamping.


Aku memutar bola mata dengan bibir mengerucut sedangkan Alfred terus-menerus berceloteh.


"Rambutmu sangat wangi sayang," rayu Alfred kembali sudah habis kata-kata.


Aku mendesis dalam diam, sangat jengah merasakan perlakuan itu.


"Aku lagi tidak mood jadi aku mohon jangan ganggu," aku menggerutu.


Mendengar aku berbicara membuat Alfred tersenyum dalam diam.


"Sayang....." Alfred berusaha membalikan badanku dan usahanya berhasil karena tenaga dia lebih besar dari padaku.


Aku membuang muka tanpa ingin menatap Alfred. Hal itu membuat Alfred gemes, dan tau jika aku benar-benar marah.


"Aku minta maaf sayang, makanya lain kali jangan beri teka-teki seperti ini," ujar Alfred.


"Tidak perlu kamu umbar ke depan umum. Katanya CEO terkenal, pebisnis sukses tetapi peribahasa semacam atau sekecil itu saja tidak tau," aku mencerca mengeluarkan unek-unek ini.


"Itu bukan peribahasa sayang, hanya sekedar.... "


"Sebaiknya kita tidur, aku sudah mengantuk," aku segera memotong perkataan Alfred.


Alfred terdiam tanpa ingin menganggu lagi. Dia tau aku lagi marah besar.


"Selamat tidur sayang," Alfred mengecup keningku dengan senyuman dipaksakan sembari menyelimuti tubuh kami. Aku dapat melihat wajah sendu itu dari celah mataku yang menyipit karena aku sedang memejamkan mata.


Alfred memposisikan berbaring dengan telentang, menatap langit-langit kamar.


"Sayang apa kamu sudah tidur? aku akan ke kamar anak-anak," ucap Alfred dengan suara halus sembari menoleh menatapku. Aku tidak menjawab dan tetap menutup mata.


Alfred tersenyum, lalu bangun.

__ADS_1


"Kemana?" kataku tak tahan lagi.


"Ke kamar anak-anak. Kamu bilang tidak mood dan tidak ingin diganggu," lirih Alfred dengan nada suara sedih, bahkan mimik wajah itu seperti menyesali sesuatu.


Aku segera membuka mata. Lalu bangun dan meletakan kepalaku di kedua paha Alfred. Mendapati itu membuat Alfred kaget.


"Maaf," lirihku dengan menadah wajah ke atas.


Alfred tersenyum lalu mengusap wajahku dengan penuh kasih sayang.


"Kamu tidak salah sayang karena aku tau jika wanita lagi palang merah bawaannya kesal," ujar Alfred.


"Itu kamu tau," ucapku dengan mata menyipit.


"Hmmm tadi sempat ngintip google," sahut Alfred sembari mengedipkan mata.


Aku tersenyum sembari menggelengkan kepala, perasaan lucu tentu saja aku rasakan. Alfred masih membelai kepalaku, sedangkan aku diperlakukan seperti itu merasa sangat nyaman.


"Sayang mau tanya, sebelumnya kamu ingin memiliki anak berapa banyak?" tanyaku beralih ke obrolan lain.


"Satu lusin," sahut Alfred dengan cepat. Mendengar jawaban Alfred membuatku tersenyum miris, seketika dada ini sesak.


"Tetapi karena kita tinggal di negara yang dibatasi, dua anak atau tiga anak sudah cukup sayang," ujar Alfred seketika menyadari perubahan wajahku. Alfred sungguh melupakan sesuatu yang bisa membuat aku terluka sebagai seorang wanita atau istri.


"Sayang bukan maksudku....."


"Maaf aku tidak bisa memberimu seperti yang kamu inginkan," lirihku tanpa sadar meneteskan air mata. "Aku hanya bisa memberimu Keenan serta Kiran sebagai darah daging kita, dan Leon sebagai pelengkap mereka. Aku bukanlah wanita atau istri yang sempurna," imbuhku dengan hati tercubit.


"Sayang," Alfred menggeleng kepala sembari menempelkan jari telunjuknya di bibirku. Alfred memapah tubuhku agar duduk sejajar dengan dirinya.


Kini posisiku berada di dada bidang itu dengan Alfred meraih wajahku agar menatap kepadanya.


"Dengar baik-baik. Kehadiran mereka sudah sangat cukup bagiku, aku tidak mempersalahkan seberapapun jumlah anak kita, bagiku kamu adalah wanita ataupun istri yang luar biasa. Luar biasa dalam kondisi yang tidak dirasakan oleh wanita lain, disitu kamu sudah menggambarkan wanita sempurna. Untuk ke depannya jangan pernah katakan ini lagi, bagiku kamu adalah istri yang sempurna dan luar biasa," ungkap Alfred panjang lebar.


Aku langsung memeluk Alfred, menyembunyikan wajahku di dada bidang itu sembari terisak haru.


"Terima kasih sayang," aku bergumam tanpa menarik wajahku.


Alfred membalas pelukan itu dan berkali-kali mengecup pucuk kepalaku dengan hati terenyuh setelah mendengar jeritan hatiku.


"Semua ini salahku sayang, semua berawal dari kesalahan yang aku tanam. Secara tidak langsung aku membuat kesalahan fatal," ungkap Alfred dengan pilu sembari menyeka air mata yang keluar begitu saja. Bagaimana tidak, ingatan dimana dia bersikap kasar kepadaku terlintas dalam ingatannya.

__ADS_1


Mendengar Alfred menyalahkan dirinya sendiri membuatku segera menarik wajahku. Aku menadah wajah ke atas dan sangat terlihat jelas dimana Alfred habis menangis.


Aku mengubah posisi duduk, lalu menatap wajah Alfred dengan intens. Wajah pilu itu aku tangkup dengan kedua tanganku.


"Sayang tidak ada yang salah dalam hal ini. Takdir itulah yang sebenarnya, takdir yang tidak bisa kita hindari karena takdir itu membuat kita lebih banyak belajar. Takdir dimasa lalu pelajaran buat kita petik dan takdir sekarang mari kita sama-sama memperkokoh benteng yang sempat runtuh," ucapku. "Ayo bobo cantik," imbuhku dengan manja sembari mengedipkan mata.


"Sungguh luar biasa. Bagaimana bisa aku menyia-nyiakan istri seperti ini."


Alfred langsung menyerang bwbirku sehingga terciptalah olah raga bwbir ter nikmat. Ulah dari itu membuatnya terbirit-birit menuju kamar mandi, menuntaskan secara solo🤣🤫


Aku terkekeh sendiri melihat itu.


"Sayang apa perlu bantuan?" godaku masih dengan tawa.


"Sebentar lagi," teriak Alfred dengan suara serak serta menggebu.


"Perlu bantuan? agar lebih cepat?" aku kembali menggoda karena Alfred tau jika aku hanya menggodanya.


"Sudah setengah," teriaknya kembali.


"Baiklah! Selamat menikmati," godaku kembali.


Aaak.....


Suara yang selalu aku dengar ketika pelepasan akhirnya memenuhi isi kamar mandi. Aku menggelengkan kepala dengan wajah bersemu merah.


°°°°°°


Sesuai janji pembicaraan waktu di Indonesia. Hari ini aku kembali bekerja di rumah sakit. Meneruskan masa magang. Aku ingin melanjutkan pendidikanku sampai gelar dokter spesialis anak. Aku butuh waktu 2 tahun lagi untuk mencapai itu.


Keluarga mendukung, tentunya itu dapat persetujuan dari Alfred. Ada penyesalan di hati Alfred tentang pendidikanku yang tertunda akibat perbuatannya.


Seperti pagi ini kami sarapan bersama. Alfred sudah berkomitmen akan mengantarku setiap pagi ke rumah sakit, dan pulangnya juga begitu. Alfred sudah mengatur jadwalku hanya bertugas pagi hingga sore, tepat di jam dia pulang kantor.


Aku pasrah saja dengan aturan yang dibuat Alfred, bagiku itu tidak masalah. Dia sudah memberi ijin sudah membuatku bersyukur karena dengan kegiatanku ini akan menyita waktu, sehingga pastinya kurang untuk keluarga, tetapi dengan berusaha aku tidak mengabaikan mereka.


Sangat beruntung memiliki suami seorang Alfred Hugo. Tidak hanya sekedar tampan tetapi dia pria yang peduli serta perhatian, dan pokoknya perfek. Yang mencintai dan menyayangi kami.


Aku sadar dengan ketidaksempurnaan ini tetapi kehadiran Alfred dalam hidupku menjadi pelengkapnya.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, vote favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2