MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 140~MDS2


__ADS_3

Keesokan paginya Rebecca sarapan sendiri, sedangkan kedua orang tuanya sepertinya berdiam diri di kamar. Hal ini membuat Rebecca sedih.


"Bibi Daddy sama Mommy dimana?" tanya Rebecca, sebenarnya ia sudah tau jika kedua orang tuanya masih di kamar.


"Tuan sama Nyonya belum turun Non," sahut Bibi yang tidak tau apa yang telah terjadi.


Rebecca mengangguk diam.


Setelah usai sarapan Rebecca bertekad untuk menemui kedua orang tuanya, bagaimanapun ia harus berpamitan berangkat ke kantor.


Tok tok


"Dad, Mom," panggil Rebecca.


"Eca," gumam Daddy Alfred.


Pria tampan baru selesai mandi itu melangkah menuju pintu.


Klek


"Selamat pagi Dad," sapa Rebecca berusaha tersenyum.


"Pagi Nak, hmm apa kamu ingin berangkat ke kantor?"


"Iya Dad, maksud kedatangan Eca ingin berpamitan," ucap Rebecca.


"Maaf Nak kami tidak ikut sarapan pagi bersama. Entah kenapa pagi ini Daddy sama Mommy kesiangan, tadi malam dini hari baru bisa tidur," pungkas Daddy Alfred.


Seketika Rebecca merasa lega karena apa yang ia pikirkan tidaklah benar.


"Tidak masalah Dad. Mommy mana?" tanya Rebecca dengan wajah menunduk.


"Mommy lagi didalam kamar mandi. Ayo masuk biar tunggu didalam saja."


"Sepertinya waktu Eca tidak banyak lagi Dad, belum lagi nanti dijalan macet, tau sendirilah jika ritual mandi Mommy menghabiskan waktu lama," ucap Rebecca.


"Baiklah. Hati-hati Nak," ujar Daddy Alfred seraya mengusap pucuk kepala Rebecca dengan penuh kasih sayang.


Mendapati perlakuan seperti biasanya Rebecca terenyuh. Sungguh kedua orang tua mereka ini sangat berlebihan menyayangi dirinya yang bukan darah daging mereka.


"Eca minta maaf Dad," ucap Rebecca dengan mata berkaca-kaca seraya memeluk tubuh kekar itu. "Terima kasih sudah menyayangi Eca," lirihnya, tanpa bisa menahan air matanya.


Daddy Alfred mengusap kepala Rebecca.


"Justru Daddy sama Mommy yang ingin minta maaf. Mungkin selama ini kamu merasa tertekan atau tanpa kami sadari telah melukai hatimu," pungkas Daddy Alfred.


Rebecca menggelengkan kepala berkali-kali, bahwa yang dikatakan Daddy Alfred itu tidak benar.


Rebecca menyudahi, dan bergegas meninggalkan kamar itu dengan perasaan lega, walaupun belum bertemu dengan Mommy Isabella.


°°°°°°


Rebecca buru-buru keluar dari mobil. Dia sudah terlambat karena obrolan tadi dengan Daddy Alfred, serta ia terjebak macet.


Ia sudah terlambat 20 menit, hal itu membuatnya tergesa-gesa.


Dengan lari kecil ia melangkah ingin memasuki loby. Tetapi tanpa di sangka ia sedang mendapati sosok Keenan bersama Sunny di parkiran khusus.


Rebecca mengigit bibir bawahnya melihat hal itu, sedangkan Keenan tak menyadari jika di belakangnya ada sosok Rebecca yang terlanjur mendekat.


"Rebecca," panggil Sunny ketika pandangannya tak sengaja melihat Rebecca.

__ADS_1


Rebecca senyam-senyum, berusaha setenang mungkin.


"Kak Sunny," balas Rebecca. "Aku akan segera masuk kedalam, ini sudah terlambat. Terjebak macet," imbuhnya seakan memberitahu Keenan bahwa ia terlambat karena ada alasannya.


Tanpa mendengar jawaban Sunny, Rebecca berlalu begitu saja, tanpa menyapa Keenan, bahkan untuk melirik kearahnya saja ia engan melakukan itu.


Keenan maupun Sunny memandangi punggung Rebecca dengan diam.


"Sepertinya kalian lagi ada masalah," tebak Sunny karena melihat interaksi keduanya tidaklah baik bagi sebagai saudara.


Keenan tersadar, lalu bersikap seperti semula.


"Tidak ada masalah apapun," elak Keenan seakan engan untuk menceritakan.


"Rebecca anak manis serta ceria. Seharusnya kamu bangga memiliki Adik bungsu secantik serta semanis itu," ucap Sunny seraya melebarkan bibirnya yang terkatup.


Mendengar perkataan Sunny membuat Keenan membeku. Tidak tau harus menjawab apa.


"Honey beberapa menit lagi akan ada presentasi," ujar Keenan.


"Baiklah, aku juga akan segera ke kantor," sahut Sunny. "Oya bagi juga kue ini ke Rebecca," imbuhnya.


Sunny sengaja ke kantor HUGO GROUP karena ada yang ia berikan kepada Keenan yaitu kue buatannya sendiri. Tentunya kue kesukaan Keenan.


Tidak ada yang melihat mereka karena para karyawan dalam jam kerja.


**


Di meja kerja Rebecca mengerjakan tugasnya dengan cepat. Tinggal beberapa menit lagi akan ada presentasi, dan ia ditunjuk untuk mempresentasikan ke depan untuk bagian pemasaran.


"Bagaimana Nona, apa semua sudah beres?" tanya kepala pimpinan bagian pemasaran.


"Sudah Pak," jawab Rebecca.


Rebecca membalas dengan senyuman.


Kepala pimpinan membawa mereka ke ruang rapat. Ternyata didalam sana sudah berdatangan di setiap bagian. Setiap bagian dihadiri 4 orang.


Bagian presentasi pagi ini dari bagian produksi, pemasaran, periklanan.


Mereka masuk dan menempati kursi yang sudah disediakan. Sedangkan sangat CEO maupun asisten belum tiba.


Ternyata yang mewakili setiap bagian masih muda-muda, mungkin di atas usia Rebecca. Sebagian dari peserta magang universitas lain.


Sejak kedatangan Rebecca, semua mata tertuju kepadanya. Bukan hanya sesama peserta magang tetapi kepala pimpinan juga melakukan hal yang sama.


Ternyata hanya Rebecca dengan Felisha saja wanita yang terpilih mewakili persentasi hari ini.


"Selamat pagi," suara bariton menyapa itu membuat semuanya mengalihkan sikap.


"Selamat pagi Tuan," balas mereka semua secara bersamaan.


Keenan maupun Gerry melangkah, menuju kursi yang akan di tempati mereka.


Semuanya menunduk. Bagaimana tidak ini pertama kali bagi para peserta magang ikut dalam rapat presentasi.


Gerry mulai membuka suara untuk mewakili awal pertemuan ini. Sedangkan Keenan fokus dengan lembaran kertas yang ada di atas meja hadapannya dari setiap bagian.


Matanya berhasil tak berkedip melihat nama Rebecca dilingkari sebagai mewakili presentasi bagian pemasaran. Ia tidak tau bahwa sangat Adik juga berada didalam ruang itu sehingga membuat pandangannya beralih mencari sosok itu.


Tatapannya tepat jatuh di mana Rebecca sedang mendengar penjelasan dari Gerry seraya menatap lembaran kertas.

__ADS_1


"Lihat tuh Ca, balok es begitu cool menjelaskan," bisik Felisha seraya menyenggol lengan Rebecca.


Rebecca menyipit ujung matanya. Memberi kode agar Felisha diam karena ini adalah bukan waktu untuk bermain-main.


"Ada masalah Nona Felisha?"


Hah....


Seketika membuat Felisha tergagap, sungguh ia tidak menyangka bahwa Gerry memperhatikannya sedang berbisik dengan Rebecca.


"Maaf Tuan, maklum saya sedang PMS. Saya hanya sekedar bertanya kepada Nona Rebecca, apakah beliau membawa cadangan," ucap Felisha asalan. Tetapi hal itu mengundang rasa penasaran dari semua pria di sana kecuali Rebecca.


Rebecca sampai menundukkan kepala mendengar lelucon sahabatnya itu.


"PMS adalah palang merah sementara yang terjadi kepada setiap wanita," imbuh Felisha asal, karena ia paham dengan sorot mata semuanya.


"Lanjutkan! Pertemuan ini bukan untuk membahas hal yang tidak penting," suara bariton Keenan membuat suasana kembali normal.


Mendengar ketegasan Keenan membuat hati Rebecca tergerak untuk menoleh kearahnya.


Tatapan keduanya bertemu dalam diam untuk beberapa saat. Merasa tak sanggup dengan segera Rebecca memutuskan tatapan itu dan kembali fokus kepada lembaran laporan presentasi bagian lainnya.


**


Satu-persatu mempresentasikan hasil rekomendasi setiap bagian dan kini saatnya bagian Rebecca untuk mempresentasikan.


"Kami persilahkan Nona Rebecca," ucap Gerry.


Rebecca mengangguk disertai senyuman mautnya seraya bangkit. Senyuman itu mengundang tatapan para pria tak berkedip menatapnya.


Rebecca menjelaskan sedetail mungkin dengan aura yang luar biasa. Jelas, padat dan langsung dapat dipahami.


Hanya dengan cara menjelaskan saja semuanya sudah paham, karena tatapan mereka bukanlah ke layar proyektor melainkan ke wajah cantik Rebecca.


Menyadari hal itu membuat rahang kokoh Keenan mengeras.


Brak


Tiba-tiba ia mendobrak meja hingga membuat semuanya kaget. Hal itu membuat Rebecca menghentikan sejenak presentasi.


"Ada yang salah Tuan?" tanya Rebecca dengan sikap wibawanya.


"Lebih fokus lagi. Lanjutkan!" Sindir Keenan dengan tatapan tajam ke setiap peserta rapat.


"Ada apa dengan Tuan? bukankah Nona sangat fokus?" batin Gerry karena tidak ada yang salah, ia benar-benar tidak tau apa maksud dari sindiran Keenan.


Rebecca kembali melanjutkan bagian yang belum dijelaskan.


"Saya mempersilahkan untuk mengajukan pertanyaan atau ada yang kurang jelas?" ucap Rebecca memberi kesempatan.


"Penjelasan Nona Rebecca sempurna, padat, jelas dan singkat," ucap kepala pimpinan periklanan.


"Terima kasih," sahut Rebecca disertai senyuman manisnya yang begitu menggetarkan hati dan jiwa.


Glek


Senyuman itu membuat mereka terkesima seperti orang bodoh.


Hmm


__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2