
Kini mereka duduk di kursi panjang. Jauh dari keramaian.
"Hmm apa kamu kedinginan?" tanya Keenan.
"Sedikit," sahut Rebecca dengan jujur. Memang angin di malam itu cukup kencang.
"Maaf," ungkap Keenan.
"Tidak masalah," ucap Rebecca dengan bibir melengkung.
Keenan menghela nafas.
"6 hari sudah kita lalui bersama, seperti yang pernah aku minta. Besok adalah hari terakhir kita bersama-sama," pungkas Keenan. Sejenak ia mengumpulkan nafas. "Apakah aku berhasil atau gagal? membuktikan perasaanku?" tanya Keenan dengan mata memerah.
Rebecca bungkam sejenak mendengar penuturan Keenan.
"Aku ingin butuh jawaban," ujar Keenan kembali seraya menelan ludahnya.
Rebecca menghela nafas panjang. Tatapannya kini lurus ke depan.
"Rasa kecewa yang kamu tanamkan di hati ini masih membekas. Bahkan sulit untuk di musnahkan, dimana kamu menganggap pernikahan ini adalah sebuah keterpaksaan atau ancaman," ucap Rebecca berusaha tenang. "Aku tidak tau bagaimana perasaan atau isi hatimu yang sesungguhnya saat ini. Sepertinya....."
"Yang sesungguhnya aku mencintaimu.....sungguh!" Dengan segera Keenan memotong ucapan Rebecca yang sebenarnya belum selesai.
Rebecca menggeleng seraya tersenyum kecil.
"Itu bukan perasaan cinta melainkan perasaan kasian," ucap Rebecca kembali.
Keenan memejamkan mata sesaat kemudian. Kalimat yang dilontarkan Rebecca terbalik jauh dengan apa yang ada dalam hati dan perasaannya.
"Aku tekankan kita tetap berpisah. Raihlah impian serta rancangan-rancangan yang pernah kamu rancang. Aku tidak perlu dikasihani Keenan, aku melepaskanmu agar tidak ada yang tersakiti dan menyakiti," ucap Rebecca berusaha menahan air mata yang sudah mengenang di pelupuk matanya.
Ucapan Rebecca menghujam di dada Keenan.
"Aku harus berbuat apa untuk membuktikannya? aku benar-benar mencintaimu....bukan karena kasian, keterpaksaan, ancaman dan lain sebagainya tetapi ini adalah murni dari perasaan dan hatiku," pungkas Keenan berusaha meluluhkan hati Rebecca.
"Kamu mencintaiku? maka dari itu lepaskan hubungan kita. Aku akan bahagia setelah perpisahan kita," ucap Rebecca kini tak bisa membendung air matanya lagi.
Keenan menggeleng seraya memegang kedua bahu Rebecca.
"Aku akan bahagia jika perpisahan ini terjadi," ucap Rebecca dengan lantang tanpa ingin mendengar penjelasan Keenan lagi.
Keenan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Apa yang dikatakan Rebecca tidak mungkin ia paksa.
"Apakah benar-benar tidak ada kesempatan lagi?"
"Tidak ada gunanya kita menghabiskan waktu untuk hal yang tidak penting ini."
__ADS_1
"Berarti aku salah mengira selama kebersamaan kita," ujar Keenan dengan senyuman miris.
"Maaf, sepertinya kamu minta, aku memberikan waktu yang kamu tentukan."
Keenan kembali tersenyum kecil dengan raut wajah pilu.
"Baiklah jika itu keinginanmu, walaupun dengan jujur aku menentangnya. Tetapi seperti yang kamu katakan, aku memilih kamu bahagia dibandingkan dengan perasaanku sendiri. Terima kasih atas 6 hari kebersamaan kita," papar Keenan.
"Hanya sebatas ini usahamu untuk meluluhkan hatiku kembali?" batin Rebecca merasa kecewa dengan tindakan Keenan yang menyerah begitu saja.
"Aku terpaksa memilih keinginanmu karena itu membuat kamu bahagia. Aku tidak tau harus dibawa kemana perjalanan hidupku ini selepas perpisahan kita," batin Keenan dengan kedua tangan terkepal.
"Sebaiknya kita segera pulang, sepertinya akan turun hujan," ujar Keenan seraya bangkit dari tempat duduknya.
Rebecca mengangguk setuju karena ia juga ingin mencurahkan isi hatinya didalam kamar mandi dalam apartemen.
Keduanya sepakat untuk pulang. Dalam perjalana. pulang hujan turun sangat lebatnya, seakan tau isi hati kedua insan saat ini.
Seakan alam semesta ikut menangisi atas perpisahan mereka.
**
Tiba di apartemen
Tidak ada obrolan diantara mereka. Seakan mereka kembali lagi seperti orang asing.
Ia masuk dan segera mengunci pintu kamar mandi. Di depan cermin ia menatap wajahnya dengan perasaan bersalah karena telah menolak kesempatan untuk memperbaiki hubungan rumah tangga mereka.
"Aku yakin ini langkah yang lebih baik," gumam Rebecca. "Aku memang mencintaimu tetapi saat kalimat itu kembali terngiang-ngiang membuat perasaan ini hancur," gumamnya kembali dengan berurai air mata.
**
Lain halnya dengan sosok pria yang tengah berbaring di atas sofa depan televisi. Sejak tadi ia berusaha memejamkan matanya, ingin segera terlelap agar segera melupakan masalah di dunia nyata, terutama penolakan Rebecca barusan.
"Aku sadar bahwa luka yang telah kugores begitu dalam hingga sulit di tutupi. Tetapi itu dulu dan sekarang aku benar-benar sangat mencintaimu dan bahkan tidak ingin melepaskanmu," gumam Keenan tanpa bersuara.
Penyesalan selalu datang di belakang. Hingga sulit untuk melepaskannya seperti sediakala. Itulah yang dialami oleh Keenan saat ini.
Ia gagal meluluhkan hati Rebecca. Ia gagal menutup goresan luka yang telah ia ciptakan. Ia gagal mendapatkan hati Rebecca kembali.
°°°°°°
Keesokan harinya
Pagi-pagi Keenan sudah menghilang tanpa pesan. Rebecca terbangun tanpa melihat sosok itu lagi.
"Dia kemana?" gumam Rebecca setelah mencari dimana-mana.
__ADS_1
Ia yakin bahwa Keenan tidaklah berangkat ke kantor karena tas serta sepatu yang dia gunakan masih ada ditempatnya.
Dengan perasaan campur aduk Rebecca berusaha memasukan makanan didalam mulutnya. Makanan yang selama 6 hari ini sangat terasa enak dan lezat kini seakan rasa kerikil yang menusuk-nusuk.
Akhirnya Rebecca menyudahi begitu saja. Ia kembali masuk ke kamar. Membersihkan tubuhnya dan ingin berendam sejenak, meregangkan setiap otot-otot yang sangat lelah.
Butuh 30 menit untuk ia merendam. Seakan mengingat sesuatu ia segera menyudahi dan segera berkemas-kemas.
**
Pagi-pagi Keenan membawa mobilnya ke suatu tempat. Tetapi engan untuk ia beranjak keluar karena cukup pagi dan udara juga sangat sejuk.
Hingga membuatnya tertidur dengan posisi duduk di depan setir kemudi.
Suara klakson mobil di parkiran silih berganti membuat tidurnya terusik hingga ia terbangun.
"Sudah jam berapa ini?" gumam Keenan dengan suara parau habis bangun tidur.
Ia pun melirik arloji di pergelangan tangannya. Di sana jarum jam menunjuk pukul 10 pagi, ternyata Keenan tertidur dengan durasi cukup lama.
Keenan keluar dari mobil dengan sebuah tangan mengenggam bunga. Lalu berjalan memasuki pemakaman elit. Ternyata di sana sudah ramai penziarah lain ke makan sanak saudara mereka.
Kini Keenan berdiri di pemakaman yang paling elit dan jauh dari para penziarah lainnya. Ia menunduk meletakan bungga seraya mengusap nisan yang bertuliskan nama Deanda.
"Selamat ulang tahun Bibi," ujar Keenan.
Ia kembali berdiri dengan kedua tangan dimasukan kedalam kantong celana, menatap nisan serta foto yang tergeletak di sana.
"Bibi aku minta maaf karena sudah membuat Bibi kecewa di atas sana. Maaf aku terpaksa melepaskan Eca karena keinginannya begitu besar. Pilihannya begitu sulit untuk aku pilih. Aku ingin membahagiakan serta membuatnya bahagia tetapi tentunya dengan pilihan yang begitu besar. Demi kebahagiaannya aku terpaksa melepaskannya, walau perasaan ini sangat menentang karena cintaku ini begitu besar untuk dirinya," ungkap Keenan dengan mata memerah.
Ia menghela nafas.
"Aku sangat menyesal Bibi. Aku sadar jika perbuatanku itu sangat sulit dimaafkan. Luka yang pernah aku tanam sampai saat ini membekas di hatinya dan sulit untuk di singgirkan," imbuhnya kembali.
Sejenak Keenan memejam kedua matanya.
"Hari ini adalah perpisahan kami, bertepatan dimana hari kelahiran Bibi. Bibi beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku benar-benar mencintai Eca dan tidak ingin perpisahan ini, katakan kepadanya Bibi....." Pungkas Keenan tanpa sadar meneteskan air mata, bahkan suaranya terdengar menahan tangis. "Aku sangat mencintainya......" Serunya dengan nada rendah bahkan terdengar sangat pilu menyesakan dada.
Deg
Tiba-tiba pelukan seseorang membuat tubuh Keenan membeku. Kedua tangan kecil itu melingkari pinggangnya.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪
•Terima kasih atas doa serta dukungannya kepada kakak-kakak semua🙏
__ADS_1