
"Al...."
Deg
Ketika mendengar suara lembut memanggil namanya membuat Alfred menoleh ke samping, tepatnya diambang pintu.
Seketika tubuh Alfred membeku dengan mata melebar melihat siapa sosok yang berdiri diambang pintu.
Alfred mengedipkan matanya berkali-kali dan bahkan mengucek kedua matanya karena tidak percaya.
Aku melangkah masuk, mendekati Alfred yang hanya berdiri mematung tanpa melepaskan tatapannya kepadaku.
"Al....." panggilku kembali.
Alfred tersadar dari keterkejutannya.
"Sayang apakah ingin kamu? atau hanya sekedar halusinasi? atau bahkan aku sedang bermimpi?" gumam Alfred masih belum percaya dengan kenyataan yang ada dihadapannya.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala.
Tanpa berpikir panjang Alfred menarik lenganku, membawa kedalam pelukannya.
Alfred menguraikan sedikit pelukan itu tanpa melepaskan tangannya.
"Sayang bagaimana kamu bisa di sini?" bisik Alfred sembari menatapku begitu intens. "Aku sangat merindukan kalian," bisik Alfred kembali sehingga kami kembali berpelukan.
Alfred begitu erat memelukku seakan menumpahkan rasa rindu yang tertahan. Sedangkan aku terdiam dengan tangan mengepal. Merasakan pelukan itu begitu nyaman sehingga tanpa sadar kedua tanganku terangkat dan akhirnya membalas pelukan itu.
Alfred memejamkan mata mendapatkan kedua tanganku melingkar di punggungnya.
Aku menarik nafas.
"Kenapa kamu merahasiakan masalah ini?" lirihku masih dalam pelukan Alfred.
Bukannya menjawab Alfred malah semakin mendekap tubuhku sangat erat dan memberi usapan lembut di punggungku.
"Hmmm aku sulit bernafas," lirihku sehingga membuat Alfred menguraikan. pelukan itu.
Kedua telapak tangan Alfred memegang wajahku sembari merapikan helaian rambut yang menghalangi wajahku.
"Maaf sayang aku hanya tidak ingin menambah beban pikiranmu dengan kondisimu yang seperti ini. Bagaimana kabar perkembangan kedua anak kita hmmm serta Leon?" tanya Alfred dengan wajah sendu.
Aku menelan ludah karena untuk pertama kalinya seorang Alfred menanyai kabar Leon.
"Mereka semakin aktif," hanya itu yang bisa aku jawab.
Dengan posisi seperti ini membuatku sulit untuk bernafas. Bahkan mungkin saja wajahku sudah bersemu merah. Apa lagi tatapan Alfred tak teralihkan sehingga membuat pandanganku ke bawah.
Melihat ketidaknyamanan dariku membuat Alfred menuntut diriku menduduki kursi. Kami duduk saling berdampingan.
__ADS_1
Diam-diam aku memperhatikan penampilan Alfred. Alfred mengenakan baju tahanan, tubuh sedikit kurus, rambut acak-acakan memanjang, bulu-bulu halus menghiasi wajah tampannya. Hatiku pilu melihat hal itu.
"Ada apa?" tanya Alfred menyadari jika aku memperhatikannya. Aku mengigit bibir bawahku karena kaget.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Alfred menyunggingkan senyuman sebelum menjawab pertanyaanku.
"Tidak, aku tidak baik-baik saja karena harus terpisah dari kalian," sahut Alfred dengan tatapan sendu.
Mendengar itu membuat aku terpaku menatap Alfred. Dari raut wajah serta tatapan matanya aku bisa melihat kesungguhan Alfred.
"Anak-anak apa kamu titip sama Mama?" tanya Alfred.
"Tidak mereka aku bawa. Kak Gaby juga menemani kami," sahutku.
Alfred menyunggingkan senyuman karena ada kebahagiaan yang dia rasakan.
"Kalian tinggal dimana?"
"Dea membawa kami di kediaman yang pernah aku tinggalkan,"
Hmmm
Alfred merubah posisi duduknya, lalu meraih telapak tanganku.
"Sebenarnya apa yang terjadi? mereka tidak berkenan menceritakan masalah yang kamu hadapi, itu saja karena aku dengan tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Papa sama Mama," ucapku.
"Ceritanya panjang, intinya aku di tuntukpenyeleweng keuangan rumah sakit pusat serta menyelundup obat-obatan yang sudah kadaluwarsa lewat 1 tahun. Karena tidak mendapatkan bukti untuk membela diri maka akhirnya aku ditahan berjalan 3 bulan," terang Alfred.
Mendengar cerita Alfred membuatku terdiam dan bingung harus berbuat apa.
"Kenapa bisa seperti itu, menurutku pasti ada permainan orang dalam. Jika tidak begitu mana mungkin bisa terjadi masalah besar seperti ini," ucapku.
"Aku sependapat denganmu, selama ini aku anggap semuanya baik-baik saja," ungkap Alfred sembari menghembuskan nafas panjang.
"Hmmm apa kamu memiliki masalah dengan orang lain? maksudku seperti saingan-saingan, biasa dalam dunia bisnis sering kali terjadi masalah seperti itu," aku ingin tau akar dari permasalahan ini.
"Selama ini aku tidak ada masalah dengan para pesaing, tetapi kadang kita menganggap rekan bisnis itu tidak memiliki niat jahat," ujar Alfred dengan pandangan kosong ke depan.
"Apa aku boleh menggantikan dirimu untuk sementara? maksudku....."
"Apa kamu yakin? sayang aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu," Alfred langsung memotong ucapanku karena dia paham dengan maksud perkataanku.
"Jangan khawatir, aku akan berusaha mencari bukti." Ucapku dengan yakin. Tanganku terdorong untuk mengusap punggung tangan Alfred. "Agar kamu segera bebas dan kembali memperbaiki keadaan perusahaan, mungkin tidak mudah untuk mencari bukti tetapi percayalah tidak ada yang mustahil bagi-Nya," timpalku dengan penuh keyakinan.
Mendengar hal itu membuat Alfred langsung membawa tubuhku kedalam pelukannya.
"Aku hanya takut terjadi sesuatu kepadamu, aku takut mereka atau penjilat itu melukaimu. Sayang aku tidak setuju, biarkan Andre dengan Frans yang menangani masalah itu," lirih Alfred tidak sependapat dengan usulanku.
__ADS_1
Aku menarik nafas panjang.
"Percayalah semuanya akan baik-baik saja. Kak Gaby akan membantu," hanya itu yang bisa kujawab sembari mengusap punggung Alfred.
"Waktu jenguk sudah selesai," tiba-tiba suara petugas membuat kami terdiam, lalu dengan perlahan Alfred menguraikan pelukannya.
Alfred menatapku dengan mata memerah, seperti menahan sesuatu. Aku juga tidak melepaskan tatapanku.
"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Jika ada waktu aku akan membawa anak-anak mengunjungimu," ucapku berusaha tersenyum.
Alfred langsung meneteskan air mata, sejak tadi dia berusaha menahan itu. Sungguh dia terharu mendengar semua yang aku katakan.
Kedua tanganku terangkat ke atas, menyeka air mata itu menggunakan Ibu jari. Dengan segera Alfred memegang kedua tanganku lalu meletakannya di wajahnya sembari menciumi.
"Terima kasih sayang," gumam Alfred dengan dada sesak.
"Ya Tuhan apakah aku sedang bermimpi? jika ini hanya sebuah mimpi, maka aku tidak akan terbangun untuk selama-lamanya," batin Alfred tanpa melepaskan tatapannya.
Di lubuk hatiku terdalam sangat sakit melihat wajah sedih Alfred.
"Hmmm apa kamu ingin melihat kartu memory card yang tidak sengaja terselip waktu itu? mungkin kamu tidak mengingatnya. Aku menyimpannya di laci meja kerja, waktu itu ingin memeriksanya tetapi tidak sempat karena pada saat itu polisi membawaku," ujar Alfred.
Mataku membulat, hanya itu bukti kuat untuk membuktikan siapa dalang pengkhianat dari permasalahan ini.
"Kenapa ceroboh seperti itu?"
"Maaf tetapi itu aman, tidak ada yang berani masuk keruangan kecuali Andre," ujar Alfred sedangkan perasaanku sudah tidak enak, seperti akan ada sesuatu yang terjadi.
"Waktu sudah habis," sekali lagi petugas mengingatkan kami.
Kami bangkit secara bersamaan. Alfred menggenggam tanganku seakan tidak ingin melepaskannya.
"Sayang titip anak-anak, dan satu lagi aku tidak mengizinkan kamu mengantikan posisiku, bukan karena kamu tak berhak tetapi aku tidak ingin sesuatu terjadi kepada kalian," ingatan Alfred. "Salam untuk anak-anak," ucap Alfred sembari meletakan kedua tanganku di dadanya.
Aku mengangguk, lidahku keluh untuk mengeluarkan kata.
Cup
Alfred sekilas mengecup bwbirku sehingga me. buat jantungku ingin meledak, apa lagi dilihat oleh seorang petugas.
Alfred membawaku keluar dari ruang khusus tamu. Dengan perlahan dia melepaskan tanganku seiringan melangkah. Aku terdiam tanpa melepaskan pandanganku. Alfred menyunggingkan senyuman sebelum menghilang dibalik dinding, tanpa sadar aku membalas senyuman itu.
"Tenanglah semua akan baik-baik saja," aku membatin.
Sesaat aku menghela nafas panjang, lalu segera melangkah pulang, tepatnya akan segera meluncur ke rumah sakit.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author semakin semangat lagi💪
__ADS_1