
Alasan Menutupi
Di saat kehilangan Gabriella tentu saja membuat keluarga besar Januar dirundung kesedihan. Entah kenapa orang-orang yang selalu mengikuti Gabriella kemana-mana, yang tak diketahui pada saat kejadian itu mereka seakan menghilang juga.
Seminggu dari kejadian itu baru ada kabar. Dengan cara apapun mereka mencari tau dimana hilangnya Gabriella. Tetapi tidak membuahkan hasil sama sekali karena semua seolah memang di rencanakan sejak awal.
Mendengar kehilangan Gabriella di pantai membuat Mama histeris sampai mendapat perawatan intensif.
Bulan berlalu tetapi tidak membuahkan hasil, bahkan kabar Gabriella seakan ditelan bumi. Keluarga Januar orang yang berkuasa tetapi seakan untuk hal satu ini sangat sulit bahkan secuil titik terang tidak ada didapatkan.
6 bulan berlalu kehilangan Gabriella. Tiba-tiba ada seseorang yang mengabarkan Gabriella berada di negara x. Dengan sangat bahagia keluarga Januar terbang ke negara tersebut untuk menjemput Gabriella.
Dengan bahagia Papa sama Mama memeluk Gabriella. Merekapun membawanya pulang ke tanah air.
1 bulan berlangsung tetapi ada yang aneh karena Gabriella seakan orang yang baru datang di Mansion. Bahkan dia tidak cukup mengenali kerabat atau sahabat dari kedua orang tuanya.
Merasa ada yang aneh, Moses cepat bertindak. Diam-diam memantau Gabriella. Seiring berjalannya waktu terjawab sudah jika wanita itu bukanlah Gabriella putri dari Januar yang aslinya tetapi itu adalah wanita lain yang sengaja mengubah wajahnya persis seperti Gabriella, hanya bertujuan ingin menjadi bagian dari keluarga Januar.
Tidak berselang lama kembali lagi kejadian seperti itu. Awalnya mereka tertipu bahkan kejadian kedua bisa bertahan selama 3 bulan karena penyamarannya bermain cantik.
Penyamaran kedua bertujuan ingin mengetahui kunci rahasia keberhasilan perusahaan JANUAR GROUP. Sebut saja penyamaran itu dari persaingan bisnis. Tetapi karena Moses semua itu kembali terbongkar. Bahkan kejadian seperti ini membuat Mama kembali mendapat perawatan. Syok tentu saja.
Dengan perundingan dan pada akhirnya keluarga memutuskan menutupi jati diri Gabriella di khayalak publik. Agar tidak ada lagi yang mengaku menjadi Gabriella. Mereka menutupi begitu bersih dan tidak akan mudah diketahui.
°°°°°°
"Itulah alasannya," ujar Papa sembari mengusap wajahnya.
"Pantas saja aku tidak tau," keluh Alfred dalam hati.
"Apa orang-orang dalang dari balik semua itu sudah ditangkap? jika belum biar aku yang membereskannya," ujar Alfred.
"Kau jangan ikut campur. Kau bukan siapa-siapa," tegas Moses sembari menatap sinis kepada Alfred.
Alfred menghela nafas mendengar kemarahan dari Adik iparnya, dan dia mengerti akan kemurkaan Moses.
"Sudah Nak, tersangka sudah berada dimana seharusnya," sahut Papa.
Seketika keadaan kembali hening.
"Tuan, Nyonya atas nama Alfred saya minta maaf. Saya adalah Tante dari Alfred, Adik dari Bintang Hugo," akhirnya Tante Meysi mendapat kesempatan untuk berbicara. "Dari awal kami memang tidak tau apa yang dilakukan Alfred, sampai dia menikahpun kami baru tau beberapa bulan ini. Memang semenjak Daddy dan Bernat meninggal hubungan kami tidak seperti dahulu kala, Alfred selalu menjaga jarak. Maaf setelah kami tau tujuan Alfred menikahi Isabella kami tidak bisa berbuat apa-apa karena dia mengancam akan membuat Isabella semakin menderita," ungkap Tante Meysi dengan wajah tertunduk. "Sekali lagi saya minta maaf," imbuhnya dengan raut wajah sendu.
"Apa? jadi sebenarnya kamu putra dari Bintang Hugo?" ucap Mama sedikit kaget.
Alfred mengangkat kepala lalu menatap Mama. Mama menatap dengan tatapan sendu, tatapan penuh kecewa dan terluka.
Papa mengusap wajah lelah dengan hati yang kecewa, terluka melihat diriku terbaring lemah tak berdaya.
__ADS_1
"Dulu sewaktu kalian masih kecil sampai remaja hubungan kami cukup dekat. Setiap ada acara lelang selalu menyempatkan diri untuk mengobrol. Papa masih ingat jelas dimana Tuan Hugo mengungkapkan keinginan menjodohkan anak-anak karena kebetulan Tuan Hugo memiliki dua putra sedangkan Papa dua putri kembar," cerita Papa dengan dada sesak. "Tetapi setelah kalian dewasa hubungan kami mulai ada jarak dan jarang bertemu, dan bahkan kehilangan kontak masing-masing. Sewaktu kabar duka itu Papa tidak bisa menghadiri karena masih dirundung duka atas berita putri kami Gabriella. Dunia memang sempit, kalian memang ditakdirkan menikah tetapi diluar dugaan," lirih Papa sembari memejamkan mata.
Demi apapun Alfred sangat kaget dan tidak pernah menyangka. Dia sangat yakin Daddy di alam sana kecewa memiliki anak seperti dia.
°°°°°°
1 bulan berlalu, pemulihanku semakin membaik. Kini aku sudah bisa menggendong kedua bayi mungilku.
Klek
Pintu kamar rawat terbuka, rupanya Alfred yang muncul. Melihat kedatangan Alfred membuatku merubah sikap. Aku mengabaikannya ya begitulah seterusnya seakan aku tidak mengenal.
"Anak-anak Daddy belum bobo?" ucap Alfred sembari mengisap wajah mereka bergantian.
Aku terdiam tanpa me jawab bahkan engan menatap Alfred, pura-pura sibuk dengan melipat pakaian si kembar.
"Sayang kamu sudah makan?" tanya Alfred lembut kepadaku sehingga membuat tanganku terhenti.
"Nanti masih kenyang," sahutku berusaha tenang.
"Ini sudah waktunya makan siang. Apa makananmu belum disiapkan?"
"Sepertinya masih di pantry" sahutku singkat.
"Baiklah biar aku siapkan dulu," Alfred mengusap pucuk kepalaku lalu beranjak bangkit menuju pantry.
Tidak lama Alfred kembali dengan tangan membawa napan. Itu pasti bubur makananku.
"Biar aku suap sendiri," ucapku tidak ingin disuapi.
Alfred mengalah karena dia paham dengan situasi atau keadaan ini.
"Sayang apa sedikitpun kamu tidak mengingat?" ujar Alfred dengan lembut sembari menyelipkan helaian rambut di telingaku.
Dengan segera aku mengerikan kepalaku, menolak dengan apa yang dilakukan Alfred.
"Maaf aku tidak terbiasa. Maaf karena aku sama sekali tidak ingat, jujur aku sedikit canggung bahkan tidak merasa nyaman berduaan seperti ini," ucapku dengan jujur, biarlah Alfred tau.
Dada Alfred sesak mendengar pengakuanku.
"Maaf jika kehadiranku membuat kamu tidak nyaman," ujar Alfred berusaha tersenyum. "Hmm mereka sudah tidur, biar aku letakan di box," tanpa mendengar jawabanku Alfred langsung menggendong mereka silih berganti.
Alfred kecup keduanya dengan penuh kasih sayang.
"Mereka sangat mirip denganku," gumam Alfred masih berdiri menatap si kembar yang sudah terbaring di box.
"Tentu saja karena mereka adalah darah dagingmu," aku membatin. Aku tak pernah menyangka jika Alfred akan mengakui mereka bahkan menerima kehadiran mereka. Apa karena merasa bersalah atau lain sebagainya? itulah yang ada dalam benakku.
__ADS_1
Alfred mendekatiku kembali tetapi tidak sedekat seperti biasanya, mungkin karena ucapanku tadi.
"Sayang apa kamu setuju dengan nama yang kuberikan?" tanya Alfred karena belum tau siapa sebenarnya nama kedua bayi mereka.
"Hmm itu tak masalah karena kamu adalah Daddy mereka," sahutku, bagaimanapun menghargai pemberian Alfred.
Mendengar itu membuat Alfred merasa lega.
Klek
Pintu kembali terbuka. Ternyata rombongan kedua orang tuaku.
"Beraninya kau menampakan batang hidungmu? apa peringstanku belum cukup?" cecar Moses dengan murka. "Pa, Ma apa kalian sengaja membiarkan si brengse* ini?" Moses yakin kedua orang tuanya memberi kebebasan untuk Alfred selama dia kembali ke Indonesia.
"Tenang Nak, dia adalah Daddy dari keponakan kamu," ujar Papa dengan tegas. Walaupun rasa kecewa masih menyelimuti tetapi bagaimanapun pria paruh baya itu paham dengan keadaan Alfred.
"Kak, besok Kakak sudah diperbolehkan pulang. Untuk melanjutkan pengobatan akan di lakukan di sana. Aku sudah mencari dokter yang profesional agar ingatan Kakak kembali pulih," ujar Moses.
Deg
Mendengar penuturan Moses membuat Alfred merasa ketakutan, ya ketakutan terbesar yaitu dipisahkan dari istri dan kedua buah hatinya.
"Baiklah aku juga merasa tidak nyaman berada di sini, aku ingin sendiri. Maaf aku merasa asing di sekitar kalian, bahkan sedikitpun tidak mengingat," ucapku untuk meyakinkan mereka.
"Iya sayang, Mama berharap ingatanmu kembali lagi," lirih Mama dengan tatapan sendu.
"Aku tidak hilang ingatan Mama, aku hanya ingin tidak mengingat betapa menderitanya aku selama ini," aku membatin.
"Iya Ma," ucapku dengan canggung.
"Nak, Papa ingin bertanya. Apa kamu ingin tinggal dengan suamimu atau dengan Papa sama Mama?" tanya Papa memberi pilihan.
Aku bingung sesaat.
"Aku memang tidak ingat apapun dan menjadi orang asing. Aku akan memilih tinggal dengan Papa sama Mama karena perasaan nyaman ketika didekat kalian," ungkapku seakan menolak dengan tinggal bersama Alfred.
Deg
Kenyataan pahit ini akhirnya diterima oleh Alfred.
"Bagus Kak karena dia bukan suami yang pantas. Camkan peringatanku, aku tidak main-main," ujar Moses sama sekali tidak bersahabat. Moses sudah terlalu kecewa atas perbuatan Alfred.
Papa sama Mama menghela nafas panjang.
Alfred seketika diam dengan raut wajah sendu dengan tatapan kosong.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪