
Di Mansion
Tepatnya di meja makan
"Sayang apa ada masalah? kenapa setelah kembali dari London, Eca berbeda? kebanyakan murung dan hanya menjawab seperlunya saja. Bukankah anak itu paling heboh?" tanya Mommy Isabella kepada Leon.
"Sepertinya tidak ada apa-apa Mom," sahut Leon karena memang setahu dia tidak ada masalah.
Mommy Isabella mengigit pipi dalamnya seraya berpikir.
Selepas kepergian Leon, kini Mommy Isabella bertanya kepada Daddy Alfred.
"Sayang apa Daddy juga merasa ada yang aneh?" tanya Mommy Isabella.
Daddy Alfred berpikir sejenak. "Tidak Mom. Daddy tidak merasa ada yang aneh," sahut Daddy Alfred seperti hasil terawangannya tentang Rebecca.
Huh....
"Selamat pagi Dad, Mom," sapaan itu membuat kedua paruh baya menoleh ke samping.
"Pagi sayang," balas Mommy Isabella seraya tersenyum.
"Pagi anak manja," goda Alfred seperti biasanya.
"Daddy....." Protes Rebecca dengan bibir mengerucut. "Eca bukan anak kecil lagi, mulai sekarang stop panggilkan Eca anak manja," ceramahnya.
Daddy Alfred maupun Mommy Isabella terkekeh.
"Sini sayang," ucap Mommy Isabella seraya bangkit dari kursi duduknya, ia berpindah di kursi sebelahnya sehingga kini Rebecca duduk di tengah-tengah mereka.
"Ada apa nih Eca dikawal seperti ini?" cicit Rebecca seraya bergantian menoleh.
Mommy Isabella membelai rambut halus serta panjang Rebecca dengan penuh kasih sayang.
"Tidak terasa kamu sudah dewasa sayang. Kamu tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik," puji serta kagum Mommy Isabella.
Rebecca terharu mendengarkan pujian itu, baginya sangat mendalami. Kedua orang tua angkatnya adalah orang yang sangat menyayanginya seperti anak kandung sendiri. Bahkan dirinya yang paling diperhatikan, mungkin karena dia anak paling bontot serta paling heboh di Mansion. Apa lagi Rebecca menempuh pendidikan di kota itu, beda halnya dengan Keenan maupun Kiran. Serta Leon sibuk dengan pekerjaannya yang berprofesi dokter.
"Sayang bagaimana kunjungan kalian kemarin? apa kamu sudah puas karena akhirnya ketemu Keenan?" tanya Mommy Isabella yang hampir berhasil membuat Rebecca menyemburkan air dalam mulutnya.
"Ya begitulah Mom," hanya jawaban singkat itu yang dapat keluar dari mulut Rebecca seraya tersenyum sumbing.
"Seharusnya Keenan hari ini tiba," ujar Daddy Alfred.
Yah Keenan sudah menyelesaikan jurusan bisnis Internasional, dan siap mengantikan kepemimpinan perusahaan HUGO GROUP.
__ADS_1
"Mungkin tiba malam sayang," ucap Mommy Isabella.
Mendengar nama Keenan disebutkan membuat dada Rebecca sesak. Tetapi dengan berusaha ia menyembunyikannya.
"Apa Daddy sama Mommy belum tau jika Kak Ken sudah punya kekasih yah? atau memang mengetahuinya?" batin Rebecca.
"Oya, bukankah bulan depan jadwal magang kamu sayang?" tanya Mommy Isabella seakan mengingat hal itu.
"Iya Mom, dan Eca bingung ingin magang di perusahaan mana. Satu perusahaan masuk 3 orang," terang Rebecca.
"Kenapa harus bingung, kamu dan yang lainnya bisa mengajukan di perusaahan milik kita. Bukan begitu sayang?" ujar Daddy Alfred meminta persetujuan kepada istri tercintanya.
Apa yang di usulkan Daddy Alfred adalah benar. Dan pada awalnya tujuan utama Rebecca adalah perusahaan milik keluarganya. Apa lagi bulan ini Keenan yang akan memimpin.
Tetapi semua rencana itu tinggal kenangan semata, ketika ia mendapati fakta yang sebenarnya.
"Sepertinya....."
"Sayang pokoknya kamu magang di perusahaan milik keluarga. Mommy tidak ingin kamu kelelahan bila magang ditempat lain. Buat apa kita memiliki perusahaan jika bukan kalian yang mengelolanya," potong Mommy Isabella menekankan.
"Ya Tuhan, bagaimana bisa aku satu kantor dengan Kak Ken?" yang ada bukan ilmu yang akan aku dapatkan, melainkan hati ini semakin sakit," keluh Rebecca dalam hati. Ia ingin sekali menolak tetapi kedua orang tuannya lebih kuat mendorong dirinya, bisa dikatakan memaksa.
"Waktu kamu magang sudah Kakakmu yang memimpin, bukankah itu sangat menyenangkan? bukankah selama ini kamu selalu merindukan Kakak tampanmu itu? ini kesempatanmu terus bersamanya," ucap Mommy Isabella dengan polosnya. Sungguh tidak tau apa isi hati Rebecca untuk putra mereka.
"Mommy benar Nak. Tetapi ingat jika sudah di kantor tidak ada yang memandang bulu, semuanya sama. Kamu harus menaati peraturan perusahaan, anggap saja kamu adalah karyawan, bukan siapa-siapa di kantor karena ini adalah latihan untuk menguji kinerja," jelas Daddy Alfred.
Rebecca adalah mahasiswi dari Universitas terbaik di negara itu. Bakatnya sama dengan Keenan, sama-sama mengambil jurusan manajemen bisnis. Karena kemauannya sendiri Rebecca memutuskan kuliah dalam negeri.
°°°°°°
Kedatangan Keenan setelah 5 tahun
Apa yang diprediksi Mommy Isabella benar. Keenan tiba sekitar pukul 1 malam. Sehingga orang rumah sudah bergelut dengan guling. Sebut saja salah satunya Rebecca.
Sedangkan kedua paruh baya memang sengaja menunggui kedatangan Keenan. Untuk mengusir rasa kantuk mereka menyalakan televisi di ruang keluarga, ditemani secangkir teh hangat.
Tiba-tiba kepala pelayan mengabari jika Keenan sudah tiba.
Tidak menunggu lama derap langkah pria cool itu terdengar, hal itu membuat Mommy Isabella tak sabar bertemu dengan putra tampannya.
Langkah Keenan terhenti sejenak, mendapati dua sosok yang sedang rela menunggu kedatangannya.
"Selamat malam Dad, Mom?" sapa Keenan.
"Sayang...." ucap Mommy langsung memeluk Keenan dengan erat sekali. "Syukurlah kamu tiba dengan keadaan selamat," imbuhnya.
__ADS_1
"Apa kabar Mommy?"
"Sangat baik sayang, apa lagi dengan kehadiranmu saat ini. Hmm putra Mommy semakin tampan saja," puji Mommy Isabella.
Hmm
"Hentikan sayang! Dia bukan anak kecil lagi yang harus Mommy peluk-peluk bahkan cium," protes Daddy Alfred seraya menarik tangan Mommy Isabella.
"Sayang bagi Mommy dia masih anak kecil hmm...." goda Mommy Isabella nyinyir kuda.
Keenan menggelengkan kepala melihat interaksi kedua orang tuanya yang selalu menampilkan keromantisan.
"Bagaimana kabarmu son?"
"Seperti yang Daddy lihat sekarang."
Daddy Alfred manggut-manggut.
"Sayang sebaiknya kamu bersihkan dirimu. Jika belum makan biar Mommy panaskan makanan dulu," ucap Mommy Isabella kepada Keenan.
"Apakah itu Mommy yang masakin?"
"Iya sayang, bahkan itu makanan kesukaanmu," sahutnya.
"Baiklah. Aku sudah kangen dengan masakan Mommy. Tidak perlu dipanasin Mom nanti rasanya bakalan beda lagi. Aku akan membersihkan diri dulu," ujar Keenan.
"Apa perlu antar ke kamar?"
"Tidak perlu Mom. Aku akan makan di meja makan. Hmm sebaiknya Mommy sama Daddy tidur saja, ini sudah tengah malam," pungkas Keenan.
"Oya apa perlu Mommy bangunkan Eca biar ada yang menemanimu makan?"
Pertanyaan Mommy Isabella membuat Keenan terdiam sesaat.
"Tidak perlu Mom. Biarkan dia tidur, ini sudah tengah malam," sahut Keenan seperti memberi alasan yang tidak mencurigakan.
"Baiklah sayang," sahut Mommy Isabella seraya menguap.
**
Keenan berjalan menuju kamar pribadinya. Di Mansion semuanya memiliki kamar pribadi masing-masing.
Sesaat langkah Keenan terhenti tepat dimana pintu kamar milik Rebecca. Tatapannya tepat pada daun pintu yang tertutup rapat.
Tanpa berkata apapun ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar miliknya yang cukup jauh dari pada kamar ketiga saudaranya.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪