MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 21. Sakit Tertahan


__ADS_3

"Tuan orang suruhan kita memberi informasi jika Tuan muda Moses ingin mengajukan kerja sama dengan HUGO GROUP," ujar Andre sebelum membacakan agenda Alfred pagi ini.


Mendengar informasi itu membuat Alfred menghentikan jari-jarinya di layar ponsel.


"Apa gerangan Adik iparku ingin mengajukan kerja sama?" ujar Alfred sembari memutar-mutar ponselnya.


"Bukankah 20 tahun silam perusahaan JANUAR GROUP dan HUGO GROUP pernah menjalin kerja sama?" sahut Andre karena ia tau dari pembukuan atau berkas perusahaan yang tersimpan rapi.


"Sepertinya ada yang tidak beres. Aku tidak ingin menyetujuinya, bisa jadi ada rencana lain. Hmm lebih waspada lagi untuk menutupi semuanya, apa lagi tentang rumah tangga aku dan Isabella. Moses adalah pebisnis yang cerdas," ujar Alfred tidak meremehkan masalah ini.


"Baik Tuan. Tuan jika saya boleh berbicara, saya menilai Nona orang baik," Andre memberanikan diri mengeluarkan apa yang selama ini dia lihat dariku.


Tatapan Alfred membuat Andre langsung menunduk.


"Jangan katakan kau juga menyukai wanita keji itu Andre? apa kau sudah termakan dengan wajah polos dan sifat lugunya? itu hanya cara dia membuat orang-orang terkecoh," cecar Alfred dengan suara meninggi, sampai-sampai urat-urat di lehernya menonjol. "Sekali lagi kau mengatakan itu, angkat kali sekarang juga," ralatnya kembali yang berhasil membuat Andre tak berkutik.


"Saya minta maaf Tuan," ucap Andre dengan nada pelan.


Sepeninggalan Andre dari ruangannya Alfred bangkit berdiri menghadap kaca besar di ruangan itu. Memandangi kepadatan gedung-gedung di bawah sana.


"Sepertinya Moses mencurigai ku, aku tidak boleh meremehkannya," gumam Alfred.


Tidak lama Alfred kembali ke kursi kebesaran menyandarkan tubuh lelahnya. Selama satu minggu dari kepulangan Opa dan Oma, Alfred keluar kota. Pagi tadi baru kembali dan Alfred langsung ke rumah sakit.


°°°°°°


Di kantin


Jam istirahat tiba. Aku terpaksa ke kantin karena kekeh dipaksa oleh perawat Yuen untuk menemaninya.


Aku tidak makan hanya minum jus saja sedangkan Yuen jangan ditanya lagi, makanya tubuhnya penuh gumpalan lemak.


Di tengah obrolan kami tiba-tiba dokter Frans menghampiri.


"Hmm boleh bergabung?" dokter Frans basa-basi.


"Tidak perlu izin dokter," sahut Yuen dengan mulut penuhnya.


Sedangkan aku hanya membalas dengan senyuman saja.


"Dokter Abel kenapa tidak makan?" tanya dokter Frans yang berhasil membuatku tersentak.


"Hmm belum lapar dok," sahutku.


"Walaupun belum lapar harus dipaksakan, ini sudah waktunya mengisi perut kosong. Jika sakit, ayo siapa yang mengobati pasiennya?" ujar dokter Frans dengan kelembutan. Aku tak bergeming bahkan aku terpana dengan perhatian dokter Frans. Seandainya saja aku memiliki suami seperti dokter Frans sungguh bahagianya aku di dunia ini.


"Iya dokter Abel apa yang dikatakan dokter Frans. Lihat aku dong ini saja belum cukup haha.... "

__ADS_1


Aku dan dokter Frans ikut tertawa dengan menggelengkan kepala melihat kelakuan Yuen.


"Itu sudah diluar batas," ucapku meledek Yuen.


Hahaha


Tanpa sadar aku tertawa lepas, melupakan sejenak sandiwara kehidupan yang aku jalani sekarang ini. Si sinilah tempat untukku bisa tertawa dan tersenyum, sedangkan untuk air mata rumah adalah saksi bisunya.


"Oya aku ingin mengabari kalau lusa para dokter dan perawat akan di utus untuk penyuluhan di daerah xx. Akan di ikut serta dengan jumlah dokter 30 orang dan perawat 20 orang, ini adalah kegiatan yang dilakukan dua kali dalam satu tahun," terang dokter Frans.


"Asik," girang Yuen dengan wajah berbinar, menampilkan dia merasa senang. "Semoga aku terpilih," imbuhnya kembali sangat berharap.


"Sepertinya kamu sangat senang?" tanyaku seakan tau dari raut wajah Yuen.


"Tentu dok, anggap saja sekalian liburan. Seru loh, moga saja aku terpilih lagi," kata Yuen.


"Lihat nanti akan tertera nama siapa saja yang dipilih," kata dokter Frans.


°°°°°°


Tak disangka aku salah satu terpilih. Kini aku sudah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit karena semua yang ikut serta akan berkumpul di rumah sakit.


"Kenapa ini kumat lagi?" keluhku dengan rasa nyeri dibawah perutku ini. Dengan kaki gontai aku berusaha melangkah menuju gerbang menunggu mobil jemputan pak Seun.


Ternyata pak Seun sudah menunggu, tidak ingin membuang waktu aku segera naik. Dalam perjalanan rasa nyeri itu tetap berlanjut, ya aku tidak pernah memeriksakan diri karena menganggap ini hanya hal kecil.


Ternyata rombongan yang di ikut sertakan sudah berkumpul, tak disangka akulah yang terakhir. Lihatlah mimik-mimik judes para dokter dan perawat jauh hawa melihatku. Mereka bersungut-sungut dengan kehadiranku yang menyebabkan mereka menunggu. Sungguh aku merasa tidak nyaman dan enak hati.


"Dok sini," panggil Yuen melambaikan tangan kepadaku, seketika aku merasa lega karena Yuen yang mau berteman. Entah apa salahku sehingga mereka kurang menerima kehadiranku di rumah sakit ini, tetapi tidak berlaku dengan kaum adam, mereka bersikap baik kepadaku.


Aku berjalan menghampiri Yuen.


"Maaf Nona kami mengira Nona tidak bisa ikut," perkataan Andre membuat aku terdiam, aku tidak tau jika Andre juga berada di sini.


"Nona!" Bisik-bisik sejumlah orang mendengar panggilan Andre kepadaku.


"Maaf Tuan tadi sedikit ada masalah diperjalanan," kataku dengan jujur. "Saya minta maaf karena membuat para dokter dan perawat menunggu," imbuhku dengan tulus.


Andre memandangku dengan kening mengerut, pasti dia merasa canggung dengan panggilanku itu.


Para dokter dan perawat pria memandangku dengan tersenyum, mereka terpesona dengan penampilanku pagi ini.


"Tidak ada alasan untuk menepati waktu yang sudah ditetapkan, akibat satu orang waktu terbuang cuma-cuma," suara bariton yang tidak ingin aku dengar.


Rupanya Alfred juga berada di sini. Dia tidak suka dengan tatapan takjub para pria memandangiku.


"Maaf Tuan," lirihku dengan wajah menunduk.

__ADS_1


"Mampus!"


"Rasain!"


Begitulah yang dapat aku dengar dari kicauan dari beberapa orang. Aku hanya bisa terdiam.


"Kasian Nona diperlakukan seperti ini. Andai saja kalian tau status Nona maka bersiap-siaplah menciut. Kalian pasti kenal semua bukan dengan JANUAR GROUP?" Andre membatin.


"Dokter Abel tidak sengaja Tuan, bukankah dokter sudah menjelaskan?" dokter Frans ikut berkomentar.


Tatapan Alfred menghujam kepada dokter Frans dengan tangan terkepal erat. Sedangkan dokter Frans biasa-biasa saja.


"Semuanya bersiap-siap. Satu bus untuk khusus wanita dan satu bus lagi untuk khusus pria," ujar Andre.


Satu-persatu memasuki bus mencari tempat duduk masing-masing, sedangkan aku bersama Yuen menunggu untuk yang terakhir karena tidak ingin berlomba-lomba.


Sedangkan Alfred bersama Andre masih berdiri di tempat semula. Tiba-tiba rasa nyeri di bawah perutku kembali menyiksa. Aku ingin mengecek ke toilet.


Aku melangkah gontai mendekati Alfred dan Andre sesudah minta Yuen menunggu didalam bus.


"Tuan bisa minta waktu sebentar?" tanyaku takut-takut kepada mereka berdua.


Alfred maupun Andre menatapku tanpa berekspresi.


"Aku minta waktu ingin ke toilet sebentar," lirihku sembari menahan rasa sakit.


"Apa Nona sakit?" tanya Andre entah dia menyadari dari gerak-gerikku.


"Tidak, aku hanya ingin ke toilet. Tolong beri waktu sebentar saja," mohonku tanpa memberitahu yang sebenarnya.


"Selalu merepotkan," cecar Alfred dengan mimik wajah tak bersahabat.


"Baiklah jika tidak bisa, maaf selalu merepotkan," lirihku bermaksud menyindir ucapan Alfred. Aku melangkah menuju bus dengan wajah tertunduk dan perasaan kesal.


"Nona tunggu," Andre memanggilku sehingga membuatku tak melanjutkan langkah.


"Silahkan Nona akan kami tunggu," ujar Andre tanpa takut dengan tatapan Alfred.


"Terima kasih Andre, aku akan sebentar," sahutku dan langsung bergegas menuju toilet terdekat tanpa peduli dengan tatapan Alfred.




Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit dan komennya agar author semakin semangat💪

__ADS_1


__ADS_2