MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 36. Menghindar


__ADS_3

Tiba di rumah sakit Alfred langsung di tangani oleh dokter Frans sesuai permintaan Alfred sendiri. Hasil sampel darah akan keluar besok. Aku yakin Alfred mengalami malaria. Dengan berat hati dia terpaksa rawat inap sampai benar-benar pulih.


"Ternyata pria angkuh dan terkenal kuat bisa sakit juga," sindir dokter Frans sesuai menangani Alfred.


Alfred menatap tajam mendengar sindiran Andre.


"Kau kira tubuhku terbuat dari besi?" sinis Alfred. "Apa tidak ada obat biar langsung sembuh? aku sangat menderita," ujar Alfred dengan konyol. "Berapapun mahalnya harga obat itu akan kubayar," imbuhnya dengan lirih.


Hahaha....


Dokter Frans tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan konyol Alfred.


"Jika yang kamu katakan maka rumah sakit ini tidak akan banyak pasien, semua butuh proses. Ssst julukan CEO terkenal tetapi masalah sekecil bahkan seupil gini tidak paham," ejek dokter Frans.


"Diam!" Umpat Alfred dengan sinis.


Ini kesempatan bagi dokter Frans untuk meledek Alfred, karena pria itu sedang berbaring lemah.


"Permisi," suaraku di ambang pintu mengalihkan obrolan mereka.


"Silahkan dokter," ujar dokter Frans disertai senyuman mempesonanya, itu membuat rahang Alfred mengeras.


Aku masuk sembari di tanganku memegang mapan yang berisi bubur untuk Alfred. Alfred harus makan karena perutnya kosong akibat muntah.


"Baiklah Tuan saya permisi," ujar dokter Frans dengan hormat. "Mari dok," imbuhnya kepadaku. Aku menanggapi dengan anggukan karena tidak ingin Alfred murka jika banyak berbicara.


Hening itulah yang tergambar dalam ruangan itu. Aku merasa canggung. Alfred menempati kamar VVIP, itu membuatku semakin bertanya-tanya.


"Kamu harus makan biar bisa minum obat," kataku sembari meletakan napan di atas nakas yang terletak di samping brankar pembaringan Alfred.


Perkataanku tak di gubris oleh Alfred, bahkan Alfred membuang muka dan mengabaikan keberadaanku. Aku tersenyum kecut melihat hal itu. Aku anggap Alfred muak dengan kehadiranku, itulah yang ada di benakku.


Aku menghela nafas panjang. Lalu bangkit dari tempat duduk.


"Baiklah aku akan pergi. Maaf atas kehadiranku membuat suasana hatimu tidak nyaman," ucapku dengan tenang. Kulirik bubur di atas nakas. "Segeralah makan dan minum obat agar lekas sembuh, tenang saja bubur itu bukan aku yang memasaknya," sambungku memberitahukan karena aku tau Alfred tak akan sudi mencicipi olahan dari tanganku sendiri. Aku berusaha tetap tenang tetapi hatiku sangat miris.


Kedua kaki gontai ini berusaha untuk meninggalkan kamar rawat Alfred. Tanpa aku sadari Alfred memperhatikan punggungku sampai tak terlihat.


°°°°°°


Malam menjelang, aku baru saja usai mengontrol pasien yang aku tangani. Didalam ruangan aku melamun, sejak tadi perasaanku tertuju pada Alfred. Hatiku bertanya-tanya apakah dia sudah makan malam? aku yakin Serena akan menemani Alfred, itu membuat perasaanku perih. Cemburu? tentu saja aku merasakan hal itu.

__ADS_1


Di kamar rawat sejak tadi Alfred mencari-cari sesuatu yang tak kunjung datang. Alfred hanya ditemani Andre, bahkan sampai sekarang sosok Serena tak menampakan barang hidungnya.


"Tuan segeralah makan, makanan Tuan keburu dingin biar bisa minum obat," kata Andre berkali-kali membujuk Alfred untuk segera makan.


Alfred tak bergeming, dia mengabaikan bujukan Andre. Tatapannya selalu kearah pintu.


"Baiklah saya akan keluar sebentar mencari kopi," ujar Andre berbohong tetapi tujuannya ingin ke ruanganku.


Sama, Alfred masih tak bergeming dengan ucapan Andre. Andre kesal karena di acuhkan dan akhirnya meninggalkan Alfred dengan perasaan dengkul.


"Ada apa dengannya? biasanya hanya bisa marah-marah tetapi kali ini diam seribu bahasa, hmm apa dokter Frans salah kasi obat?" gumam Andre sepanjang lorong rumah sakit menuju ruanganku.


Andre menghentikan langkah melihat aku keluar dari ruangan.


"Andre," ujarku dengan kening mengernyit melihat kedatangan Andre.


"Selamat malam Nona," sapa Andre.


"Malam, ada apa?" tanyaku, padahal ingin sekali aku menanyakan kondisi Alfred.


"Nona punya waktu?"


"Aku akan kontrol pasien," sahutku dengan jujur.


Aku kaget mendengar penuturan Andre. Kulirik arloji di pergelangan tangan, sekarang menunjukan jarum jam ke angka 9.


"Aku tidak ada hak untuk membujuk Tuanmu Andre," lirihku dengan tatapan sendu.


"Tentu saja Nona berhak karena Nona adalah istri Tuan,"


"Cukup Andre, mulai sekarang jangan katakan hal konyol itu lagi," ucapku dengan nada meninggi, sungguh aku tersulut emosi setiap mendengar hubungan itu dari mulut Andre.


Andre menundukkan kepala mendengar bentakan pertama kali dari mulutku.


"Tuanmu sama sekali tidak mengharapkan kehadiranku untuk di sampingnya. Ada istri pertamanya, jadi Serena lah yang berhak, bukan aku," cicitku dengan nafas menggebu-gebu.


"Tapi Nona,"


"Cukup Andre. Jika Tuanmu tidak mau makan bahkan minum obat, biarkan saja. Toh itu keberuntungan bagiku, karena tanpa hal kedua itu nyawanya terancam. Jika itu terjadi bukankah sangat menguntungkan bagiku?" ancamku panjang lebar. Setelah mengatakan itu aku langsung berlalu begitu saja meninggalkan Andre yang bingung seribu bahasa melihat perubahan diriku.


Selepas kepergianku Andre melongok tak percaya sehingga membuat dirinya berkali-kali mengusap wajahnya.

__ADS_1


"Apa itu Nona? atau ada sesuatu yang merasuki dirinya?" gumam konyol Andre masih tak percaya.


Di lorong rumah sakit, aku mendudukkan diriku sejenak. Kabar mengenai Alfred membuat diriku tak tenang. Ingin sekali aku menemuinya tetapi keinginan itu tentu saja tak bisa di wujudkan.


Belum lagi kecemasanku menunggu hasil sampel darah Alfred. Bukan aku yang sakit tetapi aku begitu cemas. Apa ini yang namanya cinta sejati? tidak rela orang yang kita sayangi dan cintai menderita karena sakit? tetapi sayangnya cinta sejati itu tak terbalaskan. Untuk saat ini aku akan menghindar dan jaga jarak. Akupun merogoh kantong baju, meraih ponsel untuk menghubungi Dea hanya sekedar menanyakan Leon, apakah sudah belajar atau sudah tidur.


°°°°°°


Alfred masih bertahan dengan pendiriannya. Sejak tadi pandangannya selalu di pintu.


Klek


Handle pintu terdengar, seketika membuat hati Alfred lega. Dia mengharapkan seseorang yang sejak tadi diharapkan.


"Selamat malam Tuan," sapa Andre langsung merubah raut wajah Alfred.


Alfred langsung membuang muka dengan perasaan kecewa. Andre memicingkan mata di atas nakas, di sana bubur dalam mangkok serta obat yang sudah disiapkan masih utuh tak tersentuh.


"Apa Tuan sudah makan dan minum obat?" Andre pura-pura bertanya, padahal ia sudah tau.


"Apa matamu buta?" cecar Alfred dengan memunggungi Andre.


"Tadi saya menemui Nona untuk menemui Tuan," kata Andre. Mendengar perkataan Andre, seketika membuat Alfred membalikan badan mengarah ke Andre.


"Mana dia?" tanya Alfred tanpa sadar.


Andre memicingkan mata melihat antusias dari Alfred.


"Nona sedang sibuk menangani pasiennya sehingga tidak bisa menemui Tuan," terang Andre berbohong.


Mendengar itu ada kekecewaan yang Alfred rasakan.


"Lebih baik Tuan segera makan dan minum obat, karena Nona bilang jika Tuan tidak melakukan dua hal itu maka itu keberuntungan bagi Nona," Andre mulai memancing.


Mata Alfred menyipit.


"Jika Tuan abaikan makan dan minum obat berarti nyawa Tuan terancam, dengan penyakit Tuan yang cukup parah. Jika Tuan mati bukankah itu keberuntungan bagi Nona karena hidup Nona sudah bebas," pancing Andre kembali.


"Apa? dia mengatakan itu? dia menyumpahiku? brengse*," umpat Alfred dengan murka. Tanpa pikir panjang dia raih mangkok tersebut, tanpa menunggu lama bubur itu tak bersisa sedikitpun. Setelah itu langsung minum obat. Padahal mulutnya terasa pahit tetapi karena tersulut emosi rasa itu seakan manis.


Andre bersorak girang didalam hati. Ancamanku berhasil menggoyahkan kerasnya hati sang singa.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2