
Seusai membersihkan diri aku berdiam menyendiri di balkon kamar, memandangi kelap kelip lampu di halaman rumah.
Kriuk
Tiba-tiba perutku bernyanyi menandakan para cacing-cacing sedang lapar.
Ssst
Aku mendesis karena jujur saja lagi malas turun kebawah. Tetapi rasa lapar ini tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya aku beranjak keluar kamar. Dipertengahan tangga langkahku terhenti karena baru mengingat Leon, sungguh aku melupakan keberadaan anak kecil itu. Aku yakin Leon tak berada di rumah ini.
Langkahku bergegas menuruni tangga untuk menghubungi Andre karena Yuen mengatakan Andre yang membawa Leon. Aku ingin mencari tas yang tertinggal di mobil milik Alfred.
Di ruang keluarga langkahku terhenti oleh sosok Alfred yang menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dengan mata terpejam. Alfred hanya sendiri, tidak ada Serena di sana. Alfred tak menyadari keberadaanku di sana.
Aku mengumpulkan keberanian untuk menanyakan tas milikku.
"Maaf jika aku menganggu, aku hanya ingin bertanya keberadaan tasku yang tertinggal di mobil," ucapku sembari menatap Alfred.
Merasa terganggu Alfred membuka mata. Lalu menatapku dengan tatapan aneh bagiku.
"Aku hanya ingin mengambil tasku," ulangku kembali karena Alfred tak kunjung menjawab pertanyaanku.
Alfred menegangkan tubuhnya.
"Apa matamu sudah tidak dapat berfungsi? sehingga tidak melihat tas jelek di atas meja televisi?" sindir Alfred.
Benar saja ternyata tas kesayangan itu terletak di atas meja tetapi aku tak terima jika tas itu dibilang jelek karena itu adalah tas idola para kaum hawa termasuk diriku sangat jatuh cinta kepada tas itu.
Aku melangkah lalu menarik tas itu.
"Walaupun tas ini kamu anggap jelek tetapi tas ini menyimpan momen yang indah bahkan sangat berharga," sahutku sembari menghela nafas.
"Itu bukan urusanku dan untuk apa kau menjelaskan kepadaku hal yang tak penting itu," kesal Alfred.
"Memang tidak penting bagimu tetapi sangat penting bagiku karena itu tas pemberian kekasihku eh maksudku mantan kekasih karena saat ini statusku sudah menikah. Hmm itu kado valentine tahun kemarin," ucapku dengan santai sembari berlalu menuju dapur. Aku sengaja mengarang cerita palsu, entah untuk apa tujuanku itu.
Mendengar ocehanku membuat Alfred mengepalkan kedua tangannya bahkan rahangnya mengeras pertanda dia sedang murka atas perkataanku. Ada perasaan kecewa dan tak terima dirasakan Alfred.
"Apa yang kamu lakukan?" aku tersentak karena tas dalam genggaman dirampas oleh Alfred. Ternyata cerita palsuku memancing amarah Alfred.
Alfred bukannya menjawab tetapi malah mendahului aku dengan langkah panjang. Aku berlari kecil mengejar Alfred bermaksud mengambil tas itu kembali. Rupanya Alfred menuju taman belakang. Semua isi tas di keluarkan.
__ADS_1
Seketika mataku melotot melihat api menyala, ya Alfred ingin membakar tas itu tetapi sayangnya tas itu anti api.
"Al apa yang kamu lakukan? kembalikan tas itu?" teriakku sembari menarik tangan Alfred yang sibuk ingin merusak tas itu.
"Tas sialan itu harus aku musnahkan. Aku bahkan bisa membeli lebih mahal dari tas sialan itu," bentak Alfred tanpa sadar dengan kata-katanya yang bisa saja dipahami olehku tetapi karena kondisi seperti ini sehingga membuatku tak bisa mencerna perkataan Alfred.
"Atas dasar apa kamu ingin merusaknya?" kataku berusaha menghentikan Alfred.
Seakan tak peduli Alfred meraih pisau cutter. Dalam sekejap tas itu tak berbentuk lagi. Pisau cutter tajam itu berhasil memutilasi tas pemberian Gabriella. Sebenarnya tas itu pemberian Gabriella tiga tahun yang lalu sebagai kado valentine.
Hiks hiks....
Aku menangis sembari memeluk tas yang sudah tak berbentuk lagi. Melihat hal itu membuat Alfred semakin murka sehingga Alfred merampas tas itu dan melemparkannya dari tembok pembatas taman.
"Pria kejam," cicitku tanpa takut karena sudah tersulut emosi.
Alfred mendekatiku dengan tatapan seperti ingin menelanku hidup-hidup. Dengan tangan masih menggenggam pisau cutter.
"Apa kau bilang? aku kejam? kau benar sekali. Jangankan tas itu, siapapun itu hidupnya akan berakhir seperti tas tadi," ujar Alfred tanpa berkedip menatapku.
Glek
Aku menelan ludah mendengar mulut menakutkan Alfred. Aku bergumam dalam hati menyamakan perilaku Alfred dengan para mafia dan psikopat.
Apakah hidupku akan berakhir di sini? itulah yang ada di benakku saat ini.
Aku sudah pasrah karena tubuhku sudah terbentur dinding. Kini tubuh kami saling merapat. Rasa amat takut membuat tubuhku bergetar.
Merasa pasrah aku menutup mata dengan wajah pucat pasiku.
Merasa tidak terjadi sesuatu membuat aku merasa penasaran sehingga berusaha membuka mataku secara perlahan.
Sekali lagi mataku melotot melihat kelakuan aneh Alfred. Bagaimana tidak Alfred menggenggam mata cutter sehingga dengan tenangnya darah segar itu mengalir membasahi telapak tangan kanan Alfred.
"Apa yang kamu lakukan?" kataku sembari menepis kuat tangan itu sehingga cutter itu terlepas.
Tanpa ingin membuang waktu aku menarik erat tangan Alfred membawa masuk. Seakan tak menolak Alfred mengikut saja.
Di kursi meja makan aku menuntun Alfred untuk duduk dan aku segera mengambil kotak obat yang berada di lemari dekat itu.
Aku mulai membersihkan luka itu dengan mata berkaca-kaca. Sedangkan Alfred tidak lepas dari wajahku. Tentu saja itu membuat tidak nyaman tetapi anggap saja aku tidak tau.
__ADS_1
"Sangat bodo*," lirihku tanpa sadar air mataku menetes.
Deg
Alfred tercengang melihat raut wajah sedih yang aku tunjukan bahkan menangis tertahan.
"Ini pasti sakit," aku kembali bergumam, anggap saja sedang berbicara kepada diri sendiri. Luka itu aku tiup pelan-pelan meredakan rasa perih.
Alfred masih betah menatapku.
"Luka sekecil itu tidak membuatku mati. Buat apa kau obati?" bentak Alfred kembali bersikap kejam.
"Tentu saja di obati, jika dibiarkan bisa saja infeksi tanda berakibat fatal," sahutku masih sibuk membalut luka itu.
"Aku tidak butuh," Alfred menepis tanganku sehingga balutan itu terlepas kembali karena belum sempat di ikat.
"Apa kamu mau tangan ini di amputasi? jika hal itu terjadi tentu saja mempengaruhi ketampananmu," ucapku tanpa sadar.
Seketika aku menyadari apa yang baru saja aku katakan sehingga membuat mulutku membulat. Diam-diam ternyata aku memuji ketampanan Alfred.
Alfred tak berkata apa-apa. Tetapi jujur saja hati kecilnya senang mendengar pujian tadi. Sehingga tanpa sadar Alfred tersenyum sedangkan aku sudah berusaha menyembunyikan raut wajah ini.
Untuk mengembalikan keadaan, tangan Alfred kembali aku raih dan dengan cepat-cepat membalut luka itu. Aku ingin menghilang dari tempat ini. Rasa lapar tadi seketika menghilang begitu saja.
"10 menit lagi minum obat, itu obat antibiotik," ucapku setelah selesai dan meletakan obat itu di atas meja.
Alfred tak menjawab sepeti biasanya.
Aku bangkit dan mulai melangkah.
"Rasa luka, pedih ini tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan dua tahun silam. Dimana Daddy dan Adikku meninggalkanku untuk selama-lamanya," lirih Alfred dengan nada pilu. "Kau tau itu semua bersumber darimu, kau penyebabnya Isabella. Apa kau pura-pura melupakan kejadian itu? apa kau berpura-pura amnesia? aku benci kau Isabella, aku sangat membencimu!" Teriak Alfred dengan murka.
Aku menoleh dan melangkah mendekati Alfred.
"Maaf," lirihku pada akhirnya.
Setelah itu aku langsung berlari meninggalkan Alfred sembari menangis. Aku tau sekarang semua ini ada sangkut pautnya dengan Gabriella Kakak kembarku. Aku ingin menjelaskannya tetapi Alfred sama sekali tidak memberi kesempatan untuk aku menjelaskan. Demi menanggung kesalahan Gabriella yang belum tau kebenarannya aku rela menjadi amukan Alfred. Ya kesalahan yang tak pernah aku lakukan.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, hadiah, favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi.
__ADS_1
Tenang say.... hari ini author berbaik hati akan update 3 bab.