
Di gedung hotel berbintang sudah dipadati oleh para tamu undangan.
Aku berdiri di depan cermin, memandangi kembali penampilanku. Dari pada hati ini tidak tenang karena sampai saat ini Alfred belum kembali dari kota x.
Di hubungi tetapi yang menyambut adalah operator, hal itu membuatku sedikit meringis. Aku beralih berdiri menghadap kaca besar dalam kamar itu, dari sana aku dapat melihat pemandangan kota.
Klek
Pintu kamar dibuka begitu saja tetapi tidak membuatku untuk menoleh kearah sana karena aku yakin itu pasti Mama atau Gabriella. Aku masih fokus dengan pandangan jauh ke depan.
Tiba-tiba ada tangan yang melingkar di perutku, serta kecupan bertubi di punggungku.
"Sayang kamu sangat seksi," bisikan itu membuatku kaget, hampir saja jantungan. Dimana aku menggenakan gaun warna putih dengan lengan kensi.
Dengan segera kubalikan badan.
"Sayang kamu sudah pulang? kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi? kamu buat aku khawatir. Aku takut sepanjang waktu," cecarku sembari menumbuk dada Alfred berkali-kali dengan mata berkaca-kaca. Entah ada apa dengan sifat tak biasa ini.
Alfred tersenyum mendengar keluhan itu karena itu tandanya berapa besar cintaku ini untuk dirinya. Alfred langsung menangkap tanganku, lalu membawanya kepermukaan wajahnya.
"Maaf sayang ponselku kehabisan baterai," terang Alfred sembari mengecup telapak tanganku.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanyaku sembari memeriksa keadaan Alfred.
Jleb
Seketika aku tersadar jika Alfred sudah berpenampilan cool. Dimana dia menggenakan jas warna hitam dengan dalaman kemeja panjang warna putih.
"Sayang kamu sangat cantik," puji Alfred mengagumi penampilanku.
"Kamu juga sangat tampan," balasku. "Sayang aku rindu," tanpa merasa malu aku langsung memeluk Alfred.
Tidak menunggu lama Alfred membalas pelukan itu tak kalah eratnya. Kami melepaskan kerinduan ini selama tiga hari berpisah karena Alfred harus menyelesaikan permasalahan yang sempat kacau di kota x.
Alfred mengecup pucuk kepalaku bertubi, sedangkan wajahku menyelusup di dada bidang itu.
Merasa cukup kami melepaskan pelukan itu. Alfred menangkup wajahku sembari tersenyum.
Cup
Kesempatan ini tidak disia-siakan pria tampan itu. Aku tidak dapat menolak karena aku juga menginginkannya.
Tok tok
Bunyi pintu diketuk membuat kami terpaksa menyudahi olah raga bwbir. Deru nafas masing-masing menandakan kehabisan oksigen.
"Sangat manis," bisik Alfred sembari mengusap bwbirku. Seketika wajahku bersemu merah.
"Sayang pasti riasan wajahku berantakan," aku protes.
__ADS_1
"Tanpa riasan atau apapun itu tidak melunturkan kecantikan istri seorang Alfred Hugo," ujar Alfred sembari merapikan helaian rambut yang menghalangi wajahku akibat serangan ganasnya tadi.
Alfred menuntunku ke cermin agar aku melihat penampilanku tidaklah kacau seperti yang aku katakan.
"Untung saja aku mengoleksi lipstik tahan lama," aku bergumam karena lipstik itu tidak luntur oleh civman ganas Alfred.
Aku beralih kepada Alfred yang hanya berdiri tanpa melepaskan tatapannya. Kuraih dasi yang sudah kacau, lalu memasangnya kembali. Alfred menyunggingkan senyuman bahagia, menatapku tanpa kedipan dalam waktu cukup lama, hal itu membuatku salah tingkah.
"Lakukan hal seperti ini tiap pagi sebelum aku berangkat ke kantor. Jari-jemari indahmu ini membawa keberuntungan," ujar Alfred.
"Selesai," ucapku disertai senyuman manis.
"Aku sangat bahagia sayang."
Aku tersenyum dengan anggukan kepala.
Tok tok
Sekali lagi pintu diketuk, itu membuat kami saling memandang.
Hahaha....
Kami tertawa kecil karena tidak menanggapi ketukan pintu dari tadi.
"Masuk," seru Alfred setelah tombol di pecat. Kamar yang kami tempati ini adalah kamar pribadi Alfred di hotel berbintang yang tak lain milik keluarga Hugo.
Klek
"Kak," panggilku ternyata yang datang adalah Gabriella.
"Kenapa lama sekali? sampai-sampai lumutan nunggu di depan pintu," cecar Gabriella.
"Maaf Kak tadi tidak dengar," elakku.
"Kamu cantik sekali Dek," puji Gabriella sembari tersenyum. "Kalian memang serasi. Kakak turut bahagia," ucap Gabriella dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih Kak," ucapku dan langsung memeluk Gabriella.
"Seandainya bisa mengelakkan takdir, mungkin saat ini Kakak juga orang yang paling bahagia di dunia ini," lirih Gabriella, seakan mengingat masa lalu yang sangat menyesakkan. "Kakak rindu kepadanya," imbuhnya dengan pilu.
Aku maupun Alfred terenyuh mendengar pengakuan Gabriella.
"Ikhlaskan semuanya Kak," ucapku sembari mengusap punggung Gabriella yang bergetar menahan tangis.
Alfred menundukkan kepala, seketika ingatannya sekilas kepada sang Adik yang menjadi mantan Gabriella yang tak lain menjadi Kakak iparnya sekarang.
Terasa cukup kami menguraikan pelukan sembari masing-masing menyeka air mata.
"Kak sebaiknya Kakak sudah bisa membuka hati. Masa depan Kakak masih panjang," ujar Alfred.
__ADS_1
Hati Gabriella tertarik ingin menatap Alfred lekat-lekat karena selama ini dia tidak mampu untuk menatap wajah Alfred karena hatinya sangat sakit.
"Wajahmu ini mengingatkan dia, sehingga membuatku engan untuk menatapmu," pungkas Gabriella terpaksa menatap wajah Alfred lekat-lekat.
Alfred terdiam tanpa berkata-kata, begitu juga dengan diriku, tetapi dada ini ikut sesak mendengar pengakuan Gabriella.
Alfred menghela nafas panjang.
"Dia sudah tenang di sana Kak," ucap Alfred ingin menguatkan Gabriella, padahal dia tau bagaimana cara Bernat mengakhiri hidupnya yang sangat bertentangan.
Gabriella menyeka air matanya kembali, lalu menghela nafas panjang.
"Iya kalian benar, mulai sekarang aku harus mengiklankannya. Tetapi rasa cinta ini masih tumbuh didalam hati ini. Kakak sangat mencintai dia, jika bisa memilih Kakak ingin sekali menyusulnya," ungkap pilu Gabriella yang diluar akal sehat.
Aku segera mendekat, mengusap punggung Gabriella.
"Hmmm sampai lupa. Aku ke sini karena disuruh sama Mama agar kalian segera turun, para tamu undangan sudah pada datang," ucap Gabriella memberitahu tujuannya menghampiri kami. "Jika begitu aku duluan," imbuh Gabriella langsung bergegas keluar masih dengan wajah sendu.
"Sayang kasian Kakak," lirihku kepada Alfred.
Alfred hanya bisa mengangguk karena jujur saja hatinya juga terluka atas kematian Bernat.
°°°°°°
Alfred merangkul pinggangku berjalan menuruni tangga, dimana para tamu undangan menyaksikan kami. Sepanjang jalan senyuman mereka di bibir kami masing-masing.
"Wah istri Tuan Hugo sangat cantik," seru sebagian para tamu undangan.
"Mereka pasangan serasi. Tampan serta cantik," sahut yang lainnya.
"Sudah tampan, cantik sama-sama kaya raya. Sungguh perfek," sambung lainnya.
Begitulah seruan dari tamu undangan. Sebagian dari mereka belum mengenali diriku.
Kini kami berdiri di hadapan para tamu undangan. Alfred memperkenalkan statusku di hadapan mereka. Menceritakan bahwa kami sudah menikah yang digelar di Indonesia, bahkan rekaman acara pemberkatan serta resepsi diputar ulang dilayar.
Alfred juga memperkenalkan ketiga buah hati kami. Bahkan status Leon dianggap anak sendiri. Dari situ para tamu undangan bertanya-tanya karena usia Leon tidak sesuai dengan usia pernikahan kami sehingga membuat Alfred hanya menjelaskan sesingkat karena menurutnya itu tidak penting. Alfred mementingkan perasaan Leon, walaupun dia belum mengerti.
"Aku tidak ingin menjelaskan panjang lebar karena saudara/saudari semua adalah orang berpendidikan, pasti sudah dapat memahaminya," ujar Alfred menegaskan di akhir ucapannya.
"Sudah tampan, cantik memiliki hati mulia. Sangat menginspirasi," seru para tamu undangan memuji kebaikan atau ketulusan hati kedua pasangan suami istri ini.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
__ADS_1
"