MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 160~MDS2


__ADS_3

Keesokan paginya


Klek


Pintu kamar mandi terbuka, begitu juga pintu kamar. Rebecca kaget setengah mati karena tidak menyangka bahwa Keenan akan masuk secara bersamaan.


Glek


Keenan menelan ludah, tidak sengaja memandangi tubuh Rebecca yang hanya terlilit handuk sebatas paha.


Dengan kepala menunduk Rebecca berlalu, masuk ke ruang walk in closet.


Keenan memandangi Rebecca sampai masuk. Tidak ingin terlambat ia pun segera masuk ke kamar mandi.


Di dalam walk in closet Rebecca merutuki kebodohannya karena cukup ceroboh. Sungguh ia melupakan keberadaan Keenan.


Tidak ingin bertemu dalam satu kamar, Rebecca segera keluar dari walk in closet. Setelah merias wajahnya ia pun segera keluar, sangat beruntung karena Keenan masih berada dalam kamar mandi.


Rebecca langsung berjalan menuju dapur, menyeduh dua gelas susu. Lalu meletakkannya di atas meja makan.


Tadi pagi ia bangun pagi-pagi agar sempat menyiapkan sarapan. Apa lagi sekarang ada Keenan.


Di atas meja sudah terhidang dua porsi hamburger.


Rebecca menunggu kedatangan Keenan, bagaimanapun ia harus sarapan bersama-sama.


Hmmm


Deheman Keenan seraya melangkah. Rebecca menoleh hingga tatapan keduanya bertemu.


Drrrt


Ponsel Keenan bergetar. Melihat siapa yang menghubunginya, membuat Keenan kembali menatap Rebecca yang tengah menunduk, menatapi hamburger di atas meja.


"Aku harus segera berangkat," ujar Keenan kaku.


"Apa sebaiknya sarapan dulu, aku sudah....."


Drrrtt


Sekali lagi ponsel itu kembali bergetar. Sehingga me. buat Rebecca tidak meneruskan ucapannya.


["Oke aku akan segera berangkat."]


Ujar Keenan menjawab sambungan telepon dengan singkat.


Mendengar hal itu membuat kekecewaan di hati Rebecca.


Tanpa berkata lagi Keenan segera berjalan keluar. Sedangkan Rebecca tertekun memandangi hidangan di atas meja. Selera makannya jadi hilang.


Keenan sungguh tak punya perasaan. Sepenting apa orang yang telah menghubunginya dibandingkan menghabiskan beberapa menit saja sarapan yang sudah terhidang.


Ingin nangis tentu saja menyeruak di hati Rebecca.


"Aku berjanji tidak akan memasak lagi. Oke kita sama-sama makan di luar," batin Rebecca dengan hati hancur.


°°°°°°

__ADS_1


Rebecca tiba di kantor dengan perasaan kecewa, sedih dan lain sebagainya yang tak bisa diungkapkan.


Tok tok


Pintu ruangannya diketuk.


"Masuk," sahur Rebecca.


"Selamat pagi Nona," sapa Gerry seperti biasanya.


"Pagi," sahut Rebecca tidak semangat, bahkan Gerry menyadari raut kesedihan di wajah Rebecca.


"Nona 10 menit lagi kita akan berkumpul di aula. Maaf jika saya lancang. Tuan sampai sekarang belum tiba di kantor, sedangkan para karyawan sudah memenuhi aula," ujar Gerry.


Mendengar pertanyaan Gerry membuat Rebecca tercengang. Bukankah tadi pagi Keenan buru-buru akan berangkat, tentunya akan berangkat ke kantor.


"Jadi dia belum datang? terus dimana?" batin Rebecca dengan resah.


"Mungkin masih perjalanan, kebetulan kami tidak berangkat sama-sama," ucap Rebecca berbohong. Tentu saja ia menyembunyikan prahara rumah tangganya yang tidak sedang baik-baik saja.


"Baik Nona," setelah mengatakan itu Gerry segera pamit. "Sepertinya ada sesuatu," batin Gerry menyadari ada yang tidak beres.


**


Di aula


Keadaan hening karena menunggu kehadiran Keenan. Sudah 10 menit berlalu tetapi sosok pria tampan itu belum juga tiba.


Hari ini adalah penyambutan kedatangan sangat CEO kembali setelah 2 tahun meninggalkan perusahaan.


"Sebenarnya kamu kemana?" keluh Rebecca berusaha bersikap tenang. Ingin menghubungi Keenan tetapi kata hatinya engan. Karena masalah tadi pagi serta kepergian Keenan yang entah kemana membuat hati Rebecca perih.


Hmmm


"Ini ruang tertutup, bukan untuk bergosip dan bersantai," suara bariton di ambang pintu mengalihkan pandangan semua orang, terkecuali Rebecca.


Ia sudah hafal dengan suara itu hingga enggan untuknya menoleh sekilas saja.


Mendengar kedatangan Keenan membuat para karyawan terdiam bungkam.


Keenan berjalan maju ke depan, dimana kursi yang disediakan untuk dirinya. Ia melirik Rebecca sekilas, sedangkan yang dilirik sama sekali tidak menggubris kedatangannya.


Tiba-tiba Keenan merasa kesal yang tak berujung.


"Tuan silahkan," ujar Gerry mempersilahkan Keenan untuk berpidato secara singkat.


Hubungan Keenan dan Rebecca seperti bukan sepasang suami istri pada umumnya, sangat berbeda sekali dengan kedua orang tua mereka.


Hanya butuh 30 menit pertemuan itu. Kini semuanya kembali bekerja.


"Ke ruanganku tepat jam makan siang. Bawa dokumen," ujar Keenan kepada Rebecca, sehingga Rebecca menghentikan langkahnya.


"Baik," sahut Rebecca tanpa ekspresi, hal itu membuat dahi Keenan mengernyit.


Sedangkan Gerry semakin yakin jika sepasang suami istri ini sedang ada masalah.


Tanpa memandang lawan bicaranya Rebecca melanjutkan langkahnya. Memasuki ruang direktur, dimana menjadi saksi bisu pekerjaannya selama 2 tahun ini.

__ADS_1


°°°°°°


Rebecca merenggangkan otot-otot leher serta lengannya seraya menguap. Ia baru saja menyelesaikan dokumen yang dimintai Keenan.


Rebecca meraih ponsel yang tergeletak di atas meja, ia hanya melihat jam berapa sekarang.


"Huh.....aku lapar sekali. Feli mana ya?" gumam Rebecca seraya mengusap perutnya. Karena tadi pagi melewatkan sarapan.


Klek


Tanpa diketuk pintu terbuka. Siapa lagi yang biasa membuka pintu ruangannya jika bukan si cerewet Felisha.


"Cinta maaf terlambat soalnya aku tak sengaja ketemu Om-Om," ucap Felisha yang berhasil membuat Rebecca bingung. "Lupakan saja, itu tidak penting. Ini makanan request kamu. Kata Mama tolong dihabiskan, bila perlu rantangnya juga hehe...." cicit Rebecca seraya bercanda.


Rebecca menggelengkan kepala, hanya sosok Felisha lah yang dapat membuatnya tertawa.


"Sampaikan terima kasihku kepada Bibi. Hmmm bawa ini, itu buat Bibi," ucap Rebecca seraya menunjuk paper bag berukuran besar.


"Terima kasih cin, kamu sungguh baik," ucap Felisha.


"Bibi dan kamu juga sangat baik, jadi kita seimbang hmmm," balas Rebecca diiringi senyuman manisnya.


"Baiklah aku tidak bisa ikut makan bareng karena masih mengerjakan pekerjaan yang belum terselesaikan." Rebecca mengangguk.


Dengan buru-buru Rebecca menyantap makanannya, ia tidak ingin Keenan menunggunya terlalu lama.


**


Tiba di depan pintu ceo tangan Rebecca terangkat menggantung setelah mendengar percakapan didalam, kebetulan pintu itu terbuka sedikit.


"Kau tau apa alasanku menyetujui pernikahan ini? itu karena dua hal yaitu yang pertama Daddy sama Mommy mengancam akan menggantikan kepemimpinan atau kedudukan perusahaan HUGO GROUP kepada Rebecca, jika aku tidak menyetujui pernikahan ini. Dan yang kedua itu karena permintaan terakhir Bibi Dea sebelum meninggal dunia. Bibi Dea memohon kepada kedua orang tuaku untuk menjodohkan kami ketika sudah dewasa," ujar Keenan kepada Gerry. "Apa aku bisa menolak kedua pilihan itu? tentu saja itu sangat sulit. Aku rela mengorbankan kebahagiaanku demi menyetujui perjodohan ini," sambung Keenan tanpa ekspresi.


Deg


Di depan pintu Rebecca membeku. Jantungnya ingin meledak mendengar pernyataan itu. Sampai-sampai dokumen yang berada di tangannya jatuh ke lantai.


Demi apapun Rebecca tak pernah menyangka jika itu alasan Keenan menerima perjodohan ini. Rebecca juga tidak pernah menyangka jika kedua orang tua sekaligus mertuanya itu sampai mengancam sebesar itu.


Terlebih lagi dengan mendiang Mama Dea, ternyata ini adalah permintaan terakhirnya sebelum menutup mata.


Klek


Pintu ruangan terbuka. Mata Gerry membulat melihat sosok Rebecca yang tengah merosot ke bawah seraya memegang dadanya.


"Nona," gumam Gerry.


Rebecca menggelengkan kepala agar Gerry tidak memberitahukan bahwa ia sudah mendengar jelas percakapan mereka barusan.


"Sampaikan kepada Keenan, bilang saja aku cepat pulang hari ini. Entah apapun alasannya," lirih Rebecca dengan mata mengembun.


Setelah mengatakan itu Rebecca berlari kecil masuk ke ruangannya. Dan dalam sekejap keluar dengan tas jinjingnya.


Hari ini ia ingin menyendiri dan meluapkan sesak yang ia rasakan.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪

__ADS_1


•Maaf karena update paling banyak 1 bab. Anak author sedang ulangan semester genap, jadi lebih full konsen memantau pelajarannya🙏


__ADS_2